Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
(Extra part) Nggak tahu waktu.


__ADS_3

Hari-hari yang Dinda lewati semakin membaik dan tidak ada trauma begitu mendalam. Hubungannya dengan sang suami pun mendapat kemajuan pesat.


Candra dengan terang-terangan menanyakan kesiapan Dinda, guna menjalankan kewajiban sebagai seorang istri, ketika mereka tengah terlibat pembahasan tentang hubungan yang akan mereka jalani kedepannya. Akan tetapi, dia tidak serta merta meminta untuk dilayani saat ini, mengingat luka di punggungnya belum sembuh sempurna.


Dinda pun memberanikan diri untuk menjawab. Bahwa dia bersedia dan siap kapan saja saat Candra yang memintanya. Namun, rupanya bukan hanya suaminya saja yang berhalangan dalam menjalankan kewajiban. Akan tetapi, Dinda pun demikian, sebab tamu bulanannya yang sempat datang terlambat, kini datang berkunjung dan menetap untuk beberapa hari ke depan.


"Sebelum Papah kembali ke Bandung. Papah mau kita mengadakan pesta dulu di hotel," ujar Arwan ketika semuanya sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Untuk apa mengadakan pesta, Pah?" tanya Candra sepemikiran dengan pikiran semua orang di sana.


"Tentu saja untuk merayakan pernikahan kalian. Kalian belum mengadakan resepsi, kan?" balas sang ayah menjawab sekaligus bertanya.


"Bara pikir, tidak perlu Pah," tolak Bara langsung.


"Kenapa tidak perlu? Mertua mu saja belum mengatakan pendapatnya. Bagaimana menurut, Hir?" Arwan beralih menatap Zahir.


"Kuserahkan padamu! Bagaimana baiknya saja," ucap Zahir apa adanya.


"Tapi Pa---," potong Candra cepat.


Dinda yang duduk di samping Candra hanya diam menyimak dan memahami pola pikir suaminya tersebut, sebelum turut mengeluarkan pendapat. Tidak jauh berbeda dengan Dinda. Kaamil, Mita, Al, dan Vita pun tidak berani bersuara.


"Tapi kenapa?"


"Kakek Abdul baru satu minggu meninggal, Pah. Apa menurut Papah itu sopan? Lalu bagaimana dengan perasaan Papa Zahir?"


Arwan terdiam dan melirik Zahir yang diam tanpa expresi, kemudian dia menatap semua orang satu persatu. Ya, mereka membenarkan apa yang dikatakan Candra. Namun, sebenarnya mereka juga turut mengharapkan pesta untuk Dinda.


"Papa tidak masalah soal itu," ujar Zahir santai. Arwan lantas memfokuskan perhatiannya pada sang sahabat.


"Lagi pula tidak ada yang tahu, kan, kalau ayahku baru beberapa hari meninggal. Bukankah, kita juga tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan?" tambahnya lagi, "jadi, siapkan saja pestanya," putus Zahir santai


"Apa Papa yakin?" tanya Candra ragu.


"Sebaiknya tidak perlu mengadakan pesta, Pah," Dinda akhirnya bersuara, "lagian ... Adin, kan, janda."


"Kamu memang seorang janda, sayang. Tapi, suami kamu ...?" timpal Mita yang sudah mendengar persetujuan suaminya.


"Apa lagi suami kamu itu adalah anak tunggal! Mungkin ini akan menjadi sebuah kenangan buat Papah mertu kamu," Zahir mengangguk pelan menyetujui perkataan istrinya.

__ADS_1


Zahir sama sekali tidak keberatan jika besannya itu memang ingin membuat pesta pernikahan untuk anaknya. Rasa sedih karena kepergian sang ayah, tidak lantas menghalangi kebahagian orang lain juga.


"Tapi Bara juga tidak keberatan jika tidak ada pesta, Ma," kekeh Candra tidak enak hati untuk menuruti keinginan ayahnya.


Diam-diam Dinda melirik sang adik seolah meminta pendapat, yang dilabas Kaamil mengankat kedua bahunya.


"Baiklah. Kalau menurut Bara itu tidak perlu, Papah tidak bisa memaksa," kata Arwan mengalah.


"Maaf, Pah. Kali ini Bara, menolak untuk mengadakan pesta," sesal Candra pada Arwan.


"Tidak masalah, Papah mengerti maksudmu."


"Jadi, kau yakin kita tidak perlu mengadakan pesta?" Zahir menatap lekat sahabat istrinya itu.


Arwan menghela napas panjang dan mengangguk pasti.


"Kalau mereka tidak mau, apa boleh buat," ungkapnya menyerah dengan keinginan anak dan menantunya.


Rencana untuk membuat pesta pernikahan pun lantas dibatalkan oleh pemikiran dan musyawarah dari kedua belah keluarga.


Satu minggu kemudian ....


"Pasti Pah. Kami akan segera menyusul," sahut Bara sambil memeluk sang ayah.


"Atau ... kenapa kalian tidak ikut sekarang saja?" usul Arwan.


"Pah, bukankah sudah Bara jelaskan! Bahwa Bara sudah ada janji menemani Mas Lintang, untuk bertemu klien besok."


"Iya, iya ... Papah ingat."


"Papah tenang saja! Kalau mereka sampai lupa. Lintang yang akan mengingatkan mereka," hibur Lintang yang turut mengantar om nya.


"Ya, kau tenang saja. Aku juga akan ikut berkunjung ke Bandung nanti," timpal Zahir sambil menepuk punggung Arwan pelan.


Semua pembicaraan itu seketika terhenti, ketika suara pemberitahuan keberangkatan tujuan Bandung sudah siap lepas landas.


Arwan pun kembali memeluk putra tunggalnya, baru setelah itu memeluk keponakan yang sudah seperti anak sendiri. Tidak lupa juga memeluk Zahir, Dinda dan Kaamil.


Sementara Mita, Vita dan Al. Mereka tidak ikut mengantar sampai bandara. Mereka hanya mengantar hingga teras rumah.

__ADS_1


Setelah keberangkatan pesawat Arwan. Mereka pun kembali pulang ke rumah, dan Lintang berpisah di parkiran.


Sesampai di rumah ....


Candra dan Dinda pergi ke kamar mereka. Setelah menutup pintu, tanpa aba-aba Candra langsung memeluk Dinda dari belakang.


Dinda sempat tersentak kecil.


"Punggungku sudah tidak sakit lagi. Bagaimana denganmu?" bisik Candra sambil mendekap perut Dinda erat dan membenamkan kepalanya di antara bahu dan leher sang istri yang terhalang jilbab.


Dinda mendadak gugup dan menelan ludah kasar. Sebenarnya Candra tidak perlu bertanya. Namun, dia tetap ingin menggodanya dengan pertanyaan itu. Sebab, suaminya itu juga tahu, ketika mereka melakukan solat berjamaah.


"Be--benarkah? A--apa, Mas yakin?" tanya Dinda mendadak lemas.


"Ya. Aku yakin," sahut Candra serak dan membalik tubuh Dinda menghadap ke arahnya.


Dinda tidak berani menatap langsung manik mata Candra. Entah kenapa dia malah menunduk dalam, dan itu membuat Candra harus memengang dagu nya dan mengangkatnya ke atas.


"Kau sangat manis," ucap Candra pelan dan menundukkan kepala ke arah wajah Dinda. Tangan satunya terangkat memegang leher Dinda, dan matanya pun menatap penuh damba pada benda kenyal yang sekarang dengan mudahnya dia kecup.


Dinda refleks memejamkan mata dan memegang kedua sisi pinggang suaminya. Perlahan Candra meny*s*p bibir sang istri. Dinda pun turut menikm4ti dan membalas cium4n Candra.


Awalnya cimu4n itu bergerak pelan seirama. Namun, lama kelamaan Candra melum4tnya penuh mengikuti naluri yang sudah lama tertahan.


Masih belum melepaskan cium4n, Candra mendorong Dinda perlahan menuju tempat tidur. Sesampainya di tempat tidur, Candra melepas cium4an itu sesaat hanya untuk membuka jilbab Dinda.


Usai jilbab itu jatuh ke lantai, dia kembali melakukan kegiatannya sambil membaringkan tubuh kecil sang istri. Gugup yang sempat Dinda rasakan saat itu, sudah menguap ketika dia juga menikmati permainan Candra.


"I love you," bisik Candra di sela kegiatannya.


Dinda yang mendengar pengakuan Candra tersebut, tergelitik untuk membalasnya sambil menikmati sensasi yang menggila dalam setiap aliran darahnya.


"I love you too," bisiknya lembut sambil menahan geli ketika Candra menghisap lehernya.


Perlahan tangan Candra membuka kancing baju Dinda tanpa berhenti dengan aktivitasnya. Dia pun menarik diri guna melepaskan buju yang masih melekat di tubuh nya.


"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."


Dan ... semuanya pun terjadi tanpa bisa othor jelaskan, karena othornya masih bocil. Udah, percaya aja! Gak usah protes.😎

__ADS_1


__ADS_2