Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 52 Pengakuan pelaku.


__ADS_3

Terjaga beberapa kali, membuat Dinda bangun kesiangan dan melewatkan salat subuhnya. Bagaimana tidak. Sebab, rasa takut kalau Candra akan meminta lebih dari sekedar membuka jilbab, tiba-tiba membuat dia menjadi awas walau dalam tidurnya.


"Astaghfirullah hal azim," pekik Dinda langsung duduk ketika pandangannya mengarah ke jam di dinding yang menunjukan angka enam.


Diliriknya tempat di mana suaminya tidur, ternyata sudah tidak ada. Gegas ke kamar mandi dan berwudhu. Setidaknya dia akan mengqodho salatnya.


Usai melakukan salat, Dinda kembali ke kamar mandi dan melakukan rutinitasnya. Sambil mandi, dia menggerutu pada Candra yang tidak membangunkannya.


Walau tidak salat bersama, setidaknya suaminya itu seharusnya membangunkan dirinya dulu ketika hendak berangkat ke masjid.


Tidak berhenti di kamar mandi, selesai dengan pakainya ... dia masih memaki Candra dan ingin sekali memarahinya secara langsung. Berjanji di dalam hati akan memarahi sang suami.


Sibuk merias diri, bunyi suara pintu yang terbuka mengalihkan atensi Dinda dari wajahnya ke daun pintu yang bergerak melalui pantulan kaca.


Semua rencana yang tersusun apik dibenak seketika hancur, ketika pandangannya bertemu dengan suaminya.


Wajah bercahaya terpancar dari pria yang mengenakan baru koko kurta lengan panjang berwarna putih, hingga dia sejenak terpana dan mengaguminya.


Detik berikutnya Dinda tersadar dan langsung mengalihkan perhatian pada alat make up di hadapannya.


Melirik pergerajan Candra melalui ekor matanya, dan ketika Candra masuk ke kamar mandi. Dia pun memutuskan keluar dari walk in closet, tapi sebelum keluar Dinda menyiapkan baju kerja Candra.


Keluar kamar, Dinda hendak pergi ke dapur. Namun, dia bertemu Nenek Ratih yang menata makanan di meja makan.


"Pagi Nek! Maaf ya, tadi Adin nggak ikut bantuin," sapa Dinda ramah.


"Nggak apa-apa, atuh Non. Ini memang tukas kami. Mana mungkin kami pakai acara minta bantuan Nona segala," balas Nenek Ratih sambil tersenyum.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Seperti yang dikatakan suaminya tadi malam tentang jadwal mereka hari ini. Dinda tengah duduk di ruang makan menunggu kedatangan Candra.


Kemeja berbahan ringan berwarna marun, celana gucci hitam yang tidak terlalu tebar dan pasmina berwarna senada dengan celananya. Sudah melekat di tubuh rampingnya.


"Pagi," sapa Candra menyapanya.


"Pagi," balas Dinda tertunduk malu.


Rencana ingin marah-marah berganti dengan ingatan yang melayang pada kejadian tadi malam. Di mana Candra dengan terang-terangan mengutarakan keinginannya. Jika Dinda harus membuka jilbabnya di depan Candra.


"Kaamil akan langsung ke kantor polisi. Jadi, kita bertemu di sana saja," cerita Candra sambil menarik kursi dan duduk.


"Kenapa Emil, nggak ngomong sama aku langsung?" protes Dinda lirih. Niatnya ingin membunuh rasa malu yang tiba-tiba menyusup ke lerung hati. Dia berdiri dan menyiapkan makanan untuk Candra.


"Karena akan lebih enak, jika bicara dengan sesama pria," pangkas Candra santai.


Candra menunjuk toples selai yang tidak diambil Dinda. Istrinya lantas langsung menaruh botol toples dan menggantinya sesuai keinginan suaminya


"Tapi, aku, kan kakaknya," kata Dinda.

__ADS_1


"Dan aku, suamimu. Menurut Kaamil, akan sama saja jika di sampaikan kepadaku. Sebab, aku pasti akan memberi tahumu," bela Candra sambil menyesap teh hangat.


"Tetap aja beda," gumam Dinda menyerahkan roti yang sudah diberi selai dan bertangkup dua.


"Sudah, jangan cerewet. Ayo makan rotimu!"


"Siapa yang cerewet?" salak Dinda betubah galak.


"Kamulah." Tunjuk Candra.


"Aku nggak cerewet, ya. Enak aja," gerutu Dinda kesal sambil duduk, tanpa sadar menarik kursinya kasar.


Candra melirik Dinda, dan tersenyum samar.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Dinda membuang muka ke arah luar jendela mobil menatap jalan raya, dia masih kesal karena dikatakan cerewet. Tiba-tiba mobil berhenti mendadak.


Terkesiap karena tubuhnya condong ke depan. Seandainya tidak memakai sabung pengaman, maka sudah dipasti jika keningnya akan terbentur.


"Mas!" pekik Dinda sambil mengernyit heran dengan sorot mata menuntut penjelasan atas tindakan Candra menghentikan mobil secara mendadak.


"Ada kucing," kata Candra memperhatikan depan mobil, Dinda mengikuti arah pandangnya.


Benar saja, ada seekor kucing yang berlari cepat menyeberang jalan.


Candra tidak merespon. Dia kembali menghidupkan mobilnya dan langsung tancap gas dengan kecepatan maksimum.


Tidak ada percakapan di antara keduanya, suasana hening. Dinda memang sempat marah, tapi dengan adanya kejadian kucing tadi. Kesalnya menguap begitu saja.


Lebih dari setengah jam perjalanan, mobil memasuki kawasan Polda Metro Jaya. Perlahan mobil berhenti di parkiran, dan mereka turun bersama.


Baru saja kaki hendak melangkah masuk ke dalam kantor polisi, suara seseorang yang setengah berteriak seketika menahan mereka di ambang pintu.


"Bang Candra, Kak Adin."


Keduanya menoleh. "Kakak kira udah sampai duluan," ujar Dinda menyambut Kaamil yang sudah mendekat bersama seorang pengecara.


"Tadi papa mau ikut, tapi dapat telepon dari paman yang jagain kakek. Katanya kondisi kakek memburuk," papar Kaamil.


"Terus gimana?" tanya Dinda khawatir.


"Rencananya, papa dan mama mau berangkat siang nanti. Jadi Kakak disuruh pulang dulu."


Dinda cepat mengangkuk tanpa meminta persetujuan dari Candra.


"Apa kabar, Pak Fathir?" sela Candra menyapa pengecara.


"Baik Pak Candra. Bagaimana dengan kalian?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, kami baik."


"Ayo kita masuk, biar cepat selesainya." Dinda menarik Kaamil dan menggandengnya masuk.


Setibanya di dalam, mereka disambut oleh petugas polisi. Dengan arahan polisi, mereka memasuki sebuah ruangan tertutup dengan dua penjaga di depan pintu.


Seorang yang terduduh, menjadi tersangka utama penyebaran foto. Kini sudah berada di dalam ruangan tersebut. Dinda terperangah melihat kondisi sang pelaku.


"Dia kenapa?" bisik Dinda pada adiknya.


"Yang aku dengar sih, dipukulin biar mau ngaku. Tapi aku juga nggak nyangka bakalan kaya gitu," balas Kaamil berbisik.


Pemuda seumuran Kaamil, duduk tertunduk dengan kedua tangan yang diborgol. Walau menunduk, tapi wajah dengan luka lebam sangat kentara.


Mereka berempat lantas duduk di depan pelaku bersekat sebuah meja panjang. Polisi yang mengantar mereka pergi ke sudut ruangan, guna tetap bisa mengawasi interaksi mereka.


"Mas Danu, mohon kerja samanya. Jika Anda tidak mau memberi tahu siapa dalang sebenarnya, maka Anda akan terancam menerima hukuman yang lebih berat," gertak pengecara.


"Sudah saya katakan, tidak ada yang menyuruh saya. Saya melakukannya atas keinginan saya sendiri," tutur Danu datar.


"Atas dasar apa lu ngelakuin ini?" sergah Kaamil mencegat Dinda angkat suara dengan tatapan membunuh.


Danu menarik sudut bibirnya, yang membuat Kaamil mengernyit heran.


"Jawab!" hardik Kaamil tidak sabar.


"Sabar Mas Kaamil, kita tidak boleh bersikap seperti ini," nasehat Pak Fathir.


Candra menghela napas berat. Dia pikir, istrinya-lah yang tidak bisa menahan emosi. Namun, rupanya adik iparnya lebih agresif.


"Ini semua gara-gara lu," jawab Danu ambigu sambil mengeraskan rahangnya dengan tatapan yang tidak bisa diterjemahkan.


"Gw." Tunjuk Kaamil pada dirinya sendiri.


Dinda dan Candra saling lirik, jelas pengakuan Danu membuat mereka tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya.


"Jelasin!" tuntun Kaamil geram.


"Gw dendam sama lu. Lu udah bikin adik gw patah hati."


"Hah," pekik Kaamil dan Dinda.


"Lu bilang sama dia, kalau lu cuman nganggap Zivi sebagai adik lu. Dan adik gw sakit hati. Makanya gw balas rasa sakit hati dia sama kakak lu," ujar Danu dangan mata terpancar kebencian dan dendam.


Dinda melogo dan ternganga.


"Sulit dipercaya. Balas dendam buat adiknya."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2