
Waktu sudah menunjukan jam delapan malam, ketika Candra baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Sebelum pintu mobil dibuka, ponselnya lebih dulu berdering.
"Hallo, Gus!" sapa Candra usai membaca nama si penelpon:dan mengucap salam.
"Apa? Kenapa bisa? Lalu bagaimana dengan mereka?" pekik Candra tersentak kaget sambil melempar pertanyaan beruntun, setelah mendengar kabar yang disampaikan oleh orang nan jauh entah di mana.
"Oke, gw kesana sekarang!" Candra memutus sambungan setelah saling mengucap salam.
Baru saja menghidupkan mesin mobilnya, ketika tiba-tiba pintu di sampingnya diketuk seseorang. Menurunkan kaca pembatas anatara dirinya dengan seorang wanita yang memakai baju piyama lengan panjang dan jilbab instan.
"Mas, mau ke mana?" cercarnya, walau kaca itu belum turun sepenuhnya. Namun, pertanyaan sudah menghalau Candra untuk segera menjawab.
"Ada sesuatu yang harus kuurus," singkat dan padat, namun terkesan buru-buru.
"Ikut," satu kalimat tanpa aba-aba mampu menahan Candra melajukan mobilnya dan menoleh pada wanita yang beberapa hari ini sudah sah menjadi istrinya.
"Kamu yakin, mau ikut?" tanya Candra ragu.
"Iya," balas Dinda pendek sembari mengitari mobil dan segera membuka pintu di sisi lainnya, duduk diam di samping suaminya.
Sebelum menjalankan mobil, Candra mengambil sesuatu di kursi belakang. "Pakai ini!" suruhnya menyerahkan jaket kulit yang biasa dipakainya.
Tanpa banyak protes dan sadar kalau malam semakin dingin, dengan senang hati Dinda memakainya.
"Baru juga datang, kenapa mau pergi lagi?" tanya Dinda yang sempat heran, ketika mendengar mobil Candra datang. Akan tetapi, sang empunya tak kunjung masuk rumah, membuat langkah kakinya menyusul ke teras depan.
Candra melirik Dinda sejenak, kemudian kembali fokus pada jalanan dan berkata, "Bagus tadi telepon, katanya ada rumah yang kebakaran," jawaban yang malah memantik pertanyaan lagi dari bibir Dinda.
"Siapa Bagus? Rumah siapa yang kebakaran, Mas?" kekhawatiran ikut terselip seiringnya kalimat yang terlontar.
Semakin malam, bukannya sepi malah semakin ramai. Banyaknya kendaraan yang memenuhi jalan raya tak lantas menyurutkan laju mobil tersebut. Terus berpacu membela hiruk piruknya jalan aspsl yang dipenuhi lampu hasil berbagai macam penerangan di mana-mana.
Yang berselisihan atau yang sejalur, dilewantinya dengan mulus tanpa kendala walau lajunya sengaja ditambahkan.
"Bagus itu juga pelatih taekwondo, dia teman aku."
Kecepatan mobil perlahan mengendur. Tanpa disadari jalanan bertambah padat dari sebelumnya, dan bunyi klapson saling bersahutan.
"Trus rumah siapa yang kebakaran, Mas?" ulang Dinda, karena pertanyaannya tidak terjawab semua.
Belum terdengar jawaban atas pertanyaannya. Namun, kabut asap hitam dan sedikit cahaya kemerahan, berserta samar suara gaduh orang-orang di sekitar kejadian telah mengambil penuh atensi keduanya.
Mengabaikan pertanyaan dan jawaban, seolah bukti nyata sudah terwakilkan. Candra dan Dinda terpaku oleh pemandangan memilukan yang jauh di depan sana.
Sulit untuk menerobos mobil yang berjejer, karena sebagian pengendara ada yang dengan sengaja berhenti dan turun guna mengabadikan momen tersebut dalam memori ponselnya.
"Kita turun di sini!" ucap Candra setelah memarkirkan mobilnya di tepi bahu jalan. Cukup jauh dari tempat kebakaran, membuat keduanya mencari celah melewati kerumunan.
__ADS_1
Berdesakan di antara kendaraan dan diselingi orang-orang, memaksa mereka untuk saling bergandengan dengan Candra sebagai pemandu jalan.
"Awas," peringat Candra ketika ada lubang kecil dengan penerangan minin. Tangannya langsung terulur menggenggam tangan Dinda yang lain.
Mereka semakin mendekat, namun bukan itu tujuan Candra. Dia membawa Dinda ke sisi lain dan mencari seseorang yang tadi telah memberi kabar kepadanya.
"Ke mana, Mas?" tak urung mengikuti langkah kaki suaminya.
"Ketemu Bagus," jawab Candra sambil memperhatikan beberapa kerumbunan orang-orang.
"Bang, Candra," panggilan seseorang seketika menarik perhatian Dinda dan Candra.
Mengetahui siapa yang memanggilnya, Candra langsung mendatanginya sambil menarik tangan Dinda.
"Gimana, Gus?"
"Di sana, Bang." Tunjuk Bagus ke arah salah satu rumah warga. Candra mengangguk mengeriti, ketiganya pun kompak berjalan ke rumah tersebut.
"Gimana keadaan ibu, kamu?" Candra bertanya pada seorang gadis yang terduduk sedih di samping ibunya. Tubuh ringkih berusia lima puluh tahunan itu terkulai di atas kasur, namun matanya terbuka setengah.
Kini Candra dan Dinda berada di sebuah kamar yang disediakan pemilik rumah guna menampung korban kebakaran tunggal. Mereka dipersilahkan masuk sang tuan rumah, usai Bagus mengenalkan sebagai kerabat jauh korban.
"Alhamdulillah, baik Mas. Hanya saja punggung ibu sedikit sakit katanya. Mungkin karena tadi diangkat cepat-cepat dan asal angkat, tapi nggak apa-apa kok," jelasnya dengan sedikit senyum sedih.
Dinda diam memperhatikan keduanya tanpa berani ikut bicara, karena dia memang sama sekali tidak mengenal kedua wanita di depannya.
"Ibu tidur?" tanya Candra lagi karena melihat kelopak setengah terbuka.
Candra mengangguk dan melirik Dinda. "Perkenalkan, saya Candra ... dan ini istri saya, Dinda."
Seketika Dinda membelalakan mata dan menatap Candra tidak percaya yang kini tengah merangkul bahunya, karena mengenalkan dirinya pada gadis dihadapan mereka.
Tidak ingin terlihat bahwa dia terkejut, Dinda lantas mengulurkan tangan guna berkenalan. "Dinda," ujarnya kembali mengenalkan diri.
"Zivi, Mbak," balasnya menyambut setelah berdiri.
Seketika tubuh Dinda membatu dengan memorinya yang berkelana tanpa diperintah. Sebuah nama biasa, namun tak asing di pendengarannya sukses membuat otaknya bekerja dan langsung menemukan jawabannya.
Menoleh pada Candra dengan pancaran pertanyaan, atau lebih tepatnya menuntut konpirmasi kebenaran praduga dari isi pemikirannya. Suaminya pun turut membalas tatapannya, dan tersiran pernyataan.
"Besok pagi, akan ada yang menjemput kalian."
Dinda terkesiap mendengar apa yang Candra katakan barusan, dan bertambah terperangah ketika suaminya melanjutkan kalimatnya.
"Untuk sementara waktu ... kalian bisa tinggal di rumah saya, sebelum rumahnya diperbaiki."
"Terimakasih banyak Mas Candra, dan Mbak Dinda," ujarnya tulus, "Tapi, apa tidak merepotkan kalian? Mungkin, sebaiknya kami tinggal di sini saja," tanya Zivi sungkan.
__ADS_1
"Sama sekali tidak merepotkan."
Dinda tidak bisa bicara, dia seakan masih dalam keterkejutan yang teramat dalam.
"Benarkan, sayang?"
"Hah?" pekik Dinda tersentak kecil, entah apa yang membuatnya kaget. Kesadaran yang kembali karena panggilan Candra, kah? Atau karena panggilan yang tidak biasanya?
Entahlah, yang jelas saat ini begitu banyak hal yang membuatnya berkali-kali terkejut.
"I--iya," jawab Dinda asal, dan dia menyesal dengan jawabannya.
Memang ada rasa empati di dalam hatinya pada korban kebakaran tersebut. Akan tetapi, nalurinya bertolak belakang setelah mengekahui siapa wanita muda di depannya itu.
Dinda mengakui, dia bukanlah manusia naif. Walau dalam keadaan memprihatinkan, yang dia tahu adalah ... wanita itu penyebab suatu masalah dalam hidupnya, dan dia tidak menyukai hal tersebut.
"Sekali lagi terimakasih, Mas ... Mbak."
"Kalau begitu, kami pulang dulu. Sampai ketemu besok," pamit Candra.
Mereka kembali bertemu Bagus sebelum pergi meninggalkan rumah warga, sempat ada pembicaraan serius antara Candra dan Bagus. Akan tetapi, Dinda sama sekali tidak menyimaknya, dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Keadaan sudah legang dari sebelumnya, api yang menyala pun sudah padam seutuhnya. Dengan langkah gontai, Dinda bermalas-malasan mengikuti Candra menuju mobil yang membawa mereka tadi.
"Serius Mas, kamu mau ngajak mereka tinggal sama kita?" akhirnya, sesuatu yang menganjal di hati kini menyeruak ke permukaan dengan tindakan pertanyaan.
"Tinggal sama kita?" Candra kembali melempar pertanyaan sambil menghentikan langkah dan menoleh pada istrinya.
Dinda berdecak dan menarik tangannya hendak kembali berjalan, namun ditahan Candra dengan mengeratkan pegangan tangan.
"Mereka tidak akan tinggal di rumah kita."
Dinda mengerutkan kening dan urung meninggalkan Candra, "Tapi tadi Mas, bilang?" ujarnya heran.
"Mereka akan tinggal di rumahku, tapi bukan rumah yang kita tempati," jelas Candra.
"Tapi ...," kata Candra menggantung.
"Tapi apa?" desak Dinda.
"Sebenarnya, bukan rumahku juga," ucap Candra sambil nyengir.
"Lalu?" Dinda semakin bingung dengan jawaban yang berputar-putar.
"Milik Luna, istri Mas Lintang."
"Hah?"
__ADS_1
'Dan untuk kesekian kalinya, Dinda melongo dan memekik kaget 😁.'
BERSAMBUNG ....