Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 14 Turut bahagia.


__ADS_3

...'Nikmatilah kebersamaan ini sebelum semuanya hanya menjadi sebuah kenangan.'...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Dinda dan Adit berpisah di persimpangan jalan karena berbeda tujuan. Dinda sudah menghubungi teman-temannya, memastikan mereka berkunjung ke butik Rahimah sesuai janji.


Tepat ketika Dinda sampai, mobil Soraya pun sampai dan terparkir sempurna yang ternyata di dalamnya juga ada Nurul karena ikut menumpang.


"Jadi Nuri-nya tinggal?" tanya Dinda ketika sudah bergabung dengan Nurul dan Soraya di depan sebuah butik yang cukup besar.


"Iya, tadi lagi asyik main dia! Ayo kita ke dalam," ajak Nurul sambil memimpin jalan.


"Assalamualaikum," mereka menyapa seorang wanita yang sebelumnya memang sudah mereka lihat dari balik kaca pintu.


"Wa'alaikumussalam, nona-nona," ucapnya seraya sedikit membungkukkan badan.


"Sudah berapa kali saya bilang, mbak Jihan? Jangan panggil kami nona, tapi panggil aja pakai nama," kata Soraya melarat panggilan mereka sambil tersenyum kepada wanita yang diketahui adalah asisten temannya.


"Itu terlalu lancang nona," balas Jihan segan.


"Tidak apa-apa, mbak. Kalau mbak Jihan nggak nurut, biar nanti aku suruh Imah pecat mbak Jihan aja," ancam Nurul serius.


"Jangan nona, jangan ...." Jihan menggeleng cepat, karena takut jika itu benar-benar dilakukan Nurul.


"Kalau begitu, panggilannya dirubah," kata Dinda menimpali.


Bukan tanpa alasan mereka seperti itu, walau Jihan nampak seumuran dengan mereka, ternyata usianya lebih tua dan itu membuat mereka tidak enak hati. Sudah beberapa kali juga mereka berdepat hanya karena soal panggilan.


"Baik nona, emmm maksud saya ... Dinda," ujar Jihan ragu-ragu.


"Gitu dong mbak Jihan. Oiya, Imah di mana?" kata Dinda sambil bertanya.


"Di ruang kerja."


"Kalau Gitu, kami ke atas dulu ya mbak! Sepertinya banyak banget pelanggannya," ujar Nurul sambil melihat sekeliling yang lumayan banyak pelanggan.


"Silakan." Jihan mengangguk sopan.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


.


"Assalamualaikum," salam serempak mereka ucapkan ketika sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Rahimah dan langsung membukanya.


"Wa'alaikumussalam," balas Rahimah sambil berdiri dan berjalan mengitari meja kerjanya guna mendekati mereka.


"Lagi ngerjain apa?" tanya Soraya melirik meja di mana tadi Rahimah tengah menyibukkan diri.


"Lagi gambar. Ayo duduk dulu." Rahimah membawa mereka duduk di sofa panjang.


"Nuri nggak ikut, Rul?" tanya Rahimah sambil mencari keberadaan anak Nurul.


"Nggak. Lagi main sama neneknya tadi, jadi nggak mau ikut."


"Besok datang ke rumah aku ya, Imah! Mau ada acara empat bulanan," suruh Soraya sambil menerangkan.


Sebelum memutuskan ke butik Rahimah, tadi mereka sudah membahas acara empat bulanan Soraya ditelepon.

__ADS_1


"Wah nggak terasa ya, sudah empat bulan aja," seloroh Rahimah sambil mengusap perut temannya yang mulai buncit.


"Nggak terasa bagimu, lah bagiku ... rasanya sudah berbulan bulan," kesal Soraya.


"Hehe, iya ya ... kamu'kan tiap pagi harus setor ke kamar mandi dulu ya?" Rahimah meringis sadar salah bicara.


Soraya yang masih hamil muda setiap pagi selalu mengalami morning sickness, dan sekarang Rahimah menganggapnya begitu cepat berlalu sehingga Soraya menjadi kesal.


"Heran deh aku, perasaan waktu hamil Rayan nggak gini gini amat," keluh Soraya.


Dinda yang melihat interaksi keduanya sedang membahas kehamilan, tiba-tiba terusik. "Syukuri apa yang kamu rasakan saat ini, karena tidak semua perempuan bisa merasakannya," kata Dinda sendu.


Dinda tentu turut bahagia melihat teman-teman dengan keluarga kecil mereka, tapi di lubuk hatinya ada rasa sedih yang dipendam. Namun, Dinda tidak ingin barlama-lama larut dalam kesedihannya.


Ketiganya menatap Dinda prihatin. Disaat temannya itu hendak menjalankan program bayi tabung, tapi ternyata malah digugat cerai sang suami.


"Jangan sedih begitu. Kami yakin, sebentar lagi kebahagian yang tiada tanding akan hadir kepada kamu Din," hibur Rahimah merangkulnya sayang.


"Aku nggak sedih kok," elak Dinda menutupi kesedihannya.


"Apa lagi bakalan ada bayi lagi, di antara kita," sambungnya dengan senyum yang dipaksakan sambil ikut mengusap perut yang belum terlalu terlihat.


"Iya, sebentar lagi bulan Ramadan ... jadi buang jauh-jauh kesedihan dan jemput kebahagian di bulan puasa," ujar Nurul menimpali.


"Jadi jam berapa acaranya?" tanya Rahimah mengalihkan topik.


"Jam dua siang. Ajak sekalian mas Abdar sama Rahman ya!"


"Insya Allah," janji Rahimah.


Lama saling mengobrol, meraka pun dikejutkan oleh kedatangan suami dari Rahimah.


"Wa'alaikumussalam," jawab mereka berempat.


"Mas." Rahimah langsung menyalami suaminya.


"Wah, lagi ngumpul rupanya?" kata Abdar sambil memperhatikan mereka bertiga.


"Mas Abdar, cepat bener pulang kantornya," heran Nurul.


"Baru juga jam tiga," lanjut Nurul melirik waktu dilengan nya.


"Tadi ada keperluan, jadi pulang lebih dulu."


"Kasian ya, mas Adit ... pasti kerepotan jadi asistennya mas Abdar," sindir Dinda.


Abdar meringis, sadar karena telah di sindir oleh sahabat istrinya "Sayang, ingat sama rencana kita waktu itu 'kan?" elaknya merubah topik pembicaraan.


"Rencana apa Mas?" tanya Rahimah sambil mengerutkan kening.


"Itu ... rencana kita yang mau ke Malaysia," ujar Abdar.


"Malaysia?" beo mereka serempak tersentak kecil.


"Kenapa Mas?" tanya Rahimah mengabaikan rasa terkejut Dinda dan yang lain.


"Habis lebaran saja ya berangkatnya, nggak apa-apa kan?" tanya Abdar.

__ADS_1


"Aku sih terserah mas Abdar aja, emang kenapa mas?" balas Rahimah bertanya.


Dinda mengerjakan mata guna mencerna pembahasan sepasang manusia dihadapan mereka tersebut dan mulai paham.


"Nggak apa-apa, cuman lusa kita juga harus berangkat."


"Hah, maksudnya?" kata Rahimah tidak mengerti.


"Lusa kita berangkat Umroh."


"Hah, Umroh?" pekik mereka berempat.


"Mas, kok dadakan sih?" keluh Rahimah.


"Enggak dadakan sayang, emang sudah direncanakan."


"Kalau pergi umroh, berarti kita akan melewati sahur pertama di sana dong?!"


Dinda, Soraya dan Nurul saling pandang. Karena tidak dihiraukan oleh Abdar dan Rahimah, mereka memutuskan untuk diam menyimak pembicaraan pengantin yang masih terbilang baru tersebut.


"Iya sayang, karena Rahman dulu bilang dia mau liburan ke Malaysia. Dan waktu itu aku lupa kalau sebenarnya sudah punya rencana! Jadi biar dia puas, habis lebaran kita tinggal lama di Malaysia! Kalau pulang Umroh, takutnya kamu kecapekkan."


"Tinggal lama?" heran Rahimah.


"Hmmm, dua minggu."


"Apa itu nggak apa-apa, Mas?"


"Apa yang kamu takutkan? Jelaslah, itu tidak apa-apa."


Dinda seketika memajukan bibir bawahnya. Bukan apa-apa, Dinda hanya teringat Adit yang baru saja mengatakan jika Adit sudah mulai mempunyai waktu luang.


Namun, mendengar Abdar berkata demikian, bisa Dinda pastikan kalau Adit akan kembali disibukkan oleh tumpukan pekerjaan.


"Apa itu tidak akan merepotkan mas Adit, Mas? Nanti dia bisa kesulitan menangani kantor kalau kamu nggak ada," keluh Rahimah yang sempat melihat Dinda.


"Tenang saja, di kantor sudah mas tambahkan asisten baru buat bantu-bantu Adit. Jadi jangan terlalu dipikirkan," ucap Abdar menenangkan.


"Emang bener?" gumam Dinda pelan sekali.


Soraya dan Nurul yang berdiri di samping Dinda tertawa tertahan karena samar terdengar, mereka tahu kalau Adit mulai mendekati Dinda.


"Tapi kita belum ada persiapan Mas."


"Tenang saja, semua sudah beres."


"Baiklah, Mas," pasrah Rahimah.


"Oiya Mas, tadi Soraya mengundang kita buat acara empat bulanannya, mas bisa datangkan?" tanya Rahimah.


"Bisa! Jam berapa?" Abdar langsung bertanya pada Soraya.


"Jam dua siang, mas."


"Oke, kami akan datang." Abdar segera mengiyakan.


Tanpa mereka sadari Dinda mengusap sudut matanya yang berair. Pernikahan teman-temannya itu sedikit membuat hatinya iri dan kecil hati, tapi juga bersyukur karena hanya dirinya yang mengalami kegagalan.

__ADS_1


Semoga kalian selalu bahagia.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2