Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 12 Aneh


__ADS_3

...'Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki mau pun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.'...


...(Qs. Asy-Syura ayat 18)...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Candra menatap sekeliling rumah yang nampak sederhana dengan kening berkerut dalam. Baru saja memarkirkan motornya di halaman yang cukup luas dan terbilang asri kerena banyak tanaman bunga-bunga.


"Ini, terimakasih." Dinda menyerahkan helm ke hadapan Candra.


Tersadar dari lamunannya, Candra mengambil helm dan hendak langsung memakainya. "Sama-sama," balas Candra datar.


Tiba-tiba saja pintu rumah itu terbuka bersamaan Candra yang mengangkat helm.


"Loh sayang, Bunda kira tadi siapa!" kata Vita. Suara itu seketika menghentikan pergerakan Candra.


Sebenarnya tadi Dinda ingin kembali ke restoran guna mengambil mobilnya, tapi dijalan terjadi kemacetan akibat kecelakaan beruntun. Tidak ingin semakin merepotkan Candra, Dinda memilih diantar ke rumah Bunda Vita.


"Assalamualaikum, Bunda," sapa Dinda ketika Vita mendekati mereka.


Candra menatap lekat wanita di hadapannya. Wajah yang begitu mirip dengan wanita yang ditemuinya di rumah sakit tadi, tapi ada sedikit perbedaan.


Jika Dinda disandingkan dengan kedua wanita itu, maka mereka seperti tiga bersaudara. Karena masih terlihat awet muda.


"Dia siapa?" tanya Vita melirik Dinda dan Candra bergantian.


"Anak teman Mama, Bunda."


"Teman Mbak Mita. Siapa?" tanya Vita berkerut dan penasaran.


"Perkenalkan Tante, saya Candra ... anaknya pak Arwan." Candra menggantungkan helm-nya dan menyodorkan tangan pada wanita berhijab sar'i itu.


"Anaknya Arwan ...? Anaknya Zailah?" ujar Vita terkejut.


"Iya, Tante." Candra mengangguk membenarkan.


"Wah, jadi kamu anaknya Mas Arwan sama Mbak Zailah! Ayo masuk dulu, Tante sudah lama nggak ketemu kamu. Bagaimana keadaan papa kamu sekarang?" Vita langsung menarik tangan Candra dan melupakan Dinda.


"Alhamdulillah, sehat Tante," kata Candra pasrah ditarik ke dalam rumah.


Dinda mematung dan hanya menatapnya bengong. "Ayo sayang, buruan masuk! Kenapa diam di situ?" panggil Vita meliriknya sekilas.


"Iya, Bunda," ucap Dinda masih linglung. Dinda meresa bagaikan orang lain dan Candra adalah anak Bunda Vita.


"Duduk dulu ya, biar Bunda buatkan minuman dulu."


Candra mengangguk dan duduk di ruang tamu tepat saat Dinda yang melewatinya menyusul Vita ke dapur. "Bunda, Adin mandi dulu ya," ijin Dinda sambil melirik ke ruang tamu.


"Ya sudah, sana!" usir Vita dan dibalas Dinda manyun.


Tidak menghiraukan keberadaan Candra, Dinda langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya. Dari lantai bawah, Candra memperhatikan gerak gerik Dinda yang terjangkau penglihatannya.


"Silakan diminum Nak Candra." Vita meletakkan gelas yang berisi teh hangat.

__ADS_1


"Terimakasih, Tante. Seharus Tante tidak perlu repot-repot," ujar Candra sungkan.


"Sama sekali tidak merepotkan."


"Siapa Bun?" Keduanya menoleh ke asal suara.


"Ayah, sini deh!" Vita melambaikan tangan pada suaminya.


Alvaro berjalan mendekati istrinya dengan rasa penasaran. "Coba deh, Ayah lihat! Apa Ayah bisa menebak siapa dia?" tunjuk Vita pada Candra.


Alvaro menelisik penampilan dan perawakan Candra, dan mengerutkan dahinya dalam. "Seperti kenal, tapi lupa," seru Alvaro pelan.


Di perhatikan oleh pria paruh baya yang sudah lengkap memakai baju dan sarung serta peci di kepalanya, membuatnya hanya bisa tersenyum kaku.


"Mirip mas Arwan-kan?"


"Mas Arwan!" beo Alvaro sambil memandang istrinya.


"Iya, mas Arwan."


"Anaknya Mas Arwan?" tanya Alvaro yakin.


Vita mengangguk, Alvaro pun kembali menoleh pada Candra yang langsung ikut menggaguk.


"Siapa nama kamu?" tanya Alvaro sembari tersenyum.


"Candra om."


"Oiya Bunda, kalau nggak salah ... waktu Candra masih kecil, kita pernah ketemu sama dia," kata Alvaro sambil mengingat-ngingat.


"Iya, pernah! Kalau nggak salah pas liburan sekolah, mama kamu ngajak mampir ke sini," Vita ikut menyahut.


"Saya nggak inget, Tante. Umur berapa?" tanya Candra.


"Mungkin sekitar umur delapan tahun."


"Nggak ingat," ujar Candra jujur.


"Nggak apa-apa, sekarang kamu tinggal di mana?"


"Di rumah keluarga mama, Tante. Kebetulan sudah lama kosong. Jadi saya putuskan untuk menempati nya."


"Sering-sering-lah berkunjung ke sini," usul Vita.


"Insya Allah, Tante."


"Ayo, minum dulu!" suruh Alvaro yang melihat isi gelasnya belum berkurang.


"Terimakasih," Candra segera meminumnya.


"Sebaiknya saya permisi sekarang, Om ... Tante," Candra ijin pamit pulang.


"Loh, bentar lagi magrib. Kenapa nggak ikut magrib di sini saja?" ujar Alvaro.

__ADS_1


"Nggak apa-apa om, biar magrib di jalan aja nanti. Oiya, saya titip ini buat Dinda." Candra menyerahkan uang lima ratus ribu.


"Buat apa ini?" tanya Vita heran.


"Itu punya dia, Tante," ucap Candra tidak menjelaskan secara jelas.


"Ohh, ya sudah. Kamu hati-hati di jalan! Lain kali, mampir ke sini lagi ya?"


"Insya Allah. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Gegas Candra pulang, dia lebih memilih ikut magrib di masjid ketika dalam perjalanan dari pada Candra harus merasa segan jika merepotkan keluarga Dinda.


"Mas Candra-nya, sudah pulang Bun?" tanya Dinda sambil turun tangga. Wajahnya sudah terlihat segar.


"Iya, baru saja. Ini, ada titipan dari Candra. Katanya punya kamu!" menyerahkan uang tadi.


"Loh, ini uang dia kok ... kenapa dibalikkan lagi?"


"Bunda nggak tau, mending kamu simpan aja!" Vita langsung memindahkan uang itu ke tangan Dinda.


Mau tidak mau Dinda menerimanya dengan perasaan dongkol, karena dia ingat betul apa yang dikatakan Candra kemarin. Bahwa uang yang Dinda pakai untuk bayar belanjaannya itu menjadi utangnya.


Tapi sekarang apa? Ketika Dinda sudah membayarnya ... Candra malam mengembalikannya.


Apa-apaan ini? Dasar aneh.


Vita meninggalkannya menyusul sang suami yang telah lebih dulu ke teras rumah, guna menunggu waktu hingga sampai magrib.


Dinda kembali ke kamar, menyimpan uang yang tadi diterimanya ke dalam dompetnya dan menempatkan secara terpisah agar Dinda ingat mengembalikannya lagi.


Bersantai sejenak, Dinda pun membuka aplikasi berwarna hijau dan masuk dalam grup wewek. Tapi notifikasi seseorang membuatnya urung untuk bertegur sapa kepada teman-temannya.


📨"Assalamualaikum sayang, kamu sudah pulang?"


"Wa'alaikumussalam. Iya, mas Adit. Aku sudah pulang," tulis Dinda membalas pesan Adit.


📨"Ku pikir belum pulang! Soalnya mobilmu ada di parkiran."


"Emang sengaja ditinggal Mas, soalnya tadi ikut Kaamil," balas Dinda tidak menyebutkan Candra yang mengantarnya pulang.


📨"Oh gitu, ok! Aku mandi dulu, bentar lagi magrib. Jangan lupa solat ya? Assalamualaikum. Love you.😘😘😘"


"Wa'alaikumussalam." Dinda meletakkan hpnya ke atas nakas sambil tersenyum, tapi tidak tertarik untuk membalas emot dari Adit.


Lima belas menit kemudian suara azan berkumandang bersahutan dari mesjid ke mesjid. Dinda bersiap mengambil mukena dan ikut bergabung solat ke masjid di dekat rumah tersebut bersama Ayah Al dan Bunda Vita sambil berjalan kaki.


Kebanyakan para warga lebih suka berjalan kaki sambil mengobrol, laki-laki dengan kaumnya dan perempuan juga sesamanya.


Semua orang kini menjalankan sholat berjamaah dengan serius dan khusyu. Menghilangkan perbedaan status sosial, dan menyamaratakan kedudukan mereka di hadapan sang khalik. Saling menghargai satu sama lain, sebagai makluk ciptaan Allah swt yang beriman.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


Semoga kita selaku dalam lindungan Allah swt. Amin 🤲.


__ADS_2