Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 82 Kaamil yang jahil.


__ADS_3

"Apa mama dan papa, tau kalau Adin ...," ucap Dinda tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena dia kembali menangis dalam pelukan Vita setelah tadi memberi kesempatan berpelukan dengan Al.


"Iya sayang ... mereka tau, tapi ...."


"Adin ngerti kok, Bun. Mereka harus menjaga kakek," sahut Dinda memotong kalimat yang dia mengerti ke mana arahnya.


Di belakang punggung Vita, Dinda mengusap pipinya ketika Al yang sejak tadi duduk di kursi samping mereka mengulurkan tangan untuk mengulas kepalanya.


"Kamu tenang saja! Mungkin lusa mereka akan datang," timpal Al menyahut.


"Nggak apa-apa, Yah. Kalau keadaan kakek masih kurang baik ... Adin paham kok," kata Dinda melirik Al.


Vita menarik dari dan langsung menatap Dinda dengan tatapan yang sulit untuk dimengerti. Kedua tangannya menggenggam lembut tangan keponakannya tersebut.


"Bunda tau kalau kamu masih sedih ... tapi ada baiknya kalau kamu juga mengetahui ini," ujar Vita menoleh pada Al, yang dibalas anggukan oleh suaminya.


Vita pun sejenak turut melirik Candra yang tengah duduk bersandar miring pada kepalan ranjang sambil memperhatikan intraksi mereka. Kalau boleh dikatakan, sebenarnya Candra merasa sangat lelah karena sejak tadi dia hanya duduk. Namun, jika dia berbaring, Candra merasa sangat sungkan kepada sepasang manusia yang sudah seperti mertuanya.


"Tentang apa, Bunda?" Dinda bertanya penasaran sambil mengerutkan kening.


"Tentang kakekmu."


"Kakek kenapa?" tanya Dinda sedikit gelisah.


"Kakek kamu ... meningga," ucap Vita pelan dengan mimik wajah sedih.


Dinda langsung menegang dan membatu. Dia sulit mempercayai apa yang tadi dia dengar, dan berharap bahwa dia salah mendengar.


"Itu nggak benarkan, Bun?" tanya Dinda setelah terdiam cukup lama.


Vita tidak langsung menjawab, membuatnya beralih menatap Al.


"Innalillahi wa innalillahi rajiun," ucap Dinda menyadari bahwa pendengarannya tidak salah.


Vita membawa Dinda dalam pelukannya ketika mulai terdengar isak tangis kecil. Mereka pun larut dalam suasana duka, hingga Dinda kembali tenang.


"Yakinlah! Kalau semua ini memang yang terbaik. Dan kamu jangan menyesali diri karena tidak bisa bertemu dengan kakek! Beliau sudah tenang di sana. Kamu cukup do'a, kan, saja beliau!" hibur Vita yang diangguki Dinda.


Lintang pun datang setelah lama tidak muncul dari sejak keberadaan teman-temannya. Candra lantas mengenalkan Vita dan Al sebagai om juga tante dari istrinya. Namun, dia juga menjelaskan jika panggilannya sudah seperti orang tua.


"Habis dari mana, Mas? Kok baru muncul?" tanya Candra pada Lintang, mereka sengaja membiarkan Dinda dihibur sepasang manusia itu.


"Tadi Mas, bayar orang buat ngurus kepulangan kalian, sesuai keinginanmu. Dan Mas pergi sebentar menemui keluarga Bagus. Sebelum ke sini, Mas cek hasil kerjaan dia," balas Lintang.

__ADS_1


Candra menghela napas panjang sambil melirik Dinda yang sudah bisa mengontrol emosinya. Tidak hanya istrinya yang berada dalam kesedihan, dia pun turut berduka atas kepergian Bagus.


"Apa Mas, sampaikan permohonan maafku kepada keluarga Bagus?"


"Ya, sudah Mas sampaikan. Mereka juga Mas beri kompensasi."


"Apa mereka tidak marah? Apa mereka tidak bertanya tentang kematian Bagus? Apa mereka mau menerima uang itu?" rentetan pertanyaan Candra lempar dengan suara yang sedikit berbisik.


"Nanti kita bicarakan lagi! Di sini tidak nyaman untuk membahasnya."


Candra kembali menghela napas berat. Akibat terbawa perasaan membuatnya tidak sabaran dan memberondongi Lintang dengan pertanyaan yang memang tidak untuk dibahas di tempat tersebut.


Meraka masih hanyut dalam pembicaraan ketika ada seseorang yang datang membuat semuanya menoleh pada tamu itu.


"Mbak Adin," seru Kaamil langsung menerobos Al dan Vita, kemudia menarik Dinda dalam pelukannya.


"Emil," balas Dinda tersenyum tipis, karena sangat merindukan adik satu-satunya tersebut.


"Kayanya penculik itu buta ya?" celetuk Kaamil sambil melepas dekapannya.


Semua orang yang mendengar seketika mengerutkan kening bingung dan bertanya-tanya dengan pernyataan Kaamil.


"Buta apanya?" ujar Dinda ketus menjawab dengan pertanyaan pula.


"Iya ... masa cewek segede ini diculik? Kurang kerjaan kali ya mereka? Apa untungnya coba? Mending culik yang masih imut, kan? Dari pada yang udah pahit gini. Mereka pasti buta, aww," pekik Kaamil kesakitan setelah bicara panjang lebar, dia malah mendapat cubitan yang keras dari Dinda di perutnya.


"Bukan ngatain, Mbak. Tapi memang kenyataannya," jawab Kaamil langsung bersembunyi di balik punggung Al.


"Emil, dasar kamu ya?" ujar Dinda berusaha menggapai Kaamil yang beralih ke kiri dan kanan di belakang Al.


Bukan tanpa alasan Kaamil mengejek Dinda, dia tidak ingin melihat Dinda sedih lagi setelah melihat mata kakaknya itu sembab dan bengkak.


"Ayah ... Emil jahat banget," rengek Dinda mengadu pada Al.


"Ayah setuju! Sebaiknya anak ini kita jual saja sama penculik itu," kata Al sambil mengapit leher Kaamil dan mendekatkannya kepada Dinda.


"Bener Yah, biar dia tarik kata-katanya itu."


"Aww, ampun Mbak, ampun," pinta Kaamil merintih karena dijewer Dinda.


"Rasakan itu!" seru Dinda bangga.


"Busett dah, ini namanya Mbak Adin, sudah sembuh. Jewernya kenceng banget," protes Kaamil mengusap-usap kupingnya yang terasa panas.

__ADS_1


"Bang," panggil Kaamil beralih pada Candra, "Lu terluka?" tanya Kaamil akrab.


"Sedikit."


"Lu harus hati-hati, Bang. Mbak Adin sudah sembuh. Kayanya Lu bakalan kewalahan," kata Kaamil dengan senyum jenaka.


"Mana mungkin aku bikin Mas Candra, repot," bela Dinda cepat.


"Tapi Bang Candra, kayanya nggak bakalan nolak kalau direpotin Mbak Adin. Apa lagi pas dingin-dinginnya waktu malam hari," kelekar Kaamil tertawa.


Dinda yang baru sadar ke mana arah pembicaraan Kaamil, langsung refleks melempar bantalnya. Tentu saja Kaamil melihat itu dan segera menangkapnya.


Dinda pun menatap wajah orang satu persatu yang tengah mengulum senyum. Dia juga melirik Candra yang sedang menggaruk pelipisnya, dan dia menelan ludah saat menebak isi kepala suaminya itu. Dia


"Kebetulan banget ya."


Dinda tersadar dari lamunannya ketika mendengar Kaamil yang kembali bersuara.


"Bang Candra pasti nanti pasrah! Apa lagi sudah seminggu puasa."


"Emil!" sentak Dinda menekan suaranya agar tidak berteriak. Sekali rasanya menghajar adiknya itu, sedang Kaamil tertawa penuh kemenangan dengan jarang yang tidak bisa Dinda jangkau.


Seorang perawan datang menghentikan pertikaian Dinda dan Kaamil.


"Sebenarnya Pak Candra masih harus dirawat, tapi karena beliau memaksa ... jadi kami tidak bisa mencegahnya. Kami harap Pak Candra, akan rajin memeriksakan lukanya! Dan ini resep yang harus kalian ditebus! Nanti akan ada perban untuk mengganti perban yang lama. Kalian bisa menggantinya sendiri di rumah!l, asalkan tidak terkena air," jelas perawat menyerahkan secarik kertas.


Yang lain terdiam meresap kalimat demi kalimat sang perawat. Candra melirik Lintang kikuk.


"Orang yang aku suruh, rupanya lupa mengambil resep itu," bisik Lintang menjawab tatapan Candra.


"Dan ini resep Ibu Adinda," lanjut perawat beralih memberikan kertas yang sama seperti Candra kepada Vita.


"Terimakasih suster."


"Baiklah. Semoga lekas sembuh ... terutama Pak Candra! Kalau begitu saya permisi," ijinnya pamit beranjak dari ruangan tersebut.


"Memang separah apa luka, Bang Candra?" Kaamil mewakili yang lain menanyakan luka Candra, "lukanya di mana, Bang," tambahnya lagi.


"Tidak terlalu parah. Perawatnya yang terlalu berlebihan," elak Candra, "kalau tidak percaya, tanya saja sama Mas Lintang," diam-diam Candra mengedipkan satu matanya pada kakaknya itu.


"Tapi kenapa harus rajin kontrol dan ganti perban?" Dinda turut bersuara.


"Itu, kan, biasa. Semua yang terluka, pasti akan disuruh kontrol."

__ADS_1


Semua terdiam dengan jawaban Candra yang masuk akal.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2