
Dinda begitu terpukul dan ketakutan, apa yang sejak awal dikhawatirkannya ternyata menjadi kenyataan. Kedua orang tuanya nan jauh di sana ternyata sudah tahu tentang berita itu.
Tidak dipungkiri memang, jika teknologi jaman sekarang sangatlah canggih dan cepat berkembang, sudah dipasti berita itu akan langsung tersebar.
Dinda tidak tahu siapa yang menjebaknya saat malam itu, yang lebih parah dan sangat-sangat diluar perkiraannya adalah, orang itu sempat-sempatnya memfoto dirinya bersama seorang lelaki yang sama sekali tidak terlihat wajahnya. Dia juga tidak tahu apa untung dan motifnya bagi orang yang sudah melakukan ini padanya.
Identitasnya sebagai putri pengusaha tambang batu bara pun kini terkuak di sosial media. Dia tahu, pasti teman-temannya ingin bertanya tentang itu semua.
Akan tetapi, teman-temannya juga menyadari bahwa waktunya tidaklah tepat disaat Dinda dalam masalah besar, mana mungkin mereka malah mencampur aduk, kan urusan pribadinya.
Dinda tidak masalah sebenarnya jika teman-temannya menuntun penjelasan, dia hanya memikirkan kedua orang tuanya yang akan datang dengan kemarahan.
Malam hari yang biasanya menjadi tempat orang-orang melepas lelah guna mengembalikan kondisi tubuhnya esok hari, malah tidak memberi kepuasan bagi Dinda. Sepanjang malam kelopak matanya sulit untuk terpejam, kecuali hanya berkedip.
Terjaga, tapi tidak melakukan apa pun. Dia hanya menatap kosong langit-langit kamarnya dengan pikiran yang berkelana ke sana ke mari.
Besok siang sudah dipastikan, bahwa kedua orang tuanya akan pulang. Dia hanya perlu menyiapkan keberanian untuk menceritakan yang sebenarnya pada kedua orang tuanya.
Lelah dengan posisi terlentang, Dinda pun mengubah posisi tubuhnya ke samping guna mencari rasa nyaman. Namun, hanya dalam hitungan detik, Dinda beralih ke samping yang lain hingga beberapa kali dilakukannya dan akhirnya dia kembali terlentang juga.
Menghela napas berat, berharap bisa mengurai semua beban yang sedang dihadapinya.
Bunyi ponsel iebih dari satu kali di kesunyian malam memecah heningnya di dalam kamar Dinda. Akan tetapi, dia tidak serta merta mengambilnya.
Dinda sangat enggan untuk mengetahui isi pesan itu, walau dia tahu kalau sebenarnya dia sudah di keluarkan dari grup alumni sekolahnya. Jadi ... itu bukanlah pesan di grup itu, melainkan grup empat sekawannya.
Kembali bunyi notifikasi terdengar, tapi Dinda bergeming hingga ponselnya bener-bener sepi oleh pesan masuk. Waktu terus bergulir, detik berganti menit, menit berganti jam, tak terasa suara marbot yang mengaji terdengar dari toa masjid di komplek perumahan yang dia tinggali.
Dinda bangun dan pergi ke kamar mandi. Selain menguras kantung kemih, dia juga menggosok gigi lantas mengambil air wudhu.
Hampir setengah jam melantunkan ayat suci, suara azan pun sudah menggema dengan lantang di subuh hari.
Di atas hamparan sajadah dan balutan mukena putih polos, Dinda menumpahkan segala keluh kesah juga kesedihannya. Dia menutup do'anya sambil terisak dalam diam. Terlalu lama menagis, tanpa sadar, Dinda tertidur di atas sajadah hingga menjelang pagi karena kelelahan.
"Kak ... Kak Adin, ayo sarapan! Ini sudah pagi," panggil Kaamil pelan sambil mengetuk pintu kamarnya.
Samar terdengar di pendengaran Dinda. saat membuka mata, kepalanya berdenyut dan tubuhnya terasa sakit. "Iya, Mil," sahut Dinda serak.
"Ayah sama Bunda, udah nungguin, Kakak," kembali suara Kaamil memanggilnya dari balik pintu.
"Iya," jawab Dinda singkat sambil membereskan peralatan solatnya dan menyimpannya.
"Kakak, baik-baik aja, kan?" cecar Kaamil saat Dinda membuka pintu.
"Hmmm," balas Dinda bergumam.
Kaamil memandang kakaknya sedih. Melihat mata yang bengkang, sebenarnya dia sudah tahu apa sebabnya. Hanya saja mulutnya tadi terasa gatal ingin memastikan keadaan sang kakak.
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirkan, Papa sama Mama, pasti akan ngerti sama kejadian yang sebenarnya," hibur Kaamil.
"Ayo, kak, kita sarapan dulu," lanjut Kaamil.
"Kamu, duluan ... kakak mau cuci muka dulu," tangkas Dinda. Kaamil mengangguk dan meninggalkannya lebih dulu.
Dengan langkah pelan, Dinda menyusul ke meja makan sambil membetulkan jilbab instannya.
"Sayang ...," sambut Vita khawatir.
"Semua akan baik-baik saja. Ayah dan Papa kamu, akan segera menyelesaikan kasus ini. Dan kamu bisa tenang," Vita merangkum bahu Dinda sayang dan memberi usapan lembut.
"Amin," sahut Kaamil dan Al mengaminkan, juga diamin 'kan Dinda dalam hati.
"Ayo duduk, sayang!" Vita menarik kursi untuk Dinda.
"Makasih Bunda, maaf karena sudah menunggu," ucap Dinda tak enak hati.
"Nggak apa-apa. Kamu makan yang banyak, ya!" maklum Vita.
Usai sarapan, Dinda kembali ke kamar. Niatnya ingin mandi, tapi urung, sebab dia baru saja selesai sarapan. Kata orang jaman dulu, tidak baik habis makan langsung mandi. Dia pun mengulur waktu sejenak guna memberi jarak.
Dinda baru ingat ada pesan masuk tadi malam, ketika dia melihat ponselnya di atas nakas. Mengambil ponsel sembari duduk di tepi ranjang dan membaca pesan tersebut.
Rahimah ✉️.
"Besok siang, kami akan ke rumahmu."
Soraya ✉️.
"Aku dan Mas Zidan, besok juga akan ke sana."
Nurul ✉️.
"Jangan lupakan aku sama, Mas Ari. Kita ketemu besok siang di rumah Dinda."
Dinda sejenak terpaku setelah membaca deretan pesan-pesan dari teman-temannya. Tidak lama kemudian, satu pesan masuk mengusik lamunannya.
Mas Adit ✉️.
"Sayang, maaf ... hari ini aku tidak bisa membantumu. Kamu tahu sendiri, kan, siapa bosnya? Dia menyuruhku, menggantikan tugasnya di kantor. Tapi aku janji, nanti aku akan tetap membantumu ✌. Kamu tidak masalahkan?"
Dinda menghela napas pelan, tentu dia mengerti apa yang sedang Adit kerjakan. Mengingat pesan Rahimah, yang mengatakan jika sudah bicara pada suaminya prihal masalahnya.
Jelas saja Adit tidak bisa membantunya, karena bos Adit langsung yang akan membantunya. Abdar suami dari sahabatnya.
Jari-jari Dinda mengetik pesan balasan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Mas Adit. Teman-teman aku juga akan membantu, termasuk Mas Abdar."
Mas Adit ✉️.
"Jadi Abdar yang bakalan bantu, kamu? Kenapa dia nggak bilang sama, aku?" Ya udah, aku mau tanyain sama dia dulu. Aku janji, nanti pasti bantuin, kamu. Daaa sayang ... I LOVE YOU 😘."
Dinda tersenyum simpul dengan pipi yang merona merah. Tidak apa jika tidak bisa membantu, setidaknya pagi ini Adit sudah membuatnya tersenyum, itu sudah cukup untuk penyemangatnya hari ini. Lagi pula, dia tahu kenapa Adit tidak bisa membantu, itu karena Abdar memperkerjakannya.
Tanpa membalas pesan itu, Dinda meletakan kembali ponselnya dan beranjak ke kamar mandi.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Atmosfer di ruangan keluarga yang di isi beberapa orang dewasa itu begitu mencekam. Semua terdiam, tidak ada yang berani bersuara setelah penjelasan Dinda selesai.
"Kenapa kamu, tidak langsung memberitahu prihal itu kepada Ayah atau Bunda, Adin?" tanya pria paruh baya yang terlihat masih gagah di usia senja.
"Seharus kamu langsung bertindak! Atau patut curiga dengan kejadian itu!" sentaknya tegas.
Kelima orang yang berada di sana tidak ada yang berani menyahut atau menatapnya, awal ingin membela sekali pun.
"Al, apa kamu sudah mencari orang untuk menyelidiki siapa orang yang menyebar foto itu?" tanya pria itu.
"Kemaren, suami teman Adin, sudah menawarkan bantuan. Dia bilang, dia punya kenalan yang bisa membantu, Mas," jawab Al cepat, menutupi kegugupan karena tiba-tiba ditanyai.
"Siapa orang itu?" tanyanya kembali.
"Tidak tahu namanya, Mas," ucap Al menelan ludah.
"Mas Candra, Pa," sahut Dinda pelan tapi masih terdengar jelas.
"Candra anak teman Mama, kamu?" ulangnya.
"Iya, Pa," jawab Dinda sambil mengangguk.
"Maksud kamu, Candra yang pernah datang mengantar, kamu?" tanya Al turut memastikan.
"Iya, Yah." Dinda kembali mengangguk.
"Kapan Candra ke mari?" tanya Zahir. Papa dari Dinda.
"Mung---."
"Assalamualaikum."
Dinda menghentikan ucapannya ketika ada suara yang mengucapkan salam dari arah luar.
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka serempak dan penasaran.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....