Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 54 Cerita Kaamil.


__ADS_3

Usai mengantar mama dan papanya di bandara, Dinda dan Candra menyempatkan diri mampir ke sebuah cafe atas permintaan Kaamil.


Sebelum mereka berlalu dari tempat parkir, Kaamil memang sudah mengatakan jika ada suatu hal yang ingin dia bicarakan.


Masih di sekitar area bandara, mereka beriringan memasuki cafe yang lumayan banyak pengunjung. Candra dan Dinda memimpin jalan, memilih meja di sudut ruangan yang kebetuluan terlihat legang.


"Jadi ... apa yang ingin kamu bicarakan, Mil?" Dinda langsung melayangkan pertanyaan guna membunuh rasa penasarannya ketika pelayan sudah berlalu pergi membawa catatan pesanan mereka.


"Ini soal pengakuan Danu, tadi pagi," pangkas Kamil melirik keduanya bergantian, mimik wajah serius pun terpatri jelas membingkai.


"Sudah Kakak bilang, jangan terlalu dipikirkan! Kakak nggak mau ini menjadi beban buat kamu," potong Dinda cepat.


"Kakak tau, aku tadi pergi ke mana?" tanya Kaamil dan mendapatkan gelengan kepala dari Dinda.


Sebenarnya Dinda juga ingin bertanya soal itu, tapi dia menghargai sang adik yang mungkin saat ini sedang terbebani oleh pengakuan Danu. Jadi dia putuskan menunggu, dan sekarang Kaamil akan mengatakannya sendiri tanpa diminta.


"Aku tadi ke rumah, Danu."


Dinda tersentak dan menoleh pada Candra yang langsung membalas tatapan istrinya sambil menunggu menjelasan Kaamil lebih lanjut.


"Ngapain?"


"Nemuin adiknya."


"Kamu, nemuin adiknya?" dua kali anggukan pasti dari Kaamil mewakili pertanyaan Dinda.


"Aku tanya langsung soal pengakuan Danu, sama adiknya. "


Itu tentu yang kini Dinda dan Candra tebak saat mendengar pengakuan Kaamil bertemu dengan adik sahabatnya.


Kaamil mulai bercerita tentang pertemuannya dengan Zivi, berlanjut menguraikan terciptanya asal mula pertanyaan Zivi beberapa bulan lalu. Dia menceritakan semuanya secara rinci tanpa terkecuali.


"Berarti Danu bohong, dong?" komentar Dinda membulatkan matanya.


"Jelas itu," tanggap Kaamil.


"Berarti ada motif lain," kini Candra ikut bersua, membuat ketiganya berpikir bersamaan.


Kedatangan seorang pelayan dengan kopi pesanan mereka, seketika menghancur leburkan rangkaian gambaran dalam benak semuanya.


"Apa kamu ada musuh?" tanya Candra usai meneguk kopi hitamnya, dan meletakkan gelas dengan elegan.


"Kalau aku tau, juga nggak akan mikir," ucap Dinda mendelik Candra malas.


"Mungkin ada seseorang yang kamu, curigai?" urai Candra.


Mendengar itu, Dinda menggerakkan bola matanya ke atas sambil berpikir. Kedua alisnya hampir bertautan, keningnya pun berkerut dalam. Namun, beberapa saat kemudian dia mengangkat kedua bahunya dengan expresi biasa.

__ADS_1


"Nggak ada," kata Dinda jujur.


"Kakak beneran, nggak kenal sama ceweknya, Danu?"


Dinda hampir tersedak karena pertanyaan Kaamil, dia refleks menoleh pada Candra yang dengan santai menyeruput kembali kopinya.


"Enggak. Kakak, kan dikenalkan sama kamu," ucap Dinda bersikap santai.


Tidak mungkin Candra mengerti arah pembicaraannya dengan sang adik, jadi untuk apa dia khawatir, pikir Dinda.


"Ya, kukira Kakak kenal, trus pernah buat masalah sama dia. Soalnya aku pernah dengar dari Danu. Katanya nih ya ... Luna itu pendendam."


Dada Dinda seketika berdegup, hatinya mencolos mengetahui fakta itu. Kembali dia memperhatikan Candra yang kali ini wajahnya sedikit berubah.


"Memangnya siapa pacarnya Danu?" belum sempat Dinda memberi tanggapan, Candra sudah memberondongi Kaamil dengan pertanyaan yang benar-benar membuat hati Dinda semakin berdegup kencang dan menggila.


"Luna, kalau nggak salah ... Kaluna."


Dinda melotot dan tatap menelisik perubahan wajah Candra, disaat bersaaman dia rasanya ingin sekali menyumpal mulut Kaamil.


Baru kemarin malam dia mengetahui hubungan antara Candra dan Luna, dan dia takut jika Candra akan membela Luna karena ada ikatan keluarga.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Di perjalanan Dinda sekekali melirik Candra yang tengah fokus mengemudi dalam diam. Tidak ada lagi yang mereka bahas usai Kaamil menyebutkan nama wanita itu. Ketiganya larut memikirkan masing-masing.


Candra juga terlihat acuh tak acuh, berbeda dengan Dinda yang begitu gusar. Logika dan nalarnya berseteru, mungkinkah Candra curiga jika Kaluna yang dimaksud Kaamil adalah orang yang sama.


Bagaimana pendapat Candra tentang perselingkuhan Kaluna?


Apakah Candra akan menutup mata akan fakta tersebut, dan melupakan pengakuan Kaamil?


Atau mungkin, jangan-jangan suaminya itu sudah tahu semuanya?


Dinda belum tahu bagaimana sifat Candra sebenarnya, karena keterbatasan itu dia tidak berani menegur suaminya.


Ingatannya pun melayang pada saat kejadian dimana dia telah mencuri dengar tanpa sengaja perseteruan Candra dan Kaluna di dekat toilet dalam acara baby shower Soraya.


"Sudah sampai," suara bas Candra menyadarkan Dinda yang tengah melamun sendiri.


Dinda lekas turun, begitu juga Candra. Keduanya kembali ke kamar usai bersalaman dengan Nenek Ratih yang menyambut kedatangan mereka.


"Jadi ... apa Kaluna yang Kaamil maksud, adalah istri Mas Lintang?"


Dinda terkesiap dan menoleh saat Candra bertanya sambil menutup pintu kamar mereka. Dia bergeming, lidahnya kelu, dan bingung hendak menjawab apa.


Candra melangkah maju mendekati Dinda, memangkas jarak keduanya. Semakin dekat hingga kini berdiri tepat dihadapan istrinya.

__ADS_1


Dinda mendongkak karena Candra lebih tinggi menjulang darinya. Menelisik wajah tampan Candra yang nampak datar dan tak terbaca. Tersentak kaget saat dagunya dipegang tangan hangat dan besar Candra.


"Apa mereka itu sama?" tanya Candra lagi.


Dinda menelan ludah, apakah Candra akan marah dan mengancamnya karena tahu tentang kelakuan Kaluna?


"Kenapa diam?" tanya Candra, tangannya beralih mengusap pipi Dinda yang semakin terkejut.


Keduanya beradu pandng, detak jantung Dinda berdegup kencang. Rasa gugup karena pertanyaan Candra bercampur menjadi satu sebab tindakan sang suami.


"I--iya," jawab Dinda gagap.


"Jadi ... kumu juga sudah tahu tentang perselingkuhannya?"


Mendengar itu, bisa Dinda simpulkan. Jika Candra memang sudah tahu lebih dulu. Dinda mengangguk takut. Tangan Candra satunya pun terangkat, kedua tangannya menangkup pipi Dinda lembut.


"Apa kamu pernah terlibat pertikaian dengannya?" tuduh Candra.


Lagi, dengan diam Dinda mengangguk takut dan debaran di dada tidak bisa ditahan karena semakin menggila.


"Contohnya?"


Dinda tidak lekas menjawab, sesaat keadaan hening. Namun, usapan tangan Candra seolah menyuruhnya untuk segera menjawab pertanyaannya.


"Aku ... pernah ketemu dia ... sama Danu," aku lirih Dinda apa adanya.


"Selain itu?" tuntut Candra.


"Pernah ... sindir dia," kata Dinda sambil menunduk, naman ditahan Candra agar tetap menatap dirinya.


"Ada lagi?"


"Wa--waktu mobilku ditabrak."


"Apa dia yang menabrakmu?"


"I--iya," Dinda merutiki kebodohannya, kenapa malah memberitahukan semua prihal itu pada Candra. Tatapan Candra bak menghipnotisnya untuk selalu berkata jujur.


"Sudah sejauh itu, kamu bermasalah dengannya?" Candra memicingkan mata tanpa melepas wajah Dinda.


"Maaf ... aku benar-benar nggak sadar," ucap Dinda tulus dan takut jika Candra marah.


"Jangan takut! Jika benar dia yang telah menggangmu, maka aku akan melindungimu," ucap Candra lembut seiring dengan usapan di pipi Dinda.


Dinda mengerjapkan mata, mencerna apa yang Candra katakan. Belum puas dengan keterkejutan beruntun, dia kembali terperangah karena ditarik ke dalam dekapan suaminya.


Seketika membatu, manakala benda kenal dan hangat mendarat di permukaan keningnya.

__ADS_1


"Mas Candra meluk aku, dan mencium keningku."


BERSAMBUNG ....


__ADS_2