
Samar Dinda mendengar suara azan yang berkumandang dari langgar di sekitar rumah dalam alam bawah sadarnya. Perlahan sepasang kelepok mata berbulu lentik nan panjang itu bergerak kemudian terbuka. Beberpa kali mengedipkan mata guna mengumpulkan semua nyawa yang masih melayang di nirwana. Seluruh kesadarannya pun kini kembali sempurna setelah di detik berikutnya.
Dinda tersadar jika sebelumnya dia tidur tidak hanya sendiri, melainkan ada seseorang di sampingnya. Refleks kepalanya pun langsung menoleh di mana tadi suaminya berada. Akan tetapi, tidak ada siapa pun yang berada di sana selain dirinya.
Panggilan dan ketukan dari luar kamar menarik atensinya ketika dia sedang duduk dan melempar pandang guna mencari Candra di segala sudut ruangan tersebut. Tanpa memikirkan lagi orang yang entah di mana keberadaannya, dia gegas turut dari tempat tidur dan membukakan pintu untuk Vita.
"Ya, Bunda?"
"Sudah azhar. Buruan solat, habis itu makan!" perintah Vita ketika mereka sudah berhadapan.
"Baik, Bunda."
"Suami kamu masih tidur?"
"Sudah bangun, Bunda."
"Ya sudah ... kalian solat dulu, habis itu jangan lupa makan!" ulangnya mengingatkan dan langsung dibalas Dinda dengan anggukan. Vita pun berbalik badan dan berlalu pergi.
Tepat ketika pintu kamar sudah tertutup rapat. Candra muncul dari arah kamar mandi dan sudah berpakaian lengkap dengan baju koko juga sarung yang dipinjamkan Kaamil.
"Ambil wudhu, kita solat bareng!" Dinda baru saja hendak membuka mulut ketika Candra berkata demikian.
"Iya, Mas," sahut Dinda sambil mengulum senyum.
Tanpa diperintah dua kali, dia melesat ke kamar mandi melewati suaminya yang sudah bersiap menggelar sajadah. Seperti biasa, solat dan wirit mereka akhiri dengan Dinda yang mencium tangan punggung suaminya.
"Ada apa?" tanya Candra menoleh pada istrinya. Dia merasa saat ini sedang diperhatikan Dinda, ketika tangannya tengah melepas kancing baju yang masih melekat di tubuh satu persatu.
Benar saja, Dinda sedang menatapnya serius dengan sebuah pemikiran yang baru saja mencuat dan bersarang, kemudia bergelut ingin diutarakan melalui sorot matanya dan mulutnya.
"Ada sesuatu yang bikin aku penasaran," ungkapnya sambil memicing'kan mata pada Candra.
Candra yang melihat itu seketika mengerutkan kening heran.
"Penasaran?" ulang Candra, "tentang apa itu?" lanjutnya sambil melepaskan baju dan menyisakan kaus putih tak berlengan.
Dinda sudah mulai terbiasa dengan apa yang ada di hadapannya saat ini, dia pun tidak merasa canggung lagi dan tetap bersikap acuh.
"Siang tadi, Mas bilang .., kalau Mas itu cuman pura-pura nggak kenal sama foto aku, kan?"
__ADS_1
"Masih mau bahas itu?" Candra malah menjawab dengan pertanyaan yang membuat Dinda berdecak kesal.
"Sudah sangat jelas bukan?" gumam Dinda pelan sambil menirukan nada suara salah satu tokoh kartun yang memiliki banyak tentakel.
"Lalu apa lagi masalahnya yang sekarang bikin kamu penasaran?" tanya Candra sambil memasang baju kemeja pendek yang Dinda pinjam dari Vita usai solat. Baju itu adalah baju milik Al agar Candra tidak merasa sakit ketika mengenakannya.
"Berarti waktu Mas bilang kalau gadis di foto itu orang yang pernah kamu cintai .., itu juga bohong dong, ya? Itu cuman pura-pura, kan?"
Candra terdiam mengingat kalimat yang pernah dia utarakan pada Dinda sebagai sebuah alasan kenapa menjadikan foto itu sebagai wallpaper dan pura-pura tidak tahu kalau itu adalah Dinda.
"Seperti kamu yang pernah mencintai laki-laki lain sebelum menikah denganku, begitu juga aku. Dia adalah gadis yang pernah aku cintai."
"Hahaha," tiba-tiba saja Candra tergelak ketika sederet kalimat itu melintas diingatkannya.
"Kok ketawa, sih?" protes Dinda yang kini yakin dengan tabakannya.
"Apa karena hal itu yang bikin kamu penasaran?" masih tertawa tanpa mempedulikan kekesalan istrinya.
"Berarti bener," ujar Dinda hendak pergi, dia tidak menginginkan sebuah jawaban lagi dari sang suami, sebab menurutnya tawa mengejek Candra sudah mewakili sebuah fakta.
"Hei, mau kemana?"
Candra terkekeh geli dan segera menyusul Dinda ke ruang makan. Hanya ada Dinda dan Vita yang menunggunya, sebab Al dan Kaamil belum pulang dari tempat mereka bekerja.
"Kalian sudah merasa baikan, kan?" tanya Vita ketika keduanya hanya diam.
"Alhamdulillah, sudah baikan, Bunda," Candra menjawab mewakili Dinda.
"Syukurlah. Besok pagi mertu kamu akan datang. Bunda harap mereka tidak terlalu sedih saat melihat Dinda."
Dinda tersentak dan seketika menghentikan kegiatannya dari menyiapkan nasi untuk Candra.
"Saya harap juga begitu," ujar Candra melirik Dinda yang berubah sendu.
"Oiya, Bun. Bunda masih ingat, kan, tentang saya yang pernah ke sini waktu kecil? Waktu itu Bunda sama ayah yang mengingatkan saya soal cerita itu," pancing Candra mengganti topik pembahasan agar istrinya itu tidak murung lagi.
Dinda langsung menoleh pada Candra yang saling bertukar pandang dengan Vita. Di dalam hati dia bertanya-tanya, cerita apa yang dimaksud suaminya itu. Sebab, dia sama sekali belum pernah mendengar Vita atau pun Al yang menyinggung tentang kedatangan Candra waktu kecil.
"Oh, itu," sambut Vita, "sebenarnya Bunda nggak terlalu ingat sih ... tapi kalau nggak salah, waktu itu cuman kamu sama mama kamu yang datang berkunjung ke sini," sambungnya sambil melirik langit-langit di sudut ruangan dengan tatapan menerawang.
__ADS_1
"Bunda kok nggak pernah bilang sama Adin, soal cerita Mas Candra yang pernah ke sini?" sela Dinda sambil melirik Vita dan Candra bergantian.
"Ini," ujarnya lagi sembari menyerahkan piring yang sudah terisi penuh dengan berbagai macam jenis makanan kehadapan Candar. Ada ikan goreng nila, tahu dan tempe goreng, sayur kangkung tumis, dan tentu saja nasi yang menjadi makanan utama.
"Bunda lupa," ujar Vita jujur, " jadi bunda nggak cetita lagi sama kamu. Tapi Bunda kira, kamu masih ingat sama kejadian itu. Lagian waktu itu, nama panggil dia bukan Candra," jelasnya panjang lebar, "siapa ya? Bunda lupa-lupa ingat."
"Bara," celetuk Dinda. Dia sangat ingat dengan nama panggil suaminya yang lain.
"Nah, iya itu ... kalau nggak salah Bara. Iya, kan, Nak Candra?"
"Hmm," gumam Candra sambil mengangguk, karena mulutnya tengah mengunyah makanan.
"Kenapa sekarang malah dipanggil Mas Candra?" Dinda sudah bersiap menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, namun urung dia lakukan. Sebab, sedang menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Kalau itu---."
"Bunda nggak makan?" potong Candra cepat dan mengabaikan pertanyaan tersebut.
"Nggak, Bunda nanti saja. Bareng ayah dan Emil," tolak Vita halus.
"Jadi kenapa?" desak Dinda menuntut jawaban.
"Nggak kenapa-kenapa. Kan, itu juga nama aku."
Dinda diam dan menatap Candra ragu.
"Bunda tau nggak, kenapa?"
Entah mengapa, Dinda ingin sekali tahu apa alasan panggilan suaminya itu berubah. Namun, tidak bagi keluarga besar Candra, mereka tetap memanggil suaminya dengan sebutan Bara.
"Nggak tau," ucap Vita menggeleng pasti.
"Sudah, nggak usah dipikirin! Buruan makan!"
Dinda pun menurut memakan nasi bagiannya dengan pikiran yang masih memikirkan hal tersebut. Menurutnya Candra sedang menyembunyikan sesuatu, dan dia harus tahu hal apa itu.
"Kira-kira apa, ya? Kok kaya sengaja disembunyikan gitu."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1