
Usai bersih-bersih yang dilakukan Candra. Dia meminta Dinda untuk menggantikan perbannya. Dinda pun menggantikan perban itu sambil mengomel tak jelas.
"Kan, sudah dibilangin, Mas," ucap Dinda menahan kesal.
Bagaimana Dinda tidak kesal? Sebab perban yang menutupi luka suaminya itu malah terkena air dan menyebabkan sedikit basah. Saat ini keduanya tengah duduk di atas ranjang dengan Candra yang memunggungi Dinda.
Dinda menatap nanar luka yang ada di punggung kekar milik suaminya, ketika perban sudah dibuka. Sebenarnya dia tidak berani melihat luka itu terlalu lama. Akan tetapi, dia juga tidak bisa membiarkan luka itu basah.
"Jangan sampai kena air!" lanjutnya kembali mengingatkan, kesalnya pun belum juga reda.
"Iya tahu. Tapi hanya sedikit, kan? Lagian aku cuman siram bagian depan dan bawah, mana nyangka bakalan ikut basah," jelas Candra apa adanya membela diri.
Dinda menghela napas panjang karena khawatir luka Candra akan semakin lama mengering akibat terkena air.
"Lain kali diseka saja, Mas," saran Dinda sambil mengusap serius tepian luka. "Aku khawatir kalau infeksi," akunya jujur.
"Iya," jawab Candra pasrah.
Dinda pun membersihkan dan membalut luka itu dengan perban yang baru sambil perlahan hingga selesai. Candra langsung bangkit dari duduk usai mendengar suara intruksi Dinda yang mangatakan bahwa sudah selesai.
Candra gegas memakai baju yang dipinjamkan Kaamil dengan sedikit kesusahan dan menahan sakit akibat pergerakan punggungnya.
Dinda yang melihatnya pun tidak tega dan turut membatu menurunkan baju yang tersangkut di punggung kekar Candra.
"Hati-hati, Mas," pesan Dinda.
Bunyi ketukan pintu seketika membuat mereka menoleh. "Adin, Candra ... ayo makan dulu!" panggil Vita dari balik pintu kamar. Karena keduanya diharuskan minum obat secara teratur di sore hari, jadi mereka makan lebih awal.
"Aku belum solat ashar," potong Candra ketika Dinda hendak bersuara.
Dinda terdiam sejenak kemudia menyahut, "Iya Bunda, sebentar! Adin mau solat dulu," ucapnya sedikit nyaring guna suaranya terdengar sampai pada Vita.
Candra sempat tersentak kecil akibat tariakan sang istri. Namun, dia tidak berminat untuk mengatakan keterkejutannya dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Mas yakin bisa solat?" tanya Dinda yang ragu dengan kondisi Candra.
"Bisa," balas Candra yakin, "pinjamkan sarung dan kopiah," pintanya lagi.
Walau pun punggungnya terasa sakit, tapi itu tidak mengurangi keinginannya untuk beribadah. Sebab, yang sakit hanya di bagian punggung, dan anggota tubuh yang lainnya baik-baik saja.
Dinda lantas pergi guna meminjamkan apa yang Candra inginkan. Tidak memerlukan waktu lama, dia sudah kembali dengan sarung dan peci.
"Ini Mas." Dinda meletakkannya di atas kasur ketika Candra keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambut basah.
__ADS_1
"Tunggu aku, Mas! Aku ambil wudhu dulu," pesan Dinda berlalu ke kamar mandi.
Selesai berwudhu, mereka melaksanakan solat berjamah. Dinda sedikit was-was ketika Candra mengangkat takbir. Namun, tidak terdengar desisan atau kesakitan dari mulut suaminya. Dia pun fokus pada solatnya.
Mengakhir solat mereka, Dinda pun mencium punggung tangan Candra. Ada perasaan yang berbeda dan berdesir dalam hati keduanya ketika lama tidak melakukan hal kecil tersebut. Entah perasaan apa itu, Dinda memilih mengabaikannya dan membereskan peralatan solatnya.
Candra juga menyisir rambut yang berantakan dan sedikit basah menggunakan jari-jarinya. Lagi-lagi Dinda yang melihat tidak tinggal diam. Dia langsung mengambil sisir di meja rias dekat tempat tidur.
"Sini Mas, biar aku bantu!" kata Dinda menarik tangan Candra dan menggantikan dengan sisir yang ada dalam genggamannya.
Candra menunduk menikmati wajah cantik yang sudah lama tidak bisa dipandangnya itu lekat-lekat. Ada terselip kerinduan yang tidak bisa dia ucapkan dengan kata-kata.
Sedang Dinda, tentu saja tahu kalau dia tengah diperhatikan. Hanya saja dia malu untuk membalas tatapan Candra.
"Ayo!" ajak Dinda sambil menyimpan sisir pada tempatnya.
"Terimakasih," ucap Candra tulus.
Mereka pun berjalan keluar kamar beriringan menuju meja makan, dan ternyata sudah ada Vita yang menunggu mereka.
"Ayo sini, makan dulu!" sapa Vita menyambut kedatangan mereka sambil berdiri dan hendak membantu menyiapkan makanannya.
"Nggak apa-apa, Bunda. Biar Adin, saja," cegah Dinda.
"Makasih ya, Bunda," ujar Dinda sebelum Vita berlalu.
"Sama-sama, sayang," balas Vita.
Dinda dengan cekatan menyiapkan, nasi, lauk, dan sayur di piring milik Candra.
Diam-diam Candra memperhatikan Dinda yang sudah lama tidak melakukan ini untuknya. Senyum simpul pun tersemat tanpa diketahui istrinya.
"Ini, Mas." Dinda meletakkan piring yang sudah terisi lengkap di hadapan Candra.
"Makasih sayang," kata Candra tanpa sadar dan santai.
Berbeda dengan Dinda yang terkesiap dan terkejut setelah mendengar kalimat yang tidak biasa dia dengar.
"Kamu nggak makan?" tanya Candra yang melihat Dinda dian saja.
"Hah, makan kok," jawab Dinda cepat setelah tadi sempat tersentak kecil.
Buru-buru menyimpan nasi juga yang lain pada piringnya dan duduk di samping Candra yang ternyata menunggu dia selesai mengisi piring tersebut.
__ADS_1
Keduanya pun makan dalam keadaan hening. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Diam-diam Dinda mencuri pandang pada suaminya itu dengan pikiran yang berkelana.
"Apa Mas Candra tadi salah ngomong ya?" kata Dinda membatin.
Tidak cukup sekali. Dinda bahkan beberapa kali mengulangi aksi curi-curi pandang, hingga akhirnya sepasang manik itu bertabrakan dengan manik
Candra.
"Ada apa?" tanya Candra pura-pura tidak tahu kalau Dinda melihat dia.
"Hah, nggak ... nggak apa-apa kok," elak Dinda malu dan tiba-tiba gugup.
Jika Dinda malu karena kepergok, maka berbeda dengan Candra yang sangat menyukai expresi wajah kaget sang istri.
"Habiskan makanmu! Kamu harus banyak makan biar lekas pulih," ujar Candra menahan senyum.
"Ekhem," dehem sesorang mengambil perhatian Candra dan Dinda.
"Biar lekas pulih, Mbak. Ngerti, kan? Ngertilah ... masa enggak," ucap Kaamil santai dan ikut duduk di seberang mereka.
Dinda hendak menyahut ketika Kaamil kembali berbicara.
"Tapi bukan Mbak Dinda saja yang harus pulih, Bang. Bang Candra juga ...! Nggak asyik dong ya, kalau Mbak Dinda terus yang jadi pemimpin permainan?" lanjutnya sambil tergelak sendiri.
Seketika sendok yang berada di tangan Dinda melayang ke arah Kaamil.
"Aww ... sakit Mbak," rintih Kaamil mengeluh sambil memegang bahunya yang terkena lemparan sendok.
Dinda melotot tajam tanpa peduli Kaamil yang kesakitan. Kaamil seharus bersyukur karena sendok itu hanya mendarat di bahunya. Sebenarnya Dinda sangat ingin mengenai kepala adiknya tersebut. Akan tetapi, dia masih mempunyai rasa kasian.
"Ngomong apa tadi?" tanya Dinda sambil berdiri dan mata yang masih melotot seperti akan keluar dari tempatnya.
"Ng--nggak ... nggak ngomong apa-apa," balas Kaamil langsung berlari langkah seribu.
Candra yang melihat itu tergelitik dan seketika tertawa. Namun, tawanya hanya bertahan persekian detik.
"Kenapa tertawa?" tanya Dinda dingin.
"Nggak," ujar Candra menggeleng pelan dan melanjutkan makannya.
Di dalam hati Candra masih tertawa.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1