
Perjuangan Dinda kini dimulai ketika dia menyanggupi merawat anak mantan suaminya, tapi tentu saja dibantu Nenek Ratih, Bik Susi, dan juga pengasuh yang saat itu datang bersama sang pengacara. Seperti bayi pada umumnya, Malik selalu menangis karena mencari-cari ibunya.
Awal-awalnya jelas saja tidak semudah mengurus anak yang sudah bisa bicara. Jika anak itu lapar dan haus tinggal bilang, atau ketika mencari orang tuanya tinggal panggil mama dan papa. Akan tetapi, ini adalah seorang bayi yang hanya bisa merengek dan menangis tanpa bisa dibujuk.
Dia yang tidak pernah merawat seorang bayi sepanjang hari hingga malam, sangat meresakan betapa susahnya menenangkan Malik yang tidak berhenti menangis dan tidak mau dengan siapa pun termasuk pengasuhnya.
Pelan, namun pasti ... Malik yang terus menangis sampai segukan akhirnya mulai mau minum susu dari botol dan tertidur dalam gendongan Dinda akibat kelelahan.
Dinda pun bertanya pada pengasuh Malik tentang keadaan bayi itu beberapa hari lalu, dan jawabannya tidak jauh berbeda dengan keadaannya sekarang yang selalu menangis. Akan tetapi, kata pengasuhnya, Malik lebih rewel dari saat ini ketika hari pertama ditinggal pergi sang ibu untuk selamanya.
Ingin mengeluh ... tapi ini adalah pilihannya yang menerima bayi itu dengan suka rela. Mungkin karena keinginannya yang sudah tidak sabar ingin memiliki anak, hingga dia menerima Malik tanpa pikir panjang.
Jangan tanyakan bagaimana reaksi seluruh keluarga Dinda, terutama Mita dan Vita. Menentang. Satu kata itulah yang terucap dari keduanya. Namun, Dinda tetap berusaha meyakinkan semua orang hingga mereka pasrah dengan keputusannya untuk mengadopsi Marvin, yang kini namanya sudah dia ganti menjadi Malik.
Itulah yang terjadi pada Malik setiap harinya hingga satu minggu lamanya. Dinda merasa amat letih dan kewalahan, karena harus terjaga setiap malam guna merawat Malik yang masih harus beradaptasi dengan orang dan sekitarnya. Bisa saja sebenarnya jika dia ingin mengabaikan Malik. Akan tetapi, di balik kata lelah dan letih, ada kesenangan tersendiri saat bayi itu tertidur lelap dalam dekapannya.
"Kenapa? Capek?" Candra langsung memberikan pijitan pelan di punggung Dinda, ketika istrinya itu baru saja kembali dari kamar Malik dan duduk di tempat tidur.
"Hmm," gumam Dinda sambil terpejam, menikmati pijatan lembut yang diberikan Candra.
"Haruskah, kita titipkan bayi itu ke panti saja?"
"Jangan dong, Mas! Kasian, kan, Malik," balas Dinda cepat dan kelopak matanya terbuka guna melirik Candra yang berada di belakang panggungnya tanda protesnya tidak hanya dengan kata-kata, namun juga dari tekstur tubuhnya.
"Habisnya, kamu sekarang jadi nggak ada waktu sama aku. Gara-gara ngurus bayi itu, kamu juga kurang istrahat," keluh Candra seketika berhenti memijat dan langsung berbaring mengacuhkan Dinda.
"Elleh, elleh ... ada yang cemburu rupanya," kata Dinda terkekeh kecil sambil ikut merebahkan tubuhnya.
"Bukan hanya cemburu, tapi aku tidak suka kalau kamu tidak istrahat yang cukup hanya karena bayi itu," tatap Candra tajam.
"Iya, iya ... sekarang Malik udah nggak rewel lagi kok. Aku udah bisa istrahat dan manjain, kamu," satu kecupan Dinda berikan di pipi suaminya usai berkata demikian.
Tentu saja itu membuat Candra terkejut dan langsung senang. Sebelum Dinda menjauh, tangan kekar itu sudah lebih dulu mendekapnya dan balas mengecup di bibirnya.
Ingin berbuat lebih dan lebih sesuai naluri, tapi tiba-tiba saja keinginan keduanya tertahan oleh sesuatu yang hendak keluar dari mulut Dinda.
"Uwk," pekik Dinda tertahan sambil menarik diri dan menutup mulutnya.
"Ada apa?" panik Candra khawatir dan langsung bangkit ketika Dinda berlari cepat menuju kamar mandi.
Tanpa berlama-lama Candra turut menyusul Dinda, dan betapa terkejutnya dia saat mendapati istrinya muntah-muntah.
"Ini nih, akibat kamu kurang istrahat. Jadinya masuk angin, kan," omel Candra membantu mengusap cekuk leher Dinda.
Tidak ada tanggapan dari Dinda. Dia masih sibuk memuntahkan sisa makanan yang terakhir masuk dalam tenggorokannya.
"Hah," Dinda menghela napas lega. Perlahan dia keluar dari kamar mandi bersama Candra yang membimbingnya.
"Sekarang kamu, istrahat! Kalau nanti Malik bangun lagi ... biar Mbak Cici aja yang ngurus!" perintah Candra tegas.
"Tapi, Mas," protes Dinda memelas, "Malik udah mulai nyaman sama aku," tambahnya.
Candra menggeleng, kemudian mendorong tubuh Dinda perlahan guna duduk di atas kasur mereka.
"Mas sudah menuruti kemauan kamu yang ingin merawat bayi itu. Jadi, sekarang giliran kamu yang nurut sama, Mas."
Dinda tidak bisa mengatakan apa pun termasuk bantahan. Sebab, Candra sudah lebih dulu menyodorkan segelas air putih yang berada di atas nakas ke depan mulutnya.
Seteguk, dua teguk, tiga teguk. Gelas yang awalnya berisi air bening dengan muatan penuh itu seketika tandas tak tersisa hanya dalam beberapa tegukkan.
"Tapi kalau besok aku sudah baikan dan istrahat yang cukup ... Mas harus ijinkan aku rawat Malik, ya?" ucapan sambil menyerahkan gelas kosong.
"Kita lihat saja nanti," tanggap Candra yang seketika membuat bibir Dinda manyun.
"Ahh, Mas Bara nggak asyik," rengeknya memilih berbaring.
"Jadi, kau mau yang asyik?" goda Candra sambil tersenyum misteri dan langsung menindih Dinda.
"Massss," rengek Dinda manja sembari memberontak kecil.
"Tunggu dulu!" ujar Candra sambil berpikir, dan menghentikan aksi Dinda, "kok perut kamu gemukan, yank?" katanya sedikit menunduk guna melirik perut Dinda sambil menopang tubuhnya agar tidak benar-benar jatuh di atas tubuh sang istri.
"Masa sih?" di bawah kungkungan Candra, dia juga turut memperhatikan perutnya.
Saking sibuknya dengan kehadiran Malik, sampai-sampai Dinda tidak memperhatikan fisik nya yang sedikit mengalami perubahan. Namun, bukan hanya karena Malik, tapi memang pakaiannya yang longgar hingga membuat itu tidak kentara, dan tersamarkan. Ditambah lagi, Dinda mulai absen berkonsultasi dengan dokter kandungan.
"Jelek, ya Mas? Kalau aku gemuk?"
Candra terkekeh melihat bibir Dinda yang manyun dan langsung mendaratkan kecupan.
"Tambah seksi," bisik Candra yang seketika mendapatkan cubitan, karena saking malunya.
"Yang," panggil Candra pelan mengabaikan sakit di pinggang akibat cubitan sesaat, "seingatku ... kamu sudah lama tidak datang bulan. Benar, kan?" Dinda membalas tatapan suaminya sejenak, kemudian fokus menatap langit-langit seolah mengingat sesuatu.
"Kalau nggak salah, dua bulan sama bulan ini," balas Dinda setelah menemukan jawaban atas pertanyaan Candra.
"Jangan-jangan ... apa kamu sekarang hamil, yank?" Candra segera bangkit dan duduk menghadap Dinda sembari menatapnya penasaran.
__ADS_1
"Kayanya enggak deh, Mas. Soalnya aku udah pernah pakai alat tespek, dan hasilnya negatif tuh."
"Kapan kamu pake itu? Kenapa nggak pernah kasih tau, aku?" cecarnya tegas.
Dinda meringis dan menelan ludah, ketika dia baru menyadari bahwa sudah keceplosan menyebutkan hal tentang yang kaman mana dirinya pernah memakai alat tes kehamilan.
"It--itu ... bulan lalu, Mas."
Candra lansung bangkit tanpa bicara satu patah kata pun, membuat Dinda gelagapan. Dia takut kalau saat ini suaminya sedang marah pada dirinya, karena tidak memberitahukan masalah pasal alat tes kehamilan.
"Mas, mau ke mana?"
"Diam kamu di situ! Aku mau pergi."
"Pergi ke mana?" cegat Dinda panik, menahan tangan Candra yang hendak membuka ganggang pintu sambil membawa kunci mobil.
"Mau beli tespek," jawab Candra singkat.
Dinda melogo mendengar pernyataan itu. Tadi dia sempat panik dan khawatir kalau suaminya itu sedang marah, tapi ternyata Candra malah mau pergi guna membeli sesuatu yang sebenarnya masih dia miliki.
"Nggak perlu, Mas! Aku masih punya kok, sisa waktu itu."
"Ya udah, buruan kamu pake!"
"Tapi Mas ... kata petunjuk penggunaan nya, pakenya itu lebih akurat kalau pagi hari."
"Ada berapa buah kamu punya alat itu?"
"Emm, kalau nggak salah, lima," ujar Dinda asal.
"Ya udah, kamu punya banyak juga, pakai aja satu!" suruh Candra santai, "buruan," desaknya tanpa memberi Dinda kesempatan untuk menolak.
"Iya, iya ...," pasrahnya ke arah nakas dan mengambil benda yang akan dia bawa pergi ke kamar mandi.
Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit, lima menit, hingga tidak lama kemudian terdengar suara tarikan Dinda.
"Aaaaa."
"Kenapa, yank?" panik Candra, dan bertambah panik karena Dinda malas menangis sambil jongkok.
"Jangan nangis!" hibur Candra, "nggak apa-apa kalau belum rezeki," tambahnya sambil memeluk dan membesarkan hati sang istri.
Akan tetapi, bukannya Dinda berhenti menangis, dia malah m semakin menangis. Candra masih berusaha membujuk Dinda, ketika istrinya itu malah berbicara kesel, "orang udah dikasih rezeki, juga."
"rezeki apa?"
"Oh positif," tanggap Candra santai, "hahhh, positif?" pekiknya baru sadar mengurai pelukan dan memegang kedua bahu Dinda, menatap tak percaya.
"Alhamdulillah," ujarnya mengucap syukur turut larut dalam keharuan istri nya. Mereka pun berpelukan erat.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
"Enak kali ya, kalau sekarang makan rujak," ucap Dinda tiba-tiba sambil menggendong Malik dalam pangkuannya, ketika dia sedang berkumpul bersama Nenek Ratih, Bik Susi, dan pengasuh Malik di taman belakang rumah tersebut.
"Masih pagi, Non. Yakin mau makan rujak?" Susi memicing dan merasa aneh.
"Di kulkas ada mangga muda sama kedondong, kan, Bik?" dengan kata lain pertanyaan Dinda itu sudah mewakili jawabannya yang yakin ingin makan rujak di pagi hari.
"Iya, ada Non."
"Minta tolong, ya Bik. Buatkan rujak!" pinta Dinda yang langsung diangguki Susi.
"Kasih cabe sepuluh, Bik," lanjutnya.
Susi segera berlalu membuatkan apa yang Dinda minta. Selang setengah jam, Susi datang dengan satu piring penuh irisan mangga muda dan kedondong yang sudah dibumbui sambal petis dan kacang.
"Silakan, Non!" Bik Susi meletakan piring rujak dan gelas berisi air minum ke atas meja bundar yang menjadi tempat mereka berkumpul.
"Biar Den Malik, sama saya Non," ucap Cici, pengasuh Malik.
Dinda menyerahkan Malik pada Cici dan segera menyantap makanan pesanannya.
"Emm, enak bangat Bik," pujinya.
"Ayo Nek, Bik, Mbak, dimakan rujaknya!" tawar Dinda disela-sela kunyahan nya.
"Nggak, Non. Biar Nona saja yang makan," tolak Nenek Ratih mewakili.
"Beneran nih, nggak mau?" ketiganya kompak menggeleng.
"Ya sudah, Adin makan sendiri, ya?" lagi, mereka mengangguk serempak.
Dinda begitu menikmati rujak bumbu itu dengan lahap tanpa merasa asam dan pedas, sementara ketiga manusia didepannya itu bergedik ngeri membayangkan asam pedas yang menyatu dalam lidah majikannya tersebut.
"Buk, apa Non Adin, lagi hamil, ya?" bisik Susi pada ibunya.
"Seperti, iya," balas Nenek Ratih tetap memperhatikan Dinda yang sangan cepat menelan irisan buah mangga muda.
__ADS_1
"Ahh, enak pakai banget, Bik," ucap Dinda merasa kenyang.
Bagaimana tidak kenyang, buah rujak satu piring penuh itu habis ludes tak tersisa dimakan olehnya.
"Non," panggil Susi ragu.
"Iya, Bik."
"Nona ... hamil, ya?" tanya Susi segan.
"Hehehe, ketahuan ya, Bik?" balas Dinda bertanya yang seketika membuat semua orang tersenyum senang.
"Allahamdulilah, jadi bener, Non?" turut Nenek Ratih memastikan dan dibalas Dinda dengan anggukan pasti.
"Selamat, Non. Semoga Nano dan bayinya sehat-sehat, ya," ketiga orang yang menemani Dinda memberi ucapan selamat secara bergantian.
"Makasih semuanya."
Bunyi ponsel yang berdering dari ponsel Dinda, menghentikan percakapan mereka.
"Assalamualaikum, Ma," sapa Dinda usai membaca nama penelpon.
"Iya, Ma. Nanti habis makan siang, aku minta temenin Mas Bara buat periksa ke tempat dokter Paulina," Mita sudah tahu karena Dinda memberi tahu mama malam itu juga.
"Nggak apa-apa, nanti Adin kasih kabar ke mama, hasilnya," sahutnya setelah membiarkan mamanya bicara.
"Wa'alaikumussalam."
...🌹🌹🌹🌹🌹...
"Selamat ya, Mbak Dinda. Kehamilannya sudah memasuki sepuluh minggu," tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, betapa bahagianya Dinda dan Candra saat ini, ketika dokter Paulina memastikan usia kandungannya.
"Allahamdulilah," puji syukur keduanya gembira.
"Ada kabar bahagia lagi, nih," seru dokter, seketika keduanya bungkam, "bayinya ada dua," sambung dokter Paulina tersenyum dan langsung menular pada Dinda dan Candra.
"Masyaallah," kagum Dinda, "bayi kita kembar, Mas."
"Iya."
"Beruntung sekali ya, Mbak Dinda. Sekalinya dapat, langsung dua," Dinda mengangguk membenarkan.
"Mungkin karena ngikutin mertu saya, Dok, makanya kembar. Soalnya beliau kembar," senyum terus terselip di bibir Dinda.
"Bukan cuman papa, tapi juga ngikutin aku, yank," celetuk Candra.
Dinda menoleh tak mengerti.
"Wah, rupanya keturunan kembar, ya?"
Sekitar setengah jam lamanya, kini kedua selesai dengan pemeriksaan kehamilan Dinda. Mereka pun segera berpamitan.
"Maksudnya tadi apa. Mas?" Dinda melayangkan pertanyaan yang sejak tadi belum dia mengerti, ketika mobil mulai melaju.
"Tadi, apa?" lemparnya bertanya.
"Yang tadi, Mas. Yang Mas bilang, 'bukan cuman papa, tapi juga ngikutin aku'," Dinda mengulang ucapan Candra saat di ruangan dokter Paulina.
"Oh, itu," tanggap Candra santai, "aku belum pernah cerita, ya?"
"Cerita apaan?" bingung Dinda.
"Soal kembaranku, Bari."
"Hah, Mas punya kembaran?" pekik Dinda begitu terkejut, "nggak pernah cerita tuh."
"Berarti sekarang tau dong, ya? Jadi, nggak perlu cerita lagi," ucap Candra sambil fokus mengemudi.
"Tetap harus cerita dong! Aku, kan, penasaran sama Si Bari. Dia adik kamu, atau kakak kamu, Mas? Terus, kenapa nggak pernah cerita? Perasaan, aku nggak pernah lihat foto kalian berdua? Sekarang dia di mana, Mas?" begitu banyak pertanyaan yang Dinda lontarkan guna memuaskan hatinya.
"Aku jawab satu-satu, ya," lirik Candra sejenak, "pertama. Dia adik atau kakak aku? Dan jawabannya adalah, dia adik aku. Kedua. Kenapa aku nggak pernah cerita? Ya, karena nggak ada yang istimewa untuk diceritakan. Ketiga. Kenapa kamu nggak pernah lihat foto kami? Itu karena kami memang tidak pernah berfoto bersama. Dan keempat---."
"Kenapa nggak pernah foto bersama?" potong Dinda tidak sabar, dan menuntut jawaban.
"Jawabannya ada di nomor empat, sayang. Karena Bari meninggal saat baru dilahirkan."
"Innalillahi wa innalillahi rojiun," pekiknya lirih, "maaf Mas, aku nggak tahu," sesalnya.
"Nggak apa, sayang. Kan, memang aku nggak pernah cerita," ujar Candra tersenyum dan menggenggam tangan Dinda lembut.
Dinda tersenyum, walau hatinya merasa tak enak karena sudah menyinggung perasaan sang suami. Akan tetapi, dia berusaha menampik suasana hati itu guna menikmati kehamilannya yang sudah lama dia nantikan.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
Assalamualaikum. Terimakasih buat teman-teman yang sudah mau mengikuti kisah Dinda. 🙏 Rencananya kisah kelahiran si kembar mau saya buat chat Strory. Jadi, tunggu kabar si kembar di cerita berbeda, ya! Saya juga sedang membuat karya baru yang tidak ada kaitannya sama karya pertama dan kedua.Tapi, mohon maaf sebelumnya, karena cerita barunya tidak akan rilis bulan ini. Hehehe, mau ditabung dulu babnya. 😁
Tunggu pengumuman kelahiran si kembar di sini, ya. Nanti saya kasih kabar kalau sudah oke. Sekali lagi terimakasih, wassalamu'alaikum. 🙏☺
__ADS_1