
PoV Candra.
Beberapa hari tinggal di rumah Bunda, tanpa sadar aku lebih sering ikut menonton drama-drama korea serta berita tentang artis-artis tanah air. Beritanya pun tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bahkan menurutku, hanya diulang-ulang. Membosankan! Mereka selalu membahas sejumlah pasangan muda yang baru saja dikaruniai seorang anak, dan terlihat harmonis serta bahagia.
Pemandangan itu tentu saja membuat hatiku tergelitik dan merasa gemes setiap kali menontonnya. Namun, bukan pada sepasang artis itu, tapi lebih tepatnya pada sang bayi.
Oh, ayolah ... pria mana yang tidak ingin memiliki seorang anak? Tak terkecuali aku. Apa lagi aku sudah berstatus sebagai seorang suami. Tentu saja aku juga ingin memiliki bayi sendiri. Ya ... walau pun bukan suami yang sempurna, karena aku belum dapat menjalankan kewajiban itu. Tidak usah diperjelas, kalian pasti mengerti maksudmu.
Akan tetapi, aku tidak seperti dia. Aku sempat uring-uringan ketika memikirkan caranya, karena luka di punggungku masih ngilu dan sakit. Mau tidak mau, aku harus bersabar hingga luka ini sembuh. Tapi, yang paling penting istriku tidak boleh tau tentang keinginanku yang setiap malam selalu menghantui pikiran dan nafsuku.
Namun, rupanya bukan hanya aku yang berhalangan dengan punggungku, tapi Adin juga sedang kedatangan tamu bulanannya. Ya ... sekarang aku sangat suka memanggil nama itu, atau terkadang memanggil nya dengan panggilan 'sayang'.
Kesabaranku pun membuahkan hasil ketika kami berada di dalam kamar sehabis mengantar papah ke bandara. Sakit di luka ku sudah mulai menghilang, dan satu hal yang kutahu ... tamu bulanannya sudah pergi.
Kudekap tubuh mungilnya dari belakang setelah sebelumnya kukunci pintunya. Kurasakan jika istri kecilku ini sempat tersentak kecil, dan aku anggap itu hal biasa.
Aku pun turut mengutarakan apa yang sejak di jalan tadi ingin kukatakan. Kali ini aku tidak bisa menahannya lagi. Aku bahkan tidak peduli jika ada yang memanggil kami.
"Punggungku sudah tidak sakit lagi. Bagaimana denganmu?" bisikku pura-pura lupa kalau tadi subuh solat berjamaah sambil melingkarkan tangan di perutnya erat dan membenamkan kepalaku di antara bahu dan lehernya yang tertutup jilbab. Di balik lehernya aku menyembunyikan senyum ketika degup jantungnya terdengar.
"Be--benarkah? A--apa, Mas yakin?" gemes sekali aku ketika dia bertanya dengan gagap.
"Ya. Aku yakin," suaraku mendadak berubah, antara gemes dan ingin segera mencium bibirnya itu. Lantas langsung kubalik tubuh Adin menghadap kepadaku.
Pandangannya menunduk karena tidak berani menatap mataku. Aku pun memengang dagu nya dan mengangkatnya ke atas agar melihatku.
"Kau sangat manis," tidak tahan dengan itu. Aku langsung menundukkan kepala ke arah wajah istriku tanpa mengalihkan pandangan dari bibir kenyalnya, sementara tangan ku yang lain memegang leher Adin guna menahannya.
Tidak ada penolakkan dari Adin. Dia bahkan dengan suka rela memejamkan mata dan memegang kedua sisi pinggangku. Perlahan kuis4p bibirnya, dan dia pun menikm4ti sambil membalas cium4nku.
Awalnya cimu4n itu cukup pelan. Namun, lama kelamaan sesuatu mendorongku untuk melakukan lebih hingga tanpa sadar aku melum4tnya penuh mengikuti naluri yang sudah lama tertahan.
Tidak rela rasanya melepaskan cium4n kami. Aku pun membimbing Adin perlahan menuju tempat tidur. Sesampainya di tempat tidur, kulepas sejenak cium4an itu hanya untuk membuka jilbabnya. Usai jilbab itu jatuh ke lantai, aku kembali melakukan kegiatan yang sempat terhenti sambil membaringkan tubuh kecil istriku.
__ADS_1
"I love you," bisikku di sela kegiatan ku tentunya.
Tanpa kuduga, ternyata Adin membalasnya.
"I love you too," bisiknya lembut membuatku bersemangat dan melampiaskannya dengan cara menghis4p lehernya.
Perlahan kancing-kancing bajunya kubuka tanpa menghentikan aktivitasku. Saat semua sudah terbuka, aku pun bangkit guna melepaskan buju yang masih melekat di tubuhku.
Tidak lupa aku lafalkan do'a ketika hendak penyatuan.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."
Setelah merasakan syurga dunia itu, rasanya aku ingin lagi dan lagi mengulangnya. Sempat ada niat untuk mengulangnya ketika kami mandi bersama. Namun, panggilan bunda masih terngiang-ngiang telingaku.
Aku pun mengakhiri permainan tanganku di antara gunung kembar yang kini telah menjadi hobby-ku dengan berat hati. Ini adalah sesuatu yang baru aku rasakan dalam hidupku. Kalau tahu semenyenangkan ini, dari dulu saja aku menikah. Eh tunggu dulu ... kalau dari dulu, berarti bukan Adin dong ya, istriku? Tapi syukurlah karena baru sekarang, aku kan, bisa menikah dengan dia.
Aku putuskan kami akan pulang hari ini, dan itu tentu saja harus menyakinkan papa mertua dulu. Aku harus berjanji, padahal walau tidak berjanji pun pasti akan kulakukan.
Sebelum aku pergi dari rumah bunda, diam-diam aku mengajak mama mertuaku bicara. Tentu saja ini berkaitan dengan Adin. Aku bertanya apa saja yang harus aku lakukan jika ingin segera memiliki bayi.
Kami pun mengatur pertemuan untuk itu. Karena mama juga seorang dokter kandungan, jadi beliau akan membantuku untuk periksa ke rumah sakit. Setelah waktu sudah diterapkan, kami pun berangkat dengan taksi.
Dan apa yang menjadi keinginan ku sejak tadi ternyata terkabul lagi. Walau sempat gemes dengan wajah kesalnya sejak kami berangkat, tapi akhirnya menghilang juga.
Satu minggu berlalu, usai aku memeriksakan diri tanpa sepengetahuan Adin. Mama mertua menghubungiku agar sebaiknya aku jujur pada Adin.
Ya, aku mengerti maksud beliau. Aku pun mengikuti sarannya sebelum hasil kesehatan ku keluar.
...๐น๐น๐น๐น๐น...
"Mas," panggil Dinda lembut.
Saat ini keduanya sedang duduk di ruang televisi usai Candra pulang kantor dan sudah mandi tentunya. Ya, mulai hari ini Candra sudah aktif kembali berkerja di perusahan keluarganya.
__ADS_1
"Hmm," gumam Candra membalas sembari melepas rangkulan tangannya.
Dinda hendak menahan tangan itu agar tidak beranjak dari bahunya, tapi kalah cepat dari suaminya. Akan tetapi, seketika senyum terbit di bibir Dinda ketika Candra menjatuhkan kepalanya di atas pahanya.
"Ini soal yang semalam," ujar Dinda.
"Nggak usah dibahas, yank! Udah, nggak papa," sahut Candra cuek sambil mengambil tangan Dinda dan meletakkannya di kepalanya.
"Kamu marah ya, Mas?"
"Siapa bilang aku marah? Aku hanya nggak pengen kamu kepikiran terus. Udah lupain aja!" kata Candra sambil mengusap pipi Dinda dengan posisi terlentang.
"Tapi sudah aku pikirkan, Mas."
"Kalau gitu jang---."
"Aku putuskan kalau kita akan punya anak," potong Dinda cepat membuat Candra terdiam.
"Kamu yakin?" tanya Candra ragu.
"Yakin," angguk Dinda pasti.
"Kita akan ikut program hamil. Kalau ternyata nggak berhasil ... kita lakukan program bayi tabung," lanjutnya tanpa keraguan sedikit pun.
Candra langsung duduk. "Aww," pekiknya ketika punggungnya tiba-tiba sakit akibat bangun yang cepat.
"Hati-hati, Mas," tegur Dinda khawatir.
"Nggak masalah. Kamu yakin soal tadi?" Candra kembali meyakinkan.
"Yakin, Mas," ucapnya penuh penekanan.
"Makasih yank, Makasih," ciuman bertubi-tubi memenuhi permukaan wajah Dinda.
__ADS_1
"Sama-sama," Dinda membalas dengan pelukan.
Dah ah, aku ngantuk๐ด๐ด