
Dinda berusaha keras memejamkan mata. Namun, selalu saja terbuka, karena menyadari kehadiran orang lain di belakang punggungnya. Ternyata itu cukup sulit untuknya pergi ke alam mimpi. Ditambah lagi, dia menjadi sangat canggung dalam bergerak bebas.
Beberapa kali merubah posisi tidur secara perlahan agar mendapatkan kenyamanan juga jangan sampai menggang suaminya, tapi semuanya malah semakin membuat matanya segar.
Dinda melirik Candra yang terlentang di sampingnya. Dalam keadaan remang, dia bisa melihat mata suaminya terpejam sempurna dan begitu damai.
Memori tadi siang mengulang mundur. Tidak pernah menyangka, bahkan jauh dari segala praduga. Jika yang menemaninya tidur malam ini bukanlah lelaki yang memperjuangkan hatinya.
Tidak ada yang salah memang, semua ini karena ketidak sengaja'an dan demi nama baiknya. Jika boleh jujur ... seharusnya dia mengucapkan terimakasih pada Candra, karena sudah mau berkorban dan membantu menyelesaikan masalahnya.
Masih betah menelisik wajah teduh yang tidur dengan tenang, tidak seperti dirinya. Bulu mata tebal dan lentik, pangkal hidung yang tinggi juga runcing. Serta bibir yang sintal, terlihat jelas walau pencahayaan terbatas.
Tidak dipungkiri, jika suaminya sekarang jauh lebih tampan dari mantan suaminya. Akan tetapi, hatinya masih belum terima dengan ini semua. Hatinya sudah terpaut dengan orang yang sudah menutup luka hatinya, disaat dia begitu rapuh dan terpuruk ketika disudutkan mantan suaminya.
"Apakah kau, begitu mencintai, dia?"
Dinda tersentak kaget mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut suaminya. Dia mengerjapkan mata, memperhatikan mata yang masih terpejam sama seperti sebelumnya.
Berpikir jika dirinya telah berhalusinasi, karena sempat melamun tentang kejadian tadi siang. Namun, beberapa detik kemudian, kelopak itu terbuka dan bertabrakan dengan manik matanya.
Terpaku, tidak percaya bahwa pertanyaan tadi benar-benar nyata. Dinda lekas membuang muka, menghindari tatapan tajam Candra.
"Aku tau, bahwa aku tidak bisa melarang perasaanmu, padanya."
Dinda terkesiap dan refleks menoleh yang ternyata suaminya juga masih menatapnya hingga beradu pandang dan saling diam sebelum akhirnya Candra kembali bersuara.
"Tapi, mulai saat ini. Belajarlah untuk melupakannya!" ucap Candra tegas.
Dinda mendengus, tidak suka diperintah. Walau tidak disuruh, dia juga tahu harus seperti apa. Dia bukan anak kemarin sore yang masih labil dan memikirkan pria lain. Saat ini dia juga sudah berusaha, hanya saja tidak semudah itu. Pikirannya sekarang malah terbagi dengan kehadiran Candra.
"Walau kita tidak saling menyukai, tapi aku harap ... kelak kita bisa saling menerima! Bukan hanya kamu, yang merasa tersakiti, tapi semuanya juga. Karena keadaan, takdir pun bisa berubah jika Sang Pemilik Kehidupan menghendakinya."
Dinda menghela napas panjang, di dalam hati membenarkan apa yang dikatakn Candra. Ini semua atas kehendak Sang Pencipta. Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan-lah yang memutuskannya.
"Aku sudah berusaha melupakannya, dan akan terus berusaha lagi," ucap Dinda lirih sembari menatap langit-langit kamar yang remang.
Hening ... keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Mari kita mencoba, untuk saling menerima."
Dinda seketika melirik Candra yang menatap langit-langit kamar mereka. Memperhatikan dan menyimak lelaki yang sepertinya akan kembali bersuara.
"Setelah masalah ini selesai, aku harap kita akan belajar untuk membangun rumah tangga yang semestinya." Candra melirik Dinda.
"Bukan hanya kamu, yang berjuang melupakannya, tapi aku juga akan berusaha menerimamu sepenuhnya," lanjut Candra tulus.
"Aku iri padamu, Mas. Kamu begitu mudahnya menerima semua ini. Padahal, aku tau kalau kamu sangat terpaksa."
"Kalau kamu pikir, aku semudah itu menerimanya? Maka kamu, salah."
Dinda tidak memberikan respon dan hanya memperhatikan Candra. Untuk sesaat mereka diam. Dinda lebih dulu memutus kontak mata dan kembali melakukan aktifitasnya menatap ke atas, menghindari tatapan Candra yang lebih mendominasi percakapan mereka.
"Pulang dari isi, pikiranku sangat kacau. Bukan hanya kamu, yang gelisah dan tidak nyaman. Bahkan disetiap sujudku, konsentrasiku terpecah," kata Candra jujur.
"Benakku bertanya-tanya, apakah sudah benar yang kulakukan ini? Akan seperti apa pernikahan yang kita jalani nanti? Sementara aku tau, jika ada seseorang yang kamu cintai."
Hening lagi ....
Dinda mengangguk samar, membenarkan ucapan suaminya. Tidak hanya Candra yang berharap demikian, dia juga menjadi satu di antara orang mengharapkan itu.
"Jadi ... bisakah kita saling berusaha untuk menerima, setelah semuanya selesai?" tanya Candra serius.
Dinda melirik orang di sampingnya dan Candra membalasnya dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti.
"Bantu aku, untuk itu!"
...🌹🌹🌹🌹🌹...
"Isu yang beredar saat ini di masyarkat, tidaklah benar," ucap pengacara dengan wajah dingin menatap para wartawan yang hadir dalam konferensi pers yang diadakan di kantor pengacara itu bernaung.
"Klien saya tidak pernah melakukan zina seperti yang diberitakan dibeberapa media sosial selama ini. Apa dia berbuat zina dengan suaminya sendiri? Tidak, kan? Jadi, kami akan menuntut oknum-oknum yang sudah menjatuhkan nama baik klien saya," lanjut pengacara pria tanggung itu sambil membetulkan kaca mata yang menggantung di pangkal hidungnya.
Para wartawan mulai melayangkan pertanyaan, mengingat jika berita yang mereka dengar adalah, Dinda seorang janda.
"Anak saya memang sudah bercerai dengan suaminya terdahulu. Namun, jika dia kembali menemukan tambatan hati dan ingin membina rumah tangga lagi. Kenapa saya tidak merestuainya?" Zahir memberikan penjelasan yang menurutnya penting untuk alibi Dinda.
__ADS_1
Bukan wartawan namanya, jika langsung menelan bulat-bulat apa yang dikatakan Zahir dan pengecara.
"Lalu, siapa suaminya? Apakah pria yang bersama, Anda?" semua kamera segera membidik wajah datar Candra yang sejak tadi diam.
Mereka memang sudah memprediksi, tentang tanggapan wartawan. Itulah alasan Zahir membawa serta Candra.
"Iya. Dia adalah suami dari klien saya, dan dia juga marah dengan orang yang sudah berani menyimpan kamera tersembunyi di dalam kamar hotel mereka disaat sedang bulan madu."
"Apakah Anda, mencurigai seseorang sebagai dalangnya?"
"Untuk saat ini, orang yang sudah meletakkan kamera tersembunyi dan menyebarkan foto-foto tersebut. Sudah kami tangkap, dan pelaku sedang kami interogasi. Kemungkinan, dia hanya disuruh oleh seseorang," jawab pengecara. Dia membuat asumsi dengan mengatakan kamera tersembunyi, agar wartawan percaya.
"Apa motifnya melakukan ini?"
"Dendam pribadi. Persaingan bisnis yang menyebabkan pelaku tidak terima atas kekalahannya dalam sebuah tender. Mempermalukan dia sebagai alat, anak dari klien saya."
"Itu berarti, apa Anda sudah mengantongi nama pelakunya?"
"Klarifikasi cukup sampai di sini. Kami hanya ingin menjelaskan tentang berita yang tidak benar untuk klien saya. Masalah tentang motif pelaku, akan kami selesaikan secara tertutup," elak pengacara mengakhiri konferensi pers.
Para wartawan masih menuntun penjelasan untuk laporan beritanya, dan tentu saja mereka tidak akan menjelaskan apa-apa. Sebab, apa yang dikatakan pengacara barusan hanya sebagai bumbu agar menenggelamkan berita terdahulu.
Mungkin bukan hanya pengecara itu saja yang menyelipkan sedikit kebohongan demi kebenaran, ada banyak pengecara lain yang melakukan itu untuk menutupi berita satu dengan berita lainnya.
Di tempat lain diwaktu yang sama ....
"Aku jadi kasian, sama Bang Candra," komentar Kaamil yang tengah menonton serius berita siaran langsung tentang kabar terbaru kakaknya.
"Lebih kasian lagi, kakak kamu, Mil," sahut Mita pelan sambil memeluk Dinda dari samping dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ma," balas Dinda memeluk ikut sedih.
"Berdo'a saja, semoga masalah ini cepat selesai dan tenggelam." Semua mengaminkan apa yang Al katakan termasuk istrinya.
"Maaf Mas Candra, karena sudah melibatkanmu dalam masalahku," batin Dinda sedih sambil melihat layar televisi yang menyorot penuh wajah Candra.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1