
...وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۙ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِيْ وَلِاُتِمَّ نِعْمَتِيْ عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ...
...'Dan dari mana pun engkau (Muhammad) keluar, maka hadap'kan-lah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka hadap'kan-lah wajahmu ke arah itu, agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentang mu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takut-lah kepada-Ku, agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu, dan agar kamu mendapatkan petunjuk.'...
...(Q.S. Al-Baqarah ayat 150)...
...🌹🌹🌹🌹🌹...
"Aku tidak peduli, dengan penolakan orang tuaku. Aku hanya akan menceritakan tentang dirimu, dan tidak meminta persetujuannya untuk hubungan kita," ucap Adit tegas.
Tangannya bergerak-gerak memotong steak yang menjadi pesanan mereka, lengkap bersama kentang goreng, potongan wartel, kacang polong dan irisan jagung.
"Jangan seperti itu Mas, Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu jika menentang Orang Tua," aku Dinda tidak setuju. Dia bahkan belum menyentuh makanannya.
Sedikit pun Adit tidak pernah terpikir akan penolakan orang tuanya. Namun, mendengar apa yang diucapkan Dinda sekarang, tanpa sadar dia teringan alm. Adiknya yang meninggal karena kecelakaan dan membuat Maryam harus menjanda diusia mudanya. Itu semua juga karena orang tuanya yang tidak merestui. 'Mungkin.'
Tidak hanya Adit, memori Dinda juga mengulang tentang pernikahannya yang tidak disetujui kedua orang tua, dan berakhir perpisahan.
Juga pernikahan Rahimah dengan Ustadz Abizar yang ternyata ditentang Ibu dari sang Ustadz, hingga pernikahan pun batal karena insiden penembakan didetik-detik acara ijab kobul.
Sekarang pun Dia dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Status jandanya, membuat Dinda sulit menerima langsung tawaran Adit untuk menikah.
Dinda takut kalau Dia menikah lagi, kegagalan dalam rumah tangganya akan terulang kembali. Maka itu akan sangat membekas, dan mungkin menjadi trauma terbesar dalam hidupnya nanti.
"Kamu tidak perlu khawatir, jangan berpikir terlalu jauh. Semua akan baik-baik saja" kata Adit menenangkan.
Adit mencondongkan tubuhnya ke depan dan menarik piring Dinda, menukar dengan piring yang steak-nya sudah dipotong-potong nya tadi.
Mendapat perlakuan romantis dari Adit, sekejap kegelisahan hatinya sirna dan penuh dengan bunga-bunga merekah. Dinda tersenyum dan tersipu malu.
Adit adalah laki-laki yang membuat Dinda berani berharap lagi tentang sebuah pernikahan, tapi Dia juga tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan.
"Terimakasih," ucap Dinda tulus.
"Sama-sama, ayo makan! Kau tidak ingin kelaparan, kan? Saat nanti tarawih?" ujar Adit sambil menyuap steak-nya.
Masih dengan senyum, Dinda mengangguk. Tangannya terulur dan ikut menyuap makanannya. Mengunyah daging yang begitu lembut bercampur dengan saus barbeque kesukan Dinda.
Tidak hanya daging, semua sayuran pelengkap pun turun dimakan nya bergantian.
"Setelah hari ini, kita tidak bisa makan dan jalan-jalan lagi di siang hari. Jadi nikmati makanannya," kata Adit di sela-sela kunyahan nya.
__ADS_1
"Ya, kamu benar Mas," balas Dinda sambil kembali memasukkan kentang dalam mulutnya.
Sore ini mereka menikmati hidangan dengan sekekali tertawa bahagia, sejenak melupakan dugaan-dugaan yang membayangi rencana hubungan kedepannya.
Hingga tidak terasa semua makanannya sudah habis tak bersisa. Usai makan Adit mengajak Dinda jalan-jalan menyusuri mall dan menetap di sebuah ruangan gelap yang biasanya menayangkan berbagai film.
Ternyata penontonnya sangat banyak dan hampir memenuhi studio ruangan itu, walau yang ditonton termasuk genre horor.
"Yakin, mau nonton ini?" tanya Adit ragu dengan satu alisnya yang terangkat.
"Yakin dong," jawab Dinda semangat.
Dua tiket masuk sudah diserahkan kepada penjaga pintu, dan kini mereka berdua sudah duduk manis di antara deretan sepasang manusia.
Perlahan namun pasti, lampu yang menerangi ruangan tersebut mulai dipadamkan dan berganti dengan cahaya dari layar besar di hadapan mereka, serta suara menguji nyali pun mulai terdengar.
"Ini film, dari kisah nyata ya?" tanya Adit berbisik sambil matanya membaca deretan nama artis sebagai tokoh pemain.
"Iya," jawab Dinda pendek tidak luput dia pun membaca dan menyimak inti filmnya.
Tidak ingin menganggu Dinda menonton, Adit pun diam memperhatikan filmnya. Sebuah film horor yang berjudul hampir sama dengan waktu mereka.
Di sepanjang adegan yang menegangkan, Adit selalu melirik Dinda yang tampak tidak ketakutan dan sangat tenang, wanita itu hanya sekekali menutup mata tapi langsung terbuka.
Dia malah lebih sering mendengar jerit ketakutan dari arah belakang dan samping kirinya, di mana ada dua orang gadis remaja. Hingga film tersebut selesai, kedua gadis itu barulah diam.
"Kayanya kamu suka banget, sama film horor? Dari tadi, serius banget nonton nya," komentar Adit saat mereka sudah keluar dari ruangan itu.
"Hehe, iya Mas. Habisnya ketularan, Ayah," aku Dinda tertawa renyah.
"Biasanya, cewek itu takut sama genre horor. Lah kamu ... ternyata sangat suka," ungkap Adit tidak menyangka.
"Itu cuman dalam film Mas, ngapain juga mesti takut?!" kata Dinda sambil terus melangkah beriringan.
Waktu yang sudah mendekati magrib, membuat mereka memutuskan mencari mushola dan sholat dulu barulah pulang.
"Yang harusnya ditak---," suara Dinda tertahan ketika ada seseorang turut menyela di antara kalimatnya.
"Wah, Pak Aditya?" sapa suara bariton tersebut.
Keduanya menoleh ke samping dan mendapati sepasang manusia yang berjalan mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
"Pak Lintang," seru Adit.
"Saya tidak menyangka, akan bertemu lagi di sini dengan kalian," ucap Lintang mengangkat tangan guna bersalaman.
"Saya juga, tidak menyangka," balas Adit menyambut tangan dari rekan bisnis Abdar.
Dinda langsung awas ketika pandangannya bertemu dengan Luna, yang ternyata ada di samping Lintang.
Pertemuannya di Bandara tadi siang dan kecelakaan kecil yang dia alami, menurut Dinda adalah sebuah hal yang tidak beruntung.
Dinda melirik Lintang sekilas dan kembali melihat Luna yang dibalas Luna dengan tatapan tajam.
'Hei Pak Lintang, bukalah mata hati Anda ... lihatlah wanita di samping Anda ini! Dia sudah merendahkan martabat seorang istri. Bila berada di dekat anda, dia seperti seekor kucing yang sangat manis. Namun, Anda tidak tahu, kan? Wanita ini berubah seperti seekor singa betina buas yang langsung menerkam singa jantan muda, di belakang Anda.'
Sederet kalimat panjang itu hanya bisa Dinda ucapkan dalam hati, walau ingin sekali Dia bersuara.
"Yang harusnya ditakuti itu, adalah Tuhan, Mas," celetuk Dinda tersenyum sinis pada Luna.
"Apa lagi kalau kita berbuat dosa besar, dan terus mengulanginya. Pasti itu akan bikin hati kita takut dan tidak tenang. Jadi untuk film tadi, tidak usah takut, Mas Adit," sindir Dinda yang sudah gatal bicara.
"Ya, kamu benar," aku Adit setuju.
"Apa kalian, baru nonton film?" tanya Lintang penasaran.
"Iya Pak. Kami baru selesai nonton, dan sekarang mau cari mushola dulu," sahut Adit.
Kedua pria itu asyik berbicara, mereka tidak menyadari jika Luna sedang menahan geram karena ucapan Dinda tadi. Dia semakin menatap Dinda tajam dan seolah ingin membunuh.
Hanya Dinda yang menyadari, Dia tahu kalau Luna pasti mengerti sindiran nya tadi. Dengan sengaja Dinda mengedipkan satu matanya pada Luna.
"Kalau begitu, kita permisi dulu Pak Lintang. Sebentar lagi masuk Magrib," pamit Adit melihat waktu di tangannya.
"Kita bareng saja Pak Adit, saya juga mau sholat."
"Oh, silakan Pak Lintang."
Adit dan Dinda melewati Lintang dan Luna, sayup-sayup Dinda mendengar gumaman Luna yang mengancam dirinya ketika melintasi nya.
"Awas Kau," ujar Luna penuh penekanan hampir tidak terdengar.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1