Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 26 Orang Misterius.


__ADS_3

...'Cinta mampu menerima kekurangan, dan cinta ada untuk saling melengkapi kekurangan.'...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


"Astaghfirullah hal azim, jadi Pria itu menuduh kalian?" pekik Dinda tersentak kaget.


"Awww, sakit Kak," keluh Kaamil ketika Dinda tanpa sadar menekan luka dibagian wajahnya saat mendengar ceritanya.


Saat ini keduanya sedang berada di dalam kamar Kaamil. Dinda membantu adiknya mengobati luka bekas hantaman Arif sambil menginterogasi Kaamil.


"Bener-bener ya, nggak mikir apa itu orang?" ucap Dinda bersunggut-sunggut menghiraukan Kaamil yang kembali mengaduh.


"Kak, bisa pelan nggak sihh?" keluh Kaamil kesal, karena Dinda mengobatinya sambil meluapkan emosi pada Arif.


"Lagian itu orang, nggak bisa apa melihat situasinya? Kamu berdiri jauh, 'kan dari Mara? Seharusnya Dia tanya baik-baik, dan dengar dulu pembelaan kalian!" kata Dinda kembali mengabaikan Kaamil.


"Udah ahh, biar Aku obatin sendiri aja," ujar Kaamil hendak mengambil salep di tangan Dinda.


"Biar Kakak, saja," sahut Dinda cepat, menjauhkan salep nya dan mendorong tangan Kaamil.


Kaamil menatap Dinda kesal, ketika Dia mengaduh kesakitan Kakaknya itu tidak meresponnya. Namun, saat hendak mengambil alih salep tersebut ternyata langsung menangkis nya.


"Kalau Dia tunangan Mara, Kakak yakin ... masalah ini akan berlanjut dan orang tua Mara akan turun tangan," sambung Dinda sambil berpikir.


"Iya, Aku pikir juga gitu," sahut Kaamil sendu.


"Kamu tinggal siap-siap aja. Siapa tahu nanti dipanggil orang tua Mara sebagai terdakwa, karena sudah berani menghajar calon mantu orang," ucap Dinda sambil bergidik ngeri.


"Kalau Aku dipanggil sebagai terdakwa, maka Kakak hadir sebagai saksi," ujar Kaamil santai.


"Kenapa Kakak, dibawa-bawa?" protes Dinda.


"Karena Kakak, memang saksi waktu Aku hajar Dia."


"Nggak akan semudah itu, Mil. Mungkin aja, orang tua Mara lebih percaya sama calon mantu nya," kata Dinda memikirkan kemungkinan pembelaan mereka.


"Bukan calon mantu, tapi mantan calon mantu," larat Kaamil.


"Itu kata Kamu, tapi siapa tau Dia nggak jadi batalin tunangannya," sanggah Dinda.


"Aku do'ain, tunangannya batal aja sekalian," sumpah Kaamil kala teringat kata-kata Arif.


"Huss, jangan sembarangan Kamu, Mil."


"Orang yang dengan mudahnya memutuskan sebuah hubungan, hanya berdasarkan apa yang Dia lihat, tanpa memberikan kesempatan untuk orang lain menjelaskannya. Maka sudah jelas ... kalau Dia orang yang sangat egois," kata Kaamil yang dibenar Dinda.


"Trus, apa yang akan Kamu lakukan ... kalau Kamu dipanggil orang tua Mara? Kakak jadi khawatir, gimana kalau mereka lapor polisi?"


"Entahlah." Kaamil mengangkat bahunya lemas.

__ADS_1


"Kalau Kamu sampai terlibat dalam urusan besar, mau tidak mau kita harus memberi tahu Mama dan Papa," usul Dinda menatap Kaamil lekat.


"Jangan, Kak." Kaamil menggeleng cepat, tidak setuju memberi tahu kedua orang tua mereka.


"Tapi kita tidak akan bisa menyelesaikan nya sendiri, Mil," kata Dinda sambil menyimpan salep nya.


"Insya Allah, bisa Kak. Biar Aku selesai 'kan sendiri dulu," ucap Kaamil memelas.


"Ya sudah, kita berdo'a saja ... semoga masalah ini tidak berlanjut," harap Dinda.


"Oiya, Kakak telepon Bunda dulu. Bilang, kalau kita pulang dan akan nginap di sini." Dinda segera mengambil ponselnya dan menghubungi Vita tanpa menunggu jawaban Kaamil.


Selagi Dinda berbicara dengan Vita, Kaamil juga mengotak atik ponsel miliknya dan mengirim pesan pada seseorang.


📨"Assalamualaikum, Mara. Maaf tadi pulang tidak pamit dulu," tulis Kaamil dalam pesannya.


Kaamil yakin, sekarang Mara pasti sudah tahu tentang perkelahian nya dengan Arif. Dia hanya harus menjelaskan, kalau perkelahian mereka tadi tidak sampai membuat calon suaminya masuk rumah sakit.


Tidak lama pesan balasan masuk.


📨"Waalaikumsalam, Kaamil. Kenapa Kamu malah berkelahi sama Mas Arif? Apa Kamu baik-baik saja?"


📨"Iya, Aku baik-baik saja. Arif juga baik-baik saja, walau calon suamimu sedikit terluka. Maaf, karena membuat calon suamimu terluka," tulis Kaamil cepat.


📨"Seharusnya, Aku yang meminta maaf padamu, Aku tau alasan Kamu menghajar Mas Arif, pasti karena Kamu sakit hati atas tuduhannya ' kan?"


📨"Tidak masalah. Bagaimana dengan orang tuamu? Mereka sudah tau, tentang perkelahian Kami?"


📨"Iya, mereka sudah tau."


Kaamil memejamkan matanya, kala membaca pesan Mara. Itu memang sudah diprediksi Dia dan Dinda tadi. Namun, terasa berbeda ketika mengetahuinya langsung dari Mara, kenapa seperti dihadapkan dengan ribuan algojo.


📨"Kapan pun orang tuamu memanggilku, Aku akan datang."


Menghela napas dalam, Kaamil langsung menyimpan ponselnya tanpa menunggu pesan balasan Mara. Dia hanya perlu menyiapkan diri, jika orang tua Mara meminta pertanggung jawabannya atas Arif.


"Mil."


Panggilan dari Dinda membuyarkan lamunan singkatnya.


"Iya, Kak?"


"Kakak sudah izin, sama Bunda. Sebaiknya Kamu izin juga di kantor, dan istrahat saja dulu." Kaamil mengangguk dan segera menghubungi rekan nya.


Ternyata tidak ada balasan dari Mara ketika Kaamil membuka ponselnya.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Beberapa hari kedepan Kaamil memilih cuti dari kantor, Dia tidak ingin orang-orang kantor mengetahui tentang luka lebam di wajahnya. Namun, Kaamil tetap mengerjakan pekerjaannya di rumah.

__ADS_1


Dinda juga memilih tinggal di rumah mereka menemani Kaamil. Langsung siaga jika Adiknya itu perlu sesuatu, yang mendapat protes dari Kaamil.


"Aku bukan anak kecil, Kak. Aku bisa sendiri," keluh Kaamil saat Dinda akan membantunya membukakan bungkus obat.


"Tapi 'kan, Kamu lagi sakit."


"Yang luka muka Aku, bukan tangan Aku," debat Kaamil.


Hari-hari mereka menunggu panggilan orang tua Mara dengan hati was-was, tapi sampai seminggu pun tidak ada yang meminta Kaamil untuk datang ke rumah Mara, atau polisi datang menangkapnya.


Mereka sedikit merasa heran. Kenapa masalah yang sudah diketahui orang tua Mara, malah tidak menuntutnya sama sekali.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Hari ini tidak seperti biasanya. Jika biasanya Dinda akan pulang cepat di sore hari sebelum buka puasa, maka hari ini Dia pulang di malam hari.


Dinda yang sedang kedatangan tamu bulanannya, memilih menemani karyawan di restorannya. Sang Adik pun sudah diberi nya kabar, jika nanti Dia akan pulang telat.


"Nona, semua sudah pulang. Apa Nona juga pulang sekarang?" tanya Nena menyambangi Dinda di dalam ruangannya.


Dinda mengangkat pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 23:34. Sudah hampir tengah malam.


"Kamu pulang saja duluan, Nena. Aku akan pulang nanti. Masih ada seditik kerjaan, nih" kata Dinda.


"Apa sebaiknya, bareng saja Nona?" usul Nena yang langsung mendapat gelengan dari Dinda.


"Tidak usah, Kamu pulang duluan saja."


"Baiklah, Nona. Saya permisi."


Karena keasyikan dengan pekerjaannya, Dinda pun tidak sadar bahwa waktu sudah dini hari.


"Astaga, ini sudah jam satu," pekik Dinda.


"Pasti gara-gara tidur siang tadi, Aku sekarang jadi nggak merasa ngantuk," gerutu Dinda sambil membereskan alat kerjanya.


Semenjak Kaamil terlibat dalam perkelahian dengan Arif, Dinda tidak terlalu fokus dalam bekerja. Sama seperti Kaamil, Dia juga khawatir jika masalah ini berlanjut ke meja hijau.


Alih-alih meja hijau. Panggilan orang tua Mara saja tidak ada, walau hanya untuk meminta tanggung jawab dari sang Adik. Jadi hari ini Dinda sedikit lega.


Dinda mengedarkan pandangnya ketika sudah mengunci restorannya. Satpam yang bertugas sudah pulang, dan tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya.


Dengan santai Dinda berjalan ke tempat parkir, di mana mobilnya tinggal. Mengambil kunci mobil dalam tas, tapi seketika tertahan oleh seseorang yang tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang.


Penglihatan Dinda langsung mengabur, kepalanya terasa sangat amat berat dengan kantuk yang tiba-tiba mendera begitu hebatnya.


BERSAMBUNG ....


Bening 'kan hati dengan dzikir. Cerah 'kan jiwa dengan cinta. Lalui hari dengan senyum. Tetapkan langkah dengan syukur. Suci 'kan hati dengan permohonan maaf. Selamat hari raya Idul Fitri, 1 syawal 1443 H. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, minal aidin wal faizin. 🙏 ☺

__ADS_1


__ADS_2