Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 80 Dipeluk.


__ADS_3

"Kenapa kamu juga dirawat, Mas?" tanya Dinda usai perawat yang memeriksanya pergi.


Keduanya kini tengah duduk bersandar di kepalan ranjang pasien milik Dinda, dan Candra menolak untuk dipasang jarum infus kembali.


Candra menggaruk tengkuknya yang bahkan tidak gatal sama sekali dengan kening berkerut bingung kerena mendapat pertanyaan tersebut.


Di dalam hati, dia meringis menahan sakit akibat tadi berjalan, dan sekarang kembali sakit lagi karena refleks menggaruk.


"Apa perlu aku yang menjelaskannya?" timpal Lintang yang tengah berbaring di tempat tidur Candra dengan satu kaki yang menjuntai dan menatap langit-langit ruangan.


Gorden hijau yang terbentang di depan dan samping Dinda, sebagai pembatas membuat orang lain tidak dapat melihat apa yang sedang mereka lakukan. Hanya gorden pembatas antara Candra dan Lintang saja yang terbuka.


"Memang kenapa?" sahut Dinda cepat dan penasaran.


"Emm, itu ... tidak apa-apa," jawab Candra.


"Aneh. Tidak apa-apa, kok malah dirawat?" kembali Dinda mencari jawaban yang masuk akal.


"Haha," Lintang tertawa kecil.


"Memangnya kenapa sih, Mas Lintang?" Dinda melirik Lintang yang usai mendapat pertanyaan darinya langsung duduk dan menghadap kepada mereka.


Candra dan Lintang beradu pandang. Lewat tatapan Candra, tersirat peryataan untuk kakaknya agar tidak perlu mengatakan yang Sebenarnya.


"Dia terluka," ujar Lintang tanpa peduli, karena Candra semakin menatapnya tajam.


"Kamu terluka, Mas? Di mana?" seketika Dinda tersentak kecil dan menelisik tubuh Candra yang berbalut baju pasien.


Dinda sama sekali tidak melihat luka di tubuh suaminya itu, kecuali bekas jarum infus yang tadi Candra cabut.


"Hanya luka kecil," aku Candra bohong.


"Yakin luka kecil?" tanya Dinda memastikan.


"Suami kamu cemen, Din. Masa luka sedikit, malah ikut dirawat," celetuk Lintang mengompori.


Candra melirik kesal pada kakaknya itu.


"Nggak boleh gitu, Mas. Kecil atau besar .., yang namanya luka memang harus dirawat," bela Dinda membuat Candra tersenyum tipis.


"Iya, kau benar! Seharusnya dia tetap dirawat dan bukan malah melepas infusnya," sindir Lintang melirik kesal.


"Iya Mas, yang dikatakan Mas Lintang itu benar," setuju Dinda melihat suaminya. Kini giliran Lintang yang tersenyum tipis, karena mendapat pembelaan dari Dinda.


"Sudahlah lupakan!" ujar Candra.


"Sebentar lagi teman-temanmu akan datang, tadi Mas Lintang sudah menghubunginya," lanjutnya mengganti topik yang mereka bahas.


"Benarkah?" Dinda tersenyum ceria.

__ADS_1


Berbeda dengan Lintang yang melotot mendengar itu. Dia sama sekali belum mehubungi teman-teman Dinda. Selain tidak mengenal teman Dinda, dia juga tidak mempunyai nomornya.


"Kau," ucap Lintang tanpa suara ketika Candra meliriknya.


"Baiklah, aku permisi sebentar," kata Lintang hendak pergi. Mau tidak mau dia harus segera menemukan nomor telepon teman Dinda, dan yang terpikir dibenaknya sekarang adalah Adit.


Candra menyimpan senyum tipis, karena telah mengusir kakaknya secara halus.


"Bagaimana dengan Bunda?"


"Aku tidak punya nomor Bunda," aku Candra membuat Dinda mengangguk mengerti.


"Berikan ponsel kamu, Mas! Biar aku yang telepon Bunda," pinta Dinda.


"Ponselku tertinggal pada Raka."


"Lalu bagaimana, Mas menghubungi teman-temanku?" tanya Dinda mengerutkan kening heran, dia juga merasa asing dengan nama yang dikatakan suaminya itu.


"Itu urusan Mas Lintang, aku juga tidak tahu."


Dinda kembali mengangguk walau tidak mengerti dan terlihat ragu.


"Mas Lintang tadi pergi ke mana ya?"


"Memang kenapa?"


"Aku mau pinjam ponselnya."


Dinda melirik kotak nasinya yang tertutup rapat dan berpindah melirik kotak nasi Candra sambil memiringkan kepala guna dapat menjangkau penglihatannya.


"Apa Mas, juga belum makan?"


"Aku nanti saja," tolak Candra.


"Karena tadi memikirkan lukamu, aku jadi lupa kalau sedang haus," kata Dinda menatap sekilas tangan Candra sebelum akhirnya mengambil gelas berisi air putih di nakas.


"Kamu tidak minum Mas?" tanya Dinda yang tadi melihat gelas minum Candra masih terisi penuh, "apa kamu tidak merasa kehausan?" tambahnya lagi sambil menyimpan gelasnya.


Candra tentu saja merasa haus. Namun, sebelum dia mengeluarkan kentut ... maka dia tidak bisa minum dan makan akibat oprasi tadi malam.


"Tidak. Aku sedang tidak ingin minum," jawab Candra bohong.


Candra lebih menikmati kedekatan antara dirinya dan Dinda saat ini. Dia merasa hari ini lebih dekat dari hari-hari sebelumnya. Apa lagi setelah kehilangan Dinda selama satu minggu, membuatnya dipenuhi oleh rindu.


Candra bahkan saat ini sedang menahan diri untuk tidak memeluk Dinda.


"Bang," tiba-tiba saja ada yang datang dan menyingkap gorden di hadapan mereka.


"Raka," seru Candra terkejut begitu pun Dinda.

__ADS_1


"Syukurlah kalau Abang baik-baik saja. Tadi aku ketemu Mas Lintang, dan tanya di mana kamar rawat Abang," cerita Raka mendekat.


Candra hendak berbicara ketika merasakan tangan Dinda yang tiba-tiba melingkar di perutnya dan menyandarkan kepala di antara bahu belakangnya.


"Dia siapa, Mas?" bisik Dinda menahan takut, karena melihat Raka.


Akibat dari penyekapan yang dialami Dinda selama satu minggu ini, kini dia selalu merasa takut jika bertemu dengan orang-orang baru. Sama ketika bertemu perawat tadi, jika tidak ada Candra ... mungkin Dinda sudah panik.


"Tidak apa-apa, dia temanku," kata Candra menenangkan sambil mengusap tangan Dinda yang melingkar.


"Emm, sepertinya aku mengganggu ya, Bang?" tanya Raka sangat pelan dan tidak enak hati.


"Kalau begitu sebaiknya---."


"Tidak, kau tidak mengganggu. Duduklah di sana," jawab Candra cepat menunjuk ke tempat tidurnya.


Dia pikir akan lebih baik jika Raka tetap bersama mereka. Sebab, jika Raka pergi, otomatis Dinda akan melepas pelukannya.


Raka duduk dengan ragu-ragu dan tidak enak hati, ditambah lagi melihat keromantisan di antara Candra dan Dinda.


"Sepertinya istriku trauma ketika bertemu dengan orang baru," tutur Candra menjelaskan keagresipan Dinda.


Raka kini mengangguk mengerti.


"Ini ponselmu, Bang," Raka menyodorkan ponsel milik Candra.


"Ponsel," pekik Dinda mengangkat wajah dan langsung menatap ponsel yang masih dalam genggaman Raka.


Candra yang tahu jika istrinya hendak menghubungi Bunda, langsung mengambil dan menyerahkannya pada Dinda.


Dengan senang hati Dinda menerimanya dan melepas pelukannya.


"Terkunci," gumam Dinda menunjukan layar pada suaminya.


"Nol enam kali."


Dinda sempat tercengang mendengar kode kunci layar ponsel Candra yang hanya terdiri dari angka nol.


Ketika layar itu terbuka, tubuh Dinda seketika menegang saat melihat foto yang menjadi sampulnya terlihat jelas. Dia bahkan tidak berkedip memperhatikan foto itu lebih teliti sambil ibu jarinya mengusap-ngusap layar agar tidak terkunci.


"Kenapa?" tanya Candra menarik kesadaran Dinda dari lamunannya.


"Tidak. Aku hanya mengingat-ngingat nomornya," elak Dinda segera menggulir aplikasi panggilan.


Gegas menekan sederet angga menjadi sebuah nomor telepon, lantas memanggilnya.


"Hallo. Assalamualaikum, Bunda," kata Dinda dengan suara bergetar menahan tangis yang menyerang tanpa aba-aba.


Dinda bahkan tanpa sadar menjatuhkan kepalanya di bahu Candra. Air matanya pun tak terbendung lagi mana kala mendengar suara tangisan di seberang telepon sana.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2