Cinta Lembayung Senja

Cinta Lembayung Senja
Bab 53 Pengakuan Zivi.


__ADS_3

Saat ini Dinda, Candra dan Kaamil sudah berada di rumah Papa Zahir. Mereka langsung pergi dari kantor polisi usai bertemu dengan Danu.


Dinda melirik Kaamil yang berlalu pergi dengan lesu. Tidak hanya dia yang terkejut mendengar pengakuan Danu, tapi Kaamil juga. Bahkan adiknya itu menyalahkan diri sendiri atas masalah Dinda.


Sudah berapa kali Dinda katakan, bahwa itu memang takdirnya dan bukan kesalahan Kaamil. Namun, adiknya tetap menyangkal, dan menyakini apa yang dia dengar dari Danu adalah benar.


"Sudah, biarkan Emil sendiri dulu!" cegat Candra menahan tangan Dinda yang hendak menyusul Kaamil.


"Iya, Din ... biarkan Emil sendiri dulu!" Mita menimpali ucapan menantunya.


Meraka baru saja menjelaskan pada kedua orang tuanya tentang perkembangan Danu, dan selesai dengan berita itu. Kaamil malah pergi begitu saja.


Dinda menurut dan kembali duduk dengan pikiran yang berkecamuk. Memikirkan bagaimana perasaan Kaamil yang dikhianati oleh sahabat. Itu jelas lebih mengecewakan dan membekas, karena melibatkan saudari dalam usaha balas dendam temannya.


"Mungkin Papa dan Mama akan lama di sana, sampai keadaan kakek kamu membaik," ucap Zahir merubah topik pembahasan sambil menyandarkan punggung lebarnya ke sandaran sofa.


"Apa Emil akan ikut, Pa?"


"Tidak. Dia yang akan mengurus masalahmu, dan Papa harap suamimu sudi membantunya." Zahir melirik Candra serius.


"Tentu saja, Pa. Dinda sudah menjadi tanggung jawab saya, dan sudah sepantasnya saya yang menangani masalahnya," sahut Candra yakin.


"Baguslah, itu yang Papa harapkan. Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami, dan yang Papa inginkan adalah ... kamu bisa menerima Dinda seutuhnya. Terlepas pernikahan kalian itu karena terpaksa," ujar Zahir pada Candra dengan tatapan memohon.


"Jangan khawatir Pa, saya pastikan ... kami akan sama-sama belajar untuk saling menerima," pungkas Candra melirik Dinda yang ternyata tengah menatapnya.


"Loh, Mil ... mau ke mana?" Dinda lebih dulu memutus kontak mata dengan suaminya, mana kala melihat Kaamil yang mau pergi.


"Ke luar sebentar, ada perlu," ucap Kaamil sembari menyalami mereka semua.


"Eh, jangan lama-lama! Nanti Mama dan Papa, sebentar lagi mau berangkat," pekik Mita mengiringi langkah Kaamil yang berlari cepat sambil melambaikan tangan


"Emil mau ke mana sih?" gumam Dinda menatap ke arah pintu yang terbuka, tapi masih bisa didengar oleh orang di sampingnya. .


"Mungkin penting, makanya dia buru-buru," balas Candra yang diangguki Dinda.


"Candra ... ikut Papa sebentar!" Zahir berdiri dan berjalan lebih dulu tanpa menunggu jawaban Candra.

__ADS_1


"Saya tinggal dulu, Ma," pamit Candra pada mita sebelum menyusul Zahir.


"Gimana perasaan kamu sekarang, Adin? Kamu ingatkan pesan-pesan, Mama?" cerca Mita.


Dinda menghela napas panjang, punggung kecilnya dihempas'kan kasar ke belakang. Kepalanya pun mendongkak ke atas. "Seperti yang dikatakan, Mas Candra tadi. Kami sedang berusaha," ucapnya lirih dengan pandangan menerawang jauh.


"Mama akan selalu mendo'akan, kamu ... semoga pernikahan ini adalah yang terakhir buat kamu. Walau pun kalian tidak saling mencintai, tapi Mama berahap kalian bisa saling menghargai satu sama lain."


"Aamiin," sambut Dinda tulus.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Dengan tak sabar dan tergesa-gesa, Kaamil memacu mobilnya bagitu cepat. Menyalip semua kendaraan yang menghalangi jalannya. Dalam benaknya hanyalah ada satu tujuaan, dan dia harus segera sampai ke tempat itu apa pun caranya.


Kaamil bahkan hampir saja menabrak pejalan kaki di penyeberangan zebra cross jika tidak segera menginjak pedal rem. Untung saja kesadarannya masih memberi resfon awas dalam berkendara. Bisa dibayangkan, jika tidak mungkin sekarang dia pasti sudah berurusan di kantor polisi.


Setelah lampu merah berganti menjadi hijau, Kaamil kembali melajukan mobilnya. Namun, kali ini dengan pikiran lebih tenang.


Tidak memerlukan waktu lama. Kaamil kini tiba di sebuah rumah kecil, namun terlihat sangat nyaman dan damai. Turun dari mobil, Kaamil diam bergeming memperhatikan rumah di hadapannya.


Tidak hanya menggantung, tapi di meja bak anak tangga pun berjejer rapi dengan bunganya yang berwarna warni. Membuat rumah itu lebih mencolok dari rumah-rumah di sekitarnya.


Ada sedikit keraguan yang menyusup di sudut hatinya. Apakah dia harus mendatangi pemilik rumah itu, atau tidak sama sekali. Akan tetapi, Kaamil berpikir keras. Dia sudah terlanjur ke tempat ini, maka dia harus menemui penghuninya.


Perlahan kakinya melangkah dan berhenti di depan pintu kayu jati berwarna coklat yang sudah memudar. Tangannya terulur mengetuk pintu beberapa kali serta diiringi salam. Hingga diketukan yang ketiga, barulah terdengar sahutan salam.


"Kak Kaamil," sapa riang seorang wanita berambut panjang lurus tergerai, menyambut sambil tersenyum manis.


"Hai Zivi," sambut Kaamil membalas dengan senyum paksa.


"Udah lama Kak Emil, nggak ke sini. Ayo masuk Kak!" Ajak gadis yang ternyata adalah Zivi sembari membuka pintu lebih lebar.


"Makasih, tapi sebaiknya di sini aja," tolak Kaamil memilih duduk di kursi kayu panjang.


"Emm ... apa Kak Emil, mau ketemu Mas Danu? Apa Kakak, nggak tau kabar Mas Danu sekarang?" tanya Zivi ragu ikut duduk, dan mendapat gelengan dari Kaamil kemudian mengangguk.


Zivi mengerutkan kening dalam. Kalau bukan ingin mencari kakaknya, lalu untuk apa sahabat kakaknya itu datang.

__ADS_1


"Kakak tau ... kalau saat ini, Danu masuk penjara," ucap Kaamil membuat Zivi tertunduk sedih.


"Dan Kakaklah, orang yang memenjarakannya," ujar Kaamil tanpa beban, sontak Zivi mendongkak mendengar pernyataan Kaamil.


"Mak--maksud, Kakak ...?" tanya Zivi terbata.


"Apa ibu kamu ada di dalam?" Kaamil balik bertanya.


"Ibu lagi sakit, dan baru aja tidur."


Kaamil mengangguk paham, lantas membalas tatapan gadis yang usianya tiga tahun lebih muda darinya. Melalui sorot matanya, Zivi tengah menuntut penjelasan.


"Sebelumnya, apa benar kalau kamu suka sama Kakak?" tanya Kaamil tanpa basa basi.


Zivi tersentak kaget, matanya melotot dengan mulut setengah mengaga. Namun, detik kemudian dia tertawa pelan.


"Kakak masih ingat, waktu dulu kamu tanya tentang perasaan Kakak buat kamu."


Zivi masih tertawa kecil, namun seketika tawanya berhenti saat dia teringan dengan sang kakak yang kini masuk penjara kerena Kaamil.


"Apa ada hubungannya sama Mas Danu, yang masuk penjara?" tanya Zivi takut.


Kaamil mengangguk. Dia kemudian menceritakan tentang Dinda yang dijebak Danu, juga pengakuan Danu untuk balas dendam karena sakit hati Zivi.


"Itu nggak benar, Kak." Zivi menggeleng sambil menitikkan air mata.


"Aku tanya gitu, karena pacar aku nggak percaya kalau aku nggak ada hubungan sama Kakak," aku Zivi, tangannya mengusap cepat kedua sudut matanya. Rasa kecewa pada kakaknya menumpuk penuh.


Kaamil diam menyimak dan mencerna penjelasan yang Zivi dikatakan.


"Pacar aku cemburu, karena sering lihat Kakak di sini. Dia nuduh aku selingkuh sama Kakak. Waktu Mas Danu pergi ke dapur, aku sengaja nyamperin Kakak. Sambil telepon sama dia, aku tanya gitu biar dia denger langsung," tutur Zivi sedih dengan perasaan yang teramat bersalah dan hati hancur remuk.


"Mungkin, pas Kakak jawab ... Mas Danu denger."


Kaamil menghela napas berat, menerima semua penjelasan Zivi. Dengan alasan itu, Danu membuat sebuah alibi. Pikirannya menebak. Apakah ada seseorang yang berusaha Danu lindungi, dan mengorbankan diri sendiri untuk orang tersebut.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2