Cinta Acha

Cinta Acha
Takdir.


__ADS_3

Riyan masih menenangkan Acha yang bekum berhenti menangis. Riyan gak tau harus gimana agar bisa membuat Acha berhenti menangis. Riyan takutnya terjadi sesuatu ke calon anaknya. Tau sendiri kan kandungan Acha itu lemah.


Acha masih memeluk Riyan erat, sangat erat. Acha takut banget kalau mimpi itu akan jadi kenyataan. Acha masih sesegukkan. Mimpi itu melintas terus di pikirannya. Acha takut, takut kalau Ia dan Riyan gak bisa bersama. Acha merasa mimpi itu sebuah pertanda kalau Riyan akan pergi. Tapi, Acha gak tau Riyan pergi kemana. Dan yang jelas hati Acha merasa kalau Ia dan Riyan akan berpisah. Entah pisah karena kemauan Riyan atau pisah karena yang lain.


Acha udah mulai tenang. Lalu, Acha melepas pelukannya dari Riyan. Menghapus air matanya dan tersenyum.


Acha memejamkan matanya lalu kembali tiduran. Ini bener bener hanya menutup mata. Menghilangkan pikiran negatif nya dari pikiran Acha. Mencoba menepis mimpi itu. Mencoba berpikir kalau itu hanya mimpi.


Riyan hanya melihat Acha. Riyan gak berani bertanya. Karena Riyan melihat kondisi Acha yang kacau. Entah apa yabg Acha pikirkan sampai membuat Acha kayak gini.


Riyan ikut tiduran di samping Acha. Mengelus punggung Acha. Menenangkan Acha yang masih sesegukkan. Walau gak kayak tadi.


Acha menarik nafas nya kasar lalu menghembuskan perlahan. Acha kembali memeluk Riyan. Dan sekarang Riyan udah berani bertanya ke Acha.


"Yank. Kenapa?"


Acha belum jawab. Riyan hanya diam menunggu Acha menjawab. Bukan marah atau kesal tapi, Riyan tau kalau Acha itu sedang kacau. Pasti perlu waktu untuk berbicara.


Beberapa saat Acha terdiam. Acha mulai lebih tenang dan siap untuk berbagi. Tapi, saat ingat mimpi itu Acha kembali ketakutan.

__ADS_1


"Mas, jangan tinggalin Acha" Acha memperat pelukannya pada Riyan serta menggeleng.


Riyan bingung. Kenapa Acha minta Riyan gak ninggalin Acha. Riyan memang gak ada niatan buat ninggalin Acha. Apa ini ada kaitannya dengan mimpi Acha.


"Please mas. Jangan tinggalin Acha. Acha gak bisa jauh dari mas. Mas," Acha mendongak tepat muka Riyan.


Riyan semakin bingung dengan Acha. Kenapa tiba tiba Acha berubah.


"Oke, Yank. Mas gak tau apa yang sebenarnya terjadi ke kamu. Mas gak akan ninggalin kamu tapi, kenapa tiba tiba kamu bilang kek gitu"


Acha menceritakan mimpinya tadi ke Riyan. Riyan gak nanggepi apa apa sebelum Acha selesai cerita. Acha cerita mimpi itu tapi, bukan penyakitnya Acha masih menyembunyikan penyakit jantungnya ke Riyan.


Riyan dan Acha duduk bersampingan.


"Itu semua cuma mimpi Yank, Mas ada disini. Disini buat kamu dan calon buah hati kita"


"Kalau mimpi itu nyata gimana, mas. Acha gak mau" Acha kembali memeluk Riyan dari samping.


"Takdir. itu semua udah takdir dari yang di Atas, Yank. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa yang terbaik buat kita. Kamu berdoa aja semoga mas bisa sama kamu terus dan bisa membesarkan buah hati kita"

__ADS_1


"Amiin mas. Acha akan selalu berdoa agar kita selalu bersama. menjadi keluarga yang harmonis"


"Walau aku gak yakin mas. Kalau aku bisa liat anak kita. Aku gak yakin setelah melahirkan anak kita, aku bisa selamat. Walaupun gak bisa, Aku tetap bersyukur mas. Karena aku yakin kamu pasti bisa jaga anak kita"


"Semoga aja mimpi itu gak jadi kenyataan mas. Aku takut saat hari itu tiba, anak kita sendirian. Aku gak mau anak kita kehilangan kedua orangtunya saat Ia baru lahir"


Acha pasrah. Semoga yang Ia inginkan tercapai.


🌊🌊🌊


Setelah setengah jam mereka bertukar cerita. Acha merasa laper dan meminta Riyan untuk masak. Acha tiba tiba makan bubur kacang ijo. Gak tau tuh, tiba tiba aja ingin.


Mau gak mau Riyan harus memasak buat Acha. Riyan pergi ke bawah untuk memasak makanan yang Acha ingin kan.


🌊🌊🌊🌊🌊🌊


Bye. Sampai ketemu di episode selanjutnya.


πŸ’Rabu, 10 Februari 2021πŸ’

__ADS_1


__ADS_2