
...Happy readers...
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Sekejap Dinda tersentak kaget karena tangannya ditangkap oleh preman tersebut. Dinda yang tidak bisa bela diri, jelas sedikit merasa sedikit ketakutan.
Namun, kendati demikian Dinda juga sedikit tahu tentang tindakan bela diri. Dia langsung tersadar.
Memutar tangannya sembari kaki kanan Dinda terangkat langsung menendang area sensitif si preman.
"Aaa njiiing," pekik preman menjerit kesakitan.
Dinda seketika segera berlari dari samping preman yang tertunduk sambil menangkup area miliknya yang mendapatkan tendangan.
"Hei, jangan lari lu." Preman satunya langsung berlari menyusul Dinda dan menggapai bahunya.
Mengambil tangan yang bertengger di atas bahunya, Dinda memelintir tangan tersebut sambil berbalik badan. Kembali kakinya melakukan tendangan di area yang sama dengan rekannya tadi.
"Awww, bangg sattt," rintih si preman, tak ubahnya seperti temannya.
Menemukan kesempatan untuk pergi dari tempat itu, tanpa barlama-lama Dinda langsung berlari.
"Kejar Dia," ajak preman yang pertama menjadi korban tendangan Dinda.
"Awas aja, kalau ketangkap," sahut rekannya tertatih-tatih mengejar Dinda.
Sambil berlari cepat sekekali Dinda menoleh ke belakang ... dan karena ulahnya itu, Dia hampir saja terjerembab.
Sedikit lagi Dinda sampai di antara berbatasan gang dan jalan utama, begitu juga dengan kedua preman yang hendak menangkapnya.
Keadaan yang sudah sore dan orang-orang yang sibuk dengan segala aktivitasnya dalam menyambut menjelang berbuka puasa, menjadikan jalanan di dalam gang itu memang sepi.
Tepat ketika Dinda berhasil ke luar gang, nyaris saja Dinda tertabrak motor.
"Bisa nggak, kalau nyebrang itu liat-liat jalan?" tanya sang pengemudi motor menatap Dinda tajam dengan marah.
Dinda tidak memperdulikan kemarahan pria yang nyaris menabraknya, Dia lebih khawatir dengan para preman yang mengikutinya.
Mengabaikan si penunggang motor, dengan napas terengah-engah reflek Dinda menoleh ke belakang dan berbarengan dengan kedua preman itu berhenti dari jarak beberapa meter.
Semua itu pun tidak luput dari perhatian si pengemudi motor besar tersebut.
"Apa mereka mengejar---," belum tuntas kalimat yang diucapkan oleh pengendara itu, Dinda sudah berlari hendak menuju restorannya.
Kedua preman yang memiliki dendam pribadi pada Dinda, dengan perlahan mengikutinya. Sementara orang yang tadi nyaris menabrak dan harus terpaksa menghentikan luju motornya, tidak rela mengalihkan pandangan dari interaksi ketiganya.
Dengan gerakan cepat, memasang pijakan motornya dan langsung turun guna menghentikan pergerakan kedua preman itu.
"Berhenti ..!!" perintahnya kepada preman sembari mendekat.
"Mau kenana, kalian? Apa ingin mengejar wanita tadi?" tanya pria itu santai setelah kedua preman meliriknya.
__ADS_1
Dari kejauhan Dinda sempat menoleh, dan menghilang dari penglihatan ketiga lelaki tersebut.
Karena dihentikan oleh penunggang motor itu, kedua preman tersebut kehilangan Dinda ... dan itu menyulut emosi keduanya.
"Si4alan, jangan ikut campur lu ..!!" Preman itu mendorong bahu pengemudi motor kasar dan marah.
Belum menarik tangannya kembali, tangan itu sudah ditanggap oleh pria penunggang motor. Tanpa expresi, jari-jari preman tersebut direm4s dan ditekuknya.
"Awww ... awww," ujar preman mengaduh menahan sakit.
"Anjiingg ... lepaskan tangannya," hardik rekannya.
Melihat temannya semakin menjerit dengan kaki sedikit berjin-jit, lantas Dia ingin melerai tangan yang tautan.
"Aaaaa," pekiknya, sebelum tangan itu berhasil memisahkan.
Semudah membalikkan telapak tangan, pria yang menunggangi motor k4w4s4ki, Ninj4 ZX-25R langsung menendang mereka bergantian.
Tidak terima dengan perlakuan orang itu, keduanya menghajar serentak yang dengan santai nya dihalau orang tersebut. Memelintir tangan preman sebelum akhirnya kembali memberikan hadiah di perut mereka dengan lebih keras.
Terduduk dengan tatapan siaga perlahan keduanya bangkit dari tanah, mendadak nyali mereka langsung menciut saat orang itu saling beradu pandang.
"Apa kalian mau, lagi?" tanya pria itu dengan aura dingin.
"Kabur ... kabur-kabur ..," ajak salah satu di antara mereka tidak mengidahkan pertanyaan.
Pria itu memandang mereka yang tengah berlari terbirit-birit, dengan tatapan benci.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Dengan langkah gontai, Dinda kembali ke depan restorannya.
"Kak Adin," suara yang sangat Dinda kenal menghentikan langkah Dinda.
"Mil," seru Dinda.
"Kemana aja sih? Aku dari tadi nungguin! Bukannya sudah Aku kasih tau, buat siap-siap?" cerca Kaamil bersungut-sungut kesal.
"Sorry, tadi Kakak ada keperluan sedikit di luar," elak Dinda memberi alasan.
Orang yang berada di samping Kaamil, mencuri perhatian Dinda.
"Teman Kamu?" tebak Dinda melirik orang tersebut.
"Iya, Dia Mara. Mara ... ini Kakak Aku."
Dinda menyambut uluran tangan wanita itu dan saling mengenalkan diri, yang ternyata mempunyai lesung pipi di kedua pipinya ketika tersenyum manis.
"Teman, atau teman," tanya Dinda ambigu sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Kaamil berdecak, sedang temannya tersenyum kikuk. "Buruan, nanti Aku tinggal," ujar Kaamil berbalik ke arah mobil yang terparkir di parkiran.
__ADS_1
"Ayo Mara," ajak Dinda menggandengan tangan wanita yang rambutnya sepanjang bahu dan sedikit bergelombang.
"Ayo Kak."
Dinda menghela napas lega karena terlepas dari kedua preman tadi dan mereka akan segera pulang. Seketika ingatan Dinda menggali lebih dalam lagi tentang sosok pria yang nyaris menabraknya.
Walau pria itu menggunakan helm, tapi Dinda mengenali suara dan motornya.
'Mas Candra.' gumam Dinda membatin.
Di perjalanan ....
"Emang Kakak tadi, ke mana sih?" pertanyaan Kaamil menarik kesadaran Dinda dari lamunannya.
"Hah! Oh, itu ... tadi Kakak ngasih pengamen takjil," ucap Dinda terkejut langsung memberi alasan.
Kaamil mengangguk sambil melirik keduanya.
"Jadi, apa kamu satu kantor dengan Kaamil?" tanya Dinda kemudian.
Kaamil melirik kesal. Bukan karena pertanyaan sang Kakak, tapi karena tidak ada yang mau duduk di depan menemaninya, Dia bagaikan seorang supir.
"Iya, Kak," jawab Mara sopan.
"Biasanya Aku bawa motor, Kak. Tapi tadi pagi, tiba-tiba motor Ku mogok. Jadi ke kantor pakai taksi, dan kebetulan kita pulangnya satu arah terus Kaamil tawarin pulang bareng," jelasnya tidak ingin Dinda salah paham.
"Ohh ...." Dinda membulatkan bibirnya sambil mengangguk.
"Apa kalian pacaran?" tanya Dinda to the points.
"Enggak," jawab Kaamil cepat.
"Bukan," jawab Mara berbarengan.
"Kalau kalian pacaran juga nggak apa-apa, kok," ucap Dinda santai.
"Dia udah punya tunangan, Kak," sahut Kaamil menjelaskan.
"Ohh, sudah punya tunangan? Orang mana, tunangannya? Pasti jauh, ya?" cercar Dinda, berpikir kalau Mara ikut diantar Kaamil ... pasti tunangannya itu orang jauh.
"Orang sini juga, Kak," sahut Mara tersenyum lembut.
Dinda mengerutkan kening. Kalau punya tunangan orang sini juga, kenapa nggak minta dijemput sang tunangan saja! Bagaimana jikalau tunangan Mara melihat kekasih di antar pria lain.
"Ohh," hanya itu yang bisa Dinda utarakan.
Keadaan di dalam mobil terasa menyenangkan, karena mereka terlibat percakapan ringan. Namun, lebih tepatnya Dinda san Mara, sebab menjurus ke ranah wanita.
Kaamil mengantar Mara terlebih dulu, baru mereka pulang bersama ke rumah Bunda Vita.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1