Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 24 Kumara dan Kaamil


__ADS_3

...'Jangan menilai seseorang hanya karena luarnya saja, tapi nilai lah kepribadiannya juga. Karena sesuatu yang tampak, belum tentu itu yang sebenarnya.'...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


"Mara, Kamu nggak apa-apa?" tanya Dinda panik sambil mendengati Mara.


"Kak," balas Mara lirih.


"Kita ke rumah sakit, ya?" ajak Dinda.


Mara menggeleng samar sambil melirik Kaamil yang berdiri di samping Dinda turut khawatir. "Kak," panggil Mara tersirat sebuah isyarat.


Dinda terdiam, keningnya berkerut dalam, perlahan Dinda membungkuk dan mendekatkan tubuhnya guna mendengarkan apa yang hendak diucapkan Mara.


Satu kalimat yang Mara ucapkan, berhasil menghilangkan kegelisahan yang tadi hinggap tidak menentu.


"Perut Aku sakit, karena tamu bulanan Kak," bisik Mara sekecil mungkin agar tidak terdengar Kaamil.


"Huuf, Kakak kira tadi kamu sakit yang serius," ucap Dinda lega menegakkan tubuhnya.


"Emang ini nggak serius?" tanya Kaamil cepat.


"Nggak, ini nggak serius ... ini sakit yang biasa sering dialami cewek," jelas Dinda membuat Kaamil bingung.


"Maksudnya?" tanya Kaamil menelisik Mara yang semakin meringkuk.


"Mara lagi kedatangan tamu bulanannya, makanya Dia sakit perut," jelas Dinda santai.


Mara melotot kaget. Maksud Mara berbisik tadi agar Kaamil tidak mendengarnya, karena Dia malu. Namun, dengan entengnya Dinda mengatakan hal itu. Mara tertunduk malu, menyembunyikan wajahnya.


"Oh," seru Kaamil kiku sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tidak tahu kalau yang dialami Mara adalah sakit karena datang bulan.


Kaamil melirik Mara yang terlihat masih menahan sakit. "Terus, biar sakitnya hilang gimana, Kak?" Kaamil menoleh pada Dinda.


"Pembantu di rumah ini lagi nggak ada ya, Mara?" tanya Dinda. Walau sebenarnya Dia sudah tahu, tapi memastikan pada pemilik rumah ... itu jauh lebih bagus.


"Mudik, Kak?" ucap Mara pelan.


"Kalau gitu, dapurnya Aku pakai ... nggak apa-apa, kan?" tanya Dinda meminta ijin dan dibalas anggukan oleh Mara.


"Kamu ikut Kakak, ke dapur," ajaknya pada sang Adik.


"Sebentar ya, Mara?" ujar Kaamil meminta ijin.


Dinda dan Kaamil langsung turun dari lantai atas menuju dapur. Tidak sulit bagi keduanya untuk menemukan dapur, karena rumah nya hampir sama dengan rumah mereka.


"Mau ngapain sih, Kak?" sembari mengikuti Dinda ke dapur, Kaamil memberi pertanyaan.


Dispenser

__ADS_1


"Masakin air gula merah pakai jahe," jawab Dinda santai.


Setibanya di area dapur, Dinda langsung beraksi. Membuka lemari dan laci, guna menemukan apa yang Dia cari.


Kaamil hanya memperhatikan Dinda sambil duduk di kursi yang ada. Dia tidak tahu yang Kakaknya cari.


"Ah, ini dia," seru Dinda menemukan alat kompres.


Dinda berjalan di mana ada dispenser, yang berada di sudut ruangan. Membuka tutup kompres, Dinda mengisinya dengan air panas.


"Ini, kasih ke Mara ... biar perutnya dikompres dulu." Dinda menyerahkan kompresi yang langsung disambut Kaamil.


"Oke." Kaamil segera berbalik badan dan kembali ke lantai atas.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Sepeninggal Kaamil, Dinda segera mencari bahan yang akan direbus. Mencari jahe merah di dalam kulkas, dan gula aren atau merah di dalam lemari.


Melihat Mara seperti itu, Dinda menebak ... kalau sakitnya Mara bukanlah pengalaman pertamanya. Jadi, dengan kata lain pasti akan ada jahe dan gula aren di dapur tersebut untuk dibuat minuman penghangat perut.


"Ada," monolog Dinda.


Memotong-motong gula merah agar lekas larut, dan menempatkannya dalam wadah kecil. Kini Dia mengupas beberapa ruas jahe, mencuci dan meng'gepreknya.


Menyalakan kompor dan menaruh panci kecil yang berisi air kurang lebih dua gelas.


"Mara, kata Kak Adin ... perutnya dikompres dulu," ucap Kaamil ketika mendekati Mara.


Mara mengangguk paham. Sebenarnya Dia juga tahu akan hal itu. Namun, rasa sakit yang teramat sakit di perutnya membuat batas ruang geraknya, untuk pergi ke dapur. Terlebih lagi, para pembantu tidak ada karena mudik lebih dulu dari biasanya.


"Terimakasih." Mara perlahan mengambil alih kompres nya.


Kompres sudah berada di tangan Mara, tapi Dia enggan untuk memakai dan itu membuat kening berkerut. "Kenapa, nggak dikompres?" tanya Kaamil tiba-tiba.


"Emmm, bisa nggak ... kamu, balik badan?" balas Mara bertanya pelan dan malu.


Kaamil tersentak kecil menyadari kalau dirinya masih berdiri di dekat kasur dan memperhatikan Mara.


"Maaf," ujar Kaamil lekas berjalan menjauh ke arah meja belajar dan berpaling. Mendadak Kaamil salah tingkah, dan bingung hendak berbuat apa.


Tadi Kaamil sudah sangat kawatir dengan keadaan teman sekantor nya itu, dan jujur saja ... mungkin masih ada terselip rasa tersebut.


Semua berawal dari Kaamil yang menanyakan Mara melalui sambungan teleponnya, tentang ketidak hadiran nya di kantor dan Mara mengatakan sedang sakit. Kaamil pun berniat mengunjunginya, saat akan mematikan ponselnya Dia malah mendengar rintihan kesakitan dari Wanita tersebut.


Di sinilah Kaamil, berada tak jauh dari tempat tidur wanita yang tadi Dia kawatir 'kan.


Hening ... suasana mendadak sunyi. Di tengah situasi tersebut, tiba-tiba saja ada seseorang yang menganget 'kan mereka.


"Sedang apa kalian?!" tanya seseorang dari ambang pintu sambil berteriak.

__ADS_1


Kaamil dan Mara terkejut bukan main dan langsung menoleh ke asal suara. "Mas Arif," pekik Mara tersentak lagi.


Buru-buru Mara menurun 'kan pakaiannya dan menyimpan kompres nya, itu pun mendapat perhatian orang tersebut. "Kami tidak melakuan apa-apa, Mas," jelas Mara cepat dan mencoba bangkit dari tidurnya.


"Kau pikir, Aku bodoh? Jelas-jelas kalian berada di dalam satu kamar? Apa kalian sedang berzin4h?" tanyanya dingin dan datar bertubi-tubi sembari menuduh.


Mara menggeleng, kakinya seketika lemas, hatinya dirundung rasa takut yang teramat besar. Tenggorokan nya memanas dan menguap menjadi air mata.


Kaamil masih diam karena shok, pertanyaan yang terkesan menuduh membuat dadanya bergemuruh.


"Tidak, Mas. Ini tidak seperti yang Mas pikir 'kan," ucap Mara mencoba menjelaskan dengan suara yang bergetar ketakutan sambil menahan sakit.


"Tidak seperti yang Aku, pikir 'kan? Tapi yang tadi Aku lihat itu, apa?" Dia hanya menyimpulkan baju yang terbuka dan tidak melihat kompres nya.


"Memangnya apa yang Kau, lihat? Hingga berpikiran picik seperti itu?" tanya Kaamil geram.


Arif tersenyum sinis dan membalas tatapan tajam Kaamil. "Kalau Kau pikir, Aku tidak bisa membaca situasi ini ... maka Kau salah besar," jawabnya yakin.


"Kau pikir, Aku tidak melihatnya?! Seorang wanita tengah berbaring di atas kasur, dan baru saja menurunkan bajunya yang tersingkap. Tidak jauh dari tempat wanita itu berada, ada seorang Laki-laki. Di dalam ruangan yang sama ... Kau pikir, Aku t0l0l?" hardik Arif menunjuk Kaamil.


"Mas, ini tidak seperti itu," kembali berusaha menjelaskan.


"Kau, memang melihat itu ... tapi yang Kau lihat, belum tentu sama yang Kau pikirkan, B0D0H!!" balas Kaamil meninggikan suaranya.


Tangannya mengepal. Jika tidak melihat Mara sedang menangis, ingin sekali Kaamil menghajar Lelaki yang sudah menuduh mereka tanpa bukti yang jelas.


"Aku tidak akan percaya semudah itu," sergah Arif marah.


"Dasar, B0D0H," ujar Kaamil tidak habis pikir.


"Mas, Aku bisa jelaskan," kata Mara terisak sambil mendekat.


"Berhenti di situ, Kumara!!" ucapnya mengangkat telapak tangan, tanda tidak ingin didekati.


"Mulai saat ini, pertunangan kita berakhir," ujar Arif sebelum pergi meninggalkan mereka.


Mara histeris dan terduduk, rasa sakit di perut tidak sebanding dengan sakit hatinya akan penolakan Arif untuk mendengar penjelasan nya.


Kaamil geram, dengan langkah cepat menyusul Arif.


"Mil," panggil Dinda yang baru ke luar dari dapur sambil membawa napan yang terdapat satu gelas berisi rebusan jahe dan gula merah.


"Mau ke mana, Mil?" ulang Dinda sambil bertanya.


Dinda sedikit heran dengan kepergian Kaamil yang terkesan berlari dan tidak mendengar panggilannya.


"Ada apa?" tanya Dinda pada diri sendiri dan langsung naik menuju kamar Mara.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2