
Keesokan harinya ....
"Kamu siapian baju kamu ya, buat ke Bandung! Nanti sore kita berangkat!" suruh Candra saat mereka baru menyelesaikan sarapannya.
Dinda terdiam dan melirik Candra, selang beberapa saat dia mengangguk mengerti. "Baju kamu, nggak Mas?" tanya Dinda memastikan.
"Nggak usah, baju aku ada di Bandung semua."
Mereka berjalan keluar rumah mengantar ke pergian Candra yang akan berangkat ke kantor.
"Berapa lama, Mas? Biar cukup aku bawa bajunya."
"Sekitar seminggu, soalnya udah lama juga nggak ketemu papah."
Dinda menganggukkan kepala walau tidak tahu pasti kapan terakhir Candra bertemu ayah mertuanya.
"Aku boleh pulang sebentar, kan, Mas? Mau ambil beberapa baju dulu di rumah," ujar Dinda meminta ijin.
"Boleh. Bawa aja mobil itu," tunjuk Candra yang bertepatan sampai di teras rumah. Dinda mengikuti ke mana arah jari telunjuk suaminya. Dia tersenyum tipis dan mengangguk samar sebagai tanggapan.
"Minta kuncinya sama Bik Susi," tambah Candra. Dia langsung berpamitan dan pergi usai mengucap salam. Meninggalkan Dinda yang masih menatap mobilnya hingga menghilang, barulah dia kembali masuk ke dalam rumah.
Karena dia sudah mendapatkan ijin pulang ke rumah, Dinda segera bersiap. Berpamitan dan meminta kunci mobil kepada Bik Susi seperti yang sudah dikatakan Candra tadi.
Dengan kecepatan maksimum, mobil hitam yang menjadi tunggangannya membelah jalan ibu kota. Sudah dipasti tanpa diragukan, jika dia harus rela bermacet-macetan. Mengingat kota yang dia lalui adalah kota orang-orang sibuk.
Jika biasanya hanya memerlukan waktu setengah jam. Maka sekarang masanya terbuang hingga satu jam. Tiba di kediaman orang tuanya, Dinda di samput penjaga rumah.
Menurut penuturan security, adiknya Kaamil sudah pergi berkerja. Sebagian ART (asisten rumah tangga) yang lainnya juga pulang kampung beberapa hari lalu, dan hanya meninggalkan Bibik Arti juga Bibik Dami di rumahnya. Namun, keduanya saat ini sedang pergi ke pasar, sehingga rumah menjadi kosong yang dijaga satu security.
Dinda lantas segera memasuki rumah dan mengambil keperluan untuknya berpergian. Saat tinggal di rumah Candra, Dinda juga hanya membawa sedikit pakaian. Jadi, dia akan menambah bajunya selain untuk ke Bandung.
__ADS_1
Meniti anak tangga sembari berlari kecil, dan langsung menuju kamarnya. Dinda melempar tas tote bag ke atas kasur, dia kemudian mengambil koper di dalam lemari. Memasukkan yang beberapa lembar baju juga celana dan lain sebagainya.
Membuka laci yang ada di nakas, Dinda terpaku saat mendapati sesuatu. Sebuah cincin yang mengingatkannya tentang sebagian kenangan bersama seseorang.
Cincin itu dia dapat saat berkumpul di rumah Rahimah. Di mana Nurul-lah yang menyelipkan ke salah satu jarinya, yang malah membuat cincin itu tidak bisa dilepaskan.
Dinda sesaat terdiam, tangannya terulur mengambil benda yang kemilawan. Menatap sedih kala teringat asal mula cincin itu terpasang.
Hanya karena Adit menunjukan sebuah rekaman video kepada teman-temannya, ketika berakting melamar dirinya di restorannya. Cincin itu sempat menetap di jarinya, hingga akhirnya Adit kembali melamarnya dalam suasana romantis dan kembali memberikan cincin lain yang kini dia simpan di rumah suaminya.
"Akan kukembalikan bersama cincin satunya," gumam Dinda lirih, sambil menatap dalam cincin yang kini ada dalam genggaman tangannya.
Menghela napas berat, Dinda mendongkak guna menghalau air yang hendak jatuh dari sepasang kelopak matanya saat tiba-tiba memanas.
Beberapa kali menghela dan menghembuskan hingga perasaannya mulai nyaman, Dinda pun menyimpan cincin penuh kenangan itu ke dalam tas tote bag hitam miliknya.
Usai membereskan pakaiaannya, Dinda menyimpan kopernya ke sudut ruangan. Tidak ingin segera pulang ke rumah Candra, dia memilih ke dapur untuk minum atau makan sesuatu sambil meneteng tas tote bagnya.
Dengan bermalas-malasan, Dinda ingin memasak cemilan untuk dia makan. Sensasi dari udara sejuk dan dingin seketika menyeruak menerpa wajah dan tubuhnya yang terbungkus baju saat pintu lemari pendingin dibuka. Sesaat dia menikmati uap es itu sembari mengambil botol air mineral berukuran sedang.
"Apa yang mau dimakan? Kulkasnya kosong," tambahnya.
Duduk di salah satu bangku kosong yang ada di dapur. Tangannya bergerak menuangkan air ke dalam gelas hingga hampir penuh. Gegas meminum, dan dalam beberapa kali tegukan gelasnya tandas tak bersisa. Itu menandakan jika dia benar-benar merasa dehaga.
"Masak mie aja kali, ya? Lagian udah lama juga nggak makan mie," ucap Dinda ketika mendapatkan sebungkus mie di dalam lemari.
Menuangkan air ke dalam panci kecil, lantas meletakkannya di atas kompor yang menyala. Bunyi ponsel yang berdering menghentikan aktifitasnya sesaat.
Dinda pun mematikan dulu nomornya dan melihat siapa yang sedang menghubunginya. "Mas Candra," monolog Dinda.
"Assalamualaikum, Mas. Ada Apa?" tanya Dinda tanpa basa basi.
__ADS_1
"Iya, Mas. Aku sekarang lagi di rumah papa," sahutnya setelah suaminya mempertanyakan keberadaan dirinya.
"Bentar lagi, aku mau makan mie dulu," kata Dinda sambil melirik panci dan kompornya yang mati.
"Cuman ada Pak Ujang. Bik Arti sama Bik Dami lagi pergi ke pasar," cerita Dinda menjelaskan siapa yang berada di rumah tersebut.
"Tadi sih, Pak Ujangnya lagi jaga. Tapi nggak tahu kalau sekarang," jawabnya saat Candra menanyai penjaga.
"Hati-hati?" Dinda mengerutkan kening mengulang pesan Candra.
"Aku kan, masih di rumah Mas? Belum berangkat."
Dinda menggeleng kepala, merasa lucu. Suaminya itu memintanya untuk berhati-hati, padahal dia sudah bilang akan makan mie dulu dan bukan untuk berpergian sekarang.
"Iya, Mas. Aku akan hati-hati," ujar Dinda mengalah saat Candra mendesaknya agak hati-hati.
"Wa'alaikumussalam," Dinda mematikan ponselnya dan menyimpan ke tempat semula.
Dia pun kembali pada niat awalnya yang akan memasak mie instan. Salah satu ikon dari Indonesia raya, dan sangat digemari semua orang.
"Tekk," bunyi suara dari kompor yang di hidupkan.
Beberpa saat kemudian, dia memasukkan mie ke dalam panci dan mengaduknya. Selama menunggu mie instan, tangannya dengan lincah menuangkan bumbu ke sebuah mangkuk berukuran sedang. Dinda sekekali kembali mengaduk mie di dalam panci.
Merasa mie yang dimasak sudah matang, tanpa menunggu lagi segera menuangkannya ke dalam mangkuk dan membuang airnya.
Bau harum dari mie goreng, membuatnya menghirup dalam. "Emm, enaknya," ujar Dinda sembari mendekatkan mangkuk ke dekat hidung.
Dinda berbalik badan hendak menuju kursinya. Namun, seketika tubuhnya membeku dengan mata terbelalak menatap seseorang di hadapannya.
Jantungnya berdetak menggila, dan lidahnya tiba-tiba kelu. Sulit untuk mengatakan apa yang saat ini ada dalam pikirannya. Tangannya pun tanpa diminta turut bergetar, tak mampu menyakini kenyataan yang ada.
__ADS_1
"Si--siapa ... ka--kamu?" tanya Dinda berusaha bersuara.
BERSAMBUNG ....