Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 17 Kecelakaan kecil.


__ADS_3

...'Orang yang kuat itu, adalah orang yang sabar dan ikhlas ketika ditimpa musibah.'...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Dengan langkah cepat Dinda kembali ketempat teman-temannya sambil bertanya-tanya dalam hati, sedang apa sepasang manusia yang tidak tahu malu itu.


"Ngapain aja sih, kok lama bener?" tanya Nuri sebelum Dinda menduduki kursinya.


"Antri tadi," alasan Dinda pendek.


"Nuri mulai rewel nih, kita pulang yuk?" Nurul kembali bersuara yang membuat Adit lemas.


Menurut Adit, dia belum puas bertemu dan berbincang-bincang dengan wanita yang dia targetkan sebagai calon pendampingnya.


"Kalau kalian mau pulang, mending naik taksi aja deh. Atau bawa mobil Dinda, nanti Dinda aku yang antar," usul Adit.


"Emang mas Adit, nggak takut sama mas Zidan?" tanya Nurul serius.


"Istrinya lagi hamil lo, mas. Mas Adit, mau apa kalau Aya sampai kenapa-napa? Udah tau kalau dia lagi pusing-pusingnya, malah disuruh nyetir," kata Nurul mengintimidasi Adit.


Adit terdiam beberapa saat. Membayangkan harus berurusan dengan Zidan Idris, anak dari Ahmad Darma Idris, pengusaha perhotelan di Jakarta. Bahkan bukan hanya di Jakarta, tapi Bandung juga.


Ditambah lagi, perusahaan Abdar sudah lama menjalin kerja sama dengan ayah mertu dari wanita yang bernama lengkap Soraya Riduansyah.


Bergidik ngeri, jika hanya karena urusan pribadi malah melibatkan sang atasan juga rekan bisnisnya.


Sudah bisa dipastikan, bahwa dia akan langsung dipecat oleh Abdar. Bahkan mungkin tidak hanya dipecat, tapi juga dicincang habis oleh sahabatnya itu.


"Maksudku bukan Aya, yang nyetir! Kamu' kan bisa," elak Adit.


Nurul berdecak, sambil menenangkan Nuri dalam buaian-nya. "Mas Adit, nggak liat apa? Aku 'kan lagi gendong anak," kesal Nurul.


Kali ini Adit juga berdecak, ada saja kendala untuk bersama Dinda. Dia melirik Dinda dan Soraya yang malah sibuk dengan sisa makanan mereka.


Adit tahu, walau Dinda tidak menghiraukan perdebatan dia dan Nurul. Namun, sudut bibir yang tertarik tidak bisa menutupinya.


"Yank, bantuin cari solusi napa?" keluh Adit.


"Idih, najis," celetuk Nurul, membuat Dinda dan Soraya tertawa lepas, tapi tidak dengan Nuri. Batita berusia dua tahun itu malah menangis dan merengek memberontak.


"Sudahlah mas Adit, aku mesti ngantar mereka! Mending mas Adit, balik kerja lagi," ucap Dinda.


Menghela napas pasrah. "Ya, sudah. Ayo balik." Adit berdiri dan beranjak, begitu juga yang lain. Kali ini Nuri menjadi tenang setelah dibawa Nurul berdiri dan berjalan.


"Nanti sore jam empat, aku tunggu di parkiran resto kamu," bisik Adit pasti.


"Ngapain?" balas Dinda berbisik.


Mereka berdua memilih jalan di belakang Nurul dan Soraya yang berjalan cepat menuju mobil mereka terparkir.


"Aku mau jalan-jalan, sama kamu." Adit tersenyum sambil mengedipkan satu matanya.


"Nggak janji," ujar Dinda.


Adit hendak kembali bersuara, tapi Dinda malah melajukan langkah kakinya hingga sejajar dengan para sahabatnya.


Adit berpisah dan segera menjalankan mobilnya setelah mobil para kaum hawa jalan lebih dulu.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Dihitung dari jarak perjalanan mereka, rumah Soraya adalah yang paling dekat. Dinda memutuskan mengantar bumil dulu, baru mengantar Nurul.


Sesampai di tempat Soraya, Dinda langsung berpamitan guna mengantar Nurul kembali.


"Hati-hati ya, Dinda," pesan dari kedua temannya ketika berpamitan.


Di tengah perjalan menuju rumahnya, Dinda menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimum. Walau keadaan yang sepi tidak lantas membuat Dinda ngebut-ngebut'an.


Namun, sesuatu tak terduga terjadi pada Dinda. Sebuah hantaman keras dari arah belakang mobilnya, membuat Dinda hilang kendali. Karena rasa keterkejutan juga ketidak sadaran nya membanting setir ke bahu jalan mengakibatkan dia tertabrak pohon besar.


Walau sudah memakai sabuk pengaman, nyatanya tubuh Dinda tetap condong kedepan dan alhasil keningnya membentur setir mobilnya.


"Astaghfirullah hal azim," pekik Dinda tersentak kaget sambil meringis menahan sakit di kening dan pusing.


Gegas melepas sabuk pengaman dan membuka pintu. Turun dari mobil, bertepatan dengan seseorang yang juga turun dari balik kemudi di belakang mobilnya.


Dinda memicing'kan mata melihat wanita itu berjalan mendekat ke arahnya dengan santai nya. Suasana yang sangat sepi dari lalu lalang mobil, dan lokasi tanpa penduduk sehingga tidak ada yang menyadari kecelakaan kecil tersebut.


"Kau tidak apa-apa?" tanya wanita itu tanpa rasa khawatir.


Dinda diam memperhatikannya, ada terbesit praduga bahawa kejadian ini seolah disengaja.


"Apa mbak Luna sengaja, ngelakuin ini?" balas Dinda bertanya tanpa basa basi sambil menahan sakit serta pusing.


"Kau menuduhku? Aku hanya kebetulan berada di belakang mobil mu dan tidak sengaja menginjak gas," sangkal wanita yang ternyata adalah Luna.


"Ah, benarkah? Maaf kalau begitu," ucap Dinda tersenyum kecut.


"Tidak sama sekali," bohong Dinda, karena keningnya tertutup lapisan jilbab sehingga tidak terlihat.


"Syukurlah kalau begitu. Oiya, soal kerusakan mobil mu akan aku ganti dan perbaiki! Sebaiknya kau ikut denganku saja, biar mobil mu nanti diambil tukang bengkel," tawar Luna enteng.


"Tidak usah repot-repot, saya bisa mengatasinya sendiri," tolak Dinda.


"Kalau Mbak Luna, sedang buru-buru ... Mbak Luna bisa tinggalkan saya di sini. Sepertinya tadi mbak Luna hendak cepat sampai ke tempat tujuan, sampai-sampai menginjak gas," usir Dinda halus.


Tidak ingin berurusan dengan wanita di hadapannya lebih jauh lagi. Kalau sampai dia menerima bantuan Luna, maka Dinda akan semakin terlibat dengan wanita ini.


Dinda memang tidak mengenal Luna. Namun, dari caranya menanyakan keadaan Dinda, sangat terkesan cuek dan menganggapnya enteng.


"Kau yakin?"


Dinda semakin tersenyu kecut, wanita yang berdiri hanya berjarak satu meter darinya malah bersikap demikian. Selain cuek, ternyata Luna juga tidak memiliki empati. Bertanya keadaannya hanyalah sebuah basa-basi.


"Ya, saya sangat yakin," jawab Dinda santai.


"Baiklah kalau begitu, kebetulan aku memang sedang buru-buru. Dan soal ini, aku minta maaf! Kalau kau mau aku ganti rugi, berikan saja no rekening mu ... nanti akan ku kirim."


"Tidak, tidak perlu repot-repot. Ini hanya kerusakan kecil, aku bisa mengurusnya," tolak Dinda tegas.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi duluan. Kau hati-hati di sini," ujar Luna dan berbalik ke mobilnya.


Dinda menggelengkan kepala, tidak menyangka akan bertemu wanita seperti Luna. Seorang istri tapi mempunyai lelaki lain.


Aa, apa mungkin karena aku yang tidak sengaja bertemu dia dengan Danu di cafe tadi, makanya Luna melakukan ini?

__ADS_1


"Sudahlah, semoga tidak ketemu mereka lagi," gumam Dinda sambil memegang keningnya yang sakit.


Mengambil ponsel di dalam mobil, Dinda menghubungi jasa perbaikan mobil. Setelah selesai menghubungi dan memberi tahukan posisinya berada, Dinda memilih duduk di atas mobil bagian depannya karena teduh oleh rindangnya pohon besar.


Tidak lama usai mematikan ponselnya, sebuah motor besar berhenti di dekat mobilnya.


"Ada apa dengan mobil mu?" tanya pria itu sambil melepas helm.


Keningnya berkerut melihat keadaan mobil Dinda yang penyok di bagian depan dan juga belakang.


"Rusak, karena saya menabrak pohon," jawab Dinda apa adanya.


"Saya sudah menghubungi mobil derek, sebentar lagi mereka datang," sambung Dinda.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya tentang keadaan Dinda.


"Saya tidak apa-apa," elak Dinda.


Pria itu duduk di atas motornya sambil memeluk helm-nya.


"Mas Candra, ngapain masih di situ?" tanya Dinda heran.


"Menemani kamu, sampai derek-nya datang," ucapnya datar.


Dinda diam dan memilih sibuk memainkan ponselnya. Dia memang membutuhkan teman, karena area tersebut rawan tindak kejahatan.


Sesekali Dinda merasa kening nya berdenyut membuat dia harus menahan sakit. Lima belas kemudian mobil derek datang dan langsung mengangkut mobil Dinda.


"Kau perlu tumpangan?" tawar Candra.


Untuk saat ini Dinda tidak akan menolak, karena dia memang memerlukan tumpangan.


"Kalau itu tidak merepotkan, mas Candra?"


"Tidak, ini!" jawabnya sambil menyerahkan helm.


"Buat mas aja," tolak Dinda.


Tidak terima dengan penolakan Dinda, Candra langsung memakai'kan helm-nya pada Dinda dan itu sukses membuatnya meringis kesakitan.


"Awww," rintih Dinda memegang keningnya menyusup helm.


Candra menaikan alisnya heran, penasaran dia kembali melepas helm tersebut dan menyingkap sedikit jilbab Dinda.


"Kau terluka!" ujar Candra tersentak kaget melihat kening Dinda yang membiru.


"Tidak apa-apa," ucap Dinda pelan.


Candra memasangkan lagi helm-nya, tapi dengan perlahan.


"Ayo naik," perintah Candra datar.


Gegas Dinda naik dan berpegangan pada bahu kekar Candra.


Dia baik, hanya saja kurang senyum.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2