
Untuk yang kesekian kalinya, Dinda pasti akan menangis jika ada kesempatan. Seperti saat ini.
"Ma, maafin Adin ....," permohonan maaf itu tersemat di antara isak tangis Dinda usai solat isya dalam dekapan Vita. Mereka kini tengah berada di kamar Dinda, duduk berdua di atas ranjang.
Dinda tersedu ketika bertatap muka langsung dengan wanita paruh baya yang sangat dirindukan nya. Namun, kata maaf itu bukan ditujukan untuk orang yang memeluknya. Melainkan untuk seseorang yang berada di seberang telepon nan jauh di sana.
Seorang wanita paruh baya yang mirip dengan Vita kini tengah memenuhi layar ponsel Dinda. Dia adalah Mita. Mama dari Dinda, dan kakak dari Vita.
"Adin nggak bisa ... mengantar kakek ke tempat---," ucapnya tidak mampu melanjutkan ujung kalimat, karena diselingi tangis penyesalan.
Terdengar suara wanita paruh baya yang menjawabnya penuh pengertian.
"Nggak apa-apa sayang ... Mama yang seharusnya minta maaf, karena tidak ada di dekatmu," tangisnya tak kalah haru dengan Dinda.
"Nggak ... Mama nggak salah. Ini semua karena keadaan," sahut Dinda maklum.
Vita yang memeluk Dinda hanya mendengarkan percakapan keduanya sembari memberi usapan di bahu keponakannya tersebut. Akan tetapi, dia juga akan menyahut jika Mita mengajaknya bicara.
"Vit ... cuman kamu yang bisa Mbak harapkan sebelum Mbak pulang. Jagain Adin ya? Hibur dia," pinta Mita.
"Pasti itu, Mbak. Aku akan jagain Adin juga hibur dia. Dan bukan aku saja, Mbak. Ada Mas Al, Emil, dan suami Adin yang menjaganya. Kita nggak akan biarin dia mengingat kejadian itu," janji Vita yakin.
"Terimakasih," Mita mengusap sudut matanya.
"Adin ...."
"Iya, Ma?" sahut Dinda juga menyapu air matanya, namun tetap saja selalu berjatuhan dari pelupuk matanya.
"Lusa mama akan pulang, dan kamu jangan berlarut dalam kesedihan!"
"Mama juga."
Mita mengangguk pelan sebagai jawaban. Tiba-tiba muncullah sesosok pria yang sangat mereka hormati di samping Mita dengan mata sembab seperi mereka. Namun, tidak ada suara tangis dari mulutnya.
Mungkin sejak tadi sengaja tidak menampakkan diri, karena tengah menangis. Setelah berhenti menangis, ia turut bergabung menyapa anak sulung tersebut.
"Pa," panggil Dinda kembali sendu.
"Jangan menangis!" perintah Zahir tegas.
"Kamu anak papa. Kamu anak yang kuat. Sudah banyak masalah yang kamu lewati hingga saat ini. Jadi jangan menangis dan terlihat lemah! Kamu harus bangkit menjadi wanita yang ceria dan tangguh!"
Tentu saja orang tua Dinda tidak akan pernah lupa bagaimana perjalanan hidup penuh lika liku anak-anaknya.
__ADS_1
Masih terpatri jelas dalam bayang-bayang Zahir, ketika Adin harus bercerai dengan orang yang sudah menghianati anaknya tersebut. Belum cukup sampai di situ. Adin kembali diterpa sebuah pemberitaan sekandal yang menimpa dirinya, dan untungnya ada Candra yang bisa diandalkan hingga berita itu sudah mulai meredup.
Akan tetapi, disaat duka menyelimuti Zahir dan semua keluarga, dia tidak bisa langsung datang untuk anaknya itu. Kini hanya melalu sambungan telepon saja yang bisa menjadi menghibur lara bagi mereka.
Namun, itu hanya untuk sementara. Cukup lama mereka berbincang melepas rindu disertai untaian kata penyemangat tentunya untuk satu sama lain.
Tanpa Dinda dan Vita ketahui. Ada seseorang yang mengintip dan menguping pembicaraan mereka dari balik pintu pembatas kamar tersebut.
Candra menghela napas panjang, karena harus bersabar dan menahan lelah berdiam diri di luar kamar Dinda. Sejujurnya punggungnya terasa sakit dan ingin segera berbaring. Akan tetapi, kedatangan Vita dengan ponselnya telah mengganggu, hingga mengusirnya secara halus.
Sebenarnya bisa saja Candra turut bergabung, tapi dia tetap tidak bisa berbaring karena Dinda dan Vita duduk di atas kasur mereka, dan itu membuatnya tidak nyaman.
Lagi pula Candra segan bertatap muka dengan kedua mertuanya itu melalui ponsel. Dia ingin berhadapan secara langsung, dan meminta maaf karena lalai telah melindungi Dinda.
"Mereka akan lama kalau tidak ditegur," Al datang menyapa Candra sambil menepuk punggung kanannya sebagai ungkapan penghibur.
Di dalam hati Candra mengeluh sakit dan sangat lelah.
"Apa lagi sambil nangis. Mereka nggak akan berhenti sebelum puas menangis," kata Al lagi beralih menatap pintu penghubung.
"Biar ayah yang panggil mereka," tawar Al langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Al berjalan mendekati Vita dan Dinda yang tengah fokus pada ponsel.
"Mas," sapa Al yang melihat kakak ipar istrinya berada di layar bersama Mita.
"Al, jaga Adin untukku," pinta Zahir serius.
"Mas tidak perlu khawatir soal itu. Kami akan menjaga Adin lebih baik dari sebelumnya, agar kejadian buruk semacam itu tidak terulang lagi. Yang perlu Mas dan Mbak khawatirkan adalah kesehatan Adin saat ini. Sekarang sudah waktunya Adin untuk istrahat! Apa kalian ingin Adin bertambah sakit?" kata Al mencoba mengakhiri sambungan sehalus mungkin.
"Iya, kau benar," sahut Zahir membenarkan.
Mereka pun menyudahi sambungan telepon sembari melempar salam.
"Ya sudah, sayang. Kamu harus istrahat! Maaf sudah mengganggu dan membuang waktumu," ucap Vita yang mengerti maksud suaminya.
"Nggak apa, Bun."
Al dan Vita berjalan beriringan menuju pintu. Saat pintu dibuka, tidak ada seorang pun di sana.
"Bunda dulu saja ke kamar!" Vita menurut dan turun ke lantai dasar membiarkan Al sendiri.
Al pergi ke sebuah kamar kecil masih di lantai dua. Dia pun mengetuk dan menunggu hingga pintu itu terbuka. Setelah terbuka, Al langsung bertanya tanpa basa basi.
__ADS_1
"Mana Abangmu?" tanya Al sambil melihat kebagian dalam.
"Itu," ucap Kaamil berpindah posisi agar Al dapat menjangkau penglihatannya.
Terlihat Candra sedang berbaring miring di atas kasur kecil milik Kaamil sambil memejamkan mata.
"Seperitinya, Bang Candra kelelahan," ujar Kaamil pelan.
Al menghela napas panjang. "Bangun dia, suruh pindah ke kamarnya!" perintah Al.
"Tapi---."
"Bunda sudah pergi," potong Al yang faham arah bicara Kaamil.
"Baiklah," sahutnya. Al pun berlalu pergi usai mengatakan itu.
"Bang ... Bang Candra ...," panggil Kaamil pelan.
Candra yang sudah mengantuk berat hanya menyahut dengan bergumam. "Hemm."
"Ayo kembali ke kamar Mbak Adin!"
"Masih ada bunda. Dan tadi ayah juga ikut ngobrol," sahut Candra hampir tidak jelas.
"Bunda sama ayah sudah pergi ke kamar mereka, Bang. Jadi sekarang Abang bisa ke kamar Mbak Adin."
"Tidak perlu, aku di sini saja. Aku sudah mengantuk," tolak Candra setengah sadar.
"Bang, kalau Lu tidur di sini. Gue tidur di Mana? Kan, kasurnya kecil. Ayolah, Bang ... Lu pindah ke kamar Mbak Adin saja!" mohon Kaamil sambil menggoyang lengan Candra.
Tindakan Kaamil membuat kesadaran Candra kembali akibat pundaknya yang terasa sakit.
"Baik-baiklah," pasrah Candra berusaha bangun.
"Selamat malam," kata Kaamil mengiringi kepergian Candra, dan hanya dibalas gumaman.
Dengan langkah gontai dan mata yang setengah menyipit, Candra kembali ke kamar istrinya.
"Mas," pekik Dinda ketika melihat Candra berjalan bagai jasad tanpa nyawa ke arah tempat tidur.
Candra tidak menyahut dan memilih langsung membaringkan tubuhnya miring ke arah kiri, di mana istrinya berada.
Detik berikutnya terdengar napas yang berhembus teratur dari lubang hidung Candra.
__ADS_1
"Dia langsung tidur."
BERSAMBUNG ....