
...'Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dia-lah Yang Maha perkasa, Maha bijaksana.'...
...(Qs. Fatir ayat 2)...
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Sore harinya Kaamil datang ke restoran Dinda, karena memang Dinda yang memintanya datang guna pergi bersama ke rumah sakit menjenguk sang Kakek.
Mereka sempat berdepat saat memutuskan akan pergi menggunakan mobil siapa, hingga akhirnya Dinda-lah yang kalah ketika mereka mengambil jalan tengah dengan cara suit.
"Kenapa sih, itu muka cemberut gitu? Kakak'kan sudah kalah tadi," komentar Kaamil sambil melirik Dinda saat sedang mengemudi.
"Harusnya tadi kakak yang menang," kesal Dinda ketus.
Bagaimana Dinda tidak kesal, karena sang adik tadi bermain curang. Disaat Dinda menang giliran pertama, Kaamil malah mengatakan bahwa itu hanyalah percobaan dan mereka harus mengulangnya lagi.
"Udahlah kak, 'kan sama-sama mobil juga ... kenapa mesti sewot gitu? Lagian kalau kakak mau bawa mobil sendiri, kenapa mesti suruh aku ke sini? Mending langsung aja tadi berangkat sendirian," ujar Kaamil.
"Tadi kakak pikir, kamu mau pakai mobil kakak. Makanya nyuruh ke resto dulu."
"Ya enggaklah, mending pakai mobil aku kali," ujar Kaamil santai.
"Tau ah ...." ucap Dinda membuang muka ke arah samping sambil melihat jalanan dari balik kaca mobil.
"Yeee," gumam Kaamil.
Setibanya di tempat parkiran rumah sakit, mereka bergegas turun dan masuk lebih dalam lagi ke bangunan tinggi nan bertingkat yang menampung pasien dari berbagai jenis penyakit.
"Kaamil," seketika mereka berhenti dilorong-lorong rumah sakit ketika ada seseorang yang memanggil Kaamil.
Reflek keduanya menoleh mencari asal suara itu. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, ada seorang pria yang berjalan mendekati mereka dan seumuran Kaamil.
"Elu ngapain di sini?" tanya Kaamil kepada pria itu.
"Nyokap gw sakit, dan kemarin pagi dirawat di sini," jelasnya sambil melirik Dinda.
"Kenapa lu nggak bilang, kalau nyokap lu lagi sakit? Apa lu perlu bantuan? Siapa tau gw bisa bantu!" tawar Kaamil tulus.
Dinda hanya diam menyimak, karena memang tidak tahu siapa saja teman Kaamil.
"Tenang aja. Gw nggak bilang sama lu, karena semuanya sudah dibereskan sama Luna," ucapnya santai.
"Oh pantes ... kemarin pas gw ke sini, nggak sengaja gw liat cewek itu," seru Kaamil.
"Jadi lu kemaren sempat ketemu sama Luna?" tanya pria itu cepat.
"Bukan ketemu, tapi gw nggak sengaja liat dia di parkiran," ralat Kaamil.
Dinda langsung teringat dengan wanita yang kemarin diliatnya bersama Kaamil.
"Lagian dia juga nggak kenal sama gw," lanjut Kaamil lagi.
"Oiya iya ... lu 'kan cuman pernah liat dia difoto hp gw."
"Dia siapa Mil?" Pria itu menunjuk Dinda menggunakan dagu sambil meliriknya sekilas.
"Ini kakak gw, namanya Adinda. Kak, kenalin ... dia Danu." Kaamil mengenalkannya.
__ADS_1
"Danu kak," ucapnya.
"Adinda." Dinda menyambut uluran tangan Danu.
"Trus, kalian ngapain ke sini?" tanya Danu melihat keduanya bergantian.
"Kakek gw juga dirawat di sini, kebetulan kita mau jenguk."
Danu mengangguk paham. "Ya udah, lu jenguk kakek lu aja dulu! Nanti kita ngobrol lagi, gw juga lagi harus ke apotik," ujar Danu.
"Oke, sampai ketemu nanti." Kaamil melakukan tos dengan tangan mengepal.
"Apa dia teman kamu, yang menjadi koleksi wanita di parkiran kemarin?" tanya Dinda sambil memperhatikan Danu yang semakin menjauh.
"100% betul," kata Kaamil sambil lalu.
"Kamu nggak berkelakuan kaya dia'kan, Mil?" Dinda menyusul Kaamil di belakang.
Dinda bergidik ngeri membayangkan Danu selalu melakukan hal yang tidak sewajarnya pada wanita yang jelas-jelas bukan istrinya.
"Udah dibilangin juga, aku nggak akan merendahkan seorang wanita kaya gitu," kesal Kaamil tanpa berhenti berjalan.
"Kakak'kan cuman mau memastikan, Mil."
"Memastikan sih memastikan, tapi dari nadanya itu ... kaya yang curigaan," sungut Kaamil kesal.
"Hehe maaf ...."
"Bentar Mil, bentar." Dinda menahan tangan Kaamil.
"Ada apaan sih, kak?" tanya Kaamil.
"Mas Candra," panggil Dinda pada seorang lelaki yang tengah asyik mengobrol di pinggir lorong dengan telepon genggamnya.
"Ada apa?" tanya Candra datar sambil menyimpat ponselnya ke dalam kantung celananya.
Candra melihat Kaamil sekilas dimana tangannya masih bertautan dengan Dinda, baru menatap Dinda tajam.
"Kebetulan kita ketemu di sini, saya mau mengembalikan uang anda," kata Dinda tanpa basa basi.
"Sebentar," lanjutnya.
"Eh, dompet aku itu," pekik Kaamil, ternyata Dinda menarik dompet yang ada di kantung celana bagian belakang adiknya.
"Udah, diam aja kamu," perintah Dinda.
Kaamil bersedekap dengan wajah kesal sambil menatap Candra yang tengah memperhatikan Dinda mengeluarkan uang berwarna merah.
"Ini, saya ganti dua kali lipat." Dinda menyodorkan uang pecahan seratus ribuan sebanyak lima lembar ke hadapan Candra.
"Banyak banget," gumam Kaamil yang masih terdengar oleh Dinda dan Candra.
Candra tidak langsung mengambil uang itu, tapi menatap lekat pada Dinda.
"Ayo ambil." Dinda ngambil tangan Candra dan meletakkan uangnya dalam genggaman Candra.
"Utang saya sudah lunas," kata Dinda sambil mengembalikan dompet Kaamil.
__ADS_1
"Baik, terimakasih," katanya langsung berbalik meninggalkan Dinda dan Kaamil. Belum jauh kakinya melangkah, Candra sudah mendengar Kaamil yang protes karena uangnya yang diambil Dinda.
"Kenapa pakai uang aku kak? Memangnya kakak ada utang apa sama dia?" cecar Kaamil.
"Ingat kamu sama snack yang kamu makan tadi malam?"
"Iya .., ada apa sama snack itu?"
"Belinya dari ngutang!"
"What? Kenapa ngutang?" kaget Kaamil.
"Ceritanya panjang. Ayo, kita jenguk kalek," elak Dinda lebih dulu berjalan.
Kaamil berdecak kesal. "Ck, pasti lupa bawa uang. Kapan sih kak, kebiasan buruk lu berubah," gerutu Kaamil.
"Woy kak ... tungguin," teriak Kaamil sambil berlari kecil mensejajarkan langkahnya.
Tanpa ada seorang pun yang tahu, Candra tersenyum mendengar perdebatan mereka.
Adik kakak, rupanya.
"Kenapa seperti seumuran?" gumam Candra sambil menggeleng.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
"Assalamualaikum," kata Dinda dan Kaamil serempak.
"Wa'alaikumussalam," jawab Mama Mita.
"Kakek sudah sadar, ya?" Dinda mendekati sang kakek dan mencium punggung tangannya disusul Kaamil.
"Iya," jawab sang kakek lemah.
"Baru saja sadar," jelas mama Mita.
"Lalu, apa kata dokter ma?"
"Kata dokter, harus dirawat inap dulu sampai beberapa hari kedepan. Tapi kakek kamu, mau pulang ke Kalimantan katanya."
"Loh, kenapa pulang ke Kalimantan kek? Di sana nggak akan ada yang merawat Kakek! Mending di sini aja, kek," ujar Dinda sambil mengusap lembut tangan keriput sang kakek.
Di Kalimantan sudah tidak ada lagi keluarga dekat Dinda, kebanyakan mereka adalah keluarga jauh.
Kakek Dinda menggeleng, ia tetap dalam pendiriannya. "Mau jenguk makam nenek mu," jawab kakeknya lemah.
Semua saling pandang dan terdiam, tidak ada yang bisa melarang jika itulah keinginan pria tua nan ringkih itu.
Tiba-tiba pintu diketuk dan terdengar salam dari balik daun pintu. Semua menjawab bersamaan.
"Wa'alaikumussalam."
"Siapa Mil?" Dinda menoleh ke arah pintu yang dibuka Kaamil.
"Dia," tunjuk Kaamil. Dinda benar-benar terkesiap melihat sosok seorang pria yang berjalan masuk ke dalam ruangan di belakang Kaamil, Dinda bahkan hanya bisa mematung.
Ngapain dia ada di sini.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....