Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 81 Berkumpul kembali.


__ADS_3

Suara tangis yang bersahutan dari beberapa wanita cantik memenuhi ruang rawat inap yang dihuni oleh enam orang pasien. Akibat kegaduhan tersebut, ada seseorang yang mengadukan mereka kepada perawat karena merasa terganggu.


Tentu saja perawat langsung datang menegur, dan tidak hanya itu. Perawat juga melayangkan protes karena terlalu banyak yang berkunjung. Akan tetapi, mereka berdalih dan ngatakan jika mereka berada di kubu berbeda dengan para pria.


Dengan segala pembelaan dan sedikit tawar menawar. Perawat akhirnya membiarkan mereka menjadi tamu pasien untuk satu jam kedepan. Namun, perawat meminta agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang akan mengganggu kenyamanan pasien lainnya.


Sang perawat pun tak langsung pergi, dia menyempatkan diri untuk memeriksa Candra dan menanyakan sesuatu yang malah membuat orang penasaran.


"Nyebelin banget sih perawat itu. Kita, kan, lagi kangen," ucap salah satu orang yang duduk di tepi ranjang usai perawat berlalu.


"Makasih ya Nurul, Aya, dan Imah ... kalian sudah mau datang," balas Dinda tersenyum senang setelah tadi sempat menangis masal bersama.


"Ngomong apa sih? Jelaslah kita datang! Masa diam aja dengar kamu, sudah ditemukan," sahut wanita yang tengah hamil besar duduk di kursi tunggal samping Nurul.


"Tapi kamu beneran nggak terluka, kan, Din?" timpal orang yang duduk di tepi ranjang sisi lainnya.


"Nggak Imah. Aku cuman lelah," jawab Dinda.


"Apa Lu terluka? Sampai-sampai dirawat juga?" para pria yang mengaku sebagai kubu tamu dari Candra, kini mulai membuka suara setelah tadi hanya diam memperhatikan istri mereka yang saling bertukar rindu dengan Dinda.


Gorden pembatas antara Dinda dan Candra sengaja disingkap, membuat mereka dapat melihat satu sama lain dan ikut mendengar.


"Cuma luka kecil," sahut Candra.


"Luka kecil kok ditanya sudah kentut apa belum?" heran teman semasa SMP nya dulu.


"Karena aku sempat mengeluh sakit perut," kilah Candra santai.


Akan tetapi, jawaban itu tidak mengurangi rasa penasaran para pria, tapi mereka memilih diam dan tidak lagi bertanya.


Candra pun mulai merasakan punggungnya yang semakin nyeri. Dia pun memutuskan untuk meminum obat setelah tadi perawat sudah memberinya ijin karena sudah sempat kentut dua kali di kamar kecil.


"Jadi, kapan kalian bisa pulang?" tanya salah satu pria yang lain.


"Mungkin sore ini. Mas Lintang lagi mengurusnya," balas Candra.


"Gue bener-bener nggak nyangka sama kejadian ini," kata yang lain takjub.


"Apa lagi gue, Dan. Gue berasa dejavu dan langsung ingat penculikan anak sama keponakan gue."


"Iya ya ... Rahman dan Intan, kan, juga pernah diculik."


"Kita juga harus hati-hati dan jaga anak kita, Mas Zidan," timpal wanita hamil besar.


"Pasti itu! Mas akan jaga anak-anak kita."


"Dengar itu Mas Ari. Kita jangan kalah soal urus jaga anak."

__ADS_1


"Siap sayang," sahut Ari pada istrinya.


"Rahman mana? Nggak ikut," sela Candra.


"Nggak, dia lagi kerja kelompok," jawab ayah Rahman.


"Oiya, mumpung Gue ingat. Gue ngundang kalian di acara pernikahan Adit, besok lusa," lanjut ayah Rahman tiba-tiba membuat Dinda dan Candra sempat terdiam.


"Mas Abdar," tegur istrinya.


"Ya, kenapa sayang? Aku cuman ngundang mereka, mumpung aku ingat," jawabnya santai.


Yang lain diam menyimak sambil saling pandang, karena mereka tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ingin mengucapkan selamat, namun orangnya juga tidak ada. Alhasil mereka sibuk dengan pemikiran sendiri-sendiri.


"Maaf ya, Din," bisik mama Rahman tidak enak hati.


"Nggak apa-apa, Imah," balas Dinda tersenyum.


"Kamu sudah move on, kan, Din?" tanya Nurul berbisik agar tidak didengar para pria.


"Nurul!" ucap kompak Rahimah dan Soraya pelan memberinya peringatan dengan penuh penekanan saat menyebut namanya.


Seketika Nurul terdiam dan manyun. "Salahkan Mas Abdar," belanya tidak terima disudutkan.


"Kenapa bawa-bawa namaku?" sahut Abdar yang mendengar.


"Itu karena Mas Abdar, sebut-sebut nama Mas Adit."


"Loh kenapa? Kok aku yang disalahkan? Ini, kan, berita yang bahagia. Biar kita nggak terlalu memikirkan penculikan itu."


"Ya ampun, Mas Abdar. Itu sih kebahagi buat kamu, karena kamu saudaranya," kesal Nurul.


"Maka dari itu aku bagi kebahagian itu," jawabnya membuat Dinda melirik Candra yang ternyata juga meliriknya.


"Gara-gara Mas ---."


"Gara-gara apa?" tanya Rahimah memotong kalimat Nurul yang masih ingin menyalahkan suaminya.


"Emm, itu---," kata Nurul ragu-ragu.


"Dengar ya bestie-ku. Mas Abdar itu cuman mengundang kita ... tapi kamu?" tanya Dinda berbisik. "Malah tanya move on," lanjutnya kesal ketika mengingat pertanyaan Nurul.


"Hehe, maaf," ujar Nurul sambil tertawa nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Semuanya memaklumi niat Abdar agar pikiran mereka teralihkan dari penculikan yang menimpa Dinda. Namun, di dalam hati mereka protes, karena topik yang dipilih juga tidak sesuai dengan situasi hingga mengakibatkan Nurul bertanya yang seharusnya tak perlu lagi untuk disinggung.


Diam-diam Candra bersyukur karena Adit tidak ada di antara mereka. Tentu saja dia tahu apa yang membuat laki-laki itu tidak ikut menjenguknya, dan tidak perlu dijelaskan apa alasannya.

__ADS_1


Sedang Dinda menelan ludah gugup, karena dia pikir Candra marah. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat mendapati tatapan Candra yang datar.


Seandainya hanya ada mereka saja di ruangan itu. Dinda rasanya ingin sekali menjelaskan, bahwa dia sama sekali tidak memikirkan Adit.


"Sudah-sudah, nggak usah dibahas sekarang! Nanti aja kalau Dinda dan Mas Candra sudah keluar dari rumah sakit ini. Bisa-bisa kita ditegur lagi, kalau ribut," kata Soraya bijak.


Semuanya pun hanyut dalam pembicaraan masing-masing. Para wanita berceloteh dengan gosip mereka, dan para pria sibuk dengan rencana kedepannya usai Candra keluar dari rumah sakit.


Cukup lama meraka berkumpul dan berbincang, hingga kedatangan Bunda Vita dan Ayah Al mengharuskan mereka untuk berpisah dan berganti dengan sepasang manusia tersebut.


"Kita tunggu kepulangan kamu, Din," ucap Rahimah hendak pamit sambil berpelukan.


"Iya."


"Nanti kita buat pesta kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan kamu," usul Nurul bergantian memeluk Dinda.


"Nggak usah buat pesta, nanti aku jadi nggak nyaman kalau ketemu sama orang," tolak Dinda langsung.


"Tau nih, Nurul," keluh Soraya, "kamu baik-baik ya? Kita pulang dulu," ujarnya beralih pada Dinda dan turut memeluknya.


Dinda mengangguk mengiyakan.


"Ayo kita pulang! Keburu ada perawat yang negur lagi nanti," lerai Abdar menggenggam tangan Rahimah.


"Kita pulang ya, Din. Assalamualaikum," seru mereka kompak.


"Wa'alaikumussalam," balas Dinda dan yang lain.


"Adin," panggil Vita penuh haru dan memeluk Dinda erat.


"Bunda," balas Dinda tak kalah haru.


Sama seperti ketika bertemu teman-teman, kali ini Dinda juga mengeluarkan air mata kerinduan. Tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, seberapa bahagianya dia saat ini karena dapat berkumpul kembali dengan orang-orang terkasihnya.


"Adin kangen kalian," kata Dinda disela-sela tangis kecilnya.


"Bunda lebih kangen lagi," balas Vita sambil menyusut hidungnya yang meleleh.


"Kapan ya giliran ayah?"


Vita dan Dinda mengurai pelukan ketika mendengar Al yang bertanya demikian.


"Sekarang giliran Ayah," Vita berpindah tempat guna memberi ruang untuk suaminya yang kini memeluk Dinda sayang.


"Apa kamu nggak kangen ayah?" bisik Al yang diam-diam mengusap sudut matanya di balik punggung Dinda.


"Sangat," balas Dinda sambil mengangguk dan menyandarkan pipinya di pundak Al.

__ADS_1


Candra tersenyum memperhatikan Dinda yang kini terlihat jauh lebih baik dari waktu pertama dia menemukannya.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2