
Dinda baru saja turun dari mobil sambil memperhatikan sekelilingnya. Menatap halaman yang terbelah oleh jalan aspal yang berujung pada gerbang besi tinggi dan baru saja ditutup oleh seorang penjaga.
Pohon-pohon ketapang kencana berjajar rapi di bagian pinggir. Di antara aspal dan pohon ketapang kencana terdapat kursi ayunan kayu jati kait besi. Muat untuk menampung dua sampai tiga orang.
Disisi lain, tepatnya di belakang pos keamanan rumah, terdapat carport dengan beberapa mobil dan motor besar. Dinda kenal motor besar itu.
Namun, rumah besar bergaya Eropa ini adalah kali pertama dia datangi. Berbeda dari yang dulu pernah dia kunjungi sewaktu mengantar pemilik motor saat kehujanan, walau sama-sama besar.
"Ayo!" ajakan seseorang dengan suara bas, meremuk'kan lamunan Dinda.
Dinda melirik ke asal suara, dan Candra sudah berdiri di sampingnya sambil memegang koper yang berisi pakaian miliknya. Sedang satu tangannya memegang kunci mobil.
"Ini rumahmu?" tanya Dinda menoleh ke arah pintu yang berjarak dua meter darinya.
"Ini rumah orang tuaku," ucap Candra sambil berjalan dan menyeret kopernya.
"Kenapa waktu kita menikah, mereka nggak disuruh datang? Padahal, kan, dekat," dengan cepat Dinda menyusul dan bertanya sebelum akhirnya ada seorang wanita tua yang membukakan pintu.
"Assalamualaikum, Nek," salam Candra sambil mencium punggung tangan tua rentan tersebut.
"Wa'alaikumussalam, Den."
Dinda mengerutkan kening mendengar ujang kalimat yang diselipkan nenek di depannya untuk Candra. Terdengar seperti sapaan untuk seorang majikan, tapi suaminya menyapa layaknya seorang cucu pada neneknya.
"Apa ini istrinya, Aden? Masya Allah ... cantiknya," puji wanita yang kini Dinda yakini adalah seorang pelayan.
"Ah, Nenek bisa aja. Tapi terimakasih untuk pujiannya, Nek," balas Dinda tersenyum ramah dan ikut memanggil nenek, seperti yang Candra lakukan.
"Namanya, Dinda," pangkas Candra menyela.
"Saya Bik Ratih, Non." Dinda dan nenek Ratih berkenalan sejenak.
"Sini Den, biar saya bawakan," lanjut nenek hendak mengambil alih koper yang dibawa Candra.
"Nggak usah, Nek. Biar aku aja. Nenek siapin makan siang aja!" tolak Candra cepat dan diangguki nenek tersebut.
Bersaman dengan nenek itu pergi, Candra langsung memasuki rumah tersebut semakin dalam. Dinda diam dan memgiringi tiap langkah Candra yang menapaki granit rumah besar, sambil melihat setiap apa yang dia lewati.
Foto besar yang terpajang di dinding, menarik perhatian Dinda. Sepasang suami istri dan seorang anak laki-laki berada di antara keduanya.
Di lihat dari wajahnya, pria dewasa itu mirip dengan Candra. Namun, versinya seperti dari jaman dulu. Sedang anak laki-laki itu, begitu mirip dengan lelaki yang sedang Dinda buntuti.
__ADS_1
Dinda tersenyum tanpa sadar, melihat begitu manisnya bocah kisaran umur delapan tahun tersebut. Wanita berjilbab yang tengah tersenyum lembut juga sempat diliriknya. Akan tetapi, karena kaki yang terus melangkah menghentikan perhatiannya dari foto keluarga.
Dinda ingin bertanya dan memastikan tentang orang yang dilihatnya di foto tadi, tapi dia baru tersadar. Bahwa dia tertinggal dan berjarak beberapa meter dari Candra.
Bergegas mendekati Candra, sebelum suaminya itu menyadari akan tertinggalnya dirinya. Ada beberapa kamar yang mereka lewati, tapi Candra terus berjalan hingga menaiki tangga.
"Ini kamar kita," ucap Candra sambil membuka pintu berwarna putih gading selebar mungkin agar Dinda bisa masuk.
"Orang tuamu, mana?" tanggap Dinda membalas dengan pertanyaan yang sejak tadi terangkai di benaknya.
"Mereka tidak ada di sini."
"Lalu di mana?"
"Bandung," jawab Candra pendek.
Dinda mengangguk-nganggukkan kepalanya pelan. Karena pernikahan mereka memang dadakan, maka tidak mungkin bagi orang tua Candra bisa datang langsung dari Bandung ke Jakarta kemarin siang.
Di dinding dekat pintu, Dinda kembali melihat foto keluarga yang sama persis seperti di lantai satu. Hanya saja, ukuran lebih kecil.
Ketika fokusnya penuh pada foto tersebut. Suara Candra menggema di dalam ruangan dan memecah keheningan.
"Letakkan pakaianmu, di sana!"
Tanpa bersuara, Candra menunjuk sebuah pintu yang berada tepat di seberang tempat tidur. Dinda pun berjalan sembari menarik koper miliknya.
"Di sini?" ulangnya memastikan dan mendapat anggukan pasti dari Candra.
Setelah dibuka, ternyata itu adalah ruang walk in closet. Dinda lekas mengeluarkan pakaiannya, dan menata di tempat yang kosong.
Disela kesibukannya menyusun baju, tak sengaja manik coklatnya memandang jari yang tersemat cincin pemberian Adit dan cincin nikahnya bersama Candra di jari tangan satunya.
"Haruskah kita bertemu, Mas? Agar aku bisa, mengembalikan cincinmu," gumam Dinda sembari meraba cincin tersebut.
"Apa kamu, sudah selesai? Ayo kita makan siang!"
"Ah, tunggu sebentar!" balas Dinda. Diam-diam, dia melepas cincin pemberian Adit dan menyimpannya dalam koper.
Usai memindahkan pakaiannya ke rak-rak yang tersedia. Dinda pun menghampiri Candra. Kini mereka keluar kamar bersama dan menuju ruang makan.
Di meja makan yang menampung delapan kursi, sudah tersedia beraneka makanan. Mulai dari makanan berat, hingga buah-buahan. Namun, piring yang akan diisi nasi, hanya ada dua buah dan bersisian.
__ADS_1
"Silakan Aden, Nona."
"Terimakasih, Nek," balas Dinda dan Candra bersama.
"Apa cuman kita berdua, yang makan?" bisik Dinda mendekatkan kepalanya pada Candra.
"Hmm, hanya kita."
Dinda mengangguk paham sambil menyendok'kan nasi dan menyimpannya di piring depan Candra. Sementara pelayan tadi, sudah pergi dari hadapan mereka.
"Mas, mau apa?" tanya Dinda belajar melayani Candra.
Sebelum pergi dari kediamannya, Dinda sudah diwanti-wanti mama dan bundanya. Dia dituntun untuk selalu berbakti pada suaminya, walau mereka menikah karena sebuah keterpaksaan.
"Itu." Tunjuk Candra.
Dengan sigap dan cekatan, Dinda mengambilkan apa saja yang diminta Candra. Mereka pun makan dengan hening, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Selepas makan, Candra akan beranjang. Akan tetapi, Dinda mencegatnya. "Mas, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dinda ragu.
"Iya, apa itu?"
"Hmm, aku tetap boleh ke restoran, kan?"
"Tentu, kamu tetap bisa pergi ke restoran itu."
Dinda menghela napas lega, tapi belum puas mengataka apa yang ingin dia utarakan.
"Ada satu lagi yang ingin aku sampaikan."
"Katakanlah!"
Dinda menelan ludah, apa yang akan dia sampaikan saat ini terasa begitu berat. Tidak mudah memang untuknya mengambil keputusan tersebut. Namun, dia harus mengakhiri dan memulai kembali lembaran baru bersama orang yang sekarang berada di sampingnya.
"Apa?" desak Candra heran mengangkat satu alisnya karena Dinda malah terdiam.
"Aku ingin bertemu dengan Mas Adit," kata Dinda dengan tatapan memohon.
Candra tidak lekas menjawab, dia hanya menatap Dinda dalam dan seolah sedang berpikir tentang keinginan Dinda.
"Bukan maksud apa-apa. Aku hanya ingin mengembalikan sesuatu miliknya, yang terbawa olehku," jelas Dinda cepat.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....