
...'Hiduplah dalam saling tolong menolong, karena hidupmu tak akan berarti apa-apa tanpa orang lain.'...
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Hari-hari yang Dinda lewatkan terasa begitu menyenangkan, apa lagi ditengah-tengah kesibukan Adit selalu menyempatkan diri menghubunginya kala menjelang tidur atau pun selepas sahur.
Tidak banyak yang mereka bicarakan, tapi itu mampu dan sudah cukup untuk menutupi kerinduan yang semakin membuncah di antara jiwa keduanya.
Perlakuan Adit kian hari kian membuat benteng pertahanan Dinda goyah dan tak tertahankan. Tidak bisa dipungkiri memang, jika rasa kecewa dan sakit hati yang ditoreh, kan, mantan Suaminya terobati oleh kehadiran Adit.
Dinda pun sudah memberi tahu kedua orang tuanya yang berada di kalimantan, begitu juga kepada Bunda Vita dan Ayah Al. Menceritakan tentang seorang Laki-laki yang ingin meminangnya lagi usai genap masa idah-nya.
Namun, Dinda sadar, dulu pilihannya sangatlah ditentang oleh keluarganya. Maka dari itu, sekarang Dinda akan berlapang dada jika orang tuanya kembali menentangnya.
Ternyata, diluar dugaannya. Seluruh keluarga menyerahkan pilihan kepada dirinya sendiri dan tidak akan mempermasalahkan, asalkan Dinda bahagia.
Keluarga Dinda tidak ingin, hanya karena terhalang restu mereka membuat pernikahan Dinda hancur terulang kembali.
"Jadi ... besok pagi Imah sudah sampai, kan?" tanya Dinda pada sambungan teleponnya.
Sekarang Dinda sedang bermalas-malasan di atas kasurnya sambil tengkurap. Walau waktu sudah menunjukan pukul sepuluh menjelang siang, tapi Dia enggan untuk beranjak dari situ dan memilih saling bertukar kabar bersama sahabatnya-sahabat nya melalui telepon grup.
📞"Iya, jangan lupa besok ke rumah Rahimah. Kita bukber, oke?" suara cempeng Nurul terdengar menggema, memenuhi pendengarannya.
"Oke, nanti Aku bawa takjil buat kita bukber. Sekalian, bawa makanan buat para tetangga. Kemaren Imah minta siapkan, buat syukuran kecil-kecilan," sahut Dinda menanggapi.
Sudah sembilan hari memasuki bulan Ramadhan, dan hari kesepuluh sahabat mereka sudah mengatakan bahwa akan datang dari tanah suci.
📞"Siip, nanti Aku bawa minumannya." Soraya ikut bersuara.
📞"Aku bantu makannya aja, deh," sambung Nurul yang langsung mendapat ejekan dari Dinda dan Soraya.
"Huuu, dasar ... pengen enaknya mulu," kesal Dinda tapi terselip senyuman.
📞"Dari dulu, Dia mah," timpal Soraya.
📞"Harap dimaklumi, sodara-sodara ... ibu yang satu ini sedang dalam proses pembangunan," elak Nurul tertawa jenaka.
Selain sipat hemat Nurul yang sedari dulu, Dinda dan teman-teman tahu, kalau saat ini Nurul sedang memperbesar rumah kecilnya. Jadi tidak heran jika, Dia berbicara seperti itu.
"Untungnya Mas Ari nggak pernah ngeluh ya, punya istri yang hematnya, nauzubilah," goda Dinda diiringi tawa.
📞"Enggak dong. Mas Ari malah kesenangan, bukannya ngeluh," ucap Nurul ikut tertawa.
📞"Iyalah ... soalnya bisa jadi invitasi," tambah Soraya.
__ADS_1
"Adin!"
Suara Bunda Vita dari balik pintu kamarnya memutus konsentrasi Dinda. "Iya, Bunda," sahut Dinda segera beranjak.
"Gays, sudah dulu ya? Bunda manggil," pamit Dinda pada kedua sahabatnya.
"Iya, Bunda. Ada apa?" tanya Dinda ketika pintu kamarnya Dia buka dan Vita berdiri di depannya.
"Tadi Kaamil, telepon! Katanya nomor kamu lagi sibuk, makanya Bunda panggil," ujar Vita menjelaskan kenapa Dia memanggil Dinda.
"Hah, Kaamil telepon Aku?" Dinda langsung mencek riwayat panggilan, dan ternyata memang ada. Sekitar lima kali panggilan tidak terjawab dari sang Adik.
"Emang ada apa, Bun?" tanya Dinda penasaran.
"Bunda juga nggak tau, Dia suruh kamu telepon balik," kata Vita dan dibalas anggukan dari Dinda.
"Ya, sudah. Aku telepon dulu, Bun." Dinda langsung masuk dan menutup pintu ketika Vita berlalu dari depan kamarnya.
Dinda mengerutkan kening, karena Kaamil tak kunjung mengangkat teleponnya. Saat di panggilan ketiga, baru Kaamil menjawab dengan suara yang terdengar begitu cemas.
📞" Kakak lagi nggak sibuk, kan?"
Kening Dinda semakin dalam, karena tidak biasanya Adiknya itu terburu-buru dalam bicara.
"Nggak, ema--."
"Maksudnya? Kakak ke tempat kerja kamu?" tanya Dinda bingung.
📞"Bukan, Aku lagi nggak di kantor."
"Hah, nggak di kantor? Maksud nya gimana sih?" Dinda semakin bingung dengan jawaban Kaamil, setahunnya tadi pagi Kaamil berangkat ke kantor.
📞"Aku lagi di rumah Mara, Kakak buruan ke sini. Cepetan."
Dinda terperangah dengan mulut menganga, setelah mengatakan hal itu Kaamil malah memutus sambungan teleponnya secara sepihak.
"Ini bocah, ngapain juga di rumah Mara?" monolog Dinda terheran-heran.
Dinda segera mengganti pakaian rumahan dengan baju tunik panjang di bawah lutut berbahan wolfis berwarna maron memiliki detail kancing, dipadu padankan dengan celana reyn pants berwarna cream, dan pasmina berwarna senada.
Selesai mengganti baju, Dinda menyambar ponsel, kunci mobil, memasukkan ke dalam envlope clutch, dan memakai sendal yang berhak sedikit.
"Bunda, Adin pergi dulu?" pamit Dinda bersalaman.
"Mau ke restoran?" tanya Vita menyambut.
__ADS_1
"Enggak, ke rumah teman," kilahnya tidak ingin bercerita.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Turun dari mobil, Dinda menatap sekeliling rumah yang terlihat besar tapi sepi. Seorang penjaga, datang menyambutnya di depan pagar.
"Mau cari siapa ya, Mbak?" tanya penjaga tersebut.
"Mau ketemu Mara, Pak. Ada?"
"Dengan siapa, ya Mbak?"
"Adinda, Pak."
"Sebenar, ya Mbak," izinnya berlalu ke tempat pos jaga, dan terlihat seperti melakukan panggilan telepon.
Dua menit kemudian penjaga tersebut kembali. "Silakan masuk," ujarnya memberi jalan.
"Di dalam, ada teman Non Mara juga Mbak. Kata Non Mara, Mbak ini Kakak temannya Non Mara yang tadi ya?" tanya Pak penjaga sambil mengantarnya menuju pintu rumah.
"Iya, Pak. Oiya Pak, kok rumahnya sepi banget? Pada kemana orangnya?" tanya Dinda penasaran. Walau rumahnya juga besar, tapi sangat terasa kehidupan tidak seperti rumah Mara.
"Oh. Kedua orang tua Non Mara, lagi ke luar kota, Mbak. Sementara, para pembantu lagi mudik," ujar Pak Penjaga, yang diketahui Dinda Pak Dayat setelah membaca tag namanya.
"Silakan Mbak, langsung naik aja ke atas. Saya permisi dulu." Pak Penjaga pamit kembali ke pos jaganya.
Dinda masuk semakin dalam ke rumah tersebut. "Kak,' panggilan Kaamil dari lantai atas sambil turut cepat.
"Mil, Emang ngapain sih?" tanya Dinda masih heran.
"Udah, cepetan naik. Mara lagi kesakitan." Kaamil langsung menarik tangan Dinda dan membawanya naik ke lantai atas.
"Emang Dia, sakit apa?" Dinda semakin heran dan penasaran.
"Aku juga nggak tau, Dia kaya kesakitan banget gitu ... tapi Aku ajak ke rumah sakit, Mara nggak mau," cerita Kaamil.
"Apa sakitnya, sangat serius? Kenapa Mara nggak mau di bawa ke rumah sakit?" mendadak Dinda ikut khawatir.
"Makanya Aku hubungi Kakak, biar bujuk Mara. Supaya mau ke rumah sakit." Dinda mengangguk setuju.
Kedua nya langsung menuju ke sebuah kamar.
__ADS_1
"Mara?" sapa Dinda yang melihat Mara meringkuk di atas kasurnya dengan wajah pucat.
BERSAMBUNG ....