Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 65 Menyusun rencana.


__ADS_3

Dinda masih dalam keterkejutan saat mengetahui kabar berita dari Kaamil, yang menceritakan tentang Adit yang akan segera menikah.


Entah apa yang harus dia rasakan saat ini? Harusnya dia ikut bahagia, tapi tidak tahu kenapa. Hatinya tiba-tiba ada rasa sakit dan sesak.


Bunyi dering dari ponsel Kaamil mengambil atensinya dari lamunan sesaat tentang kebersaamannya bersama Adit


"Assalamualai'kum, Bang," sapa Kaamil pada seseorang di ujung ponselnya.


"Alhamdulillah," kata Kaamil mengucap syukur setelah sempat terdiam sejenak.


"Belum, Bang. Masih di rumah Abang."


Mendengar itu Dinda menyimpulkan, jika yang berbicara dengan Kaamil, adalah suaminya. Dia pun hanya bisa memperhatikan adiknya bicara tanpa niat menyela.


"Baik, Bang. Wa'alaikumussalam," Kaamil memutus sambungan dan menyimpannya.


"Mas Candra?" tanya Dinda segera.


"Iya, Bang Candra ngabarin. Katanya, orang yang nyuruh Danu, sudah ditangkap."


"Alhamdulillah," sahut Dinda begitu lega.


"Ya udah ... aku mau balik kantor lagi, Kak," Kaamil beranjak di susul Dinda.


"Ayo, Kakak antar," sambut Dinda membawa adiknya keluar rumah.


"Kata Bang Candra, dia pulang, telat lagi," kata Kaamil di sela-sela langkah kakinya.


"Sekarang kalian curang!"


"Curang apaan? Aku nggak pernah curang, ya! Kakak nuduh, nih," elak Kaamil tidak terima.


"Itu tadi buktinya! Masa sekarang kalau mau kasih kabar ke Kakak, kamu harus lewat Mas Candra dulu. Trus, Mas Candra juga. Kenapa tadi nggak telepon aku langsung?" ketus Dinda melirik adiknya malas.


"Ya nggak apa-apa kali, Kak. Kan, sama aja! Mau aku ngasih tau Kakak, atau Bang Candra. Kan, jadi tau juga."


"Iih, kok jawabannya sama sih? Janjian ya, sama jawabannya?"


"Khahaha, masa sih? Aku cuman jawab secara logika aja, lo."


"Ckk, buruan balik gih," usirnya ketika sudah berada di teras rumah.


"Hehehe, iya deh. Assalamualai'kum," ujar Kaamil usai mencium tangan kakaknya.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati," pesan Dinda melepas tautan tangan mereka.


Dinda masih dalam posisinya, ketika mobil sang adik mulai meninggalkan halaman rumah hingga perlahan menghilang dari penglihatannya.


Sebenarnya bukan kepergian Kaamil yang menjadi perhatiaannya, namun perkataan adiknya tadi yang masih teringiang-ngiang dipendengarannya.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Candra sedang serius di depan laptop ketika Lintang mendatanginya tanpa dia sadari sambil menendang kaki meja saat memilih duduk di hadapan adik sepupunya tersebut.

__ADS_1


"Astagfirullah hal azim," pekik Candra menoleh cepat kepada sang pelaku.


"Kenapa sih, Mas?" tanya Candra heran melihat mimik wajah muram dari kakaknya.


"Dicuekin Luna?" tebak Candra saat Lintang tidak menjawab sama sekali.


"Sekarang dia, sudah terang-terang minta cerai," kata Lintang sebelum menghela napas berat sambil menyandarkan punggung.


Menutup leptopnya, dan memilih fokus bicara kepada Lintang. "Mas pernah curiga tidak? Kenapa Luna kukuh mau minta cerai sama, Mas Lin?" tanggap Candra sambil bersandar pada sandaran kursinya.


"Karena dia nggak suka sama, Mas," balas Lintang malas.


"Tapi, aku ngerasa kaya ada sesuatu selain itu?"


"Maksud kamu?"


"Ya, seperti ada sesuatu yang dia tutupin. Tapi aku tidak tau pasti apa itu," aku Candra.


"Mungkin papanya."


Candra menatap Lintang yang juga tengah menatap dirinya, "Ada alasan, kenapa Mas Lin bisa berpirik itu karena papanya?"


"Entahlah! Hanya saja, setiap kali dia bertemu dengan papanya ... dia seperti mengibar bendera perang."


"Kenapa Mas, tidak menyelidikinya?"


"Apa itu harus?" tanya Lintang ragu.


Candra menganggu pasti. "Harus! Karena sepengetahuanku, Luna itu tergolong dalam katagori sebagai teman yang tidak tega kepada temannya. Dia lebih mementingkan perasaan teman-tenannya, ketimbang dirinya sendiri. Jadi, menurutku ... agak aneh, kan? Kalau selama ini, dia sengaja nyakitin Mas Lin," ungkap Candra.


"Aku pikir Mas Lin, udah tau," jawab Candra santai.


"Ckk, masa gitu aja mesti aku jelasin. Aku mana tau!" decak Lintang kesal.


"Emang Mas Lin, ada melihat gelagat aneh nggak sama papanya Luna?"


Lintang terdiam dengan pandangan menerawang, mengingat-ngingat apakah ada keanehan pada sang ayah mertua.


"Kayanya nggak ada," ucapnya setelah lama berpikir.


Candra mengangguk mengerti sambil memainkan kursinya ke kiri dan kanan.


"Tapi ...," ujar Lintang ragu.


"Tapi apa, Mas?"


"Aku pernah dengar Luna bicara sama papanya, dan itu agak sedikit aneh menurutku."


"Dan apa yang aneh itu?"


"Cepat atau lambat, dia akan mengetahuinya. Dan saat waktu itu tiba ... aku adalah orang pertama yang dia benci, sekaligus sumber kebenciannya."


"Aneh, kan? Menurutmu, siapa yang Luna bicarakan?" tanya Lintang minta pendapat.

__ADS_1


"Iya. Itu agak sedikit aneh, dan seperti ada rahasia di dalamnya," keduanya terdiam sembari berpikir.


"Baiklah, mungkin ada baiknya kalau sekarang aku selidiki ayah mertuku. Mungkin ada sesuatu yang menyebabkan Luna ingin berpisah denganku."


"Aku setuju, Mas. Mungkin sebaiknya memang begitu," Candra mengangguk mengiyakan.


"Oiya, gimana kabar pelaku?" Lintang merubah topik dan wajahnya sudah kembali berseri, tidak seperti pertama masuk tadi.


"Polisi sudah melakukan penangkapan, dan satu-satu saksi adalah Danu. Menurut anak buahku, saat Baskoro ditangkap. Dia terlihat tenang, dan aku curiga ada sesuatu yang dia rencanakan."


"Apa kira-kira rencananya?"


"Keluarga Danu. Aku yakin ini ada hubungannya dengan ibu dan adiknya Danu, sebab sebelum Danu mengatakan siapa yang menyuruhnya ... dia minta keluarganya dijaga," tutur Candra.


"Jangan-jangan ... Danu diancam untuk tutup mulut, dan keluarganya sebagai tawanan," tebak Lintang.


Candra menjentikan ibu jari dan jari telunjuknya. "Sepemikiran," seru Candra.


"Lalu apa rencanamu?"


"Kemarin aku sudah meminta anak buahku, untuk menjaga mereka di sekitar rumahnya," sambut Candra.


"Oiya, Mas. Bisa kirimkan, alamat emial perusahaan Baskoro?" imbuh Candra.


"Untuk apa?" tanya Lintang heran.


"Berikan saja! Ada sesuatu yang harus kukerjakan," pinta Candra serius dan membuat Lintang menatapnya lekat. Menelisik dan menebak, apa kira-kira yang akan Candra lakukan dengan alamat email.


"Disaat Baskoro ditangkap, kau tidak mungkin mengajukan kontak kerja sama lagi, kan?" tebak asal Lintang.


"Ya ampun, Mas ... mana mungkin aku mau bekerja sama dengannya, sementara dia sudah terikat kerja sama denganmu."


"Oiya, dia, kan sedang bekerja sama dengan perusahaan kita. Lalu, kau mau apa?"


"Ini rahasia, Mas Lin cukup berikan saja alamatnya!"


"Ckk, kau inih karyawan baru, tapi sudah berani memerintahku," ucap Lintang pura-pura kesal.


"Siapa yang suruh aku, ikut bergabung di perusahaan ini? Jadi, tanggung sendiri akibatnya," balas Candra dengan senyum kemenangan.


"Akan kuadukan, kau sama papah," ancam Lintang.


Kali ini Candra yang berdecak. "Mas Lin, curang! Kalau kalah, pasti ngadunya ke papah," kesalnya.


"Khahaha, ya mau gimana lagi. Pawang kau sekarang, cuman papah. Kalau istrimu bisa jadi pawang, mungkin sekarang akan kuadukan dengannya," tawa kemenangan mengiring kalimat Lintang.


"Tau ah."


"Khahaha, baiklah-baiklah ... akan kusuruh Leo, mengirimnya padamu," sambung Lintang sambil berdiri dan pergi dari ruangan Candra.


"Terimakasih, Mas," ujar Candra sebelum Lintang menghilang dari balik pintu.


"Kita lihat, apa yang akan Baskoro lakukan."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2