
Resah dan gelisa begitu tergambar jelas di raut wajah Dinda, mana kala Candra tidak menjawab permintaannya.
Terbesit praduga, jika Candra tidak akan memberikan ijin untuknya. Egonya terusik, terselip rasa tidak suka dan ingin protes. Jika apa yang dia pikirkan itu benar adanya, maka dia akan langsung angkat bicara.
Baru saja satu hari menjadi suami, tapi sudah mengekangnya. Menurut Dinda, pernikahan ini hanya sebuah kedok dan Candra tidak boleh melarangnya.
Tentang keinginan Candra tadi malam yang ingin membangun rumah tangga sesungguhnya bersamanya, itu hanya akan berlaku jika masalah kasusnya selesai dan tidak untuk sekarang.
"Aku akan mengijinkan, jika itu memang yang ingin kau lakukan," ucap Candra menatap lekat ke dalam manik bola mata bening Dinda.
Dinda terkesiap dan mengerjap, ternya pikirannya salah. Candra telah memberinya ijin. Keduanya beradu pandang dan saling diam hingga beberapa saat.
"Tapi---," lanjut Candra menghentikan kalimatnya.
Dinda tidak bereaksi, dia hanya perlu menajamkan pendengarannya sambil menunggu apa yang akan dikatakan Candra.
"Apa kau lupa? Baru tadi pagi papamu, melakukan konferensi pers. Lalu bagaimana jika ada yang melihatmu sedang bersamanya, atau dengan laki-laki lain? Sedang orang-orang sudah tau jika aku adalah suamimu."
Dinda terperangah dan membatu, hingga dia tertunduk malu. Di bawa meja, tangannya saling bertaut dengan ibu jari yang beradu. Matanya sibuk menulikir piring kosong di hadapannya.
Bukan tidak mungkin, jika masalahnya akan bertambah rumit dan kusut. Tentu orang-orang yang dikasihinya akan ikut terluka.
Sejenak keheningan melingkupi suasana di sekitar mereka, memperjelas suara kucing yang mengeyong di arah dapur.
"Atau, kau mau aku yang menemanimu? Akan lebih baik jika ada aku, di antara kalian," usul Candra tanpa beban.
Dinda lekas mendongkak dan menggeleng. Jelas dia tidak setuju dengan saran Candra. Mereka perlu privasi untuk menyelesaikan hubungan yang tak berujung, dan membawa suaminya malah akan menimbulkan kecanggungan.
Bukan hanya itu saja yang menjadi pertimbangan Dinda. Kata-kata Candra sudah menjernihkan pikirannya tetang keputusan yang singkat.
Apa yang dikatakan Candra itu benar. Faktanya adalah, dia istri dari Candra. Maka tidaklah pantas jika dia menemui seorang pria, belum lagi kemelut permasalahannya belum usai. Apa lagi jika ada yang melihatnya bersama dengan lelaki lain.
Dinda menghela napas panjang, memberi pasokan udara pada paru-parunya agar berfungsi lebih baik dari sekarang.
"Maaf," ujar Dinda lirih.
"Kenapa kamu malah minta maaf?" tanya Candra menaikan satu alisnya.
"Maaf, karena aku sempat lupa dengan masalahku. Mungkin ragaku di sini, tapi rupanya ... pikirkanku masih bersamanya," kata Dinda pelan, malah terkesan gumaman. Namun, Candra masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Sebenarnya, itu lebih bagus jika kamu sudah mulai teralihkan dengan masalah ini. Jadi ... apa perlu aku temani?"
"Mungkin sebaiknya, aku nggak perlu ketemu dia dulu. Biar nanti aja."
__ADS_1
Candra mengangguk setuju. "Kamu bisa berkeliling di rumah ini, jika kau mau. Aku akan ke ruang kerja, menyelesaikan pekerjaanku." Candra bangkit dari tempat duduknya, usai mendapat balasan dari Dinda.
Sepeninggalnya Candra di ruang makan, Dinda langsung menumpuk piring-piring kotor bekas makan siang mereka dan membawanya ke dapur. Walau tidak tahu di mana telak dapur, tapi tadi Dinda melihat Nenek Ratih berjalan ke arah belakang.
"Nona, biar saya saja," pekik seorang wanita tanggung, mengambil alih piring-piring di tangannya.
"Loh, kenapa malah Nona yang membawanya? Biar kami saja yang membereskan, Non." Nenek Ratih menghampirinya dengan mimik wajah sungkan.
"Nggak apa-apa kok, Nek. Memang Adin, yang pengen bantu."
"Ya ampun, Non. Nanti Den Bara bisa marah, kalau liat istrinya yang membereskan. Sementara, para pelayannya malah diam aja," celetuk wanita yang belum Dinda tahu namanya.
"Bara?" gumam Dinda.
"Oya Non, perkenankan ... dia Susi, anak saya!"
"Adin, Bik." Dinda bersalaman usai Susi meletakkan piring kotor di tempatnya.
"Memang, Bara itu siapa, Bik?" tanya Dinda.
Nenek Ratih tersenyum sebelum mengatakan sesuatu, "Bara itu, ya suami Nona," jelasnya.
"Hah," pekik Dinda tersentak kecil.
"Biar aku bantu, Bik," kata Dinda ingin menyusul.
"Jangan, Non ... jangan. Ini sudah tugas saya," tolak Susi halus.
"Nanti kalau Nona membantu saya, bisa-bisa gaji saya dibagi sama Nona," gurau Susi, seketika mereka bertiga tertawa.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Karena tidak diperbolehkan membantu pekerjaan rumah, Dinda pun memilih berjalan-jalan hingga sampai ke teras rumah.
Ayunan kayu jati, menarik perhatian Dinda untuk turut duduk di sana. Sembari bersantai, dia pun mengeluarkan ponsel guna membunuh rasa bosannya.
Perkembangan berita tentang konferensi pers yang tadi pagi dilakukan papanya bersama pengacara dan Candra, kini mulai memenuhi media sosial.
Bukan hanya tentang skandal Dinda, yang dibahas dalam berita tersebut. Melainkan tentang pelaku yang mereka yakini sudah diketahui orangnya. Tentu itu sekarang menjadi topik utama. Mengingat pengacara menerangkan, jika motifnya adalah dendam pribadi.
Dinda menghela napas lemah. Berharap semua masalah ini lekas terselesaikan dalam waktu dekat. Baru saja keluar dari aplikasi berita, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan layarnya menampilkann nomor baru.
Dinda tersenyum sinis, ketika menyadari siapa pemilik nomor tersebut. Walau tanpa nama, tapi dia sudah hafal di luar kepala.
__ADS_1
"Apa berita tentangku, telah megusikmu? Sampai-sampai sekarang kamu berani mehubungiku," monolog Dinda pada layar ponsel yang masih berdering.
Di detik terakhir ketika panggilan akan berakhir, barulah Dinda menggeser tombol jawab.
📱"Apa yang beritakan itu benar?"
"Assalamualaikum," sindir Dinda.
📱"Wa'alaikumussalam. Jawab pertanyaanku," balas di seberang sana cepat.
"Berita apa yang harus kujawab?" Dinda tersenyum masam.
📱"Tentang pernikahanmu?"
Dinda terkeke geli sebelum dia bicara, "Untuk apa, Mas menanyakan itu? Kurasa, aku tidak perlu menjelaskannya padamu, Mas," jawab Dinda setenang mungkin.
📱"Apa perlu aku mengancammu terlebih dulu? Agar kau mau menjawabnya." Dinda terbahak mendengar kata-kata orang di ujung telepon tersebut.
"Kau ingin mengancamku, apa Mas?"
📱"Aku akan mengatakan pada wartawan. Kalau kau baru saja bercerai denganku, dan masa iddah-mu baru saja genap. Jadi ... mana mungkin kau sudah menikah. Sementara foto-foto itu tersebar ketika masa iddah itu datang beberapa hari sebelumnya."
Dinda mendengus sinis. "Mas pikir aku takut? Aku hampir tidak percaya dengan ini. Walau kita sudah berpisah. Ternyata kamu masih peduli padaku dan repot-repot menghitung hari-hariku, Mas," jawab Dinda ketus, keramahannya pun menghilang.
📱"Berarti dugaanku benar, bahwa pernikahanmu itu hanya kebohongan."
"Sebaiknya urus saja wanitamu, dan jangan ganggu aku lagi."
📱"Aku hanya memastikan, dan ternyata itu benar."
"Seyakin apa, hingga bisa menyimpulkannya seperti itu? Kita sudah berpisah, jadi terserah jika aku menikah lagi. Ini semua tidak ada hubungannya denganmu," ucap Dinda sembari menahan emosi.
📱"Aku akan memberitahu wartawan jika itu benar."
"Kamu mengncapku dengan itu, Mas? Apa kamu tidak takut jika perselingkuhanmu ikut terseret ke permukaan? Lalu bagaimana dengan kehormatan, keluarga wanitamu? Jika kamu berani, silakan, saja" balas Dinda mengancam.
Tidak terdengar jawab. Sedetik kemudian, sambungan terputus. Dinda memejamkan mata sejenak dan menghirup oksigen beberapa kali, guna mencari ketenangan jiwa.
Dirasa sudah cukup, Dinda beranjak dan masuk kembali ke dalam rumah barunya.
"Berani sekali mengancamku."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1