Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 78 Memori yang terlupakan.


__ADS_3

"Menyingkir kau, dari jalanku!" ucap pria itu tegas pada Raka sambil menodongkan pistolnya.


"Tidak akan!" balas Raka turut mengacungkan pistol hasil merampas dari lawan sebelumnya.


"Kau mau mati anak muda? Maka akan aku kabulkan."


"Dorr," bunyi peluru keluar dari pistolnya usai mengatakan hal tersebut. Akan tetapi, peluru itu mengenai atap rumah.


"Apa kau pikir, aku akan membiarkan saudaraku dibunuh?" tanya seseorang menatap tajam sambil mengangkat tangan orang yang akan menembak kembarannya.


"Banggg sattt!" hardik pria itu sambil menghempaskan tangannya agar terlepas dari cengkeraman kembaran Raka.


"Riki, Lu urus dia! Gue mau nyusul Bang Candra," sela Raka berbalik badan dan pergi tanpa menunggu persetujuan dari Riki.


Raka gegas berlari sambil memperhatikan sekelilingnya, karena tempat letak mobil mereka lumayan jauh.


"Itu dia!" gumam Raka melihat sekelebat bayangan orang berjalan.


"Bang. Abang nggak apa-apa, kan?" tanya Raka ketika berhasil menyusul Candra.


Keadaan di sekitar yang gelap membuat penglihatan mereka terbatas. Mereka hanya bisa melihat samar dengan cahaya bulan.


"Sebentar lagi akan ada bantuan. Pastikan mereka membagi menjadi dua kelompok!" perintah Candra dengan terus berjalan dan mengabaikan pertanyaan Raka.


Raka mengangguk paham dengan raut wajah khawatir. Setibanya di dekat mobil, dia langsung membukakan pintu belang. Candra pun segera membaringkan Dinda.


"Ini ponselku. Mereka akan melacak GPS untuk menuju ke sini." Candra menyerahkan ponselnya usai menutup pintu mobil.


Raka mengambil lantas bertanya, "Apa Abang akan pergi sendiri?" ucapnya tidak rela, "biar aku yang mengantar ke rumah sakit, Bang?" tambahnya yang mengerti Candra hendak pergi ke mana.


"Tidak! Kalau kau ikut denganku, siapa yang akan menyambut bantuan, jika GPS nya ikut bergerak? Sebentar lagi mereka akan sampai. Semuanya aku serahkan padamu!" ujar Candra sambil duduk di balik kemudia yang kuncinya memang sengaja menggantung di tempatnya.


"Tapi Bang---," balas Raka tertahan karena mobilnya sudah melaju cepat.


Candra menjalankan mobil dengan kecepatan penuh sambil menahan sakit. Ditengah perjalanan dia sempat beberapa kali hilang kendali. Namun, tidak menyebabkan kecelakaan, karena jalanan sangat legang.


Hanya memakan waktu lima belas menit, mobilnya tiba di rumah sakit terdekat dari desa itu. Memarkirkan mobilnya asal tepat di teras rumah sakit, Candra langsung keluar dan memboyong Dinda sambil memanggil perawat yang berjaga.


Keadan rumah sakit di tengah malam sangat sunyi dan tidak terlihat ada orang, membuat suaranya menggema di seluruh ruangan tersebut.


"Suster, tolong istri saya!" teriak Candra mencari perhatian siapa saja yang ada di sana.


Dua orang perawat datang dan dengan sigap memintanya membaringkan Dinda di atas brankar dorong yang ada di sudut ruangan, lantas mereka pun membawanya ke ruang UGD(unit gawat darurat).


Candra melangkahkan kaki hendak mengikuti ke mana Dinda dibawa, ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya dan menghentikan niatnya.


"Mobilnya diparkirkan ke parkiran dulu, Mas?" ucap security yang berjaga.


Candra mengangguk mengerti dan berbalik badan menuju mobilnya. Security yang tadi menepuk pundak Candra, melihat telapak tangannya yang terasa basah.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal azim," pekiknya menatap tangan dan punggung Candra yang terbalut jaket kulit hitam bergantian, hingga Candra menghilang dari balik pintu.


Menyadari jika di telapak tangannya adalah darah, dia langsung berlari mengejar Candra. Jaket kulit hitam yang dikenakan Candra membuat darah itu tersamarkan.


"Mas, Mas!" panggil security cepat ketika Candra sudah membuka pintu mobilnya.


"Ya Pak?" tanya Candra melirik security yang berlari ke arahnya.


Bukannya menjawab, security itu malah membalik tubuh Candra agar membelangakingnya guna memastikan sesuatu.


"Ya Allah, Mas! Masnya terluka Ini!" pekik security itu panik setelah melihat punggung Candra lebih teliti. Dia menemukan ada begitu banyak darah yang menempel di jaket dan keluar dari lubang kecil.


"Ayo sini, Mas! Biarkan saja mobilnya! Nanti saya yang parkirkan," tarik paksa security itu sambil menutup kembali pintu mobilnya.


Candra yang sejak tadi hanya mengkhawatirkan Dinda, lupa dengan punggungnya yang sakit. Kini saat security itu mengingatkannya, tiba-tiba kepalanya terasa berkunang-kunang.


"Sebentar Pak," Candra menghentikan kakinya saat mereka baru saja tiba di depan pintu masuk.


Security itu pun menoleh sambil bertanya, "Kenapa Mas? Loh-loh Mas .., Mas!" teriaknya ketika Candra hendak jatuh kebelakang dan langsung ditahannya.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Jiwa yang ketakutan dan fisik yang terasa ngilu selama beberapa hari ini membuat Dinda enggan membuka mata meninggalkan kedamaian saat ini. Di alam bawah sadar, dia mengarungi mimpi indah yang sempat hilang dari bagian hidupnya.


"Hei! Kamu mau es krim?" tawar seorang anak laki-laki pada anak perempuan yang tengah duduk lesehan sambil sibuk mencoret-coret buku gambarnya.


"Tadi aku lihat ada lewat di depan rumah," balasnya sambil menatap ke arah pintu yang terbuka.


"Ayo Bang! Nanti keburu pergi yang jual es krimnya," ucap anak perempuan itu hendak berlari lebih dulu meninggalkan alat perkakas belajarnya.


"Eh, Adin! Mau ke mana?" seseorang datang menghentikan langkahnya.


Adin menoleh dan menjawab, "Mau beli es krim Bun. Tadi kayanya ada lewat di depan rumah." Tunjuknya keluar rumah.


"Eh, memangnya Adin punya uang?" untuk yang kedua kalinya Adin berhenti dan berbalik badan dengan lemas.


"Nggak ada, Bun." ujarnya sambil menggeleng.


"Saya yang ajak dia beli es krim, Tante. Jadi biar saya saja yang bayarin," timpal anak laki-laki itu sambil beranjak dari duduknya.


"Oh gitu, ya sudah sana!" suruhnya mengijinkan.


"Bara, sekalian beli'in Mama, Tante Mita sama Tante Vita ya?" sahut seseorang yang mengaku mama dari anak laki-laki itu.


"Iya Ma. Ayo!" angguk Bara dan beralih mengajak Adin.


"Ayo ...!" semangat Adin ceria mengikuti langkah Bara keluar rumah.


"Emm, enak!" puji Adin yang tengah menarik sendok es krim dari dalam mulutnya.

__ADS_1


"Bagi dikit dong, Bang!" pintanya pada Bara.


"Enak aja. Punya kamu, kan, masih ada," tolak Bara menjauhkan es krimnya dari lirikan mata Adin.


"Iih, pelit. Aku, kan, cuman pengen rasain yang rasa pandan," Adin memajukan bibirnya kesal.


"Kenapa tadi nggak beli rasa pandan juga?"


"Tapi aku surah rasa coklat."


"Ya sudah, nikmati es itu."


"Tapi aku juga mau cicipin punya, Abang."


"Nggak malu kamu, makan bekas aku? Lagian kita juga baru kenal hari ini."


"Emang apa masalahnya? Kamu, kan, anak teman Mama aku."


Perdebatan antara Adin dan Bara terus berlanjut, hingga keduanya saling mengejek satu sama lain.


"Dasar batu bara pelit," kesal Adin melirik sinis sambil bibir yang dimanyunkan.


"Apa kata kamu? Kamu ngatain aku batu bara?" tanya Bara tidak percaya.


"Iya! Dasar batu bara," balas Adin berani.


"Dasar nggak tahu tetimakasih. Bayar es krim yang kamu makan!" pinta Candra tidak terima, dan memilih menjadi pelit sepeti yang Adin ucapkan.


"Nggak mau."


"Bayar!"


"Nggak."


"Bayar!"


"Hei kalian, ihat sini!"


Keduanya langsung menoleh ke asal suara bersaaman dengan bunyi kamera yang memotret mereka.


"Kenapa difoto, Ma?" protes Bara cepat.


"Hahaha ... Mama mau mengabadikan pertemuan dan pertengkaran pertama kalian, biar jadi kenang-kenangan," balasnya tertawa bangga.


"Jadi nanti Mama cetak," sambungnya masih tertawa.


BERSAMBUNG ....


Hayo .., siapa yang masih ingat sama cerita Ayah Al dan Bunda Vita? 😁

__ADS_1


__ADS_2