Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 86 Si kembar.


__ADS_3

Keesokan harinya ....


Candra dan Dinda kedatangan tamu seorang petugas yang meminta keterangan mereka sebagai korban dari penculikan Baskoro, agar mereka segera memberi kesaksian di kantor polisi.


Candra dan Dinda tentu saja tidak bisa menolak dan memutuskan pergi dengan Kaamil sebagai supirnya. Dia tidak ingin mengambil resiko jika tiba-tiba punggungnya terasa sakit. Jadi, akan lebih aman kalau ada yang mengantar mereka.


Sebenarnya Vita dan Al ingin turut ikut menemani mereka di kantor polisi. Akan tetapi, Candra dan Dinda kompak menolak bersamaan. Sebab, mereka tidak akan dimintai keterangan dan mungkin hanya akan membuat sepasang manusia paruh baya itu kelelahan.


Setibanya di kantor polisi Candra dan Dinda di arahkan ke sebuah ruangan tertutup, dan benar saja. Yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Ahasil Kaamil harus menunggu di kursi tunggu depan ruangan tersebut.


Dinda yang berhadapan dengan orang baru dengan sekuat tenaga menekan rasa gelisah yang menyelimuti jiwanya. Candra yang sebelumnya sudah pernah melihat istrinya seperti demikian, diam-diam menggenggam tangan Dinda yang berada di bawah meja.


Ada sesuatu yang menghangat dan terasa damai di sudut hati Dinda, kala Candra memperlakukan dia seperti itu.


Mereka pun menjawab semua pertanyaan apa adanya dan dengan sikap tenang. Sekitar kurang lebih dua jam lamanya berada di ruang pemeriksaan, barulah mereka diperbolehkan pulang dan menunggu perkembangan.


Mereka juga diminta kerja samanya jika sewaktu-waktu diminta kembali memberikan kesaksian, dan tentu keduanya menyanggupi hal itu.


Ketika mereka akan pulang, Candra dan Dinda bertemu dengan dua orang yang memiliki wajah serupa.


"Kalian?" Candra lebih dulu menyapa keduanya.


Dinda yang baru pertama kali melihat wajah yang begitu mirip tepat di hadapannya sempat terkesiap takjub.


"Bang," seru keduanya ramah.


Candra memperhatikan Dinda yang kali ini bersikap biasa-biasa saja dan tidak menunjukan sikap takut dengan orang baru. Mungkin rasa kagumnya kepada si kembar mengalahkan ketakutannya.


"Kenalkan, mereka teman-temanku," pancing Candra mengenalkan dan menunggu reaksi Dinda.


Dinda diam dan hanya menatap keduanya ketika tangan mereka terulur untuk bersalaman.


"Saya Raka," ucap salah satu diantara wajah yang sama persis.


"Dinda," ujar Dinda menyebutkan namanya sambil mengantupkan tangan di depan dada yang terselip tangan Candra di antara lengan dan dadanya, karena tiba-tiba dirangkul olehnya sebelum telapak itu menyatu.


Candra menelan ludah ketika merasakan sesuatu yang kenyal mengapit lengannya. Dinda tidak kentara menunjukan takutnya, tapi dengan demikian Candra yakin kalau istrinya masih takut.


"Saya Riki," Riki yang melihat Dinda mengantupkan tapak tangan, seketika menirunya saat memperkenalkan diri.


"Dia, Kaamil. Adik iparku," ketiganya pun berkenalan.


"Apa kalian sudah membuat laporan?" tanya Candra mengabaikan tangannya dan tentu tahu tujuan mereka berada di tempat yang sama.

__ADS_1


"Sudah Bang, kami tadi di ruangan itu." Tunjuk salah satu dari mereka sekaligus menjawab pertanyaan Candra.


Candra mengangguk mengerti dan beralih melirik Kaamil. "Mil," panggilnya.


"Nggak ada kesibukan, kan sekarang?" lanjutnya bertanya.


"Nggak ada, Bang," jawab Kaamil membuat Candra kembali mengangguk.


"Sayang, kamu tidak keberatan, kan? Kalau kita bicara sebentar dengan mereka?" tanya Candra beralih pada sang istri.


"Sama sekali tidak," jawab Dinda sedikit kikuk dengan panggilan tersebut.


"Bisa kita ngobrol sebentar di cafe?" kali ini pertanyaan itu ditunjukan kepada si kembar.


"Bisa, Bang," sahut keduanya serempak. Tentu saja keduanya tahu tujuan Candra mengajak mereka bicara, dan begitu juga sebaliknya.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Kelima orang yang satu di antaranya adalah wanita, kini tengah duduk melingkar di sebuah meja dengan enam kursi. Minuman dan kudapan telah tertata rapi di atas meja usai seorang pelayan menyuguhkannya


Mereka saling bertukar kabar tentang kejadian malam itu, dan tentang keadaan mereka masing-masing. Mungkin lebih tepatnya Candra dan si kembar yang saling bicara. Sebab, baik Dinda mau pun Kaamil, hanya jadi pendengar.


"Jadi Baskoro hendak menembakmu?" Dinda cukup terkejut mendengar suaminya mengatakan itu.


"Iya, tapi Riki datang mencegahnya. Saya kemudian menyusul, Abang," jelas Raka.


Raka dan Riki terdiam sejenak dan saling pandang.


"Menurut penjelasan Eka, saat itu ada anak buah Baskoro yang diam-diam hendak menembak Riki. Dan Bagus yang melihatnya langsung menghadang peluru itu. Dia sembat membalas tembakan musuh, sebelum akhirnya terjatuh. Rupanya tembakan itu tepat mengenai jantungnya. Awalnya mereka juga tidak menyadari kalau Bagus tertembak," Dinda semakin dibuat terkejut untuk kesekian kalinya ketika Raka kembali memberi penjelasan.


"Bagaimana dengan Baskoro yang bisa terkena tembakan?"


"Saya menarik Baskoro menjadi tameng ketika ada yang membidik saya dari sisi lain, bersamaan dengan Bagus yang tertembak."


Candra terdiam membayangkan kejadian tersebut. Ada dua orang yang membidik Riki sebagai target. Satu di antaranya telah Riki sadari hingga mengakibatkan dia menarik Baskoro sebagai pelindung. Namun, dia juga tidak tahu jika ada yang berusaha menembak dari arah belakang.


Candra tersadar ketika melihat Dinda yang gemetar ketakutan.


"Hai, sayang! Jangan takut! Tenanglah! Semua itu tidak akan terjadi lagi," ucap Candra menenangkan sambil merapat kursi dan merangkul bahu Dinda.


"Ba--bagaimana ke--keadaan Bagus, Mas?" tanya Dinda dengan pikiran yang ingin dia singkirkan.


Candra terdiam menatap lekat wajah Dinda yang takut juga terselip khawatir.

__ADS_1


"Bagus sudah meninggal," aku Candra jujur membuat tubuh Dinda seketika menjadi lemas tak bertenaga.


"Innalillahi wa innalillahi rojiun," ujar Dinda dan Kaamil lirih.


Tentu saja Dinda tidak tahu ada kejadian seperti ini, karena mereka hanya ditanyai polisi sebelum tembakan itu terjadi.


Pertanyaan polisi pun hanya seputar bagaimana dia bisa diculik, dikurung, hingga akhirnya bisa bebas. Pertanyaan itu terus menerus ditanyakan padanya secara detail. Tidak jauh berbeda dengan Dinda, Candra juga hanya ditanya tentang tembakan yang mendarat di punggungnya.


"Minumlah!" Candra menyodorkan gelas yang berisi air bening ke depan bibir Dinda.


Dinda lantas membuka mulut dan langsung meneguk airnya dengan tangan yang bergetar di atas tangan Candra.


"Tenanglah! Ada aku di sini," bisik Candra menenangkan.


Dinda mengangguk samar sambil menjauhkan gelasnya.


Setelah keadaan Dinda sudah tenang, mereka pun menyudahi pertemuan tersebut dan berpisah di parkiran.


"Sudah, jangan kau pikirkan!" suara Candra memecah keheningan di dalam mobil.


"Akan ku usahakan," jawab Dinda lemah dan tidak menutupi tebakan Candra yang memang tengah memikirkan kematian Bagus.


Candra menghela napas panjang dan menarik Dinda dalam pelukan.


"Mereka itu kembar identik, ya," ujar Kaamil yang menyadari keadaan kakaknya saat ini.


"Iya," sahut Candra pendek.


"Tapi nama mereka nggak unik," kata Kaamil lagi, "Raka dan Riki. Biasa banget," tambahnya.


"Raka, Riki, dan Rika," sahut Candra santai.


"Hah, kok ada Rika, Mas?" pekik Dinda, dan Kaamil turut penasaran.


Candra tersenyum melihat reaksi Dinda.


"Mereka itu kembar tiga, dan satunya cewek," jelas Candra menatap dalam karena wajah Dinda yang sangat dekat ketika mendongkak.


"Wah, bisa dong dikenalin sama gue, Mas?" celetuk Kaamil sambil tertawa riang.


"Bisa," jawab Candra, "kamu mau jadi menantunya? Dia punya bayi cewek," seketika tawa Kaamil hilang dan berganti dengan tawa Dinda, Candra pun ikut tertawa.


"Ahahaha."

__ADS_1


"Nggak lucu," ketus Kaamil semakin membuat Dinda dan Candra tertawa.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2