Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 16 Bertemu Danu


__ADS_3

...'Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat baunya akan tercium juga.'...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Pagi ini Dinda berkumpul di rumah Rahimah, untuk mengantar keberangkatan Rahimah, Rahman dan Abdar ke bandara menuju kota mekkah guna menunaikan ibadah umroh.


Namun, rupanya tidak hanya keluarga kecil sahabatnya saja yang akan bertolak ke masjidil haram tersebut. Maryam, adik dari Abdar turut ikut bersama Intan, putri kecilnya.


"Rahman, apa mama kamu sudah siap?" tanya Dinda.


Syukuran sudah akan dimulai, tapi Rahimah dan Abdar belum terlihat.


"Sebentar tante, biar aku panggil." Rahman berlalu naik ke lantai atas.


Lima belas kemudian, orang yang mereka tunggu-tunggu sudah bergabung sambil membawa empat koper baju, satu di antaranya berukuran kecil.


"Kalian sudah datang?" tanya Rahimah ikut bergabung.


"Jangan lupa, nanti pas di depan Ka'bah, do'akan aku menyusul!" kata Nurul.


"Insya Allah," balas Rahimah.


"Aku nggak muluk-muluk, do'akan saja supaya muntah yang aku alami ini lekas berhenti," harap Soraya.


Rahimah tersenyum sambil mengaminkan.


"Do'akan aku yang terbaik aja," ujar Dinda menimpali.


"Insya Allah, semuanya aku do'ain," ucap Rahimah.


Tanpa barlama-lama, syukuran kecil-kecil'an dimulai dengan Ustadzah Habibah sebagai memimpin do'a. Usai syukuran, mereka siap berangkat.


Jangan tanyakan siapa yang bertugas menyetir mobil yang menampung kelima jamaah itu, karena sudah bisa dipastikan, bahwa Adit-lah orangnya.


Soraya dan Nurul memilih ikut bergabung bersama Dinda, yang jadi pemegang kemudi. Sebenarnya bisa saja mereka pergi bersama supir pribadi Soraya, tapi sang supir harus mengantar Rayan ke sekolah.


Sementara, suami Soraya dan Nurul tidak bisa hadir kerena tengah sibuk. Candra selaku pelatih dari Rahman juga ada, karena Rahman yang mengundang.


Tiba di Bandara mereka mendoakan rombongan Rahimah agar sampai pada tempat tujuan dengan selamat. Setelah pesawat Rahimah take off, mereka langsung kembali ke parkiran.


"Seharusnya tadi, kalian ke sini pakai mobil sendiri," keluh Adit pada Soraya dan Nurul.


Sekekali Adit mencuri-curi pandang pada Dinda. Tidak dipungkiri memang, jika hati Adit telah benar-benar terpaut pada gadis yang baru saja menyandang status jandanya.


Jika dulu niatnya hanya ingin membantu Dinda, maka sekarang telah berubah menjadi cinta. Omongan yang kapan mana Adit ucapkan pada Dinda, pasti akan dia tepati.


Dinda hanya melirik dangan senyum tipis, begitu juga Candra yang tidak mengerti dan tidak mau mengerti.


"Yee, emang kenapa mas? Orang kita nggak ikut mas Adit, juga!" balas Nurul pura-pura sewot sambil menahan senyum.


Nurul tahu apa maksud dari perkataan Adit. Pasti sekarang Adit ingin mengajak Dinda jalan-jalan, tapi karena mereka ikut menumpang di mobil Dinda, otomatis tidak bisa berduaan.


"Semuanya, kalau begitu saya duluan." Candra menyela di antara percakapan mereka guna ijin berpisah dari rombongan itu.

__ADS_1


"Hati-hati ya, bro." Adit mengangkat telapak tangannya melepas kepergian Candra dan mendapat balasan yang serupa.


"Gimana kalau kita minum dulu?" tawar Adit. Ada cafe di dekat Bandara, dan Adit berinisiatif mengajak Dinda minum walau harus satu paket dengan teman-temannya.


"Boleh juga tu mas, asal mas Adit yang bayar," ujar Nurul nyengir.


Soraya dan Dinda tertawa kecil, Nurul sahabatnya ini memang selalu blak-blakan. Dia yang pernah bekerja di bagian akutansi, selalu hitung-hitungan soal pengeluaran.


Adit pun ikut tertawa memakluminya, kerena dia yang mengajak pastilah Adit yang akan membayarnya.


"Tenang saja, aku yang bayarin. Ayo," ajaknya.


"Ayo sayang, kita jajan diteraktir om Adit dulu." Nurul mencium pipi bulat Nuri dengan gemes hingga tertawa.


"Khahahaha," tawa Nuri nyaring mengiringi langkah kaki mereka.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


"Silakan, kalian mau minum aja? Mumpung masih dibolehkan makan, karena besok kita sudah harus puasa."Adit membuka buku menu yang diberikan seorang pelayan pada mereka.


"Aku lychee tea sama susu coklat aja," seru Nurul setelah membacanya.


"Orange juice, mbak," sahut Dinda.


"Greentea," sambung Soraya.


"Ice tea," ucap Adit.


Tidak lupa mereka juga menambahkan kudapan untuk menemani minumnya, kue dan kentang goreng.


"Kalian pulangnya lewat selatan aja ya?" kata Adit memecah keheningan.


"Emang kenapa, mas?"


Adit tertawa dengan pertanyaan serempak dari ketiga gadis di hadapannya, dan tambah tertawa lagi ketika Nuri ikut-ikutan tertawa karena melihatnya tertawa tidak jelas.


"Soalnya perasaan aku buat Dinda, udah nggak sanggup buat di utara'kan," kata Adit sambil menatap (penuh cinta) pada Dinda.


Semburan merah di pipi muncul tanpa diminta, memuat Dinda tertunduk malu sembari menahan senyum.


"Ajirrrr ... Mas Adit, pintar mereyu," celetuk Nurul.


"Ciee, ciee ... ada yang lagi tebar umpan nih. Tapi sayang mas! Ikannya sudah sempat sobek, gegara patok umpat pancingan hiu," sindir Soraya.


"Tega banget sih," tepukan mendarat di lengan Soraya.


"Awww, hahaha," rintih Soraya dibarengi tawa.


"Nggak apa-apa, kalau ikannya sempat patok pancing hiu. Asal kembali lagi ke lautan, dan patok pancing putri duyung," balas Adit tersenyum tipis.


"Uhh, klepek-klepek tu duyung, mas," ucap Nurul membolak balikkan telapak tangannya.


"Pek-pek," celoteh Nuri sambil meniru tangan sang mama.

__ADS_1


Dinda yang sempat malu dan kesal, menjadi tertawa walau masih salah tingkah. Lima belas menit kemudian, pesanan mereka datang.


"Bisa dong, nanti aku minta tolong sama kalian?" tanya Adit sambil memasukkan kentang ke dalam mulutnya.


"Bisa-bisa, minta tolong apaan mas?" jawab Nurul dan bertanya.


"Jagain putri duyung, biar nggak patok umpat lain?"


"Wah, kalau itu kita nggak jamin mas! Soalnya lautan nya 'kan luas banget. Kalau di sekitar kita sih, bisa aja. Tapi ini, kalau dia pergi ke laut sebelah ... nggak tau deh," balas Nurul angkat bahu.


"Rencananya aku mau bikin bendungan habis lebaran ini, biar putri duyung nya terkurung sama lingkaran kuning. Menurut kalian gimana?" tanya Adit melihat keduanya.


Soraya dan Nurul saling pandang dan beralih melirik Dinda yang tengah memajukan bibir bawahnya.


"Bagus "


"Ya itu bagus," ucap Soraya dan Nurul.


"Kalian ini ngomong apaan sih, dari tadi ngomong nggak jelas," ujar Dinda kesal-kesel suka.


"Ekhem, pura-pura nggak ngerti ... nanti pas sudah ngerti, keburu pancingan nya disambar duyung lain," ejek Nurul.


Tidak tahan dengan godaan sahabatnya dan tatapan Adit yang selalu mengarah padanya, Dinda pun pamit ke toilet.


"Perlu ditemenin?" goda Adit.


"Apaan sih mas, kaya aku anak kecil aja," kesal Dinda cepat beranjak.


Dinda berjalan dan masih sempat mendengar ketiga orang itu tertawa. "Nyebelin," gumam Dinda kesal, kemudian tersenyum.


Di dalam kamar mandi, Dinda menghidupkan kran air dan mencuci tangannya sambil melihat pantulan dirinya yang sedang tersenyum-senyum sendiri.


Satu helaan napas lolos, guna meminimalisir detak jantungnya yang berpacu begitu cepat. Kedua telapak tangannya memegang pipi hangatnya.


"Mas Adit, iih," gerutu Dinda ambigu.


Merasa sudah cukup lama, Dinda akhirnya keluar menyusul rombongannya. Langkah kecilnya perlahan berhenti, samar-samar dari kejauhan sepasang manusia berjalan hendak ke arahnya.


"Loh, kak Dinda ya?" sapa pria itu ketika sudah dekat.


Ragu, Dinda mengangguk sungkan. Sementara sang wanita yang di samping pria itu berwajah pucat.


"Danu, habis dari mana?" tanya Dinda sopan.


"Kebetulan tadi Luna mengantar temannya ke bandara, terus minta jemput sama aku," ujarnya melirik wanita yang bernama Luna.


"Kakak sendiri ngapain?" balas Danu.


"Tadi nganter teman berangkat umroh. Kalau gitu saya permisi dulu ya," kata Dinda.


"Ohh, silakan kak."


Dinda berjalan cepat tidak ingin terlibat dalam hubungan orang yang begitu besar dosanya. Menurutnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2