
"Di sini!" Tunjuk Dinda pada dadanya, "hatiku bergetar saat menyebut namamu. Dan aku ketakutan, setiap kali memikirkan jika aku tidak bisa lagi bertemu sama kamu, Mas," ujarnya seiring air mata yang berjatuhan tanpa bisa dicegah.
"Apa itu juga karena takut? Apa perasaan itu tidak lebih besar dari perasaanku padanya?" Dinda semakin tersedu.
"Kalau menurutmu perasaanku hanya seperti itu? Lalu kenapa sekarang aku mulai takut, jika kamu tidak percaya padaku? Bahwa aku sama sekali tidak merindukannya."
Candra terdiam menatap lembut wajah yang banjar oleh air mata. Kedua tangannya tiba-tiba terangkat mengusap pipi istrinya dan itu membuat sang empuhnya tersentak kecil.
"Maaf," ujar Candra lirih sambil menangkup pipi Dinda. Pandangan mereka terkunci dengan air mata yang terus mengalir dari kelopak berbulu lentik Dinda.
"Maaf, karena aku tidak menyadari. Jika perasaanmu begitu besar untukku," tambahnya jujur.
Dinda menarik kedua tangan Candra kasar dan mundur satu langkah.
"Kamu tidak perlu repot-repot meminta maaf, Mas! Karena perasaanku ini tidak penting," balas Dinda sembari mengusap air matanya dan berusaha menghalau agar air matanya tidak gugur lagi.
Dia berjalan melewati Candra. Namun, seketika terhenti, mana kala suaminya itu menahan satu tangannya. Sama seperti yang Dinda lakukan sebelumnya.
"Sekarang aku yang merasa takut, jika kamu tidak mau menerima maafku," ujar Candra sangat lirih.
"Kamu tahu? Apa alasanku mengenalkan diri dengan nama Candra pada orang lain?" Dinda melirik malas pada suaminya.
"Itu karena .., ada seseorang yang membuatku rindu jika memanggilku dengan nama Bara."
Dinda mengerutkan kening mendengar Candra menyebut seseorang, dan dia pun mulai penasaran. Akan tetapi, tidak lantas menunjukkannya, dan mencoba bersikap acuh tak acuh.
"Seseorang yang baru pertama kali aku temui saat masih kecil. Tapi karena dia, aku menyimpan kenangan bersama mama di saat terakhirnya. Seseorang yang diabadikan mama dalam sebuah foto bersama putra tunggalnya. Seseorang yang setiap kali aku melihat fotonya itu, membuatku rindu pada dua wanita sekaligus," cerita Candra panjang lebar membuat Dinda menegang ketika menyadari arah bicara suaminya.
"Dan sekarang ... setelah aku bisa menggapainya. Aku malah tanpa sadar membuatnya menangis hingga berniat meninggalkanku," Candra merapatkan diri hingga memangkas jarak di antara mereka.
Candra memegang dagu Dinda, dan membuat wajah itu mendongkak hingga manik mereka bertabrakan.
"Aku minta maaf. Dan aku mohon ... jangan pernah menganggap perasaanmu tidak penting! Karena bagiku, perasaanmu ada hartaku yang paling berharga. Yang tidak ingin aku bagikan pada orang lain."
Antara kesal dan lucu, ingin sekali Dinda tertawa ketika mendengar suaminya berkata demikian. Namun, dia berusaha keras menahannya, karena masih marah pada Candra.
"Lihat aku!" pintanya ketika Dinda membuang muka.
Dengan malas Dinda menatap kembali.
"Sekarang kau tahu, kan? Apa alasanku, memasang wallpaper itu. Dan itu sekaligus menjawab pertanyaanmu, tentang namaku."
__ADS_1
Dinda masih dalam diamnya. Dia enggan menanggapi semua yang dikatakan Candra. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah ingin bersikap acuh dan tidak peduli.
"Hai! Kau masih marah? Apa aku sangat melukai perasaanmu? Aku, kan, sudah minta maaf," ucap Candra sudah tidak sabar, karena Dinda tidak mau bersuara.
"Nggak peduli," balas Dinda ketus dan hendak beranjak dari tempatnya berpijak.
Tanpa aba-aba, secepat mungkin Candra menarik Dinda, dan mendekapnya erat dalam pelukan.
"Tapi aku peduli," bisiknya di dekat kuping Dinda, hingga membuat sang pemilik tubuh meremang walau terhalang jilbab dengan mata membelakak tak percaya.
Suasana di dalam kamar terasa hening. Sebab, keduanya terdiam dalam posisi yang tak ubahnya saat terakhir kali Candra bersuara. Mereka berdua sama-sama larut dengan keadaan dan isi pemikiran yang berkeliaran.
"Apa kau, masih tidak mau memaafkan aku?" suara yang biasanya terdengar tegas, kini berucap dengan sangat lembut.
Dinda tidak menjawab, lantas Candra menarik diri dan merenggangkan pelukannya.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksa mu lagi untuk memaafkanku! Jadi ... pergilah!" Candra menepi guna memberi Dinda jalan.
Dinda yang awalnya sempat terbawa suasana, seketika merasa dongkol bercampur kesal ketika pengusiran halus yang dilakukan Candra. Dengan mengantupkan bibir rapat, dan menghentakkan satu kaki. Dinda berlalu pergi sembari membawa tumpukan emosi.
Candra yang melihat kekesalan Dinda. Berusaha menahan senyum, dan ketika istrinya itu menutup pintu dengan sedikit lebih keras. Seketika, dia tertawa tertahan.
"Ada apa, Nak?" Dinda tersentak ketika menyadari jika ayah mertuanya tengah melihat aksinya menutup pintu.
"Hehe, nggak apa-apa, Pah," elak Dinda gugup, "Papah mau ke mana?" katanya lagi guna merusak fokus Arwan dari alibinya.
"Papah bosan, jadi pengen jalan-jalan sebentar."
"Biar Adin yang temenin, Pah," tawar Dinda semangat.
"Apa tidak merepotkan, kamu," sambut Arwan ragu dan segan.
"Sama sekali enggak. Adin juga pengen jalan-jalan. Ayo Pah!" ajak Dinda yang disambut ayah mertuanya dengan senang hati.
"Apa kamu, baik-baik saja---?" tanya Arwan ragu saat keduanya menuruni anak tangga.
"Memang, Adin kenapa? Adin nggak kenapa-kenapa kok, Pah," jawab Dinda cepat. Dia berpikir jika pria paruh baya itu masih memikirkan kejadian dirinya yang membanting pintu.
"Syukurlah. Papah hanya takut, kalau kamu terluka saat penjahat itu menyekap kamu."
Kini Dinda tersadar ke mana arah tujuan yang dibicarakan mertuanya tersebut.
__ADS_1
"Papah minta maaf. Bukan maksud Papah, mengingatmu dengan kejadian itu," sesal Arwan yang tidak melihat respon menantunya ketika dia menyinggung masalah itu.
Sebenarnya Arwan tidak ingin mengungkit kejadian itu. Akan tetapi, perasaan khawatir dan rasa bersalah atas tanggung jawab putranya yang lalai dalam melindungi Dinda, lebih mendominasi jika tidak dipertanyakan langsung.
"Kenapa Papah malah minta maaf? Dinda sama sekali tidak keberatan jika Papah bertanya soal itu," ujar Dinda tersenyum, dan langsung menular pada Arwan.
"Adin justru sangat berterimakasih, karena Papah turut khawatir sama keadaan Adin," Dinda menghentikan langkah kakinya di ambang pintu sambil menoleh pada orang di sampingnya.
Refleks Arwan juga ikut berhenti dan membalas tatapan Dinda yang terselip senyum tipis.
"Terimakasih, Pah. Adin sangat bersyukur ... ternyata ada begitu banyak orang di sekeliling Adin, yang menyayangi Adin. Hingga Adin tidak perlu merasa takut lagi," ujar Dinda tulus.
Dinda menyadari satu hal, ketika pikiran tengah berpusat pada Candra. Dia pun melupakan ketakutannya pada Arwan yang baru dua kali dia temui. Bahkan sekarang, dengan suka relanya menemani ayah mertuanya itu berjalan. Sebegitu besarkah, pengaruh Candra dalam hidupnya saat ini.
"Papah tidak melakukan apa pun untukmu, hingga kau harus berterimakasih seperti itu. Bukankah sudah sepantasnya, jika orang tua mengkhawatirkan anak-anaknya?"
Dinda mengangguk membenarkan diiringi senyum keduanya.
"Apa Bara, berlaku baik padamu?" bisik Arwan, "anak itu, terkadang menyebalkan."
Hampir saja Dinda tergelak ketika Arwan mengatakan kebenaran anaknya itu.
"Iya, dia berlaku baik. Dan memang menyebalkan."
Kali ini Dinda tertawa ketika ayah mertuanya itu tertawa lebih dulu.
"Benarkan, bukan cuman Papah yang menyadarinya," ujar Arwan disela tawa.
"Iya, Pah."
"Apa yang kalian tertawa, kan?"
Keduanya seketika berhenti tertawa dan menoleh kebelakang, di mana asal suara berada.
"Tidak ada," jawab keduanya kompak dan kembali berjalan, mengacuhkan keberadaan orang tersebut.
"Hai!"
Dinda dan Arwan pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1