Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 88 Pertengkaran pertama setelah menikah.


__ADS_3

"Itu," sekilas Candra menoleh pada Dinda dan foto yang menggantung secara bergantian. Hingga manik beningnya menelisik wajah di foto itu dengan tatapan yang bahkan sulit untuk diterjemahkan.


Foto seorang gadis kecil kisaran usia tujuh tahun tengah memeluk boneka beruang berwarna coklat seukuran tubuhnya, dan tersenyum menghadap kamera.


Candra kembali melirik Dinda yang membalas suaminya itu dengan senyum teramat lebar sambil menaik turunkan alisnya seolah tengah menjawab tanda tanya.


"Gadis ini, kan, yang ada di ponselku. Kok bisa ada foto dia di sini?" senyum Dinda seketika menghilang ketika mendengar pertanyaan konyol dari suaminya.


"Kamu temenan ya, sama dia?" Dinda semakin melongo dan kesal bersamaan, karena lagi-lagi Candra bertanya seolah suaminya itu tidak bisa menarik benang merah yang terbentang di antara mereka.


"Ternyata penampilan tidak bisa menjamin bahwa seseorang itu punya otak," gumam Dinda menahan kesal.


"Kamu bilang apa?" tanya Candra penasaran.


"Nggak bilang apa-apa," elak Dinda, "aku lagi mikir aja ... siapa kira-kira yang fotoin Mas Candra, sama gadis ini?" tambahnya bertanya acuh tak acuh sambil memperhatikan layar ponsel Candra yang terdapat sepasang manusia tengah makan es cream bersama.


"Mama aku yang fotoin," balas Candra kembali duduk di samping Dinda. "Kenapa?"


"Kok aku ngerasa, kaya baru kemaren deh kejadiannya," gumam Dinda bermonolog sambil berpikir dan mengingat-ngingat sesuatu.


Dinda mengesampingkan kekesalannya pada Candra untuk sesaat, karena dia memang merasa kejadian itu baru saja terjadi.


"Mana mungkin. Mimpi kali," kata Candra langsung merebut ponselnya.


"Nah, iya benar, mimpi---," seru Dinda kala teringat mimpinya saat di rumah sakit sambil menjentik'kan ibu jari dan telunjuknya hingga menghasilkan bunyi dari telunjuk dan telapak tangan yang beradu.


Dinda menatap Candra dengan senyum ceria seolah tengah mendapatkan sebuah lotre usai pertanyaan yang sejak di rumah sakit memenuhi isi kepalanya. Dia sudah berpikir keras guna mengingat foto yang menjadi sampul ponsel suaminya itu. Dinda yang sama sekali tidak ingat pernah berfoto bersama Candra, dan dia baru tahu kalau laki-laki dalam mimpinya adalah sang suami.


Akan tetapi, sekarang sudah terjawab dan dia baru ingat kalau pernah memimpikan kejadian itu ketika saat pertama kali sadar, walau samar untuk diingat semua.


"Mimpi dengan mata terbuka, itu namanya menghayal."


Kekesalan Dinda yang sempat hilang kini kembali mencuat saat Candra bersuara demikian sambil mengotak-atik ponselnya.


Dinda yang sudah tidak bisa membendung kekesalannya langsung merebut ponsel Candra dengan kasar, hingga sang empunya terlonjat kaget.


"Kamu," protes Candra menatap Dinda dengan tatapan yang tak terbaca.


Dinda tidak peduli dengan layangan protes suaminya. Dia fokus memandang layar ponsel Candra yang kini sudah berganti dengan latar seekor ikan koi.


"Kok diganti?" kini Dinda yang melayangkan protes yang lebih besar dari sang suami.


"Sini!" Candra ingin mengambil ponselnya, tapi segera disembunyikan Dinda.


"Kamu maunya apa sih? Jangan kekanak-kanakan! Kembalikan ponsel aku!" pinta Candra datar.

__ADS_1


"Mas, kamu itu punya otak gak sih?"


"Sulit dipercaya. Kamu ngatain aku nggak punya otak?" tanya Candra menatap Dinda tajam dan datar.


"Sepertinya kamu bener-bener nggak punya otak, Mas," sergah Dinda langsung berdiri.


"Jaga bicaramu! Aku ini suamimu," ujar Candra marah dan ikut berdiri.


"Aku nggak peduli. Ini ambil!" Dinda menarik tangan Candra dan mengembalikan ponsel ke telapak tangan suaminya.


Usai mengembalikan ponsel pada pemiliknya, Dinda langsung berbalik badan dengan kekesalan dan kemarahan yang menumpuk tinggi.


Akan tetapi, baru saja kakinya melangkah, tangannya sudah ditarik kasar oleh Candra hingga dia berbalik dan bertabrakan dengan dada bidang suaminya.


"Tarik kembali kata-katamu itu!" perintah Candra serius.


Dinda menarik diri dan menjauh. Akan tetapi, dia tidak bisa pergi, karena tangannya masih dalam genggaman Candra.


"Nggak," balas Dinda tak kalah serius, "buat apa aku tarik? Kalau itu memang kenyataannya," tambahnya tanpa rasa takut.


"Berani sekali kamu?"


Candra dan Dinda beradu pandang seolah saling mengukur kekuatan masing-masing. Tidak ada yang mau mengalah dengan tatapan keduanya. Seketika suasana di dalam kamar hening dan sunyi, tapi tidak dengan asmofir di sekitar mereka yang terasa panas membara.


Satu detik ....


Tiga detik ....


Empat detik ....


Lima detik ....


Hingga akhirnya Candra lebih dulu mengalah dan menghela napas panjang.


"Jelasin! Kenapa kamu bilang aku nggak punya otak?" tanya Candra lembut.


Dinda membuang muka ke samping dengan wajah sinis. Rasanya enggan untuk menjawab pertanyaan suaminya tersebut.


"Kamu marah, karena aku nggak bisa mengenali foto kamu waktu kecil?" tanya Candra yang langsung membuat Dinda menoleh. Akan tetapi, wajah judesnya masih terselip.


"Iya. Aku sengaja pura-pura nggak kenal sama foto kamu itu," ucap Candra tersenyum tipis.


"Cih, bohong banget," ujar Dinda ketus dan hendak menarik tangannya, tapi tetap ditahan Candra.


"Udah, jangan marah dong! Nanti cantiknya hilang," goda Candra sambil mengapit hidung Dinda.

__ADS_1


"Apaan sih?" kesal Dinda sembari menangkis tangan suaminya.


"Dibilangin jangan marah lagi, malah tambah marah," tanpa peduli dengan kemarahan Dinda, Candra menarik tubuh kecil istrinya ke dalam pelukannya.


"Lepasin!"


Dinda tidak terima dan memberontak ingin melepaskan diri. Namun, bukannya terlepas, Candra malah mengeratkan pelukannya.


"Jangan banyak gerak! Punggungku jadi sakit," keluh Candra.


Seketika Dinda terdiam dan membatu. Suasana kembali menjadi hening, tapi tidak setegang saat pertama.


"Jadi ... apa yang ingin kau dengar?" bisik Candra lembut.


Dinda masih menyimpan kekesalannya. Namun, dia pun tetap bertanya.


"Memangnya tadi, Mas sudah tau kalau itu aku?"


"Iya," jawab Candra pendek.


Dinda mendongkak dan memicing'kan mata menatap wajah yang kini menunduk padanya.


"Berarti, Mas juga tau dong? Kalau foto yang di ponsel itu aku?"


"Iya. Awww," Candra menjawab sembari mengaduh kesakitan, karena Dinda mencubit pinggangnya kesal.


"Jadi, Mas sudah tau kalau itu aku? Tapi, Mas pura-pura nggak tau?"


"Iya. Awww ... Jangan dicubit mulu, ah," keluh Candra memeluk gemas Dinda.


"Aku minta penjelasan dulu!" protes Dinda ingin melepas pelukan.


"Iya, iya ... sini duduk!" Candra membawa Dinda duduk, dan dia pun ikut duduk.


"Jelasin apa?" lanjut Candra sambil merangkul Dinda dan tersenyum manis.


"Sejak kapan, Mas tau kalau foto di ponsel itu aku? Dan kenapa nggak langsung bilang aja dari awal?" cecar Dinda dan menuntut penjelasan.


"Kasih tau nggak, ya? Eh iya, iya aku kasih tau," ujar Candra cepat dan langsung menahan tangan Dinda yang bergerak mendekat ke arah perutnya.


"Jelasin!" ucap Dinda menatap serius, dan terlihat lucu di mata suaminya.


"Kamu ingat, kan, waktu kamu kecelakaan? Dan aku datang bantuin kamu?" Candra memulai penjelasannya dengan pertanyaan.


Dinda mengerutkan kening tanda berpikir. "Iya," jawabnya kemudian, "tapi apa hubungannya?" ucapnya merasa tak ada kaitannya.

__ADS_1


"Dimulai dari situ," dan jawaban itu semakin membuat Dinda tak mengerti.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2