
...'Menerima kenyataan hidup adalah bagian dari cara kita untuk tetap bertahan dan move on.'...
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Suara takbir menyambut hari kemenangan terus menggema bersahutan dan bukan hanya dari toa masjid yang terdengar memecah kesunyian malam.
Anak-anak juga para pemuda tidak ketinggalan melakukan takbir keliling menggunakan gerobak sambil memukul bedug menelusuri perumahan, menambah suasana momen lebaran terasa begitu hidup dan menyenangkan.
Senang dan gugup kini telah Dinda rasakan, sebab sudah lama tidak berjumpa dan hanya melalui sambungan telepon saja untuk bertukar kabar. Hari ini mereka akan makan malam.
Sudah siap dan sebelum beranjak dari kamarnya, Dinda memoleskan lagi lip cream warna peach sembari kembali memperhatikan penampilannya, memastikan bahwa dirinya sudah benar-benar rapi dan sempurna.
Baju blouse muslim lengan panjang berwarna biru muda, dipadu padankan celana gucci hitam senada dengan pasmina yang melilit kepalanya sangat cocok untuk dirinya.
Sepuluh menit yang lalu Adit sudah menghubunginya, mengatakan bahwa hampir sampai di rumah Bunda Vita. Beranjak dan menggapai envlope clutch, Dinda segera berjalan keluar.
"Wihh .., cantik bener, neng," goda Kaamil yang sedang asyik menonton televisi saat melihatnya.
"Maaf, Mil ... lagi nggak ada uang receh," tanggap Dinda santai.
"Tenang Kak, Aku punya banyak uang kembaliannya. Mana, sini." Kaamil menanaikan tangan meladeni gurauan Dinda.
"Nggak bawa, uang kes juga," kata Dinda ikut duduk di sofa samping Kaamil.
"Ck, ya udah besok aja," decak Kaamil sambil menyuap keripik.
Jika Dinda memilih pergi bersama Adit, Kaamil malah diam saja di rumah sambil memakan cemilan dalam toples.
"Sudah siap, sayang?" tanya Vita datang dari dapur.
Seperti ibu-ibu pada umumnya menjelang lebaran, Vita sedang menyiapkan hidangan untuk besok lebaran. Namun, untuk memasaknya akan Dia lanjutkan subuh nanti.
"Iya, Bunda. Ayah mana?" balas Dinda.
"Ikut Bapak-bapak, meng'khatam'kan Qur'an di masjid," jawab Vita sambil duduk di sisi Dinda.
Rutinitas setiap menjelang malam lebaran adalah melakukan khatam Qur'an. Walau Al tidak selalu ikut mengaji di masjid, melainkan di rumah saja, tapi dibebaskan untuk siapa saja yang hendak ikut khatam di masjid.
"Tuh, Mil ... kenapa nggak ikut Ayah, ke masjid." Dinda menyikut lengan Kaamil.
"Aku udah khatam, tadi sore," jawab Kaamil santai fokus kedepan.
"Kakak tuh, yang belum," lanjut Kaamil disela kunyahan nya.
"Ihh sorry ya, Kakak juga udah Khatam tadi magrib," jawab Dinda.
Biasanya Dinda mengaji di restoran, diwaktu senggangnya dan tadi ketika solat Magrib di rumah Dia sudah khatam.
Bunyi klakson menghentikan interaksi mereka. Dinda beranjak dan disusul Vita. Kaamil yang penasaran pun ikut ke luar juga.
Terlihat seorang pria tampan keluar dari balik pintu kemudi, tidak lain ialah Adit. Meraka memang janjian pergi, tapi tidak ada janjian dengan baju yang akan mereka kenakan.
Baju kemeja berwarna biru muda dibalut jas hitam dan celana kain hitam, sangat serasi dengan baju Dinda kenakan.
"Itu cowok yang dekat sama, Kakak?" bisik Kaamil sambil menelisik Adit yang berjalan mendekat.
"Hmmm," gumam Dinda tersenyum kepada Adit.
Mereka menang belum sempat bertemu langsung, Kaamil hanya tahu dari cerita Dinda, Vita dan Al. Bahwa Dinda dekat dengan laki-laki yang ingin menjalin hubungan serius.
"Assalamualaikum, tante." Adit menyalami Vita.
"Wa'alaikumussalam," sahut Vita sambil menyambut uluran tangan Adit.
"Jangan lama-lama, bawa Kakak Gw, Bang," sela Kaamil berpesan.
"Kaamil," kesal Dinda sambil menyikut.
"Yang sopan, Mil," tegur Vita.
"Jadi ini, Adik yang Kamu bilang?" tanya Adit melirik sekilas pada Dinda dan mengajak Kaamil bersalaman.
"Cerita apa aja Dia, Bang?" tanya Kaamil kalem tidak mengidahkan teguran Dinda dan Vita.
__ADS_1
"Nggak banyak, cuman pernah bilang kalau punya Adik," jelas Adit santai.
"Udah ah, kita berangkat sekarang. Bunda, Adin pergi dulu, ya?" Dinda menghentikan percakapan dan berpamitan.
Usai memberi salam dan menerima pesan hati-hati, Dinda dan Adit segera berangkat.
"Aku baru tau, kalau Kamu punya Adik," ujar Adit tetap lurus ke depan, memperhatikan jalanan yang legang.
"Aku pikir waktu itu, Kamu cuman bercanda," sambung Adit.
"Kenapa begitu?" tanya Dinda menoleh.
Adit menoleh sebentar dan kembali kedepan. "Itu ...," ucap Adit bingung.
Tidak mungkin Adit mengatakan, kalau Dia sudah pernah mengorek informasi tentang Dinda.
"Kita memang nggak tinggal serumah," ucap Dinda.
"Kenapa?" tanya Adit penasaran.
"Dia tinggal sama, Mama dan Papa," jawab Dinda jujur.
"Maksudnya?" tanya Adit mengerutkan kening heran.
"Iya, Mama dan Papa! Bunda Vita itu, Adiknya Mama. Aku dari kecil tinggal sama, Bunda," jelasnya pendek.
Adit menyerap dan mengangguk samar.
Sejak Adit berperan sebagai kekasih Dinda waktu kejadian kapan mana dulu, Dia segera mencari tau tentang Dinda. Yang Adit tahu, Wanita itu baru saja bercerai dan teman sekolah dari istri atasannya.
Hanya tahu jika tinggal bersama Vita dan Al yang Dinda sebut Bunda dan Ayah. Adit tidak mencari informasi secara detail asal usul Dinda. Hanya sebatas itu, tidak lebih.
Adit terus melajukan kendaraannya hingga sampai di sebuah hotel berbintang lima. Dinda tercengang melihat hotel itu. Hotel tersebut adalah hotel yang membawa musibah pada dirinya.
"Ayo," ajak Adit yang sudah membukakan pintu untuk Dinda.
"Hah," pekik Dinda tersentak kecil. Karena sempat melamun Dinda tidak sadar kalau pintu di sampingnya sudah terbuka.
Adit mengeluarkan tangan kepada Dinda dan disambut Dinda ragu-ragu.
"Ikut saja, ada sesuatu di dalam," ujar Adit sambil menggenggam tangan Dinda lembut.
Sebenarnya Dinda tahu siapa pemilik hotel terkenal itu, hanya saja hatinya sangat gelisah dan tidak nyaman karena ingat kejadian malam itu.
Adit menuntun Dinda ke dalam kedung yang menjulang tinggi, seorang pelayan datang menyambut mereka. Di lantai dasar, Adit terus membawa Dinda semakin masuk ke sebuah ruangan yang diarahkan pelayan.
Perlahan ruangan dibuka dan suasana terlihat begitu gelap. Namun, tiba-tiba lampu menyala di tengah-tengah ruangan. Terlihat sebuah meja dihiasi bunga mawar merah dan sepasang kursi.
Dinda terkesiap, rasa takut dan gelisah menguap berganti dengan keterkejutan yang luar biasa.
"Mas Adit," panggil Dinda lirih menoleh Adit haru dan dibalas Adit senyum lutus.
Adit menarik tangan Dinda pelan menapaki karpet merah menuju meja yang sangat mewah. Di sisi kiri dan kanannya bertabur bunga mawar dihiasi lilin dalam gelas kecil.
Tanpa bicara Adit mendudukkan Dinda di kursi dan ikut duduk di kursi seberang Dinda. Lagi, Dinda terkesiap ketika mendengar suara instrumen gitar. Lampu menyala di ujung ruangan, menyorot seseorang yang tengah memetik gitar.
.
...🎶🎶🎶...
Separuh langkahku saat ini
Berjalan tanpa terhenti
Hidupku bagaikan keringnya dunia
Tandus tak ada cinta
Dinda menitikkan air mata beriringan lagu yang dinyanyikan orang itu. Menoleh pada Adit yang selalu menatapnya hangat dan penuh cinta. Adit mengusap pipi Dinda yang meninggalkan jejak air mata.
Hatiku mencari cinta ini
Sampai ku temukan yang sejati
__ADS_1
Walau sampai letih ku 'kan mencarinya
Seseorang yang ku cinta
Adit berdiri dan bersujud di hadapan Dinda. "Mas," pekik Dinda kaget.
Kini ku menemukanmu
Di ujung waktu ku patah hati
Lelah hati menunggu
Cinta yang selamatkan hidupku
Seketika Dinda diam kala Adit menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna putih terang, yang memperlihatkan sebuah cincin di dalamnya.
Kini ku t'lah bersamamu
Berjanji tuk sehidup semati
Sampai akhir sang waktu
Kita bersama tuk selamanya
Perlahan sang penyanyi menghentikan lagunya, tapi gitar masih Ia mainan perlahan.
"Malam ini, izinkan Aku dengan segala perasaan dan segenap kerinduan yang dititipkan Tuhan untuk membuat sebuah pengakuan. Sudah sejak lama diri ini menyimpan rasa suka yang sangat besar. Bukan, aku tidak ingin memilikimu. Aku hanya ingin menjagamu hingga halal bagiku menyentuhmu."
Dinda tahu, Dia adalah seorang janda yang membuat Adit harus menunggu lama hingga waktunya tiba.
"Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama, itu kamu. Will you merry me?"
Dinda mendekap mulutnya dengan berderai air mata, tak sanggup berkata-kata. Sunguh tidak menyangka akan mendapatkan sebuah lamaran romatis. Dinda pikir hanya makan malam biasa.
"Will you merry me?" ulang Adit.
Masih tidak bisa mengontrol perasaannya, Dinda mengangguk cepat dan menjawab singkat.
"Iya, Mas," jawab Dinda haru.
Kedua sudut bibir Adit terangkat sempurna. Mengeluarkan cincin dari tempatnya yang sudah terbuka sejak tadi dan menyemat 'kan nya pada jari manis Dinda.
Kini ku menemukanmu
Di ujung waktu ku patah hati
Lelah hati menunggu
Cinta yang selamatkan hidupku
Kini ku menemukanmu
Di ujung waktu ku patah hati
Lelah hati menunggu
Cinta yang selamatkan hidupku
Kini ku t'lah bersamamu
Berjanji tuk sehidup semati
Sampai akhir sang waktu
Kita bersama tuk selamanya
Sampai akhir sang waktu
Kita bersama tuk selamanya
...~Menemukanmu, Seventeen~...
__ADS_1
BERSAMBUNG ....