
Acha merasa bingung dengan keadaan sekitarnya. Acha merasa menaiki tangga. Tapi, kalau ke taman belakang rumah kenapa harus naik tangga?. Setau Acha, yang ada tangganya itu ada dalam rumah. Apa iya, Vino bohong. Tapi, apa alasannya?.
Acha mendengar knop pintu yang terbuka tanpa tertutup. Lalu, Acha didudukkan di kursi yang empuk. Bukan, jelas ini bukan kursi yang ada di taman. Lalu?.
Tanpa berkata, Vino meninggalkan Acha sendirian di ruangan itu. Acha jelas merasakan kalau Ia sendiri. Tak lama kemudian pintu itu tertutup. Acha mencoba memanggil nama Vino, Aliano, Mommy Ana dan Daddy Reza. Tapi, sayang banget, gak ada yang menyaut.
Keadaan di sekitar yang sepi membuat Acha takut. Acha mengangkat tangannya untuk membuka penutup matanya. Tapi, tangan Acha di tahan seseorang yang semakin membuat Acha takut.
Acha gak tau harus maju atau mundur. Kalau Acha maju di depannya ada meja tapi, kalau Acha mundur orang yang memegang tangannya itu ada di belakangnya. Lalu, Acha harus kemana?.
Orang itu, lebih tepatnya Riyan yang ada di belakang Acha ingin sekali tertawa melihat muka Acha yang panik. Riyan kembali mengerjai Acha.
"Kangen kamu, Yank." Riyan berdehem sebelum berbicara dan membuat suara yang berbeda dari biasanya.
"Si,siapa kamu. Jangan mendekat." Acha berhasil melepaskan tangan orang yang memegang pundaknya. Acha berjalan ke samping untuk menghindari orang itu. Acha masih belum tau kalau itu adalah Riyan. Karena penutup matanya masih menutupi mata.
__ADS_1
"Kamu, gak kangen sama aku, Yank." Riyan kembali mengerjai Acha.
Acha berjalan menyamping mengindari orang itu tapi, Acha semakin panik saat Ia jatuh ke kasur. Hah, kasur?.
"Jangan, jangan sentuh saya." Riyan melihat dan mendengar kalau Acha sangat ketakutan membuat Ia berhenti mengerjai Acha.
Riyan duduk di samping Acha lalu menghadap Acha. Setelah itu, Riyan menghadapkan tubuh Acha untuk menghadapnya.
"Saya bilang, jangan sentuh saya!" Acha harus melawan rasa takutnya.
Acha bengong mendengar suara itu, itu suara suaminya. Tapi, enggak. Gak mungkin Riyan ada disini. Pikir Acha.
"Yank." Riyan menyentuh pipi Acha. Tapi, Acha tepis. Acha masih gak yakin kalau Riyan ada di hadapannya. Mungkin Acha yang sedang rindu ke Riyan membuat Acha berhalusinasi.
Karena melihat Acha yang gak yakin kalau itu Riyan. Ia membuka ikatan penutup mata Acha.
__ADS_1
Setelah mata Acha tak tertutup, Acha melihat Riyan dengan samar samar. Mungkin karena baru aja di bukan dan pandangannya masih buram, Acha mengucek matanya tapi dengan sigap Riyan menghentikan tangan Acha.
"Kamu gak kangen sama mas, Yank?" ucap Riyan yang masih memegang tangan Acha.
"Mas, mas Riyan." Acha masih belum percaya kalau Riyan ada di hadapannya.
"Mas kangen kamu, Yank." Riyan yang lebih dulu memeluk Acha karena melihat Acha yang masih gak percaya. Padahal ini nyata.
"Mas Riyan, ini beneran kamu." Acha melepaskan pelukan Riyan untuk memastikan apakah benar ini Riyan atau bukan.
Setelah pasti kalah itu Riyan, Acha kembali memeluk Riyan. Acha gak sadar kalau saat ini Acha udah menitihkan air matanya, bahagia. Acha pikir, Riyan masih marah ke Acha.
Riyan melepaskan pelukan Acha dan menghapus air mata Acha. Lalu, Riyan berjalan menuntun Acha untuk me meja yang udah Ia siapkan untuk makan bersama, merayakan ulang tahun Acha.
Acha bahagia dengan keberadaan Riyan, ditambah lagi apa yang Ia lihat.
__ADS_1