Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 75


__ADS_3

"Gimana Gus?" Candra langsung bertanya dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu besar usai mendengar balasan salam darinya.


"Ada sedikit titik terang. Beberapa orang yang kita tempatkan untuk mengawasi Baskoro, menemukan tempat yang tidak pernah dia datangi. Kemungkinan Mbak Dinda disembunyikan di sana," jelas Bagus sambil memimpin jalan ke arah pintu di sudut ruangan.


"Lihat!" sambungnya ketika sudah masuk dan duduk di atas ranjang sambil menunjukkan laptop dengan beberapa gambar bangunan di dalamnya.


Sebenarnya Bagus hendak mengirimkan foto-foto itu melalui email kepada Candra, tapi urung kerena orangnya langsung berniat mendatanginya.


"Kamu tahu tempatnya ini di mana?" tanya Candra yang ikut duduk dan mengambil alih laptop tanpa melepaskan tatapannya pada layar yang menyala.


"Tau, Bang," jawab Bagus sambil mengangguk anggukan kepala beberapa kali dengan gerakan lambat, tahu makna pertanyaan dari Candra.


"Good, kita akan ke sana sekarang juga!" kata Candra menelisik bangunan yang terdapat dalam foto.


Bagus menghela napas panjang mendengar perintah tersebut. Sejak dia tahu kalau Candra akan datang ke tempatnya, dia sudah menduga tentang hal itu.


"Ada banyak penjaganya, Bang."


"Tidak masalah. Jangan lupa hubungi yang lain untuk ikut serta!" sambutnya memberi perintah.


"Baik, Bang," mulutnya berucap tak sesuai dengan isi hatinya.


Bagus sebenarnya tidak masalah mengikuti perintah Candra untuk pergi ke tempat yang dia yakini adalah keberadaan Dinda. Akan tetapi, malam yang sudah semakin larut yang membuatnya ragu.


Namun, dia kembali berpikir, mungkin lebih baik menyerang di waktu malam hari dan saat mereka lengah.


Bagus pun berdiri dan sedikit menjauh untuk menghubungi teman-temannya. Sambil menunggu sambungan telepon itu terhubung, sekekali dia melirik dan memperhatikan mimik wajah Candra yang terlihat begitu serius.


Sedangkan Candra, melafalkan berbagai doa penuh pengharapan. Semoga pencarian ini membuahkan hasil setelah satu minggu lamanya.


"Meraka sedang bersiap menuju ke sini, Bang," ujar Bagus mendekatinya.


"Oke, kita tunggu mereka."

__ADS_1


Kurang lebih memakan waktu dua puluh menit, rekan mereka akhirnya datang dengan tiga buah mobil. Ada sekitar sepuluh orang yang memenuhi panggilan mendesak dari Bagus.


"Semuanya, mohon bantuannya! Semoga kali ini kita bisa menemukan istriku," ucap Candra penuh harap ketika mereka sudah siap berangkat.


"Aamiin. Siap, Bang," seru semuanya mengamini.


Tidak seperti saat dia datang. Kali ini Candra duduk di dalam mobil samping kemudi bersama dengan Bagus yang menjadi supirnya. Bagus menyarankan, untuk pergi dengan salah satu mobil rekannya.


Diawali dengan basmalah, ketiga buah mobil itu pergi ke tempat tujuan. Mobil yang ditumpangi Candra memimpin jalan dengan kecepatan tinggi.


"Ada berapa orang kita yang berjaga di sana?" Candra melemparkan pertanyaan disela-sela aktivitas Bagus yang tengah fokus mengendalikan setirnya.


"Cuman ada si kembar, Bang," balas Bagus cepat.


Candra menganggu mengerti dan memilih diam sampai mereka tiba di tempat tujuan.


"Konfirmasi si kembar, kita sudah tiba!" ucap Candra sambil memperhatikan bangunan berlantai dua yang terbuat dari kayu jati dengan jarak lumayan jauh di dalam mobilnya.


Keadaan sekitar sangat sunyi dan tidak ada bangunan lain selain tempat yang akan mereka serang, dan itu semakin membuat mereka yakin. Jika Dinda memang ada di rumah itu dengan begitu banyaknya penjagaan.


"Itu mereka, Bang," tunjuk Bagus kepada dua orang yang berjalan mendekat setelah mereka sempat menunggu lima menit.


Kedua orang itu langsung masuk mobil dan melaporkan hasil pengintaiannya selama mengawasi bangunan tersebut.


"Kurang lebih ada sekitar sepuluh orang yang berjaga sejak sore tadi," lapor salah satu di antara wajah yang benar-benar mirip, dan dibalas Candra juga Bagus mengangguk paham.


"Kemungkinan mereka juga memang senjata api," lapor yang lain.


"Beritahu yang lain untuk selalu waspada! Kita akan masuk dan sebagian dari kawan-kawan akan ikut ke dalam! Sisanya menunggu di depan dan langsung masuk jika situasi sudah tidak terkendali," tutur Candra pada Bagus, "Kalian berdua ... ikut aku!" tambahnya pada si kembar.


"Siap, Bang," balas ketiganya bersamaan.


Mereka semua pun turun dari mobil. Bagus memberi sedikit instruksi kepada yang lain, dan mereka segera mengekor padanya dan menuruti perintah.

__ADS_1


Candra dan si kembar berjalan lebih dulu di baris paling depan mendekati pintu utama yang hanya di jaga oleh dua orang penjaga. Mereka berjalan mengendap ngendap, karena kedua penjaga itu terlihat sedang tertidur pulas dengan keadaan duduk bersisian di kursi panjang dekat pintu.


Si kembar mengambil posisi masing-masing di samping kedua penjaga itu, dan dalam waktu yang bersamaan si kembar menebaskan tanggannya pada leher penjaga tersebut dengan tenaga lumayan kuat.


"Aaa," pekikan kecil keduanya serempak, sebelum akhirnya tertidur kembali.


"Kunci!" pinta Candra yang sedari tadi menunggu si kembar melumpuhkan penjaga sebelum terbangun.


Si kembar meraba masing-masing penjaga, dan satu di antaranya menemukan beberapa kunci yang tergantung menjadi satu dalam saku kantung celananya.


Candra langsung menyambut kunci yang disodorkan padanya. Beberapa kali melakukan percobaan guna memasukkan anak kunci hingga pada kunci yang terakhir barulah benar, sedangkan si kembar berdiri di belakang Candra dengan sikap awas memperhatikan sekitarnya. Walau pun sebenarnya ada Bagus dan kawan-kawan yang juga menjaga keadaan.


Candra mengibaskan kedua jarinya di dekat telinga. Tanda isyarat maju untuk si kembar, dan disusul beberapa orang yang lain. Lima di antaranya tetap tinggal sesuai rencana.


Mereka pun memecah kelompok ke beberapa titik-titik lokasi yang sudah ditentukan menggunakan gerak tangan.


Tujuan Candra ialah lantai atas yang penerangannya minim cahaya, berbeda dengan lantai dasar. Masih diekor oleh si kembar, dan baru dua anak tangga yang dia lewati. Namun, suara seseorang dengan lantang menghentikan pergerakan semua orang.


"Berhenti! Siapa kalian?" teriak orang tersebut.


Refleks semua rekan Candra yang berjarak tidak terlalu jauh menoleh ke asal suara, begitu pun dengan Candra dan si kembar.


"Kita baru sampai, tapi kenapa harus secepat ini sambutannya?" gumam salah satu si kembar mengeluh, karena merasa terlalu dini tertangkapnya.


Akibat teriakan orang itu, secepat kilat rekannya datang bergabung dengan pistol yang ditodongkan.


"Kalian mau mati ya?" tanya orang itu lagi sembari memberi perintah kepada rekannya untuk mengumpulkan Candra dan kawan-kawannya.


"Berani sekali menyusup masuk ke tempat ini," lanjutnya menatap tajam orang satu persatu.


Candra diam memperhatikan sembari menghitung orang-orang yang menangkap mereka. Hanya ada lima orang, dan itu jelas kalah banyak dengan rekannya yang total ada tujuh orang.


Akan tetapi, mereka tidak bisa bertindak gegabah, karena para penjaga itu memengang masing-masing senjata api.

__ADS_1


"Bersiap untuk mengambil kendali!" bisik Candra kepada kelompoknya sambil fokus melihat lawan di depannya.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2