Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 57 Jeni?


__ADS_3

"Tumben sekali mengajakku bertemu?" tanya seorang wanita cantik yang langsung duduk di seberang Candra sambil menatapnya dengan senyum manis.


Candra tak lantas menyahut. Kedua tangannya terlipat di depan dada, punggungnya bersandar sambil menatap datar wajah lawannya. Menelisik wanita dihadapannya hingga beberapa detik, dan akhirnya bersuara.


"Apa tidak boleh kalau aku mengajakmu bertemu, Luna? Sementara kita ini adalah satu keluarga!" terang Candra santai.


Luna tertawa kecil mendengar apa yang sudah Candra katakan, menautkan kedua tangannya di atas paha yang bertumbuh dan turut bersandar di kursinya.


"Tidak seperti Bara yang kukenal selama ini. Bahkan selama aku menjadi istri sepupumu, baru kali ini kamu mengajakku bertemu hanya berdua. Biasanya aku yang memaksamu!" ucapnya tersenyum dengan satu kerlingan mata.


Candra tersenyum sinis, sebenarnya dia enggan bertemu dengan wanita itu. Namun, sesuatu mendorongnya untuk bertemu dan berbicara secara langsung.


"Jadi ... apa yang membuatmu ingin bertemu denganku? Pasti itu bukan hal yang biasa, bukan?" lanjut Luna percaya diri.


Bukannya menjawab pertanyaan, Candra malah memanggil pelayan dan meminta Luna memesan minuman begitu juga dengan dirinya sebagai teman ngobrol mereka. Tentu itu untuk memberi kenyamanan sang lawan, agar tujuannya tercapai meski harus berlama-lama bersama Luna.


Saa ini mereka sedang berada di sebuah cafe yang cukup terkenal dalam beberapa tahun terakhir, terutama kalangan anak muda. Nama yang tersemat di cafe tersebut memberi kesan unik dan membuat sebagian pengunjung yang datang bertanya-tanya dengan status pemiliknya.


"Aku cukup terkejut saat mengetahui kalau kalian mengenal Dinda," ucap Candra menanggapi pertanyaan Luna tadi setelah pelayan pergi, dan itu memang bukan bohong belaka melainkan kenyataannya.


"Oh, jadi tentang dia," suara Luna sedikit berubah, tidak seceria tadi. Akan tetapi, tetap tersenyum walau sedikit pudar.


"Ya, itulah yang mengusik pikiranku sejak semalam," ucap Candra memperhatikan Luna.


"Kenapa kamu mau menikah dengannya?" tanya Luna tiba-tiba datar.


"Kerena aku menyukainya," balas Candra cepat.


"Itu jelas kebohong," ujar Luna sembari menegakkan punggungnya dan berdecak.


"Kenapa kau menyimpulkan, kalau itu bohong?"


Luna diam sejenak saling beradu, melipat kedua tangan di atas meja. "Karena aku tau, kalau bukan dia yang kamu sukai. Dan kamu menikah hanya untuk nama baiknya," kata Luna, dan itu membuat Candra mengangkat salah satu alisnya.


"Oya? Seyakin dan sejauh apa kau mengetahuinya? Jangan bilang ... Kalau kau masih berpikir jika wanita itu adalah dirimu?" Candra tersenyum mengejek dan ikut melipat tangan pada tepian meja.


"Tentu, itulah yang kupikirkan." Candra bergeming, menatap datar Luna dengan jawabannya.


"Jangan ragukan aku, Bara!" Luna mengangkat kedua sudut bibirnya semakin lebar, hingga memperlihatkan deretan gigi yang teramat putih.


"Apa kau segil4 itu?" pangkas Candra kembali bersandar.


"Ahaha ... ya, aku segil4 itu," aku Luna masih diiringi tawa ikut kembali bersandar.


"Harusnya kau masuk rumah sakit kejiw4an saja," cetus Candra menggelengkan kepala.

__ADS_1


Tiba-tiba pelayan datang mengusik keduanya, membuat mereka otomatis diam seribu bahasa dan hanya mengucapkan kata terimakasih mengantar kepergian sang pelayan.


"Mas Lintang tidak akan membiarkan itu terjadi," ucap Luna sambil menyesap latte-nya.


"Karena dia juga sudah ikut gil4 sepertimu," jawaban Candra spontan membuat Luna tertawa lepas.


Masih tertawa kecil sambil memasukkan potongan pancake strawberry ke dalam mukutnya Luna pun bersuara, "Ya, mungkin kamu benar! Sudah jelas dia tau kalau aku menyukaimu, tapi dia tetap saja mempertahankanku. Bahkan dengan terang-terangan aku selingkuh dengan laki-laki yang lebih muda supaya dia menceraikanku, tapi nyatanya ... dia tetap dengan pendiriannya itu," katanya sambil mengankat bahu acuh tak acuh.


Candra ikut menyesap kopi hitamnya, nampak tidak terkejut dengan pengakuan Luna. Raut wajah Candra terkesan santai namun datar.


"Dia tidak akan cemburu padaku, karena dia sangat tau bagaimana diriku. Sudah saatnya kau mencintai Mas Lintang! Jangan mencoba melepaskannya jika tidak ingin menyesal," nasehat Candra bijak menatap lekat Luna, dan ikut memakan potongan pancake seperti Luna.


"Kalau kamu tau dia tidak akan cemburu padamu. Kenapa waktu di acara baby shower rekan kerja Mas Lintang, kamu malah menyebutku wanita tidak tau malu dan murahan? Kamu juga marah banget sama aku. Lalu, selingkuhanku? Kenapa dia juga tidak marah?" tuntut Luna meminta penjelasan.


"Agar aktingmu mendukung, aku juga harus berakting, kan?" Luna berdecak menanggapinya.


"Kau pikir dia tidak tau! Kalau kau tidak benar-benar selingkuh. Dia bahkan tau, kalau kau yang membiayai rumah sakit orang tuanya. Maka dari itu, dia membiarkan dirimu berbuat kebaikan," Luna tersentak mendengarnya, dia meresapi setiap kalimat.


"Kau ingat ketika aku memanggilmu di ruang kerja Mas Lintang waktu itu? Dia tau kalau kau sedang mehubungi seseorang. Dan dia juga tau, apa yang sedang kau rencanakan."


"Benarkah?"


"Kau pikir dia tidak mengawasi gerak gerikmu? Kau menyuruh orang menemui notaris untuk melakukan pembelian rumah. Kau berharap bisa membuat Mas Lintang marah, karena sudah mengeluarkan banyak uang untuk pria itu."


"Kamu tau betul Bara ... aku menikah dengannya hanya karena perjodohan! Dan hingga sekarang aku masih belum menerimanya walau sudah lima bulan kami menikah," terlihat kilat kemarahan dalam kedua manik mata Luna saat menyampaikan kata demi kata, dan Candra menyadari itu semua.


Luna pun berhenti memakan kue lembuat yang terasa sedikit masam itu dengan wajah marah.


"Dan kamu tau apa yang membuat aku sulit untuk menerima itu?" tutur Luna berubah sendu.


"Kita hanya berteman, Luna. Tidak pernah terbesit, kalau aku akan menyukaimu!"


"Tapi aku masih berharap bisa bersamamu, Bara," kata Luna lirih.


"Apa nama pria itu Danu?" tanya Candra mengalihkan topik, inilah tujuan utamanya. Dia ingin mengorek keterangan apa saja yang Luna tau tentang pria itu.


"Kamu mencari informasi tentang dia?" Luna terkekeh santai.


"Ya. Aku tidak ingin orang-orang menganggapmu buruk, Luna. Hentikan sandiwara kalian," ucap Candra.


"Biarkan saja orang lain menganggapku bukur! Tapi yang aku tau, kamu tidak akan pernah meragukanku."


"Apa kau tau? Sekarang Danu berada dalam sel tahanan."


Terkejut. Itulah reaksi yang tergambar jelas dari mimik wajah Luna, membuat Candra menyipitkan mata.

__ADS_1


"Jadi kau tidak tau?" Luna menggeleng pelan.


"Memang apa yang menyebabkan dia masak bui?"


"Penjebakan, dan pencemaran nama baik yang memyebankan sekandal."


Luna mengernyit ketika mendengarkan sebabnya.


"Apa maksudmu, yang terjadi pada Dinda itu karena Danu?" tanya Luna tidak percaya.


"Ya, karena Danu. Apa kau tau sesuatu tentang dia?"


Luna diam sambil mengerutkan kening dalam, nampak berpikir.


"Beberapa kali ketika bersamaku, dia selalu menerima telepon yang sedikit aneh," cerita Luna.


"Aneh?" ulang Candra dan mendapat anggukan dari Luna.


"Apa itu?" lanjut Candra.


"Aku tidak terlalu mengerti! Dia hanya bilang, kalau akan memofoto dan difoto. Aku tidak bertanya, karena kupikir dia dapat kerjaan tambahan," terang Luna.


"Mungkin itu orang yang menyuruhnya," gumam Candra yang masih terdengar Luna.


"Apa Dinda punya musuh?" tanya Luna sambil meminum minumannya.


"Iya, dia punya musuh. Yaitu dirimu."


Refleks Luna tertawa kecil. "Jadi kau tau, jika aku bernah bermasalah dengannya?"


"Apa yang menyebabkan kau menabrak mobilnya?"


"Aku tidak bermaksud menabraknya, aku hanya lengah ketika menerima telepon hingga menabraknya."


"Kau yakin karena itu?"


"Tentu. Kamu mengenalku Bara, aku hanya suka menggertak orang ... tapi tidak serius," kekeh Luna.


"Lalu siapa kira-kira orang yang menjebaknya?"


"Mungkin kamu bisa cari tau tentang Jeni, aku pernah mendengar Danu menyebut nama itu," usul Luna.


"Jeni?"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2