
Keesokan harinya ....
Kejadian kemarin tidak serta merta terlupakan usai berganti hari. Dinda tentu masih mengingat betul dan pertikaian kecil mereka membekas dalam memorinya. Apa lagi sebuah fakta tentang Candra yang memang mengenalinya sudah terungkap.
Kesal, marah, senang, juga sedih mengaduk menjadi satu. Kesal dan marah karena merasa dipermainkan oleh kebohongan Candra. Sementara senang dan sedih, karena ternya mereka sudah mengenal sedari kecil. Akan tetapi, hanya dia yang lupa. Dia pun mulai bersikap acuh, guna menutupi perasaannya kepada Candra.
Seperti yang sudah dikatakan Vita kemarin. Hari ini kedua orang tua Dinda akan datang setelah lama pergi meninggalkan kediaman dan anak-anaknya.
Kaamil dan Al sengaja memilih tidak masuk kerja, sebab akan menyambut kedatangan sepasang manusia yang sudah lama mereka rindukan. Sebenarnya Kaamil sudah bertemu dengan orang tuanya ketika pemakaman sang kakek, tapi tetap saja dia akan rindu kepada papa dan mamanya itu.
Ya, saat hari dikebumikan sang kakek, Kaamil turut datang. Namun, karena pekerjaan dan menunggu perkembangan Dinda, dia segera kembali ke Jakarta dan meninggalkan kedua orang tuanya masih dalam suasana berkabung.
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh lewat tiga puluh lima menit, ketika pesawat Zahir dan Mita mendarat di landasan. Kaamil dan Al-lah selaku sebagai penjemput.
"Sudah, jangan menangis lagi! Mama sudah berjanji, kan, tadi malam," hibur Zahir pada Mita yang tiba-tiba menangis ketika mobil yang dikemudikan Kaamil sudah bergerak meninggalkan area pesawat.
"Mama kangen banget sama, Adin," aduh Mita tetap menangis, mengacuhkan perkataan suaminya.
Zahir merangkul sayang istrinya sembari menghibur.
"Papa tahu ... Mama pasti sangat khawatir sama keadaan Adin waktu diculik. Tapi itu sudah berlalu, Ma. Sekarang putri kita pasti kuat dan baik-baik saja."
"Tapi tetap saja, Pa. Hati mama masih sedih. Apa lagi pas ingat saat putri kita hilang ... kita tidak bisa berbuat apa-apa. Dan saat putri kira ditemukan ... kita juga tidak bisa langsung datang menemuinya."
"Harus berapa kali papa jelas, kan? Bahwa bukan Mama saja yang merasa sedih. Papa pun sangat merasa sedih dan khawatir akan keadaannya. Tapi kita tidak boleh berlarut dalam keadaan ini! Bagaimana nanti perasaan Adin, jika melihat Mamanya datang dengan mata bengkak? Adin pasti tau, kalau Mama hanya menangis sepanjang perjalanan."
Sekuat tenaga Mita mengontrol emosinya. Benar kata Zahir, bagaimana nanti perasaan putri mereka jika mendapatinya dalam keadan sedih.
Al yang duduk di samping kemudi hanya melirik sekilas melalu kaca yang menggantung, begitu juga Kaamil. Keduanya memaklumi perasaan Zahir dan Mita saat ini.
"Sudah .merasa lebih baik?" tanya Zahir ketika melihat Mita mulai berhenti menangis.
"Sedikit ... tapi Papa benar. Mama nggak boleh kelihatan sedih di hadapan Adin."
__ADS_1
Zahir tersenyum menanggapi semangat istrinya. Dia tahu dan yakin, jika kemungkinan nanti istrinya itu akan menangis lagi saat bertemu dengan putrinya.
"Mama nggak kangen Emil, gitu? Masa dari tadi cuman Mbak Adin aja yang dikangenin," celetuk Kaamil dengan nada meraju.
"Dasar anak manja! Ya jelaslah Mama kangen sama Mbak kamu, karena Mama sudah lama nggak ketemu. Tapi kalau kamu ... beberapa hari lalu Mama sudah ketemu," tanggap Mita meladeni Kaamil.
"Tapi Emil tetap kangen loh sama Mama, walau baru ketemu," aku anak bungsunya itu jujur.
"Iya, iya ... Mama juga kangen kamu l. Kangennn bangettt," gemes Mita menyempatkan diri mencubit pipi Kaamil yang seketika menjadi mantmyun.
Di tempat lain, diwaktu yang sama ....
Candra dan Dinda yang menunggu kedatangan orang tuanya, tengah duduk di ruang tamu bersama Vita. Dinda bahkan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasa. Mungkin itu disebabkan kerinduan, atau karena tragedi penculikan.
Perasaan sudah tak terbendung mana kala Mita dan Zahir masuk ke dalam rumah bersaaman salam yang mereka sertakan.
"Wa'alaikumussalam," jawab serentak bersamaan.
Dinda dengan cepat berlari kepada orang tuanya dengan air mata yang tiba-tiba membasahi pipinya. Pelukan pertama dia labuhkan pada Mita yang seperti tebakan Zahir, bahwa istrinya pasti kembali menangis.
Dinda yang menyadari keberadaan papanya pun melepas pelukan, dan beralih memeluk Zahir. Raungan kesedihan pun tak kalah sedihnya ketika memeluk Mita.
Zahir mendaratkan kecupan di kening dan mengusap punggung putri kesayangannya. Tidak ada air mata yang membasahi pipi keriputnya. Akan tetapi, tanpa seorang pun tahu, di dalam hati dia sedang menangis pilu.
"Kamu putri Papa yang sangat hebat," bisik Zahir memberikan semangat yang dibalas Dinda anggukan lemah.
Semua orang kini tengah duduk di ruang tamu dengan Mita dan Zahir mengapit Dinda di antara mereka. Pelukan ibu dan anak itu tidak lepas. Bahkan dengan nyamannya Dinda menyandarkan kepalanya di pundak sang mama. Tangannya pun turut menggenggam salah satu tangan Zahir erat.
Dinda sekarang tengah bermanja-manja pada mama dan papanya. Berbeda memang ketika bersama Vita dan Al, yang hanya sekedar mendapat pelukan sebentar.
"Kepada kalian semua. Saya meminta maaf atas kelalaian saya, dalam hal menjaga keselamatan Adin," Candra memecah keheningan di antara tangis kecil istrinya.
Semua tatapan kini mengarah pada satu objek yang sama, dan tidak hanya tatapan. Namun, mereka kompak menyaring isi dari makna kalimat Candra.
__ADS_1
"Jangan menyalahkan dirimu! Semua ini memang sudah ditakdirkan. Sekuat apa pun kita ingin menghindar ... jika Allah sudah berkehendak, maka pasti akan terjadi juga," kata Zahir bijak, "semua ini pasti akan selalu ada hikmah di setiap kejadian," lanjutnya.
Semua orang membenarkan apa yang dikatakan Zahir, dan tidak menyalahkan Candra. Sebab, semua yang terjadi karena di luar kekuasaan mereka.
"Tapi tetep saja, saya ingin meminta maaf secara langsung kepada kalian semua," ujar Candra melirik semua orang satu persatu.
Zahir pun tidak menolak dan memberikan maaf kepada menantu dadakannya tersebut.
"Adin sayang ... biarkan Mama dan Papamu istirahat dulu, ya!" Vita menegur lembut.
Enggan rasanya Dinda berucap 'Iya', namu mau tidak mau dia mengijinkan hal tersebut.
Belum lagi Zahir dan Mita terlepas dari tangan Dinda. Kedatangan seseorang yang memberi salam menghentikan niat mereka.
"Assalamualaikum, apa kabar semuanya?"
"Wa'alaikumussalam," seru semua orang serempak dan menoleh ke asal suara.
"Pah," pekik Candra bangkit dari duduknya, kemuadian menghampiri orang yang dipanggilnya papah dan menyalaminya.
"Dasar b0d0h! Kenapa tidak bilang sama Papah, apa yang sudah terjadi pada istrimu?" hardiknya marah menatap tajam pada putranya.
Candra meringis dan tersenyum kikuk menyadari jika papahnya sudah mengetahui musibah yang menimpa menantunya. Dia memang sengaja menyembunyikan hal itu dari Arwan, dan ketika papahnya mendesak untuk berkunjung ke Bandung. Candra selalu memberi alasan jika mereka sedang sibuk dan akan segera menyelesaikannya.
"Jadi, kau baru tahu Wan?" pangkas Zahir menyela keduanya.
"Iya, aku baru tahu setelah Lintang kupaksa untuk bercerita. Awalnya aku hanya bertanya tentang kesibukan Bara, tapi tidak sengaja Lintang mengatakan baru saja menemukan istrinya," balas Arwan masih menatap tajam Candra.
Di dalam hati, Candra tengah memaki Lintang, karena sudah memberitahukan papahnya. Bukan tanpa alasan dia menyembunyikan hal tersebut dari Arwan. Itu dikarenakan penyakit jantung yang diderita sang ayah.
Candra takut terjadi sesuatu pada orang tua tunggalnya disaat dia sedang berada jauh dari ayahnya tersebut.
"Lupakan kemarahanmu, Wan! Apa kau tidak ingin memeluk ku? Sudah lama kita tidak bertemu secara langsung."
__ADS_1
"Tentu saja," keduanya saling berpelukan menyelamatkan Candra dari sebuah kemarahan Arwan.
BERSAMBUNG ....