Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 64 Berita terkini.


__ADS_3

Seperti apa yang Candra katakan tadi malam. Siang hari saat jam makan siang, Kaamil datang mengunjunginya seorang diri. Beberapa hari tidak bertemu satu sama lain, membuat kerinduan menerpa keduanya ketika saling berhadapan.


Senyum mengembang semakin leber saat pelukan hangat Dinda dapatkan dari Kaamil usai mencium punggung tangannya.


"Yuk masuk! Udah makan belom?" tanya Dinda usai mengurai pelukan, tangannya langsung mengapit tangan Kaamil dan sedikit menarik ke dalam rumah.


"Belum. Makanya ke sini, mau numpang makan. Lumayan, kan ... kalau ada yang gratis. Kenapa enggak?" jawab Kaamil santai.


"Iih dasar kancil!" kesal Dinda, namun diiringi tawa.


"Ya udah, kita makan dulu! Kebetulan, Kakak tadi mau makan," imuhnya mengajak Kaamil sambil membimbing ke arah meja makan.


"Dengan senang hati," sambutnya.


"Wah ... enak nih," seru Kaamil riang, matanya langsung berbinar melihat redetan makanan tersusun rapi di meja dengan berbagai macam jenis masakan.


Tanpa menunggu dipersilakan duduk oleh Dinda, dia lebih dulu menduduk'kan bokongnya ke salah satu kursi sebelum tuan rumah, yang notabennya adalah kakak kandungnya.


Kaamil mengambil garpu yang memang sudah disediakan di atas meja, dan menusuk satu buah perkedel yang rata-rata berukuran sedang, "Siapa yang masak, nih?" tanya Kaamil di sela kunyahannya.


"Bik Susi," sahut Dinda sambil menyendokkan nasi dan menyimpannya ke dalam piring Kaamil.


"Pastesan enak!"


Dinda mendelikan mata tajam ke arah Kaamil, yang mangerti arah tujuan kalimatnya.


"Ya jelas enak dong! Orang Kakak, yang ikut bantuin masak," kata Dinda bangga, "segini?" lanjutnya menunjukan jumlah nasi.


"Udah," ucap Kaamil, "untung cuman bantuin, ya? Nggak kebayang, kalau Kakak sendiri yang masak," imbuh Kaamil sambil menunjuk ikan nila yang digoreng sedikit lebih kering.


"Emang kenapa, kalau Kakak sendiri yang masak?" kini Dinda menyendokkan sayur capcai yang kembali ditunjuk Kaamil, dan bertanjut menambahkan perkedel berserta sambal.


"Bisa-bisa bakalan banyak yang antiri Kak, karena mau makan masakan Kakak," puji Kaamil, sebab piring nasi miliknya ditahan oleh Dinda saat dia hendak mengambilnya.


"Enak banget, ya?" tanya Dinda tersenyum, kini piring miliknya yang ganti diisi nasi.


"Bukan karena enak."


Dinda melirik kesal sambil terus mengisi piring ditangannya dengan sayur. "Terus?" hilang sudah senyumnya tadi.

__ADS_1


"Karena masakannya gagal, akhirnya dibagi-bagi gratis biar nggak mubazir."


"Dasar, Emil," kesal Dinda sambil melempar pisang yang langsung disambut Kaamil diiringi tawa lepas.


"Khahaha, eh jangan-jangan ... bukan gagal, tapi enak kok," ralat Kaamil cepat sambil mempertahankan piring yang hendak ditarik Dinda.


Dinda melepaskan piring Kaamil sembari berdecak kesal. Namun, di dalam hati keduanya sedang menyikmati berdebatan kecil yang akhir-akhir ini sudah jarang mereka lakukan.


"Enak peksa."


"Khahaha, dasar kancil," keduanya pun tertawa.


Mereka pun melanjutkan makan yang sedari tadi belum dimulai dengan diam. Usai makan, Dinda mengajak Kaamil ke halaman belangang sambil mengorbol tentang kabar kedua orang tua mereka.


"Kamarin mama ngabarin, katanya keadaan kakek semakin memburuk. Jadi mereka akan lebih lama di sana," cerita Kaamil membuat Dinda berubah sendu.


"Gimana kalau kita nyusul? Aku dari kemarin pengen nengokin kakek," usul Dinda.


"Maunya juga gitu, tapi mama larang kakak ke sana."


"Kenapa mama ngelarang?" tanya Dinda heran.


"Kata mama, dua hari yang lalu papahnya Bang Candra, telepon. Nanyain Bang Candra sama kakak, kapan mau datang ke Bandung. Soalnya kan, papahnya Bang Candra nggak tau kalau mama pergi ke Kalimantan."


Helaan napas panjang menyeruak bercampur dengan udara sejuk halaman belakang. Tidak bisa memilih kan, kendak, karena ada bakti yang harus dia tanggung kepada suami.


"Trus kamu? Mau nyusul mama?"


"Belum bisa untuk saat ini, saolnya aku juga udah terikat kontrak sampai bulan depan."


Dinda mengangkuk paham, sembari berharap semua akan baik-baik saja dan semoga keadaan sang kakek semakin membaik.


"Oiya, gimana sama Mara?" tanya Dinda mengganti topik, dia tidak ingin semakin larut dalam sendu.


"Sudah nikah kemarin lusa."


Dinda menoleh kaget dan menatap lekat adiknya yang terlihat begitu ringan menceritakan pernikahan sahabatnya.


"Bukannya mau dibatalin ya, pertunangan mereka sama cowoknya? Kok malah jadi nikah?" cecar Dinda bingung. Sepengetahuannya tunangan Mara ingin memutus pertunangan mereka saat kapan mana kejadian waktu itu.

__ADS_1


"Mana aku tau, kenapa mereka jadi nikah. Tapi bagus kan, kalau mereka jadi menikah? Soalnya kejadian waktu itu cuman kesalah pahaman, kalau dia sampai mutusin gara-gara itu ... berarti dia mudah terhasut sama apa yang dilihat tanpa mendengar penjelasan. Dan mungkin aja, Mara sudah menjelaskan sama cowoknya. Iya, kan?"


"Iya juga sih, bagus kalau mereka jadi nikah. Berarti kesalah pahaman di antara mereka udah selesai. Tapi ...," ucap Dinda menggantung.


"Tapi apa, Kak?"


"Sebelum nikah aja, dia udah berani nuduh Mara tanpa minta penjelasan ... trus giman nanti kedepannya? Laki-laki yang seperti itu, dia cuman mau menangnya sendiri dan nggak akan punya pendirian. Dia egois!" ujar Dinda penuh penekanan di kalimat terakhir.


"Ya do'akan saja, mudah-mudahan nanti suaminya nggak akan gitu lagi. Kasin Mara, kalau punya laki kaya dia?"


"Iya ... seharusnya punya laki kaya kamu, ya kan?" goda Dinda menaik turunkan kedua alisnya.


"Oh, sudah jelas itu. Baik di luar dan dalamnya, nggak usah diragukan apa lagi pertanyakan. Kaamil, gittu loo!" ujarnya sombong menanggapi godaan Dinda.


Dinda berdecak kesal dengan kekalahannya, memang tidak akan mudah jika harus bersilat lidah dengan adiknya tersebut.


"Kamu diundang nggak, di pernikahannya?"


"Semua teman-teman kantor diundang. Bukan cuman buat merayakan pernikahan, tapi dia sekalian ngadain perpisahan karena akan berhenti di perusahaan," jelas Kaamil


Dinda mengangguk paham. "Kamu nggak patah hati, kan? Lihat dia di pelaminan sama suaminya?" kali ini giliran Kaamil yang berdecak kesal.


"Udah dibilangin ... aku sama dia itu cuman temenan. Mana ada aku patah hati sama cewek yang dari awal udah tau punya tunangan. Ngaco ahh," elak Kaamil menggebu-gebu.


"Khahaha, santai aja kali jelasinnya! Nggak usah ngegas juga kali," kelekar Dinda tertawa puas bisa membalas sang adik.


"Kakak, nggak sakit hati kan, ya? Kalau lihat dia dipelaminan sama cewek lain?"


Seketika Dinda berhenti tertawa dan menatap Kaamil tak mengerti, "Sakit hati? Sama siapa?" tanyanya penasaran.


"Sama ... Mas Adit."


Deg.


Tanpa dikomando, jantungnya berdetak tak karuan hingga membuat nyawanya terasa melayang dengan tubuh yang membeku.


"Aku kemarin nggak sengaja, lihat Mas Adit di cafe, pas aku lagi rapat sama teman-teman. Dia juga nggak sendirian! Ada beberapa perempuan seumuran mama dan seumuran Kakak. Dan secara kebetulan ... waktu aku mau ke toilet, denger mereka lagi bahas pernikahan Mas Adit."


Dinda tidak bisa memberi tanggapan, dia terdiam dengan lidah yang tiba-tiba kelu. Di sudut hatinya pun terasa bagai dirajam ribuan duri yang tak kasan mata.

__ADS_1


"Mas Adit, akan menikah?"


BERSAMBUNG ....


__ADS_2