Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 59 Sebagian kisah


__ADS_3

Percakapan tadi siang bersama teman-temannya, masih berdengung di telinga Dinda, hingga sampai sekarang. Tanpa sadar itu malah membuat dia melamun di perjalanan menuju rumah.


"Jika seorang perempuan selalu menjaga sholat lima waktu juga berpuasa sebulan pada ramadhan, serta betul-betul menjaga kem4luanny4 (dari perbuatan zina), dan benar-benar taat kepada suaminya, maka dikatakan pada perempuan yang memiliki sifat muali ini: 'Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai.' (HR. Ahmad)"


"Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur, kemuadian si istri tidak mendatanginya, dan suami tidur dalam keaddaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi."


Dinda bergidik mengingat dua nasehat yang sarat akan makna arti seorang suami dalam rumah tangga dari Rahimah, sebelum ketiga temannya itu pulang. Dinda tahu betul kewajiban seorang istri dan logika mulai menggrogoti, sedikit mengusik hatinya. Namun, nalurinya masih terbelunggu oleh perasaan pada orang lain.


Tidak boleh, seharusnya dia tidak boleh lagi mengingat pria lain. Akan tetapi, debar hatinya masih sama, bayang orangnya pun belum berganti. Tidak semudah itu dia melupakan sosok yang pernah singgah walau pun hanya sekejap, dan sekarang harus dihapus secara paksa.


Sesulit inilah dia merubah nama yang telah terukir indah, masih meminta waktu untuk merubahnya. Namun, lagi-lagi apa yang dikatakan teman-temannya selalu menolak keinginannya.


"Jangan biarkan suamimu memunggu terlalu lama! Ingat, pahala yang bakalan kamu dapat, jauh lebih indah."


Nurul bahkan bisa menasehatinya sebijak itu, dan dia mengakuinya.


"Sepertinya melamun adalah hobbymu?" ucap Candra menyadarkan Dinda, menoleh ke arahnya dengan satu alis yang terangkat.


Dinda tersentak kecil dan gelabakan, "Siapa yang melamun?" elak Dinda melihat sekeliling, dan rupanya mereka berhenti di lampu merah.


"Tadi, barusan."


"Itu bukan melamun, aku hanya diam," bantah Dinda membela diri dan menoleh ke luar jendela agar mengurangi rasa malunya.


"Diam apaan? Jelas-jelas melamun, aku udah sering lihat kamu melamun," balas Candra melirik.


Dinda melirik Candra tajam. "Udah, ngaku aja! Emang lagi ngelamun apaan? Ngelamunin suamimu yang tampan ini, ya?" imbuhnya menggoda Dinda, melipat tangan di depan dada sambil tersenyum santai.


"Terlalu pede, kamu Mas," ketus Dinda ikut melipat tangan di depan dada.


"Bukan kepedean, tapi emang kenyataan," ucap Candra yakin


"Iidih, kenyata---."


Candra mengerutkan kening dan menoleh pada Dinda, yang tiba-tiba telah menggantukkan kalimatnya. "Lihat apa?" tanya Candra semakin berkerut, sambil menjalankan mobilnya.


Seolah tuli. Dinda mengabaikan pertanyaan itu, dan dia lebih tertarik pada sesuatu yang dilihatnya hingga kepalanya berpular ke belakang. Memastikan bahwa apa yang dialihat memanglah benar kenyataan.


"Lihat apaan sih?"


"Itu itu tadi kayanya Mas Angga, deh?" gumam Dinda membetulakan pandangannya ke depan.


"Angga? Siapa itu Angga?"


"Mantan suami, aku?"


"Memangnya kenapa sama si Angga?"

__ADS_1


"Aku tadi lihat, kayanya dia lagi ribut di depan cafe."


"Ribut?" ulang Candra.


"Kalau aku nggak salah lihat sih. Dia lagi ribut sama istrinya, si Jenjen," ujar Dinda sedikit terkikik.


"Jenjen?" tanya Candra merasa aneh.


"Ihh, Mas Candra tanya gitu mulu. Angga? Ribut? Jenjen?" ucap Dinda mengulang apa yang Candra ulang.


"Kan, aku nggak tahu! Makanya nanya," Dinda memutar bola matanya malas.


"Lagian, namanya kok aneh. Jenjen," Candra melirik Dinda sekilas.


"Aku nggak tahu namanya siapa, cuman nebak aja. Karena pernah dengar waktu di cape, Mas Angga panggil dia, Jen ... Jadi, munggik aja, kan? Nama lengkapnya, Jenjen? Atau munggin, Jeni kalinya?" kekeh Dinda.


"Nggak nyangka aja, bisa lihat mereka ribut. Ya, walau pun cuman sebentar. Mungkin itu kali ya, yang dinamakan karma? Gara-gara pengkhianatan mereka," ungkap Dinda lega.


Candra menoleh kaget mendengar itu, dan tanpa Dinda tahu. Ada sesuatu yang dipikirkan Candra saat ini.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Seperti biasa, sudah ada Nenek Ratih yang menyambut mereka dengan ramah ketika membuka pintu. Dinda lebih dulu masuk ke kamar, dan dia langsung mengambil baju ganti karena ingin mandi.


Sementara otu,Candra pergi ke ruang kerjanya untuk menghubungi seseorang.


"Cari tahu tentang istri baru manta suaminya, Dinda," perintah Candra serius ketika sambungan tersambung ke seberang sana.


Setelah beberapa detik, Candra mematikan ponselnya kemudian segera pergi menuju kamae.


Dinda yang selesai dengan rutinitas mandinya bergegas ke luar. Dia tersentak kaget mendapati Candra, yang tengah menunggu giliran tanpa memakai baju sambil bersedekap bersandar di dinding dekat pintu. Sejenak pertemuan mata tidak bisa terelakkan, namun Dinda memilih menunduk karena segan dengan keadaan tubuh polos di hadapannya.


Dinda berinisiatif menyiapkan pakaian untuk Candra, selagi suaminya itu di kamar mandi. Kemarin suaminya itu memakai baju yang sudah dia sediakan. Jadi, dengan kata lain suaminya tidak keberatan dengan pilihannya.


Baju kaos putih berlengan pendek dan celana hitam selutut yang biasa Candra gunakan, sudah Dinda siapakan.


Guna membunuh rasa sunyi dan bosan, Dinda pun memilih keluar menuju dapur. Mungkin berbicara dengan salah satu penghuni di rumah ini akan sedikit pengalihkan perhatiannya, selain suaminya tentunya.


"Lagi apa, Nek?" Dinda melihat Nenek Ratih bersama Bik Susi sedang duduk lesehan di lantan dapur, tanpa ragi dia langsung mendekat dan ikut duduk seperti kedua orang tersebut.


"Eh, Non, awas pakaiannya nanti kotor," pekik susi.


Dinda terkekeh. "Nggak, bersih ini," jawab Dindan santai.


"Apa itu?" tanya Dinda tak menghiraukan kekhawatiran kedua orang itu, dan lebih tertarik dengan apa yang dilakukan mereka.


"Ini Non, mau buat kue bolu pisang," jawab Nenek Ratih sambil menghaluskan pisang di depannya.

__ADS_1


"Ohh, sini biar aku bantuin!" Dinda hendak mengambil alih.


"Nggak usah, Non. Sebainya, Nona lihat saja."


Sempat memaksa, tapi tetap saja Dinda tidak diijinkan dan hanya disuruh menjadi penonton.


"Kue bolu pisang ini, kesukaannya Den Bara, Non," kata Bik Susi sambil mengoleskan mentega pada loyang persegi.


"Ohh, kesukaan Mas C---, eh ... Mas Bara," ralat Dinda.


"Ngomong-ngomong, Mas Bara berapa saudara, Nek?" tanya Dinda penasaran.


"Tunggal Non," Dinda menganggu mengerti.


"Kenapa kedua orang tua Mas Bara, milih tinggal di Bandung?" lagi, Dinda mencoba mencari tahu tentang kehidupan suaminya yang tidak dia tahu.


Sebenarnya bisa saja Dinda bertanya pada mamanya, hanya saja waktu itu belum ada kesempatan. Ditambah lagi sekarang kedua orang tuanya pergi ke Kalimantan, dan dia tidak bisa bertanya lagi.


"Yang saya tahu, Tuan besar memilih tinggal di Bandung, biar dekatan sama makam Nyonya besar, Non," Dinda terkesiap mengetahui itu.


"Tapi, Tuan juga punya gedung buat latihan buat orang berantem, Non," timpat Bik Susi.


Dinda tersenyum mendengarnya, "Gedung taekwondo, kali Bik?" Dinda ingat jika Papanya mengatakan itu ketika di rumah sakit.


"Iya, itu namanya, Non," Bik Susi tersenyum malu.


"Terus, Mas Lintang itu ... saudaranya Mas Bara dari sebelah mana, Nek?"


"Ayahnya Den Lintang itu, saudara kembarnya Tuan besar, Non."


Untuk kesekian kalinya, Dinda terkejut dengan semua fakta tentang suaminya.


"Saudara kembar?" ulang Dinda memastikan.


"Iya, Non."


"Terus, sekarang mereka tinggal di mana?"


"Kedua orang tuanya, sudah meninggal setelah satu bulan Den Lintang menikah."


"Maksudnya? Meninggalnya barenang?" kali ini Dinda tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya.


"Iya Non, kecelakaan."


Dinda terkesiap dan mematung mendengar cerita tersebut, "Ayo bangun, Non! Semua udah beres," kata Nenek Ratih menyadarkan.


"Ah, iya Nek."

__ADS_1


"Cerita penuh duka."


BERSAMBUNG ....


__ADS_2