Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 21 Pengamen.


__ADS_3

...'Seberat apa pun beban masalah yang kamu hadapi saat ini, percayalah bahwa semua itu tidak pernah melebihi batas kemampuan kamu.'...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Sudah dua hari ini Adit mengantar Dinda ke restoran, Dia juga menawarkan akan menjemput Dinda jika hendak pulang. Namun, ditolak keras oleh Dinda.


Dinda tidak terbiasa merepotkan orang lain, Dia juga tidak ingin terlalu bergantung dengan Adit. Sempat ditanyakan Adit, bagaimana nanti kalau Dinda pulang? Adit tidak setuju jika Dia menggunakan taksi, sementara ada sang kekasih di sini.


"Kamu pulang, pakai apa? Jangan bilang, kalau pakai taksi? Aku kekasih mu, mending Aku yang jemput lagi!"


Teringat dengan Kaamil yang akan ikut tinggal di rumah Bunda Vita, Dinda pun mengatakan bahwa Adiknya yang akan menjemputnya di restoran.


"Tenang aja Mas, Aku nggak pakai taksi kok Nanti adikku Kaamil, yang jemput."


Adit diam, meresap semua kata demi kata yang Dinda ucapkan. Seingat Adit ketika mengorek informasi tentang Dinda, gadis itu hanya tinggal bertiga denga Ayah dan Bundanya.


"Baiklah," jawab Adit mengalah sambil memikirkan sesuatu.


Dinda segera menghubungi Kaamil, agar adiknya itu nanti menjemputnya saat pulang dari kantor.


"Nanti jemput Kakak, ya Mil?" pinta Dinda setelah salam nya dibalas.


📞"Loh, emang mobil Kakak ke mana?" balas Kaamil bertanya.


Saat ini Dinda sedang duduk santai di dalam ruang kerjanya, kursi kebanggaannya Dia gerakkan ke kiri dan kanan seirama, tangannya pun memainkan pulpen di sela-sela jarinya.


"Mobil Kakak, masuk bengkel," jawab Dinda jujur.


📞"Oke deh, nanti Aku jemput ... tapi, emang Kakak pulangnya sore?"


"Iya! Nanti ada Nena, yang handle resto," kata Dinda.


Jam buka restoran memang sudah dirubah dari sore hingga malam, tapi Dinda juga tidak selalu sampai malam. Untuk urusan menangani restoran, Dinda serahkan pada asisten kepercayaannya Nena.


📞"Oke. Nanti jam lima Aku jemput ... tapi teman Aku ada yang numpang."


"Terserah kamu," ujar Dinda. Itu tidak masalah baginya, yang terpenting adalah tidak merepotkan Adit di sela kesibukannya.


📞"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


...🌹🌹🌹🌹🌹...


"Nena, Aku pulang duluan ya!" ujar Dinda menemui asistennya di ruangannya dari balik pintu.


Waktu sekarang sudah menunjukkan jam lima kurang dua puluh menit, tadi Kaamil sudah mengabarinya bahwa sudah di perjalanan dan menyuruhnya segera bersiap.


"Baik, Nona," jawab Nena sopan segera menghampiri.


"Apa jemputan, Nona sudah sampai?" sambung Nena bertanya.

__ADS_1


"Nena, sudah berapa kali sih Aku bilangin! Jangan panggil Aku Nona, panggil nama saja," larat Dinda tidak suka.


Nena menunduk segan. Permintaan dari Dinda sangat memberatkan nya, terlebih lagi Dia bukanlah siapa-siapa Dinda.


Sudah berulang kali, Dinda melarang Nena memanggilnya Nona. Dia menghela napas berat, tatkala menyadari bahwa permintaannya itu bagaikan beban yang sangat berat bagi bawahannya.


"Huuhf, ya sudah, Nena ... ku pulang dulu. Minta tolong urus resto ya?" pinta Dinda mengalihkan arah pembicaraan.


"Silakan ... Nona," ucap Nena pelan di ujung kalimat.


"Mm, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam. "


Berjalan ke arah luar restoran, sudah terlihat para pengunjung berdatangan menempati kursi-kursi yang tersedia.


Tiba di luar bangunan yang kini telah menjadi miliknya, Dinda mengedarkan pandangan ke segala arah. Dari kejauhan di pinggir jalan, Dinda melihat ada sepasang anak kecil kisaran sepuluh tahun yang tengah mengamen.


Seorang anak laki-laki tengah memetik Ukulele, dan anak perempuan memegang plastik bekas bungkus permen.


Tanpa pikir panjang Dinda langsung balik badan dan kembali ke dalam restorannya. Di dapur Dinda ikut menyibukkan diri di antara koki andalannya.


"Loh, Nona Dinda? Ngapain? Biar saya saja, yang siapkan," kata salah satu koki yang mendapati dia mengambil kotak makanan dan mengisi dengan nasi.


"Tidak perlu, kerjakan saja pekerjaan kalian. Ini gampang kok," tolak Dinda halus dengan tangan yang cekatan menyiapkan dua kotak nasi.


"Baik, Nona," jawab sang Koki membiarkannya.


Tersenyum senang meninggalkan dapur setelah berpamitan dengan para karyawannya. Di luar restoran Dinda gegas ke pinggir jalan mencari kedua bocah tadi.


Tidak terlihat batang hidungnya, Dinda terus berjalan pelan menyusuri tepian jalan sambil memperhatikan sekitarnya.


Cukup jauh dari restoran Dinda, Dia melihat sepasang bocah pengamen itu menyeberang jalan sambil bergandengan tangan, dan masuk ke sebuah gang yang terlihat sepi.


Tebakan Dinda, kedua bocah itu pasti akan pulang ke tempat tinggal mereka, mengingat hari sudah sore hari.


Dinda mengejar dan ikut menyeberang, kedua bocah itu terlihat. "Hai, kalian!" teriak Dinda sambil mengejar kedua nya.


Sepasang bocah itu menoleh dan saling pandang saat melihat Dinda berlari ke arah mereka.


"Kakak, memanggil kami?" tanya bocah laki-laki itu.


"Iya," jawab Dinda terengah-engah mengatur napas.


"Ada apa, Kakak?" tanya bocah itu kembali.


"Ini, untuk kalian." Dinda menyodorkan kantong keresek.


"Untuk kami, Kak?" Bocah perempuan memastikan.


"Iya," jawaban Dinda membuat keduanya tersenyum gembira.

__ADS_1


"Terimakasih, Kak," ucap keduanya serempak sambil mengambil alih kantong keresek tersebut.


"Sama-sama. Nama kalian siapa?" tanya Dinda melirik keduanya.


"Saya Abbas, Kak," aku anak laki-laki.


"Saya Lili," kata yang perempuan dengan malu-malu.


Dinda tersenyum melihat keduanya.


"Salam kenal, kalian bisa panggil Kakak, Kak Dinda," balas Dinda.


"Oiya, apa kalian mau pulang?" tanya Dinda.


"Iya, Kak ... kami mau pulang!"


"Ya sudah, kalian hati-hati di jalan. Kakak cuman pengen kasih itu kok, buat kalian." Dinda menunjuk kantong plastik yang berada di tangan Abbas.


"Sekali lagi makasih, Kak. Kalau gitu kami pulang dulu," pamit Abbas yang diangguki Dinda.


Dinda masih berdiri di tempatnya, memandang punggung Abbas dan Lili yang kian menjauh dan berangsur menghilang dari penglihatannya.


Tersadar berada di mana, Dinda pun berniat kembali ke restorannya. Baru saja Dinda berbalik, Dia dikejut'kan oleh dua pria dewasa yang berpenampilan seperti preman.


"Hai, Nona manis? Habis dari mana?" tanya salah satu lelaki itu sambil tersenyum misterius dan berjalan pelan mendekat.


Seketika Dia menjadi awas dan refleks mundur satu langkah ke belakang. Mencoba mengabaikan itu, Dinda memilik jalan ke kiri guna melewati para preman. Namun, kedua preman itu malah mehalangi jalannya.


Kembali Dinda berinisiatif beralih ke sebelah kanan, dan lagi-lagi preman itu menghalanginya.


"Tidak usah buru-buru, Nona manis. Kita bisa ngobrol dulu," kata pria yang tadi sambil menelisik penampilan Dinda.


"Kalau mau, Nona boleh mampir dulu ke tempat Kami," sahut pria satunya.


"Minggir kalian! Saya mau lewat!" ucap Dinda geram.


"Loh, tapi kita belum kenalan! Ayo ... Kita bersenang-senang dulu," ajar preman sambil hendak meraih tangan Dinda.


Dinda menangkis nya kasar dan menatap tajam. "MENYINGKIR!!" kata Dinda penuh penekanan dan marah.


"Kalau kami tidak mau, kamu mau apa Nona manis?" tantang preman.


Kedua pria itu perlahan maju dan tersenyum meremehkan.


"Jangan macam-macam kalian, kalau tidak ingin menyesal," ujar Dinda berjalan mundur.


"Kraapp," tangan Dinda ditangkap salah satu preman.


"Kami tidak akan menyesal."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2