
Usai menghabiskan minuman dan kudapan mereka, Candra dan Luna langsung pergi dari cafe. Mereka berpisah di parkiran dengan tujuan berbeda. Jika Candra kembali ke kantor, maka Luna akan mampir ke Rutan menemui Danu yang diduga sebagai tersangka utama.
Di perjalanan ....
Di sepanjang perjalanan menuju kantornya yang jaraknya hanya memerlukan waktu lima belas menit dari Cafe. Candra terus saja terusik dengan satu nama yang tadi sempat Luna sebutkan.
Sesampainya di ruang kerja, dia menghubungi seseorang untuk ditugaskan mencari informasi tentang wanita yang dikatakan Luna.
Praduga siapa kiranya wanita itu selalu mengusik setengah pikirannya dari pekerjaan, membuatnya tidak dapat berkonsentrasi. Candra tengah melamun, ketika ada orang yang masuk ke ruangannya dan duduk berhadapan.
"Ada apa?" tanya Lintang yang tiba-tiba menyadarkannya.
Mereka memang satu kantor, karena perusahaan yang menaungi mereka adalah perusahaan keluarga. Namun, Candra menempati sebagai manajer perusahaan, dan Lintang adalah derektur utama di tempat tersebut.
Akan tetapi, jelas Lintang tidak tahu jika Candra juga telah membangun perusahan sendiri. Berawal dari sebuah proyek yang dia dan salah satu murid sekaligus rekannya di dunia perentasan (ada yang tau, siapa rekannya Candra 😊). Mereka pun mendirikan perusahan propeti.
Candra mendongkak dan menatap saudara sepupunya. Satu helaan napas berat lolos begitu saja dari hidung mancungnya
"Tadi aku menemui Luna," aku Candra sambil bersandar.
Lintang melotot mendengar pengakuan Candra sembari berkata was-was, "Ngomongin apaan?" desaknya.
"Hehe, sorry ... aku kecoplosan tadi, Mas," Candra meringis melihat mata tajam Lintang.
"Ckk ... kamu ini," kesal Lintang sambil bersandar dengan kasar.
"Kenapa sampai kecoplosan? Aku, kan, sudah bilang! Aku akan merubahnya sedikit demi sedikit, tapi kenapa kau mengacaukannya?"
"Itu karena istrimu mengenal pelaku. Jadi aku tidak bisa menahan diri lagi, untuk tidak menanyainya agar memberi informasi apa saja yang dia tahu tentang Danu," kata Candra membela diri sambil meringis.
"Jadi ... apa hasilnya?"
"Jeni. Kata Luna, dia sempat mendengar Danu menyebut nama itu ditelepon."
Lintang menghela napas berat. "Sekarang masalahku akan pertambah rumit gara-gara, kamu," kesalnya mendelik tajam
Untuk kesekian kalinya, Candra meringis melihat Lintang yang kesal. Namun, dia tahu, jika sepupunya itu tidak benar-benar serius marah padanya.
__ADS_1
"Hehe, maaf, Mas," sesal Candra sambil tersenyum canggung.
"Jangan-jangan, ketika aku pulang ke rumah nanti ... aku malah disuguhkan surat cerai," gerutu Lintang sembari menggelengkan kepala.
"Haha, itu tidak akan terjadi, Mas," ucap Candra menghiburnya.
"Istriku itu tidak gila uang, dia bahkan rela terlihat buruk agar aku mau menceraikannya. Apa lagi sekarang dia tau jika kita mengetahui aktingnya," Lintang tersenyum kecut, tangannya terulut mengambil satu pena untuk dimainkan di sela-sela jarinya.
"Iya, aku tahu! Karena aku sebagai temannya sudah sangat mengenal sifatnya. Dia tidak akan mudah diajak bicara jika berhubungan tentang sesuatu yang tidak dia suka, maka dari itu ... kadang aku kesal melihatnya yang masih saja berusaha agar dicerailan olehmu."
"Kenapa kau malah membahas masalahku dan istriku? Seharusnya, kau mempertanggung jawabkan mulutmu yang sudah membocorkan semua itu," kata Lintang sambil melempar pena ke arah Candra yang langsung sigap menangkapnya.
"Sudah kukatakan, itu karena istrimu mengenal pelaku. Jadi, tanpa pikir panjang aku mengatakan semua itu."
"Masalahmu menemukan titik terang! Tapi aku? Sepertinya akan tambah runyam."
"Hehe, kayanya pertu stok kesabaran ya, Mas. Buat malam pertama yang tertunda," ejek Candra.
Lintang langsung berdiri kesal, "Kau pikir aku tidak tau? Kau pasti juga belum mendapatkannya! Dan kita sama-sama belum dicintai istri kita," ejek Lintang membalas.
Candra berdecak sambil menggoyangkan kursinya ke kiri dan kanan. "Itu jelas berbeda! Aku menikahinya, karena menggantikan calon suaminya. Dan itu tidak ada rencana sebelumnya," balas Candra tidak mau kalah.
"Tapi aku lebih unggul dari, Mas Lintang," ucap Candra tersenyum misterius membuat kening Lintang berkerut.
"Aku bisa menyuruhnya tidur satu kamar denganku, tanpa paksaan," ucap Candra menahan tawa.
"Sialan, kenapa jadi malah bahas masalah ini?" gumam Lintang sambil beranjak pergi, tapi masih terdengar oleh Candra.
Candra tertawa lepas. "Itu karena, Mas Lintang yang memulainya," ujar Candra sedikit keras, karena Lintang sudah menghilang dibalik pintu.
Candra masih tertawa melihat kekalahan saudara sepupunya. Namun, seketika berhenti ketika memikirkan masalah Dinda.
"Aku akan segera menyekesaikannya," gumam Candra berjanji.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Waktu terus berjalan, langit mulai memudar berganti dengan kemerahan. Jalanan yang legang mulai dipadati oleh orang dan pekerja dari berbagai kalangan juga aktivitasnya hari ini. Di dalam ruang kerjanya yang sangat nyaman, Dinda masih menyibukkan diri guna membunuh waktu hingga orang yang menjemputnya datang.
__ADS_1
Dia masih asyik dengan kertas laporan pemasukan keuangan, ketika ponselnya berbunyi memecah kesunyian.
Melirik ponsel di samping tangannya yang tengah menyala sembari menampilkan deretan angka-angka tanpa ada nama. Tangannya terulur guna menggapainya, namun dia tak lantas menjawab. Dinda diam sambil mengabsen satu demi satu angka tersebut. Tanpa dikomando, otaknya bekerja untuk mengingat, apakah dia mengenalnya atau tidak?
Dinda mengerutkan kening, saat menyadari bahwa dia memang tidak mengenal nomor yang kini sudah menghilang bersama layar ponsel berubah hitam.
Dinda mengangkat bahu acuh, dan meletakkan kembali ponsel itu pada tempatnya semula. Menyakini kalau panggilan tadi hanyalah orang iseng yang melakukannya, dan kalau telepon itu penting ... maka pasti akan segera menghubunginya lagi.
Benar saja! Baru tangannya bergerak hendak membuka lembaran kertas, ketika ponsel itu berbunyi lagi setelah lepas beberapa detik.
"Hallo, Assalamualaikum," sapa Dinda sopan.
Dinda membelalakkan mata ketika terdengar suara sahutan dari sebrang sana. Dia menjauhkan ponselnya dan menatap sekilas angka itu, sebelum akhirnya kembali menempelkannya pada kuping yang terbungkus kerudung.
"Iya Mas," sahut Dinda.
"Baik, aku segera keluar. Wa'alaikumussalam." Dinda mematikan sambungan telepon dan segera membereskan mejanya.
"Oya iya. Aku, kan, selama ini nggak punya nomor teloponnya Mas Candra. Tapi .., dia dapat dari mana nomorku?" monolog Dinda dengan tangan yang bergerang membenahi mejanya.
"Sudah, pasti Mas Candra sudah sampai."
Dinda langsung keluar ruangan dan menemui Nena, memberitahukan asistennya sebelum dia pergi. Usai berpamitan, Dinda ke tempat parkir dan sudah terlihat jika suaminya baru saja turun dari mobil.
"Assalamualaikum, Mas," sapa Dinda mengulurkan tangan.
Dinda tahu, dia harus membiasakan diri untuk menerima Candra sebagai suaminya. Candra langsung menyambut tangannya. Ketika Dinda mencium punggung tangan itu, tanpa diduga ... Candra mendaratankan kecepun singkat di keningnya.
Sempat terkesiap, karena belum terbiasa mendapat perlakuan seperti itu. Namun, dia berusaha bersikap biasa.
"Ayo!" ajak Candra membukakan pintu di samping kemudi.
Dinda masuk sambil tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Candra. Entah mengapa Dinda sangat suka diperhatikan seperti demikian. Walau itu sangat sederhanya.
"Mungkin ini akan menjadi awal kebahagianku."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1
Yang belum kenal sama rekan Candra dalam urusan perentasan, bisa mampir di karya ini ya. 😊