Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
(Extra part)


__ADS_3

PoV Dinda.


Saat itu aku sedang asyik menontot drakor kesukaan Bunda, ketika Mas Bara mendadak mengajakku pulang ke rumah yang sudah lama kami tinggalkan.


Ya, semenjak ayah mertuaku menginap dan memanggil suamiku dengan nama 'Barat', kami semua jadi ikut--ikatan memanggil nya 'Bara'.


Kembali pada pembahasan yang sempat tertunda. Terkejut? Tenta saja. Aku yang beberapa hari ini tengah menikmati kebersamaan berada di tengah-tengah mama, papa, bunda, ayah, dan jangan lupakan juga adik lelaki satu-satuku. Rasanya enggan pun tidak rela untuk meninggalkan mereka.


Namun, sebelum aku benar-benar melayangkan protes, karena tidak setuju dengan keinginannya itu. Papa malah berkata yang membuat aku tidak bisa bersuara. Lidahku mendadak kaku dan keras untuk digerakkan, walau hanya untuk mengeluh saja.


"Jangan lupa! Nanti sering-seringlah berkunjung ke sini atau ke rumah Papa. Biar kami tidak khawatir. "


Tanpa diperjelas pun, aku sudah mengerti maksud dari ucapan papa. Secara garis besar, Papa mengijinkanku untuk ikut suamiku.


Apa yang bisa aku lakukan? Tidak ada. Selain menurut dan pasrah, aku hanya bisa menghela napas panjang. Apa lagi mama dan bunda sama sekali tidak bersuara.


Akan tetapi, sebelum kami pergi dari rumah bunda, Mas Bara mengajak mama bicara berdua. Ya, hanya berdua.


Siapa yang tidak penasaran dan ingin ikut mendengarkan mereka? Beegitu juga aku.


Di dalam mobil yang dikemudikan supir taksi yang akan mengantar kami ke rumahnya. Aku tetap diam tak berbicara.


"Kamu marah, ya?"


Tebakannya tepat 100%, tapi kenapa tidak mengerti dan membiarkan aku untuk tinggal.


"Hai! Marah kenapa?" bisik Candra sembari merangkul bahuku.


Aku memutar bola mata malas, karena Mas Bara pura-pura tidak tahu tentang kemarahanku. Padahal wajah jutek dan sinis sudah aku tunjukan ketika kami masih di rumah bunda. Akan tetapi, hanya padanya. Catat ya, hanya padanya!


"Iih ... apaan sih? Ntar dilihat pak supir lagi," tegurku menahan kesal sembari berbisik.


Bagaimana aku tidak kesal? Mas Bara, mencoba menciumku. Sebenarnya tidak masal jika dia menciumku. Hanya saja, tidak di hadapan orang juga.


"Makanya dijawab kalau suami lagi tanya?" katanya sambil menjawil hidungku.


Aku menghela napas kesal dan pasrah.


"Marah kenapa?"


Malah bertanya lagi, tapi hanya bisa kuprotes di dalam hati.

__ADS_1


"Nggak, sama sekali nggak marah," balasku santai.


"Yakin?" kalau bukan berada di dalam taksi, aku jamin rambutnya yang kini mulai gondrong itu sudah kujambak.


"Yakin," kujawab tegas agar dia tidak lagi bertanya.


"Baiklah," kurasakan tangan yang sejak tadi bertengger di bahuku, perlahan terangkat seiring dia berucap.


Terasa lama perjalan yang kulalui, dan aku mulai jenuh. Hingga akhirnya kami sampai di rumahnya. Seperti biasa, ketika kami datang. Nenek Ratih lah yang menyambut kami.


Tidak ada pertanyaan dari beliau, tentang keadaanku. Mungkin Mas Bara sengaja tidak memberi tahu para pelayannya. Atau, bisa juga Mas Bara meminta mereka bersikap biasa-biasa saja di depanku. Entah lah, aku tidak ingin terlalu memikirkannya.


Sekarang yang ada dalam benakku adalah, kisah tentang perjalanan hidupku. Semua lika-liku kehidupan serta pahit dan manisnya sudah kurasa, hingga enggan untuk terulang kembali. Kuharap begitu.


Aku merebahkan tubuhku yang seketika menjadi lemas ketika masuk kamar. Bukan cuman badanku yang lelah, tapi pikiranku pun ikut lelah.


Aku tersentak kaget ketika merasakan pergerakan kecil di sampingku.


"Capek ya? Tidurlah!" suruh Mas Bara.


"Nggak boleh tidur di sore hari. Aku cuman baring bentar, kok," tentu saja aku tidak berminat untuk tidur, karena aku hanya istrahat sebentar.


"Kalau gitu---."


"Jangan macam-ma," belum tuntas aku menyelesaikan kalimat ku. Tiba-tiba Mas Bara sudah berada di atas ku dan membungkam mulut ku sambil memengang kedua tanganku sejajar dengan kepala.


Ish, dasar memang. Aku yang hendak memberontak, lama kelamaan malah menikmati ciuman itu. Ya ampun, malunya aku.


"Kita olahraga sebentar," bisik Mas Bara membuat sekujur tubuhku merinding.


Tidak pernah terpikir, jika akan secepat ini aku membuka hati pada pria yang kini menjadi suamiku. Aku kiri nama seseorang itu akan sulit untuk dihapus, tapi nyatanya aku salah.


Cinta itu tumbuh karena terbiasa, dan itulah gambaran tentang kisah cintaku. Marah yang sempat membelenggu hati, kini lenyap entah ke mana saat Mas Bara menjamah tubuhku.


Untuk kedua kalinya, aku pasrah dan membiarkan tubuh ini menjalankan kewajibannya.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Satu minggu kemudian ....


"Jadi itu yang Mas, bicarakan sama mama?" tanya Dinda ketika Candra mengajak bicara serius.

__ADS_1


"Iya," jawab Candra pendek.


Dinda menghela napas panjang dan berat.


"Jangan khawatir! Bukankah kau sudah tahu dengan kondisimu? Jadi, tinggal aku yang harus memeriksakan diri," lanjut Candra setelah sempat hening.


"Aku tidak yakin itu, Mas," ragu Dinda, "kamu pasti sangat sehat. Dan yang bermasalah itu adalah aku," tambahnya sendu.


"Dengarkan aku!" pinta Candra serius, "aku sudah bicara sama mama, dan kata mama. Kemungkinan waktu itu kamu tidak dalam masa subur. Jadi, untuk hamil itu sangat sedikit," hibur nya.


"Apa lagi, dia jarang menyentuh mu. Itu malah semakin sedikit peluang untuk hamil."


"Apaan sih, kok bawa-bawa masa lalu," ujarnya merajuk.


Candra terkekeh dan mendekapnya sayang.


"Apa kamu tidak mau, jika mempunya anak dariku? Aww, sakit yang," protes Candra yang baru saja mendapat cubitan dari Dinda.


"Habisnya, nanya kok gitu," kesal Dinda bersungut-sungut.


"Iya, iya, maaf."


"Tapi, banyak resikonya loh, Mas. Apa lagi umurku sudah kepala tiga," kata Dinda mengatakan unek-unek nya.


"Aku sudah tanya sama mama. Kata Mama, itu bisa diatasi kalau kamu rutin kontrol," jelas Candra.


"Iya, aku tahu itu. Tapi---."


"Tapi kenapa?" Candra mengurai pelukannya dan menatap lembut wajah sang istri.


"Gimana kalau aku tetap nggak bisa hamil juga, walau kita mengikuti program itu?" tanya Dinda seketika berkaca-kaca.


"Nggak masalah. Kalau kamu takut dengan hal ini. Aku nggak akan paksa kamu ... aku nggak akan ungkit-ungkit lagi tentang ini. Kita hanya akan menunggu hingga Tuhan memberikan kepercayaan itu sama kita," Candra menarik Dinda dalam dekapannya sambil mengecup keningnya mesra.


Dinda memejamkan mata yang sejak tadi sudah bertumpuk bulir-bulir kristal. Seketika air matanya berjatuhan, saat menyadari betapa egoisnya dia.


Seharusnya dia optimis dan mengikuti kemauan Candra untuk mencoba, walau sekali saja. Akan tetapi, rasa takut terlalu menguasai perasaannya.


"Maafkan aku, Mas," gumam Dinda di dalam hati.


"Jangan dipikirkan, lupakan saja," bisik Candra lembut seolah tahu pergelutan antara logika dan nalurinya.

__ADS_1


"Haruskah, aku mencobanya, Mas?" monolog Dinda membatin dan mengeratkan pelukannya.


Jangan lupa dukungannya, ya gays. Biar othor tambah semangat lagi nulisnya. 😁


__ADS_2