
Dinda menapaki anakan tangga dengan langkah gontai sembari memperhatikan dua pria berbeda generasi tengah berbicara serius di ruang tamu.
Perlahan dan pasti kakinya berjalan mendekat. "Mas Adit," sapa Dinda menyela percakapan mereka dan membuat keduanya menoleh bersamaan.
"Adinnya sudah datang. Kalau gitu Om tinggal dulu ya, Nak Adit," izin pria paruh baya itu sambil berdiri.
"Iya Om, makasih," ucap Adit ikut berdiri.
"Makasih, Yah," kata Dinda lirih saat berpapasan.
"Hmm, Ayah ke atas dulu. Biak-baik, kamu," bisiknya pada Dinda.
"Sayang," ujar Adit setelah mereka hanya berdua.
Dinda duduk di kursi panjang, Adit mendekat dan ikut duduk di sampingnya menyisakan sedikit sekat.
Keadaan mendadak hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan, mereka hanya menunduk saling diam dalam pikiran masing-masing.
"Mas---."
"Sayang---."
Kompak saling memanggil dalam waktu yang bersamaan.
"Mas dulu---."
"Kamu dulu---."
Kembali mereka serempak menyerukan sebelum akhirnya hening lagi. Dinda menghela napas perlahan, sadar jika Adit memilih diam untuk mempersilakannya bicara lebih dulu.
"Mas Adit ... pasti udah tau kabar tentang aku, kan?" tanya Dinda pelan sambil menunduk dan memainkan kedua ibu jarinya.
"Awalnya aku biasa-biasa saja ketika melihat berita itu di media sosial karena wajahnya diblur, dan namanya mungkin saja hanya kebetulan sama. Tapi ... saat ada salah satu temanku mengirimkan foto yang sangat jelas wajahnya membuatku sangat kaget ," jawab Adit jujur.
"Media sosial," gumam Dinda lirih, tapi masih terdengar Adit.
"Kamu nggak tau, kalau foto-foto itu sudah menjadi trending topik di beberapa media?"
Dinda menoleh dan menggeleng lemah. Dia bener-bener tidak menduga, bahawa berita tentang dirinya akan secepat itu menyebar.
Dinda melemas dan pikirannya kalut, tidak terbayang jika berita tentangnya sampai kepada orang tuanya.
__ADS_1
"Lalu ... bagaimana pendapatmu, tentangku, Mas?" tanya Dinda gugup.
"Walau kita kenal hanya dalam hitungan bulan, tapi itu tidak akan langsung membuatku berpikiran buruk tentangmu."
Dinda tertunduk dalam sambil memejamkan mata tak kuasa menahan genangan kristal yang berdesakan ingin keluar.
Seandainya dia mengatakan yang sebenarnya, apakah Adit akan tetap percaya padanya? Bahwa dirinya tidak melakukan lebih dari sekedar difoto tersebut.
"Aku tidak akan mendesakmu tentang rencana lamaranku, mungkin saat ini waktunya belum tepat. Sebaiknya kita selesaikan dulu masalah ini bersama-sama, barulah memikirkan tentang keinginanku untuk meminangmu," ucap Adit tulus sambil menangkup wajah Dinda.
"Mas Adit---," kata Dinda bergetar. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," lanjutnya dengan keyakinan bulat.
"Katakanlah, aku siap menjadi pendengarmu." Adit mengangguk yakin, menunggu apa yang akan dikatakan wanita pujaan hatinya.
"Wa--wanita ... difoto itu---," ucap Dinda menatap Adit dengan derai air mata.
"Hmm," gumam Adit sambil mengusap kedua pipi Dinda.
"Me--memang ... aku, Mas."
Seketika gerakkan ibu jadi Adit berhenti. Mata tajamnya menatap kedua manik Dinda bergantian, mencari kejujuran yang tersirat di antara air mata.
"Jadi wanita itu ... benar-benar dirimu?" tanya Adit tegas.
"Tapi aku tidak melakukan apa-apa, Mas. Aku bersumpah, itu tidak seperti yang terlihat," kata Dinda cepat saat Adit menarik kedua tangannya dan langsung digenggam Dinda erat.
"Kenapa, kamu sampai ada di sana? Lalu siapa pria yang menjadi teman berfotomu, itu?" tanya Adit datar sembari menarik paksa kedua tanggannya.
"Aku tidak mengenalnya, Mas. Aku akan menceritakan semuanya, asalkan kamu mendengarkannya," pinta Dinda sendu.
Adit berdiri cepat, Dinda pun ikut berdiri. Perasaan yang was-was membuat air matanya berjatuhan tanpa henti dan segukan.
"Mas Adit," panggil Dinda lirih dan gemetar.
"Dengarkan dulu ceritaku, Mas---," mohon Dinda.
"Kamu bisa menyimpulkannya, setelah mendengar cerita yang sebenarnya," sambung Dinda.
"Maaf, Dinda ... mungkin lain kali. Untuk sekarang, hatiku sedang tidak baik-baik saja," tolak Adit, bahkan panggilan sayang yang tadi sempat menyamput Dinda tidak lagi diucapkannya.
Bola mata lelaki itu memerah, rahang tegasnya mengeras karena tidak tahan mendengar pengakuan wanitanya. Ingin memilih pergi untuk menenangkan hati yang tiba-tiba hancur, merasa terkhianat dari sudut pandangnya.
__ADS_1
Tatapan tajam lelaki yang tadi malam melamarnya bagaikan ribuan belati menyayat hati, kalimat yang dilontarkan Adit tak ubahnya garam yang ditaburkan di atas luka. Dia hampir tak merasakan kakinya berpijak. Sakit dan perih, itulah yang membelenggu jiwa raganya.
"Lalu bagaimana dengan hatiku, Mas? Hatiku juga sedang tidak baik-baik saja," kata Dinda berupaya tegar.
Adit menghela napas berat, diam sejenak dengan tatapan melembut, perlahan dia duduk kembali begitu pun Dinda yang mulai lega.
Dinda mulai bercerita tentang kejadian malam itu. Sama seperti apa yang dia ceritakan kepada teman-temannya, diulangnya kepada Adit.
"Maaf ... karena sudah berpikiran buruk, tentangmu," sesal Adit setelah merenung. Dia hampir saja memakai egonya, dari pada perasaan percaya.
"Nggak apa-apa, Mas," kata Dinda maklum, tapi di dalam hati ada sedikit kecewa karena Adit yang akan meninggalkannya.
"Aku akan bantu cari orang buat melacak penyebaran foto-foto, itu."
Dinda menganggu lemah, tidak akan menyia-nyiakan bantuan siapa pun.
...♡♡♡♡♡♡...
Dinda melamun di dalam kamarnya usai bercerita tentang kejadian malam itu kepada Vita, Al, dan Kaamil saat berkumpul di ruang tv. Adit juga sudah pergi sebelum magrib tiba.
Bagaimana pun juga, keluarganya harus tahu cerita yang sebenarnya. Itu akan memudahkan keluarganya dalam mengusut kasusnya.
Di dalam lamunannya terbesis kecewa pada Adit, pria yang mulai mengusik hatinya itu hampir saja meninggalkannya tanpa mendengar penjelasannya.
Baru tadi malam dia begitu merasa dicintai, dan sekarang rasa kecewa membuat hatinya tambah terluka.
Teringan apa yang dikatakan Adit tentang media sosial, membuatnya memberanikan diri untuk meninjau perkembangan berita itu.
.
'Baru-baru ini telah beredar foto sepasang kekasih yang tengah memadu kasih di sebuah kamar hotel.'
'Disebutkan bahwa A-L (31thn) adalah putri pertama dari pengusaha tambang batu bara asal Kalimantan, yang juga tengah melebarkan sayapnya di industri kota Jakarta, metro politan.'
'Belum diketahui siapa pria yang menjadi pasangan A-L. Namun, diduga pria itu bukanlah kekasihnya, melainkan hanyalah pria panggilan yang menyediakan jasa untuk wanita kesepian.'
'Berita yang tengah ramai dibincangkan, mengatakan bahwa A-L baru saja bercerai dari sang suami, dan sekarang sedang mencari kepuasan.'
Dinda lekas mematikan ponselnya tak sanggup lagi membaca berita yang mempermalukannya. Wajahnya di telengkupkan di antara lutut dan bertopang di kedua tangannya.
Hari ini adalah hari di mana umat islam merayakan kemerdekaan, tapi tidak dengannya. Dinda merasa menjadi wanita yang paling dirugikan dan dimanfaatkan oleh konsumsi publik pencari berita.
__ADS_1
Tangis kesedihan tidak berhenti guna menenangkan, tapi nyatanya menambah sakit di hati yang terluka amat dalam.
BERSAMBUNG ....