Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 30 Gantian menolong.


__ADS_3

...'Orang-orang terdengar lebih menyenangkan ketika menutup mulutnya, dari pada menjelekkan orang lain.'...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Hari demi hari telah berlalu, hari lebaran pun semakin dekat. Kegelisahan Dinda yang sempet menumpuk tinggi mulai merata dan tertinggal jauh di belakang.


Malam Ini, lima hari menjelang lebaran adalah masa dimana masa idah-nya sudah genap. Hampir lupa, tapi Adit menghubungi dan mengingatkannya tentang janji yang akan Adit utarakan selepas lebaran.


Tersanjung, jelas itu. Janji yang selalu Adit ucapkan serta perhatian yang tercurah sempurna untuknya, menerobos benteng pertahanan perasaannya. Dinda kini kembali berharap pada sebuah pernikahan.


Usai menerima kabar dari Adit, sudut bibirnya tak henti mengembang. Membuat Kaamil yang memperhatikan, heran sendiri.


"Lagi kesambet ya, Kak? Senyum-senyum sendiri," celetuk Kaamil.


"Apaan, sih? Orang liat tivi juga," jawab Dinda berusaha bersikap biasa-biasa saja.


"Ya, kali ... liat tivi yang bikin mewek, malah senyum? Yang ada, nggak waras itu nama nya."


Seketika bantal sofa menghantam punggung Kaamil. Yang dibanting dengan bantal malah tertawa, karena melirik wajah cemberut sang pelaku.


"Kamu ngatain Kakak, gil4?" salak Dinda marah.


"Habisnya ... itu tivi lagi cerita sedih, Kak. Masa iya, bikin ketawa?" ujar Kaamil masih diiringi tawa.


Dinda memperhatikan layar bersegi yang menampakkan sebuah sinetron, salah satu chanel swasta, dimana seseorang tengah meninggal dan membuat keluarganya menangis histeris.


"Kalian ini, suaranya lebih gede dari tivi," tegur Bunda Vita, datang dengan membawa sepiring pisang goreng yang mengepul.


Sudah dua hari ini mereka tinggal di rumah Bunda Vita. Mereka dihubungi Adik dari Mamanya itu, untuk tinggal bersama karena sudah kesepian tanpa kehadiran mereka.


"Iya, Ayah sampai kaget," sahut Ayah Al ikut bergabung dari ruang kerja.


"Hehe, itu gara-gara Kak, Dinda. Kayanya, Kakak udah nggak ...." belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah bantal sudah mendarat di wajahnya.


"Diam!" bentak Dinda.


Bukannya marah, Kaamil malah tertawa terpingkal-pingkal. "Khahaha," tertawa tanpa rasa bersalah menikmati kekalahan Dinda.


"Udah, udah ...! Adin, ambil minuman di dapur," lerai Vita dan menyuruh Dinda.


Masih kesal dan wajah cemberut, Dinda beranjak sambil melirik Kaamil penuh peringatan yang dibalas Kaamil dengan menjulur 'kan lidahnya.


"Gimana Mil, sama kerjaan hari Ini?" tanya Al sambil mengambil pisang goreng, duduk bersandar dan mengunyah pelan karena masih panas.


"Lumayan, Yah. Menguras otak," jawab Kaamil lesu.


"Loh, kenapa?" Vita menimpali dengan pertanyaan penasaran.


"Pasti galau gara-gara cewek, Bun. Makanya, menguras otak." Dinda datang memprovokasi sambil membawa napan.


"Enak aja ... sok tahu!" kesal Kaamil.


"Emang, tau!" ucap Dinda santai, Dia sedang membalas Kaamil.


"Beneran, Mil? Kamu udah punya, cewek?" tanya Vita semangat.


"Nggak ada, Bunda ... Aku nggak punya, cewek," elak Kaamil sambil membalas Dinda dengan bantal, tapi keburu Dinda menghindar dan memeletkan lidahnya.


"Nanti ajak ke sini, ya? Kenalin sama Bunda," ucap Vita tak menghiraukan jawaban Kaamil.


"Nggak ada, Bun ... nggak ada," ujar Kaamil menahan kesal.


"Emang kenapa menguras otak, Mil?" tanya Al, kembali mengambil pisang goreng. Tidak menghiraukan perdepatan tadi.


"Permintaan klien, terlalu cerewet. Konsepnya sudah rangkum, tapi minta dirubah," terang Kaamil, tangan nya terulur mengambil pisang goreng yang sudah mulai dingin.


"Itu biasa terjadi, tapi Kamu sudah bicarakan tentang tambahan kompensasinya, 'kan?" tanya Al dan Kaamil mengangguk.


"Itulah tanggung jawab dari pekerjaan. Kita sudah semaksimal mungkin menujukkan potensi kita dan tiba-tiba klien minta ada perubahan, tapi kalau ada ceweknya ... itu bonus namanya. Tebar umpan aja, sekalian. Atau, sambil menyelam, minum air ...." ujar Al santai memancing gelak tawa, seketika ruangan tersebut gaduh.


Kaamil berdecak kesal sambil memakan makanannya, tanpa niatan menyahut. Mereka semakin mentertawakan Kaamil yang cemberut, malam ini semua orang menikmati kebersamaan dengan penuh canda dan tawa.


Kedua orang tua Dinda juga sempat berbagi kabar kepada mereka, dan Dinda sudah mengutarakan rencananya dengan Kaamil yang akan bertolak ke Kalimantan guna mengunjungi orang tuanya di hari lebaran ke dua. Tentu disambut antusias oleh Mita sang Mama.


Hanya tinggal menghitung hari, maka kemenangan akan segera diraih.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Pagi ini tidak seperti biasanya. Rintik-rintik hujan mulai turut sejak subuh, membuat sebagian orang semakin erat menggulung tubuhnya di bawah selimut yang tebal dan hangat.


Namun, tidak dengan Dinda, Dia sudah bangun sejak jam setengah tiga dini hari tadi. Jika ditanya malas, maka jawabannya sudah tentu, iya ... tapi melihat tantenya yang harus memasak sendiri, Dinda tidak tega dan membantu Bunda Vita menyiapkan menu sahur mereka.


Vita memang tidak mempekerjakan pembantu, sebisa mungkin semua pekerjaan rumah Dia kerjakan sendiri. Dinda yang sudah terbiasa tinggal di rumah Vita, tahu apa yang harus Dia kerjakan untuk meringankan pekerjaan rumah tersebut.


Semua menu sahur sudah masak dan tertata rapi di meja makan. Ada pepes ikan nila, ayam balado, dan udang pedas manis kesukaan Dinda dan Kaamil.


Jarum pendek hampir menetap di angka empat, dan jarum panjang sudah melewati angka sepuluh. Tanpa disuruh, Dinda segera menuju kamar Kaamil dan membangunkannya.


Beginilah kelakuan Kaamil ketika akan sahur. Walau sebenarnya sudah bangun tapi Dia malas beranjak dari tempat ter-nyaman nya, ditambah lagi cuaca yang membuat Dia tidur kembali. Karena Kaamil yakin, nanti akan ada yang mengingatkan dan membangunkannya untuk sahur.


"Mil ...," panggil Dinda mengetuk pintu kamarnya.


"Kaamil!" Dinda mengeraskan suaranya, berharap Adiknya itu terusik dan bangun.

__ADS_1


"Kaamil ..!!" ulang Dinda tidak henti. Dia sudah menduga, akan memerlukan waktu banyak untuk usaha ini.


"Kaamil ...! Kalau Kamu nggak bangun, jangan salahkan Kakak, ya? Udang asam manisnya, habis!" ancam Dinda.


Dalam hitungan persekian detik, pintu langsung terbuka. "Jangan, dong," ujar Kaamil masih terpejam dan memeluk pintu.


"Buruan, cuci muka," perintah Dinda tegas.


Dengan langkah gontai, Kaamil menurut dan menyusul ke meja makan.


"Wah, udang asam manis ...," kata Kaamil seketika segar.


"Makan yang banyak, dan puasa yang semangat. Tinggal beberapa hari lagi, kita menuju kemenangan," ucap Bunda.


"Asiiiap, Bun,"sahut Kaamil.


"Hmm ... tapi bangunnya males banget, Bun," ejek Dinda.


"Wajarlah, males dikit. 'Kan, tanggung tidurnya," bela Ayah Al.


Kaamil tersenyum kemenangan, merasa mendapat pembelaan.


"Pas lagi, asyik-asyiknya sang kekasih muncul dalam mimpi. Ya nggak, Mil," lanjut Al yang membuat senyum Kaamil langsung sirna berganti masam dan suara tawa Dinda yang membahana.


"Sudah ngobrolnya ... ayo makan dulu," tegur Vita.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Sepanjang hari matahari diselimuti oleh mendung. Hampir semua orang menebak akan turun hujan, tapi tidak menghentikan pekerjaan mereka.


Hingga sore hari hujan akhirnya turun begitu lebatnya, memaksa sebagian orang dan pengendara motor harus berhenti dan berteduh. Namun, tidak sedikit juga yang tetap menerobos hujannya.


Dinda urung pulang, jalanan pasti licin dan berkabut. Menghubungi orang rumah dan mengatakan akan berbuka di restoran, sembari menunggu setidaknya sedikit reda.


Memperhatikan pelanggan, hujan telah membawa berkah bagi Dinda. Hampir semua kursi terisi penuh. Mereka adalah orang-orang yang terjebak hujan dan terjepit waktu hendak berbuka.


Mata Dinda masih berkeliling, mengabsen semua kursi yang hanya sedikit terdapat kursi kosong. Namun, seketika terhenti pada sesosok orang yang baru masuk.


Ketika orang itu berjalan pada sebuah kursi, melepas jaket dan mengibas rambutnya yang sedikit basah, Dinda terkesiap. Dia seolah menyaksikan film, yang terdapat adengan slow motion.


'Hah, apa Aku terpesona sama Dia?'


Dinda menyadarkan dirinya.


...🕊🕊🕊🕊🕊...


Usai membatalkan puasa, Dinda menunaikan solat dulu di mushola yang disediakan di restorannya.


Tidak sedikit pelanggan yang ikut solat. Untungnya semua perlengkapan solat bagi wanita memang selalu Dinda sediakan, jadi ketika diperlukan seperti ini Dia tidak khawatir.


Semua pelanggan termasuk dirinya dan imam tadi kembali menyantap makanannya. Berkah dihari hujan, dan mendekati lebaran, Dinda memberikan diskon untuk semua orang.


Jelas saja semua orang bersorak kegirangan dan penuh antusias memakan hidangan pesanannya.


"Jadi, Kau pemilik restoran, ini?" tanya seseorang ketika Dinda berjalan ke luar bersiap pulang.


Hujan sedikit mereda dan sebagian pengunjung memaksakan diri untuk pulang, hanya sebagian orang yang masih tinggal di sana tidak ingin kehujanan.


Dinda menoleh dan mendongkak ke sampingnya. Orang yang menjadi imam tadi, kini berjalan beriringan.


"Iya, Mas," jawab Dinda canggung.


"Terimakasih, atas tumpangan nya waktu itu, Mas Candra," ucap Dinda tulus. Namun, di dalam hati sedang begitu malunya.


Malu karena mengingat kejadian kapan mana yang kedapatan Candra bengong, dan membuatnya malu berhadapan dengan orang tersebut. Ditambah lagi, telat mengucap terimakasih nya.


"Sama-sama," jawab Candra pendek.


Dinda hendak terus melangkah ke tempat parkir, tapi tertahan ketika melihat Candra berdiam diri di samping pintu.


Mengikuti arah pandang Candra pada air yang masih berjatuhan, Dinda paham kenapa demikian.


"Biar Saya antar, Mas Candra. Sepertinya akan lama kalau menunggu, teduh," tawar Dinda.


Candra diam menatap Dinda dan hujan bergantian. Beberapa detik kemudian, Candra bersuara.


"Apa tidak merepotkan, Kamu?" tanya Candra serius.


Dinda lekas menggeleng, "Anggap saja ini balas budi, Saya. Saya yang lebih sering merepotkan, Mas Candra," balas Dinda mengenang semua yang sudah Candra lakukan untuknya.


Mulai dari membayarkan belanjaannya, walau sedikit kesal waktu itu. Mengantarkannya pulang saat di rumah sakit, menolongnya ketika sengaja ditabrak Kaluna, menolong dari kedua preman tanpa sengaja, dan yang terakhir saat ban taksi bocor.


Sekarang Dinda baru sadar, ternyata begitu banyak kebaikan Candra dan Dinda berniat membalasnya dengan mengantar Candra pulang.


"Bagaimana dengan motorku?" tanya Candra meremas lamunan Dinda.


"Biar satpam yang memasukkannya ke bagasi samping," sahut Dinda setelah tadi sedikit terkejut.


Di restoran ini memang ada bagasi jika Dinda hendak meninggal mobilnya. Seperti saat itu, waktu Dinda ikut Kaamil ke rumah sakit, mobilnya Dia tinggal di bagasi restoran tersebut.


"Sebentar." Dinda mengambil ponselnya dan melakukan panggilan.


Candra menyimak apa yang Dinda katakan pada seseorang di sana.

__ADS_1


"Sudah, Mas Candra. Nanti Satpam yang bantu menyimpannya," kata Dinda sambil menyimpan ponselnya.


Candra mengangguk setuju, "Mana kuncinya? Biar Saya yang, bawa." Candra menanaikan tangan ke hadapan Dinda.


Gegas Dinda mengambil kunci dalam tasnya dan menyerahkannya pada Candra, "Ini, Mas," kunci sudah berpindah tangan, mereka bersiap ancang-ancang menuju mobil Dinda.


"Di sebelah mana, mobilnya?" jelas Candra tidak ingin mencari-cari sambil berlari di bawah hujan. Jadi, alangkah baiknya ketahui dulu posisi mobilnya dan langsung masuk.


"Itu, Mas." Dinda menunjuk mobil yang tidak terlalu jauh.


"Ayo," ajak Candra cepat.


Dinda pun berlari di bawah hujan, tapi Dia sempat terkesiap atas tindakan Candra. Berlari beriringan, Candra memayungi Dinda dari sebagian hujan menggunakan jaketnya.


Jika orang yang melihatnya pasti mengira mereka adalah sepasang kekasih yang sangat romantis.


Membukakan pintu untuk Dinda terlebih dulu, baru Candra memutar arah ke pintu sampingnya. Dinda menunduk malu di dalam mobil.


Tidak pernah ada orang yang memperlakukannya seperti itu, termasuk mantan suaminya. Bahkan Adit juga, karena tidak pernah mendapati hujan saat bersama Adit.


Hening ... suasana di dalam mobil begitu hening. Kecanggungan sangat terasa bagi Dinda dari pada naik motor.


Dinda melempar pandang keluar jendela, memperhatikan tetes demi tetes air hujan di kaca mobil, guna mengurangi kecanggungan.


Waktu berjalan begitu lambat bagi Dinda, entah perasaannya saja atau memang rumah Candra sangat jauh.


Candra membunyikan klakson di sebuah rumah besar, tidak lama pagar besi menjulang tinggi dibuka seseorang yang memakai jas hujan. Candra menurunkan sedikit kaca mobil agar orang itu melihat sang pengemudi.


Berhenti tepat di depan rumah yang terdapat carport, Candra turun diikuti Dinda yang akan mengambil alih kemudi.


"Terimakasih, untuk tumpangan nya. Maaf jika, merepotkanmu?"


"Sama sekali tidak merepotkan kok, Mas. Kalau begitu, Saya permisi," kata Dinda sembari ijin undur diri.


Dinda mengitari mobil dan lewat di depan Candra yang masih berdiri di samping mobil. Naas, Dinda malah tersandung kakinya sendiri dan hampir terjerembab jika saja Candra tidak menahannya.


Sama-sama terkejut, Dinda menoleh dan saling beradu pandang. Untuk beberapa saat kedua nya lupa bahwa posisi mereka tanpa ada jarak, bahkan tangan Candra mendekap erat pinggang kecil itu tanpa sadar.


"Ahh," pekik Dinda sambil menegakkan tubuhnya.


Keduanya bingung ingin berbicara apa setelah insiden kecil Ini, terutama Dinda.


"Maaf."


"Maaf."


Keduanya berucap bersama.


"Ahh ... maksud Saya, terimakasih," larat Dinda cepat, menyadari kesalahan ucapannya.


"Sama-sama, terimakasih," balas Candra bersikap biasa.


"Hah." Dinda malah bengong mendengar kalimat Candra.


Dinda tersadar, bahwa ucapan Candra itu ditujukan karena sudah mengantarnya, bukan untuk pelukannya.


'Aish.'


"Saya permisi, Mas." Dinda lekas masuk ke dalam mobil guna menutupi rasa malunya. Di dalam hati, Dinda tidak henti-henti merutuki kebodohannya.


Berlalu meninggalkan rumah itu, Dinda melihat kalau Candra masih berdiri melepas kepergiannya.


Selepas Dinda pergi, Candra berbalik badan dan masuk ke dalam rumah yang tertutup rapat. Belum sampai memegang ganggang pintu, tapi pintunya sudah terbuka dari dalam.


Tatapan Candra datar menatap orang yang membuka pintu tersebut. Dia tidak menyangka, akan disambut oleh Wanita yang diberinya gelar 'Serigala berbulu domba'.


"Apa Kau sedang dekat dengan Wanita, itu?" terdengar nada yang tidak suka.


Candra tersenyum mengejek. "Memangnya, Kenapa? Ada masalah?" balasnya bertanya sesantai mungkin.


"Apa Kau sudah lama mengenal Wanita, itu?"


"Iya," jawab Candra pendek sambil melewatinya.


"Bara! Sebaiknya Kau jangan dekat dengannya," ucapnya membuntuti Candra.


Candra berhenti, reflek orang mengikutinya juga berhenti.


"Apa ada, masalah?" tanya Candra datar dan dingin menatapnya tajam.


"Dia itu, sudah punya pasangan," terangnya.


Candra menarik sudut bibirnya tipis, hampir tak terlihat. Yang Candra tahu Dinda sekarang adalah seorang janda, Dia pun merasa tidak ada hubungan apa-apa dengan Dinda. Peringat yang dilayangkan untuknya, tak Dia hirau 'kan.


"Lalu? Apa Aku harus dekat dengan Wanita jadi-jadian, seperti mu, Kaluna?" kata Candra pedas.


"Bukankah Kau juga memiliki, pasangan? Bahkan pasangan yang sah?" sambung Candra menyindir.


Kaluna bergeming, jangankan menyangkal, lidahnya saja terasa kelu.


"Bara, Kau baru pulang?" Lintang datang menyapa nya.


"Iya, Mas. Ada sedikit pekerjaan yang harus kita bicaraka." Candra meninggalkan Kaluna dan membawa Lintang ke ruang kerja sepupunya itu.

__ADS_1


'Sialan. Lihat saja ... Aku akan membalasnya pada wanita, itu.'


BERSAMBUNG ....


__ADS_2