Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 39


__ADS_3

Dinda dan Kaamil sudah kembali ke rumah mereka dua hari lalu, bersama kedua orang tuanya. Sejak foto skandal itu beredar, kediaman Vita sudah memulai didatangi wartawan yang ingin mengorek informasi tentang fakta statusnya. Berbeda jauh dengan kediaman Zahir yang memiliki keamanan ketat, sehingga tidak terjangkau oleh pemburu berita.


Dinda juga tidak lagi pergi ke restoran, dia hanya menerima laporan dari Nena. Bahwa di restoran ada beberapa wartawan yang terlihat di halaman parkir telah mengintainya.


Walau kenyataannya bukanlah seorang artis, tapi gelar sebagai putri pengusaha telah menjadi daya tarik sendiri untuk diberitakan ke depan publik.


"Kakak lagi mikirin aku, ya?" Kaamil datang mengejutkan Dinda, yang sedang duduk santai di tepi kolam renang sambil merendam kedua kakinya.


"Iya. Lagi mikirin hubungan kamu sama, Mara," tanggap Dinda bergurau tak acuh.


Kaamil berdecak saat Dinda malah menyebut nama itu. Niatnya hanya ingin memecah lamunan sang kakak agar tidak selalu murung, tapi malah kena ketahnya.


"Apaan sih, hubungan pertemanan aku baik, kok," balas Kaamil ikut duduk dan memasukkan kakinya seperti Dinda.


"Kakak, kok ... ngerasa ada yang beda ya, sama hubungan pertemanan kalian?" kata Dinda tanpa melirik Kaamil. Matanya fokus pada permukaan air yang memunculkan gelombang dari pergerakan kakinya.


"Beda apanya? Orang sama aja kok, seperti pada umumnya."


"Apa kamu naksir, sama Mara?"


Dinda melirik Kaamil yang juga tengah sibuk memperhatikan air tanpa merespon berlebihan pertanyaannya.


"Nggak juga."


Dinda mengerutkan kening. Jawaban yang bertolak belakang dari pemikirannya. "Masa sih?" tanya Dinda memastikan.


"Nggak usah dibahas, nggak penting," elak Kaamil.


"Kakak nggak percaya."


"Terserah," ujar Kaamil cuek.


"Pasti kamu, suka sama Mara, kan? Kakak yakin itu," tebak Dinda yakin. Dia merasa punya topik untuk mengalihkan pikiran dari masalah yang berseliweran di benaknya.


"Idihh, udah dibilangin nggak ...."


"Tetap aja Kakak, nggak percaya."


"Minggu depan, dia nikah."


Dinda seketika menoleh. Tidak begitu terkejut, karena memang sudah tahu bahwa Mara bertunangan dengan seseorang. Namun, dia ingin melihat expresi wajah adik satu-satunya itu ketika mengatakan hal tersebut.


"Jadi ... Kakak bisa temenin aku, nggak, buat datang ke acara nikahnya?" tanya Kaamil menatap Dinda dengan wajah datar dan tak terbaca membuatnya tidak bisa menebak apa isi hatinya.


"Kakak pikir, Mara bakal batal nikah sama tunangannya," aku Dinda jujur, kembali pandangan lurus ke depan.


"Wahh. Parah nih, Kakak. Kasian dong Mara, kalau sampai batal nikah."

__ADS_1


Dinda melirik dengan ekor matanya, Kaamil sedang terkekeh kecil. "Baguslah, kalau kamu nggak naksir dia. Kakak cuman takut aja, kalau kamu patah hati."


"Nggak akan. By the way ... kemaren Kakak, ngomong apa sama, Papa?"


Dinda menghela napas berat. Kepalanya terangkat keatas, menatap langit cerah berlapiskan awan seputih kampas. Pikirannya kembali menerawang tentang pembicaraannya dengan sang ayah kemaren malam.


"Ayah, mau ketemu Mas Adit," jawab Dinda tetap menengadah.


Semua keluarga Dinda memang sudah tahu tentang kedekatannya dengan Adit, termasuk kedua orang tuanya yang sempat jauh di Kalimantan. Dia tetap memberi kabar.


"Untuk ...?" tanya Kaamil penasaran.


"Nggak tau."


"Terus, apa lagi?"


Lagi, Dinda menghela napas berat sebelum menjawab. "Kata Papa, kita harus segera menggelar konferensi pers," ucap Dinda lesu.


"Kenapa lesu gitu? Kakak harus optimis ... masalah ini pasti akan segera berakhir," ujar Kaamil menyemangati.


"Sedikit lagi, orangnya akan kita tangkap. Tadi pagi, aku sama Bang Candra sudah mendapat pentunjuk. Nanti sore, kita cari lagi orangnya," lanjut Kaamil bercerita.


Sudah dua hari ini Kaamil dan Candra mencari orang yang memiliki akun palsu untuk menyebarkan berita tentang Dinda. Seperti tebakan Candra tempo hari, ternyata pelaku penyebaran foto itu sudah pergi dari tempat persembunyiannya.


Tidak patah semangat, demi membersihkan nama baik kakak tercinta. Kaamil sengaja mengambil cuti panjang untuk menemukan pelaku sampai tertangkap.


Berita yang disampaikan Kaamil tidak serta merta membuat Dinda langsung bahagia. "Ada masalah?" tanya Kaamil serius.


Kaamil terkesiap, mencerna cerita Dinda tentang rencana kedepan dengan sedikit kebohongan.


"Kakak jadi bingung---."


"Bingung kenapa?"


"Bukannya masa iddah kakak, baru banget, ya. Gimana ngakunya."


"Udah, nggak usah dipikirkan. Biar nanti pengacara Papa yang ngurus."


"Oiya ... apa hubungannya ketemu, Mas Adit sama konferensi pers, Kak?" Kaamil baru menyadari sesuati yang ganjil dari pembicaraan mereka berdua.


"Itu yang sekarang lagi, kakak pikirin."


"Kapan, Mas Adit ke sini?"


"Nanti sore. Tadi pagi sudah, telepon."


"Kakak nggak usah terlalu mikirin itu. Mending mikirin ini." Kaamil menyiram Dinda dengan air, membuatnya seketika basah.

__ADS_1


"Emilll," pekik Dinda.


Kaamil tertawa sembari hendak berdiri. Akan tetapi, pergerakannya kalah cepat saat tangannya ditarik Dinda hingga dia tercebur.


Kini giliran Dinda yang tertawa sambil berdiri. "Ahahaha, rasaan," merasa puas karena sudah membalas. Namun, tawanya seketika terhenti dan berubah panik.


"Emil, jangan," teriak Dinda sebelum akhirnya ikut tercebur karena kakinya ditarik Kaamil.


Jadilah, mereka main kejar-kejaran di dalam air sambil tertawa riang melupakan sejenak masalah yang tengah dihadapi.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Di sebuah ruangan berukuran cukup luas dengan almari yang dipenuhi buku-buku dari berbagai jenis, besar, kecil, tebal dan tipis. Seorang pemuda dewasa tengah duduk menahan gugup di hadapan lelaki paruh baya dengan meja menjadi pembatas di antara mereka.


"Sudah lama, kenal sama anak, Om?" pertanyaan pembuka setelah sempat hening usai di persilakan duduk.


"Lumayan, Om."


"Kata anak om, Nak Adit, mau menjalin hubungan serius sama dia. Apa betul?"


Adit menelan ludah, membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering. "Iya, Om." Adit mengangguk samar.


"Apa nggak masalah, sama status anak, Om?" raut wajah serius membingkai jelas pada pria yang hampir memasuki kepala enam tersebut.


"Nggak masalah, Om." Adit menggeleng cepat.


Zahir menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi yang dapat berputar. Dia menatap datar pemuda yang menjadi lawan bicaranya, hingga Adit tertunduk takut.


"Silakan minum! Sepertinya kamu sedang gugup," komentar Zahir memperhatikan Adit.


"Dari tadi jawabanmu, pendek-pendek semua," sambung Zahir.


"Maaf, Om." Adit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena meresa malu dan menurut mengambil gelas yang berisi air berwarna kuning.


"Seingat Om, kita sudah pernah ketemu, iya, kan? Kamu asistennya Cristian. Om baru ingat ... pantes, kemaren kaya kenal sama cowok yang datang ke rumah adik ipar saya. Tapi ... namanya kok beda, ya?" Kata Zahir panjang lebar dengan kening semakin berkerut.


Adit menang pernah berkerja sama dengan perusahaan Zahir, sehingga mereka pernah bertemu beberapa kali setelah itu tidak pernah bertemu lagi.


"Sekarang namanya, Abdar, Om. Dia sudah menjadi mualaf, bukankah saya pernah kirim undangan resepsi pernikahan mereka." Adit merasa lega dengan jawabannya yang kini tidak pendek lagi seperti keluhan Zahir.


"Oh, soal itu. Jadi itu resepsi pernikahan Cris---, maksud Om, Abdar. Kebetulan waktu itu Om sedang berada di Kalimantan, jadi Om tidak tau dan hanya menyuruh anak Om untuk menggantikan. Sampaikan permintaan maaf Om, karena tidak bisa datang secara langsung" ucap Zahir tulus.


Adit mengangguk mengiyakan dan sudah mulai nyaman dengan situasi tersebut. Jika dulu sebagai rekan kerja, itu tidak apa-apa. Namun, sekarang sudah berbeda ... Zahir sebagai orang tua kekasihnya yang baru dia ketahui, jelas membuat Adit tidak karuan hingga seketika gugup.


"Nggak masalah, Om. Anak Om, sudah datang menggantikan. Itu sama saja dengan, Om yang sudah datang," tanggap Adit positif.


"Sekarang ada sesuatu yang ingin, Om katakan padamu." Zahir kembali mode serius.

__ADS_1


"Silakan, Om," bukan hanya Zahir ke mode serius, tapi Adit pun ke mode gugup. Entah kenapa dia mempunya firasat yang berkaitan dengan Dinda. Mengingat arah pembicaraan sejak tadi merujuk pada hubungannya dengan Dinda.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2