
Flashback On
"Bagaimana, Abdar? Apa Adit, sudah bisa dihuhungi?" tanya Al menyusul Abdar yang sedang berusaha menghubungi calon pengantin pria di teras rumah.
"Belum, Om. Tapi tadi sebelum ke sini, Adit sudah saya hubungi. Dan Adit bilang, dia sudah siap," balas Abdar pasti.
"Kita tunggu sebentar lagi," sahut Zahir membuat keduanya menoleh menyambut kedatangannya.
"Unang ... katakan pada Pak Penghulu, mohon menunggu sebentar!" lanjutnya memberi perintah kepada seorang pelayan yang ada di dekat pintu.
"Baik, Tuan," kata pelayan dengan sedikit menunduk.
"Kalau belum datang juga, kita ganti prianya!" ancam Zahir serius.
"Apa sebelumnya, Om memang sudah merencanakan untuk mengganti, Adit?" tanya Abdar menautkan alis tebalnya seperti sedang berpikir.
"Om, tidak berniat menggantinya! Hanya saja, mana mungkin Om, mengambil resiko tanpa mempersiapkan cadangan," pangkas Zahir datar.
Abdar mulai mengerti, rupanya Zahir tidak sepenuhnya percaya kepada Adit untuk pernikahan ini.
"Tapi kenapa Om bisa sampai berpikiran jika Adit, tidak akan datang?" tuntut Abdar meminta penjelasan.
"Hai, Anak muda! Belajarlah dari perjalanan hidup! Teradang apa yang kita inginkan, belum tentu sesuai dengan apa yang kita harapkan." Keduanya beradu pandang, saling mengujur kemampuan masing-masing.
Zahir menarik salah satu sudut bibirnya, ketika menyadari bahwa orang dihadapannya sama sekali tidak terintimidasi dengan tatapannya. Berbeda dengan Adit kemaren, yang terlihat gugup.
"Tapi, bukan berarti Om, tidak mengharapkannya. Om hanya ingin berjaga-jaga," lanjut Zahir santai.
"Ya, saya mengerti maksud, Om," sahut Abdar.
Kedatangan sebuah sedan hitam menarik perhatian ketiga orang tersebut. Tidak lama mobil itu berhenti, keluarlah sosok yang sedang ditunggu sedari tadi dan menjadi bahan pembahasan mereka.
"Mas," bisik seorang wanita yang tiba-tiba sudah berada di samping Zahir. Tidak lain ialah Mita.
Rupanya ibu dari Dinda itu juga mendengar deru mesin mobil, sehingga turut menyusul ke teras depan.
"Katakan saja, bahwa Adit sudah datang," bisik Zahir paham isyarat sang istri, lantas memberi perintah pada Mita.
Mita mengangguk pelan dan segera berlalu pergi ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, Om." Adit menyapa calon mertuanya sambil mengangkat tangan guna bersalaman, dan tangan satunya memegang peci hitam.
"Wa'alaikumussalam," sambut ketiganya.
"Om pikir, kamu berubah pikiran?" sindir Zahir usai melepas jabat mereka.
"Tidak, Om." Adit meringis mendengarnya.
"Ayo Adit, kita langsung masuk saja! Penghulu sudah menunggu." Al menepuk punggung Adit pelan dan membawanya masuk, mengabaikan kakak iparnya yang ingin menggertak calon menantu mereka.
Baru satu langkah, kedatangan sebuah motor dengan dua penumpang seketika menahan mereka untuk terus berjalan.
"Adit!" panggil wanita paruh baya yang turun dari balik punggung pemuda berjaket hijau sambil melepas helm.
Adit terperangah, "Mama," gumam Adit.
"Mama sudah bilang, kan? Kalau Mama, sudah menjodohkan kamu!" sentak Wanita itu marah.
"Maa!" kesal Adit pada Mamanya yang berjalan mendekat, membiarkan si pengemudi motor bengong sendiri.
Zahir tersenyum sinis sembari melirik Abdar, yang juga membalas lirikannya. Seolah sedang berbicara lewat sorot mata.
"Kamu mau, jadi anak durhaka? Kamu nggak ingat apa sama Zaki? Hidupnya jadi sia-sia, karena milih cewek sialan itu ketimbang wanita pilihan, Mama!" cecar wanita dengan model baju berlengan tiga perempat, berwarna coklat senada dengan celana gucci dan rambut disanggul bawah.
"Jaga mulut Anda, tente!" bentak Abdar menyela. Matanya menatap tajam dengan rahang yang mengeras.
"Cih, rupanya kamu yang sudah menghasut anak saya? Pantes saja, anak saya selalu membangkang. Itu karena berteman sama, kamu." Tunjuk wanita itu dengan sinis.
__ADS_1
"Cukup, Ma!" pinta Adit tegas.
"Kalau saya tidak mengingat Anda, sebagai mantan mertua adik saya. Mulut Anda itu, mungkin sudah saya robek," ujar Abdar tajam.
"Cih, saya sama sekali tidak pernah menganggap dia, menantu saya. Dia hanya wanita sial," balasnya angguh.
"Dar." Adit menahan Abdar yang hendak mendekati mamanya yang tersulut emosi.
"Anak Anda meninggal, itu sudah takdirnya. Jangan pernah menyalahkan orang lain!" Abdar menepis tangan Adit dan membetulkan jasnya sambil tetap menatap benci pada wanita dihadapannya.
Zahir dan Al saling lirik, mereka tidak mengerti arah pembahasan yang sedang diperdebatkan tamu-tamunya.
"Jelas it---."
"Sudah cukup, Ma! bentak Adit memotong kalimat yang akan dilontarkan wanita itu.
"Sebaiknya ... selesaikan dulu masalah kalian, baru datang ke sini!" sindir Al mewakili kakak iparnya.
"Ayo Abdar! Acara sudah akan dimulai, biarkan mereka meyelesaikan masalah mereka di sini," ajak Zahir santai.
"Om," panggil Adit cepat.
"Adit." Wanita itu menahan tangan Adit.
"Jujur saja, saya kecewa dengan kejadian ini. Tapi, sebaiknya kamu, turuti keinginan Mamamu. Dan untuk pengantin pria, saya akan meminta anak teman saya agar menggantikan, kamu," jelas Zahir datar.
"Tapi Om---," protes Adit tertahan ketika melihat telapak tangan Zahir terangkat.
"Kamu sudah dengarkan? Apa yang Mama, kamu katakan tadi? Jangan sampai, kamu menjadi anak yang durhaka," kata Al mengingatkan apa yang sudah mereka dengar.
Tidak hanya Zahir dan Al yang kecewa juga marah atas kejadian ini. Adit pun lebih kecewa, marah, kesal dan sedih dengan segala yang terjadi. Terlebih lagi ketika melihat kemarahan Abdar terhadap mamanya.
Zahir, Al dan Abdar berbalik ingin meninggalkan Adit dengan segala masalah yang diciptakan mamanya. Namun, panggilan lirih dari mulut Adit membuat mereka kembali menoleh.
"Ijinkan saya, melihat pernikahan Dinda!" pinta Adit mengalah. Satu kalimat yang terlontar diiringi runtuhnya segala perjuangan Adit terhadap Dinda.
"Silakan," jawab Zahir pendek meninggal ibu dan anak itu.
"Adit ... Mama, kan sudah bilang sama kamu! Kalau Mama, sudah buat perjodohan kamu sama anak teman Mama. Kamu itu harusnya nurut, jangan seperti Zaki!"
"Zaki, Zaki dan Zaki trus ...! Bisa nggak sih, Ma ... jangan bawa-bawa Zaki lagi? Dia sudah tenang di alam sana."
"Emm, maaf ... permisi."
"Apa?" kesal Adit melampiaskan kemarahannya pada pemuda berjaket hijau.
"Emm, mi--minta ... ong--ongkosnya ... Bu," ucapnya gugup.
Adit menghela napas berat dan meninggalkan mamanya bersama pemuda berjaket hijau. Ia tidak perduli, perasaannya sudah kacau. Sekarang ia tinggal menyiapkan mental untuk mengetahui siapa yang akan menggantikannya.
Jika bisa, ingin sekali menarik kata-katanya untuk menyaksikan pernikahan yang sebenarnya sudah ia impikan sejak melamar Dinda.
Adit mematung, matanya tertuju pada pemuda yang sudah sangat ia kenal. Kedua tangannya menggenggam erat peci yang sejak tadi sudah ia bawa, melampiaskan segala amarah di dalam dada. Seharusnya ... Ia yang berada di sana, dan bukan orang lain.
"Adit, ayo kita pulang!" bisik Mamanya.
Adit bergeming, matanya memerah tatkala kalimat ijab kobul sudah diucapkan sampai selesai oleh penggantinya. Rasa tak rela menyusup dan menetap di sudut hatinya.
Tenggorokannya seketika sakit dan menguap menjadi bulir air mata saat melihat kedatangan Dinda yang menurutnya sangat teramat cantik hari ini. Sekuat tenaga menahannya agar tidak menangis. Di sana, wanita yang menjadi pusat perhatian orang-orang juga tengah menatapnya penuh keterkejutan.
Sedetik pun Adit tidak berhenti memperhatikan Dinda yang kini duduk di samping pengantin pria, hingga diikrarkan sighat taklik pada wanita pujaannya.
Air matanya runtuh seketika saat kembali beradu pandang dengan Dinda. Ia membiarkan wanita pujaannya melihat sisi lemahnya untuk yang terakhir kali.
Tidak tahan dengan air mata yang ingin terus keluar, Adit pun segera pergi dengan hati yang begitu hancur hingga berkeping-keping.
"Berbahagialah ... sayang."
__ADS_1
Flasback off
BERSAMBUNG ....
Berpisah denganmu
T'lah membuatku semakin mengerti
Betapa indah saat bersama
Yang masih selalu kukenang
Selamat jalan kekasih
Kaulah cinta dalam hidupku
Aku kehilanganmu
untuk selama-lamanya
Cukup sekali
Kau lukai hati ini
Kembali
Meninggalkan aku sendiri
Selamat jalan kekasih
Kaulah cinta dalam hidupku
Aku kehilanganmu
untuk selama-lamanya
Aku cinta padamu
Aku masih menyayangimu
Walau hanya di hati saja
untuk selama-lamanya
Selamat jalan kekasih
kaulah cinta dalam hidupku
aku kehilanganmu
untuk selama-lamanya
Ah, aku cinta padamu
aku masih menyayangimu
walau hanya di hati saja
untuk selama-lamanya
Hm-hm-hm-hm
Ha-ah-ah-ah
aku kehilanganmu
untuk selama-lamanya
__ADS_1
Hm-mm-hm-mm
...~Selamat Jalan Kekasih, Rita Effendy~...