Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 94 Akhir penantian.


__ADS_3

Dinda berjalan santai menuju sebuah taman yang terletak tidak jauh dari rumah bersama ayah mertu yang masih terlihat gagah di antara pria seumurannya. Walau pun sudah menginjak usia hampir enam puluh tahun. Akan tetapi, pesona seorang Arwan singgih Abrisam begitu kentara dan tak terelakkan.


Tubuh tinggi nan berisi, tapi tidak terlalu gemuk. Mata tajam dengan alis tebal, serta rahang yang tegas berhiaskan jambak tipis berwarna hitam dan putih hingga sampai kepala. Pangkal hidung yang menanjak, membuatnya mirip seperti orang arab.


Sesekali mereka tertawa ketika membicarakan sesuatu. Dinda kini mulai tahu, orang seperti apa ayah mertunya tersebut. Dia juga merasa nyaman ketika bersamaan. Ternyata sifatnya tidak semenakutkan penampilannya. Arwan sangat humoris dan sangat mudah membuat lelucon.


Seseorang yang mereka abaikan sejak dari rumah pun turut mengekor di belakang, dengan jarak tidak terlalu jauh. Akan tetapi, mereka tetap menganggapnya tak ada.


"Dia lagi bikin kamu kesel, ya?" tanya Arwan ketika mereka duduk di kursi panjang sambil memperhatikan beberapa anak kecil yang sedang bermain.


Dinda tersenyum simpul saat menyadari siapa yang dimaksud ayah mertuanya. Dia pun melirik orang yang kini duduk di bawah pohon sembari memainkan sebilah ranting.


"Iya, Pah. Aku lagi kesel sama dia," jawab Dinda jujur sambil mengalihkan pandangan pada anak-anak yang tengah tertawa.


"Pantesan," celetuk Arwan terkekeh kecil.


"Pantesan kenapa, Pah?" balas Dinda penasaran.


"Tuh!" Tunjuk Arwan pada orangnya langsung, "tahu diri dia, nggak mau nyamperin kita," ujarnya diiringi tawa.


"Salah sendiri, orang kita nggak ngajak," sahut Dinda kesal.


"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?"


Dinda tersentak dan langsung menoleh pada Arwan yang kini berubah serius.


"Maaf ... karena meminta anak Papah, buat nikah sama aku," sesal Dinda tertunduk.


"Jangan disesali! Semua ini sudah takdir kalian, menikah dengan cara seperti ini. Kita boleh-boleh saja berencana ... tapi jangan lupakan Tuhan! Semua terjadi atas kehendak-Nya," ujar Arwan bijak sembari tersenyum tipis.


Dinda menghela napas panjang, dan membenarkan apa yang dikatakan ayah mertuanya. Semua yang terjadi dalam hidup ini tidak boleh disesali. Kalau pun itu tidak sesuai dengan keinginan kita. Mungkin ini adalah sebuah proses agar kita lebih berlapang dada dan menerima apa yang sudah ditentukan untuk jalan hidup kita.


"Kau tahu, Nak? Sudah sering Papah memaksanya untuk membantu Lintang, bekerja di perusahaan keluarga. Tapi dia selalu menolak. Dan katanya, dia hanya ingin menjadi seorang pelatih silat."


Arwan melirik Candra yang kini tengah asyik bermain kelereng dengan beberapa anak laki-laki. Dinda terdiam menunggu apa yang akan dikatakan mertuanya.


"Dulu ... Papah juga pernah memintanya untuk segera menikah, dan lagi-lagi dia menolak dengan alasan tidak ingin meninggalkan Papah sendirian," lanjutnya sembari menggeleng pelan dan terkekeh.


"Papah hampir menyerah, kalau saja dia meminta untuk benar-benar berhenti membantu Lintang."


Dinda turut memperhatikan Candra yang serius membidik kelereng di depannya.


"Tapi, tiba-tiba saja tanpa ada angin dan hujan, dia mengatakan kalau dia akan menetap dan sepenuhnya membantu Lintang. Tentu saja Papah merasa curiga," Dinda mengerutkan kening dan menoleh pada Arwan.


"Curiga?" tanya Dinda pendek.

__ADS_1


Arwan mengangguk pasti dan berbicara lebih pelan dari sebelumnya.


"Papah meminta seseorang untuk memata-matainya."


Dinda semakin mengerutkan kening dalam dan penasaran guna memahami pembicaraan sang mertu.


"Lalu?" tanya Dinda hampir berbisik.


"Ternyata ... dia sedang membangun apartemen."


"Memangnya kenapa, Pah?" Dinda sama sekali tidak mengerti.


"Di belakang Papah .., ternyata dia membangun perusahan sendiri."


Dinda terbelalak mengetahui kenyataan itu. Tiba-tiba saja memorinya memutar ulang, ketika dia bertemu Candra saat bersama Kaamil.


"Capek mana? Jadi pelatih, apa jadi Bos?"


"Enakan, jadi pelatih."


Kata-kata Kaamil dan Candra kapan mana itu terngiang-ngiang dalam pikirannya.


"Itu hanya salah satu alasannya saja," Arwan kembali bersuara dan menyadarkan Dinda.


Tentu Dinda ingat betul saat pernikahan itu terjadi. Pernikahan yang seketika merubah hidup dan perasaannya terhadap dua pria itu.


"Papah pikir, Bara akan menolak permintaan itu. Tapi ternyata, dia malah menerimanya tanpa paksaan. Papah sedikit heran, dan bertanya langsung sama Bara. Tapi dia tidak mau mengatakannya."


Dinda tertunduk malu dan menelan ludah. Tentu saja sekarang dia sudah tahu apa yang membuat Candra menerima pernikahan mereka.


"Apa sebelumnya, kalian pernah menjalin hubungan?"


Dinda menggeleng cepat guna menyangkal tuduhan tersebut.


"Sama sekali enggak, Pah."


"Tapi, seperti Bara menikmati pernikahan kalian. Apa cuman kamu yang tidak menerima pernikahan Ini?"


Dinda kembali menggeleng cepat.


"Nggak, Pah. Dinda menerimanya kok."


"Yang bener?" celetuk seseorang ikut duduk di sampingnya dengan nafas yang turun naik.


"Mas," pekik Dinda kaget.

__ADS_1


"Jadi, kamu juga sangat menikmatinya, ya?" goda Candra mengedipkan satu matanya.


"Hai! Jangan mengganggu menantu Papah," peringat Arwan.


"Tapi, menantu Papah ini, istri aku, Pah," ujarnya sambil mencolek hidung sang istri, dan tersenyum manis.


Belum hilang rasa terkejutnya, kini Dinda malah dibuat salah tingkah dengan tindakan Candra.


"Mas," protes Dinda tanpa suara.


"Pah, kita balik aja yuk!" ajak Dinda sambil berdiri, "di sini ada pengganggu," tambahnya melirik Candra sekilas.


"Yuk," tanggap Arwan.


"Yah, ditinggalin," keluh Candra turut berdiri dan ikut berjalan sejajar dengan Dinda.


Dinda yang menyadari itu semakin mempercepat jalannya. Tidak lupa dia mengapit tangan Arwan guna meninggalkan Candra.


"Suami kamu itu, aku. Kenapa malah gandeng Papah?" protes Candra menerobos di antara Dinda dan ayahnya.


"Ayo!" Candra langsung mengaitkan tangan Dinda di lengannya tanpa melepaskan tautan, dan menarik pelan.


"Eh, Pah!" pekik Dinda ingin melepaskan diri sembari menoleh pada Arwan yang tertinggal di belakang.


"Terimakasih, karena telah menjadi alasan Bara, untuk menikah dan bekerja di perusahan," gumam Arwan membatin.


"Hai, kalian! Jangan tinggalin, Papah! Nanti kalau Papah tersesat, bagaiman?" teriak Arwan membuat Dinda memaksa Candra untuk berhenti.


Arwan tertawa ketika melihat putra dan menantunya itu berdebat.


"Sepertinya Papah akan segera mendapatkan cucu," goda Arwan membuat Dinda seketika berhenti berdebat.


"Emang kue, yang bisa langsung diadon?" kesal Candra sambil merangkul istrinya. Tidak seperti sebelum, kali ini Dinda pasrah ditarik sang suami.


"Hahaha, adon aja tiap malam! Insyaallah pasti jadi."


Dinda semakin menunduk dan merapatkan diri pada Candra. Dia ingin segera bersembunyi dari godaan ayah mertua. Di dalam hati, Candra tertawa penuh kemenangan. Diam-diam Candra menoleh pada sang ayah dan tersenyum lebar sambil mengedipkan satu matanya.


Arwan tergelak hingga sudut matanya berair.


"Berbahagialah, kalian!" ujarnya pelan.


...🍁TAMAT .... 🍁...


Terimakasih untuk semua dukungan yang kalian berikan kepada DinBar. Mohon maaf jika cerita ini kurang memuaskan di mata kalian. πŸ™ Saya hanya seorang penulis amatiran. Kalau kalian masih suka sama DinBar, jangan bosan buat nungguin extra part nya, ya.😁 Sekali lagi saya ucapkan banyak-banyak terimakasih πŸ™.

__ADS_1


__ADS_2