Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 33 Pesan beruntun.


__ADS_3

...'Dalam kerendahan hati, ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta, ada kekayaan jiwa. Hidup ini terasa indah jika ada maaf. Mohon maaf jika telat update.' 😁🙏...


Usai mengungkapkan perasaan dan memberikan cincin, Adit dan Dinda makan malam romantis diiringi musik yang mengalun indah serta suara merdu sang vokalis.


Dinda begitu bahagia dan merasa beruntung. Tentu saja, wanita mana yang tidak tersanjung diperlakukan istimewa seperti itu. Bahagianya pun tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, malu pun ikut menyusup menjadi satu karena selalu saja ditatap Adit yang tersenyum hangat.


Kekhawatiran Dinda tentang malam naas yang menimpa dirinya pun menguap begitu saja, hingga membuatnya lupa.


"Aku baru tau, kalau pipi Kamu itu bisa berubah lebih merah dari biasanya," goda Adit menatap lekat sambil memasukkan potongan steak daging kedalam mulutnya.


Dinda menunduk tersipu, daun kuping di balik jilbab terasa memanas begitu juga pipinya yang digoda Adit.


"Mas Adit, apa-apaan sih? Aku biasa aja, kok," elak Dinda pelan mencoba bersikap normal.


Adit tersenyum tertahan, jawaban Dinda sangat bertolak belang. Sekarang malah membuat wajahnya semakin manis dan Adit menjadi gemes.


Tidak ingin Dinda bete, Adit memilih menikmati makanannya. "Aaaa," ujar Adit membuka mulut meminta Dinda agar mengikutinya sambil menyodorkan garpu yang diujung nya ada potongan daging steak miliknya.


Dinda terkesiap dan bergeming, menatap daging dan Adit bergantian penuh keraguan untuk membuka mulut.


"Aaaa," ulang Adit sabar. Memaklumi mimik wajah wanita dihadapannya.


Mendapat perintah yang kedua kali, meski kaku perlahan Dinda menurut dan ikut sedikit mencondong'kan badannya guna dapat menjangkau daging tersebut.


"Pinter," puji Adit tersenyum lebar sambil kembali duduk tegap.


Dinda menundukkan pandang sambil menikmati lembutnya daging berbalut dengan lelehan saus barbeque, tapi terasa ada yang berbeda.


Tersenyum samar disela kunyahan nya, Dinda melirik Adit. Namun, hanya persekian detik, Dia kembali mengalihkan perhatiannya. Karena seperti yang sudah-sudah, Adit makan sambil memandangnya lembut.


"Besok Aku ke rumahmu, sekalian ketemu orang tua Kamu buat lebaran," ucap Adit santai.


"Ayah dan Bunda?" tanya Dinda cepat tersentak kecil.


"Iya. Kalau orang tua kandung Kamu ada, ya sekalian," jawab Adit teringat dengan apa yang dikatakan Dinda tentang orang tuanya.


"Mama sama Ayah, lagi di Kalimantan, Mas," balas Dinda jujur.


Kening Adit terangkat seolah sedang berpikir, beberapa detik kemudian mengangguk samar.

__ADS_1


"Kalau begitu, ketemu keluarga Kamu yang ada aja," ujar Adit sambil menyuap kentang.


"Boleh," jawab Dinda tersenyum sembari mengangguk kecil.


Selesai makan malam romantis Adit langsung mengantar Dinda pulang, karena tidak ingin membuat orang rumah khawatir.


Di sepanjang perjalanan menuju tempat tinggal Dinda, Adit tidak melepaskan tangan pujaan hatinya. Dengan sebelah tangan Adit tetap bisa memegang kendali laju mobilnya.


Sedangkan Dinda harus pasrah dengan tangan yang bertautan, walau Dia sempat beberapa kali menarik tangannya tapi sulit karena tangan Adit malah semakin erat menggenggam.


Setibanya di depan rumah Dinda, atau lebih tepatnya di rumah Vita. Adit berniat menemui tuan rumah.


"Biar Ku antar sampai pintu, sekalian pamit sama Om dan Tante," tawar Adit sambil melepas sabuk pengamannya.


"Eh, nggak usah Mas ... ini sudah larut malam, mereka pasti udah pada tidur," tolak Dinda halus.


"Kamu yakin?" tanya Adit sambil melihat pergelangan tangannya.


"Iya, Mas Adit. Kalau pun Mas Adit ikut, pasti nggak ketemu siapa-siapa," ungkap Dinda apa adanya.


"Ya sudah, biar Aku buka 'kan pintu mobilnya," kali ini Dinda tidak menolak, karena keburu Adit turun dari mobil.


"Makasih, Mas Adit," ucap Dinda tulus.


"Wa'alaikumussalam," balas Dinda sembari mengangguk-nganggukkan kepala pelan.


"Kalau setengah jam lagi belum datang, tadi rencananya mau Aku telpon. Biar Kakak cepat pulang," sambut Kaamil membukakan pintu untuk Dinda.


"Assalamualaikum. Mil, Kamu belum tidur?" pekik Dinda terkejut sekaligus menyindir.


"Wa'alaikumussalam. Ini lagi tidur, sambil jalan bukain pintu," ucap Kaamil malas sambil berbalik badan.


"Ya maksud Kakak ... Kakak kira Kamu udah tidur," balas Dinda mengunci pintu dan segera menyusul masuk ke dalam.


Kaamil berdecak dan menyahut pelan, bahkan terdengar seperti gumaman. "Khawatir, makanya nggak tidur," sambil meninggalkan Dinda ke kamarnya sendiri.


Dinda tersenyum mendengar ucapan Kaamil sambil menatap punggung yang menghilang dibalik pintu.


Masuk ke dalam kamar, Dinda masih tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan kejutan Adit tadi dan rencana esok siang. Rasanya sudah tidak sabar menyambut esok lebaran.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba ingatan Dinda mengulang tentang Dia yang terbangun di dalam kamar hotel itu.


Menggeleng kepala cepat kala menduga kemungkinan, jika nanti Adit tahu dan salah faham. Dinda tidak ingin seperti itu.


'Mungkin sebaiknya, nanti Aku cerita.'


.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Semua orang tengah menjalankan solat sunah dua rakaat penuh suka cita, tidak ketinggalan Dinda, Kaamil, Vita dan Al juga di antaranya. Selepas solat id, Mereka menyempatkan diri untuk menyapa para tetangga yang berada di masjid.


Puas sudah saling meminta maaf, mereka pun memutuskan pulang ke rumah. Karena mereka berangkat hanya berjalan kaki, begitu juga pulangnya, membuat mereka harus beberapa kali berhenti guna bersalaman dengan tetangga yang dilalui.


Mengurai lelah, Dinda lekas menuju dapur guna mengambil minuman dingin untuk dirinya dan yang lain. Seperti pada umumnya suasana lebaran, semua menu makanan sudah tersedia.


Namun, sebelum mencicipi masakan dari Vita, Dinda dan Kaamil melakukan sungkeman kepada Paman dan Tantenya sebagai pengganti kedua orang tua mereka yang masih di Kalimantan.


Tadi subuh saat membantu Vita memasak Dinda juga sudah melakukan panggilan kepada kedua orang tuanya.


Bunyi notifikasi masuk secara beruntun dari pesan grup dan beberapa teman sekolah yang lain, menjadi sambutan ketika Dinda mengaktifkan data seluler disela-sela aktifitas makannya.


Mengira itu adalah ucapan selamat hari lebaran, Dinda membuka lebih dulu pesan dari grup sekawannya. Mengerutkan kening ketika membaca pesan yang dirasa aneh.


"Bunda, Ayah ... Adin tinggal dulu ya? Ada pesan dari teman-teman, nih," kata Dinda ditengah-tengah mereka sedang menikmati lontong sayur.


"Apa mereka mau ke sini?" tanya Vita menghentikan suapannya.


"Kayanya nggak bisa, Bun. Soalnya Aya sama Nurul, di tempat mertu mereka. Mungkin besok, kita kumpul-kumpul di tempatnya, Imah," balas Dinda.


"Sekali-sekali ajak ke sini, dong. Jangan Kamu terus yang ke sana," gerutu Vita pura-pura kesal.


"Hehehe, Adin usaha'kan ya, Bun," Dinda membalas sambil cengengesan.


"Ya sudah sana, jangan lupa ajak mereka ke sini," usir Vita maklum.


"Iya, Bun." Dinda beranjak ke kamar dengan langkah cepat dan terburu-buru.


Dengan perasaan was-was saat tadi membaca sebagian pesan dari temannya di grup, Dinda seketika bergeming usai membaca keseluruhan pesannya.

__ADS_1


'Ada apa, ini?'


BERSAMBUNG ....


__ADS_2